Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: TRANSFORMASI DARAH NAGA
Situasi menjadi sangat genting. Raymond terjepit di dinding tebing, di bawahnya ada jurang, dan di depannya ada Beruang Besi Perisai yang siap menerkam.
"Gawat! Beruang ini setara dengan manusia di Tahap 10 Dasar! Kulitnya sangat keras, senjata biasa tidak akan mempan!" batin Raymond panik.
Beruang itu mengayunkan cakar raksasanya ke arah Raymond. Angin pukulannya saja sudah membuat tubuh Raymond terdesak mundur.
"Jangan lawan langsung! Hindari dan serang matanya atau perut bagian bawah yang lembut!" teriak Zhuo Yi.
Raymond melepaskan pegangannya dan melompat turun menggunakan gravitasi.
BAM!
Cakar beruang menghantam tebing hingga batu-batu berterbangan. Lubang besar terbentuk di dinding karang.
Raymond mendarat dengan lincah di tanah. Ia mencabut pedangnya dan berlari mengelilingi sang raksasa.
"MARRHHH!" Beruang itu marah, ia menghentakkan kakinya membuat tanah bergetar, lalu menyemburkan semburan angin kencang dari mulutnya.
Raymond terpaksa mengangkat pedangnya untuk menahan.
DING!
Pedang besi buatan sendiri itu hampir patah! Guncangannya membuat tangan Raymond kesemutan dan berdarah.
"Tidak bisa terus begini! Aku butuh kekuatan lebih!"
Pandangan Raymond melirik ke arah buah Darah Naga yang masih terselamatkan di tebing tadi.
"Kakek! Bisakah aku memakannya sekarang juga saat bertarung?"
"Bisa! Tapi energinya akan sangat ganas! Kau harus siap menahan rasa sakit seolah tubuhmu mau meledak! LAKUKAN!"
Raymond mengambil keputusan nekat. Saat Beruang itu kembali menyerang, Raymond tiba-tiba membuang pedangnya dan melompat tinggi ke udara, bukan menyerang, tapi menuju ke arah buah itu!
"BERI AKU KEKUATAN!!"
Dengan satu tarikan tangan, ia menyambar ketiga buah Darah Naga itu dan langsung menelannya bulat-bulat tanpa mengunyah!
GLUP!
Seketika saat buah itu masuk ke perut, rasanya seperti menelan bola api yang menyala-nyala!
"AAAAAAHHHHHH!!!"
Raymond berteriak kencang. Darah di seluruh tubuhnya mendidih bagai lahar gunung berapi. Pembuluh darah di leher dan lengannya menonjol keluar berwarna ungu gelap. Matanya berubah menjadi merah darah, dan dari tubuhnya memancarkan aura yang sangat ganas dan liar!
DARAH NAGA TERBANGUNKAN!
Kekuatannya melonjak drastis!
Tahap 3 -> Tahap 5 -> Tahap 7 -> TAHAP 9!
Energi yang melimpah memenuhi setiap sel tubuhnya. Otot-ototnya membesar sedikit, kulitnya menjadi lebih keras dan bersinar.
Beruang Besi Perisai sepertinya merasakan bahaya yang mengancam nyawanya. Ia mundur selangkah dan mulai ketakutan.
Raymond menurunkan kepalanya. Wajahnya dingin dan mengerikan. Ia tidak membutuhkan pedang lagi.
"Kau... yang menghalangiku..."
Raymond melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan di tanah batu.
Beruang itu menerjang dengan putus asa.
Raymond tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya, memadatkan energi di telapak tangan hingga terlihat nyata seperti bola emas.
Jurus Puncak: TINJU NAGA YANG TERBAWAKAN!
BOOOOOMMM!!!
Tinju kosong itu menghantam tepat di dahi Beruang Besi Perisai.
Tidak ada suara tulang patah, hanya suara ledakan dahsyat. Kepala beruang itu seketika hancur lebur seperti buah tomat yang dipukul palu godam. Tubuh raksasa itu ambruk ke belakang, tewas seketika tanpa bisa bereaksi.
Raymond berdiri di depan mayat binatang itu. Napasnya memburu tapi matanya bersinar tajam. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di dalam dirinya.
"Ini... ini baru permulaan," bisiknya.
Ia lalu mengambil Inti Roh Beruang itu yang sebesar kepala manusia, lalu berbalik menuju gua yang tadi dihuni oleh beruang itu.
"Kakek, sepertinya ada sesuatu di dalam gua itu..."