NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utang 2 Miliar

Di sebuah kasino di Piliphine.

Hal yang paling Dio benci adalah dianggap bodoh. Dia lebih memilih ditembak daripada dipermainkan seperti orang tolol. Saat ini dia ada di Piliphine, sedang memburu satu orang yang berpikir bisa lolos begitu saja.

"Dia ada di meja dadu," ujar Hans, sepupunya yang berdiri di sebelahnya.

Tentu saja orang itu ada di sana. Permainan dadu cuma cocok buat orang bodoh, tanpa strategi dan kemenangannya cuma bergantung pada keberuntungan semata.

"Dia ditemani dua pengawal," kata Dio sambil mengamati kedua pria di sisi target mereka.

Dua orang itu persis seperti gorila, besar dan kasar. Dio sudah paham betul cara membaca karakter orang. Sasaran dia itu cuma anak orang kaya yang manja, yang bersembunyi di balik nama besar Ayahnya.

Orang itu tidak pernah menghasilkan uang sepeser pun, padahal jumlah uang yang sudah dia habiskan tak terhitung banyaknya. Dia juga tidak pernah melakukan hal yang berguna sama sekali.

Tak bekerja, tak kuliah, dan cuma berpindah dari satu pesta ke pesta lain sambil membuat masalah yang Ayahnya harus bereskan.

"Pemilik kasino ini teman kuliahku," kata Dio sambil tetap menatap meja permainan. "Aku sudah minta tolong dia, supaya orang itu dibawa pergi diam-diam."

"Wah gila, Dio. Kenalanmu ada aja di mana-mana ya," seru Hans takjub.

"Ada dong, bahkan sampai di neraka sekalipun," jawab Dio santai.

Mereka melihat seorang staf kasino wanita yang cantik berjalan mendekati sasaran, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.

Wajah orang itu langsung tersenyum lebar. Dia langsung meninggalkan cewek pirang di sampingnya, yang diam-diam sudah mencuri uang taruhan dia sepanjang malam.

"Cewek itu udah ambil setidaknya lima ratus juta peso, tapi dia sama sekali nggak sadar," kata Dio sambil geleng kepala.

Lalu datang Brando, pemilik kasino, berdiri tepat di belakang mereka. Dia bilang kalau sasaran sudah dibawa ke salah satu ruangan khusus milik mereka.

"Makasih ya. Aku nggak mau bikin keributan atau jadi pusat perhatian," ucap Dio singkat.

"Aku paham banget," jawab Brando sambil tersenyum tipis. "Kamu mau habisin dia?"

Dio diam saja, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi apa pun.

"Aku nggak mau ikut campur urusan kamu," lanjut Brando. "Cuma mau kasih tahu, tim pembersihku udah siap kalau dibutuhin."

Dio tersenyum. Brando memang orang yang kerjaannya cepat, rapi, dan bisa menjaga rahasia.

"Kalau aku butuh bantuan, nanti aku kabari langsung," jawab Dio.

"Oke deh. Pembersihan pertama gratis ya, kebijakan kasino. Sisanya harus bayar," kata Brando sambil mengedipkan mata.

Dio cuma mengangguk pelan. Orang ini jenius soal bisnis, dan tarif jasanya pasti tidaklah murah.

Brando langsung beri tahu lokasi ruangan tempat orang itu dibawa. Begitu Dio dan Hans masuk ke sana, mereka melihat dua pengawal tadi sudah tergeletak pingsan di lantai.

"Kalian mau mati ya!" teriak orang itu panik. "Kalian nggak sadar siapa yang kalian hadapi!"

Dio dan Hans malah tertawa santai melihat reaksi pria itu. Wajah marah orang itu langsung berubah jadi bingung dan takut.

"Aku tahu banget siapa kamu," kata Dio sambil duduk santai di atas meja dekat dinding. "Aku juga tahu siapa Papamu, kakekmu, sampai buyutmu sekalipun."

Wajah orang itu langsung pucat pasi. Dia mundur beberapa langkah sambil menatap Dio dengan mata terbelalak.

"Kalau kamu?" tanya Hans sambil menyeringai. "Kamu tahu siapa kami?"

Wajah orang itu kosong sama sekali. Dia jelas-jelas tak tahu siapa mereka berdua.

"Tristan yang suruh kalian?" suaranya gemetar, dia berusaha menebak alasan dibawa ke sini. Ternyata bukan cuma Dio yang punya masalah sama dia, orang lain pun ternyata juga kesal.

"Bukan." Dio menatap tajam ke arahnya. "Namaku Dio Walisang. Ini sepupuku, Hans Kalidasa."

Wajah orang itu langsung pucat. Dia langsung sadar siapa yang ada di depannya sekarang.

"Aku... Maaf ... Tuan Walisang—"

"Aku paling sebel kalau orang mulai gagap gini," gumam Hans sambil mendengus malas. "Dan tolong jangan ngompol ya. Malu banget lihat udah gede ngompol."

"Duduk!"

Nada suara Dio dingin dan tegas, tak ada tawar-menawar. Orang itu langsung duduk patuh persis seperti anjing.

Dio mengeluarkan sarung tangan kulit hitam kesayangannya. Barang itu sudah dia pakai bertahun-tahun, bahannya lembut, awet, dan belum rusak meski sudah dipakai di puluhan pertarungan.

"Papaku pasti bakal bayar semua utang ini," kata orang itu buru-buru.

Dio malah tertawa pelan, suaranya dingin. "Aku udah ngomong panjang lebar sama Papamu." Tatapannya makin tajam. "Dia pebisnis cerdas, dan dia udah muak lihat kamu buang-buang uangnya."

Hans langsung terkekeh mendengar jawaban itu. "Nah, itu ...."

"Kamu itu cuma beban di keluargamu dan nggak guna," lanjut Dio santai. "Dia nggak bakal keluarin uang sepeser pun lagi buat kamu. Paham?"

Dio menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap lurus ke depan.

"Coba jelasin ke aku. Gimana caranya kamu mau lunasin utang dua miliar itu ke aku?"

Orang itu diam seribu bahasa. Dio melihat matanya sudah mulai berkaca-kaca dan mau nangis. Dia benci sekali sama orang yang cuma bisa merengek. Dia lebih suka dihina atau dibohongi, setidaknya itu bukti kalau lawan dia masih punya otak sedikit.

"Dengerin baik-baik," kata Dio tenang. "Aku bakal hajar kamu selama empat puluh menit penuh."

Tubuh orang itu langsung kaku dan tegang seketika.

"Itu kesepakatan aku sama Papamu. Kalau aku lakuin itu, dia langsung balikin uangku." Dio tersenyum tipis. "Kayaknya dia juga sadar, kamu emang butuh banget diberi pelajaran."

"Beruntung banget Papamu masih sayang sama kamu," sela Hans sambil nyeringai jahil. "Soalnya dia pesan, kami nggak boleh bunuh kamu."

Dia diam sebentar terus melirik Dio sebelah mata.

"Tapi Papanya nggak bilang kita nggak boleh bikin dia cacat seumur hidup, kan?" Tanya Hans.

"Nggak ada larangan," jawab Dio singkat.

Mereka berdua senyum serentak, membuat orang itu langsung gemetar ketakutan.

"Aku bisa bayar! Sumpah demi apa aja aku bayar!" serunya panik. "Kasih aku waktu dikit aja, aku bakal cari uangnya. Aku kasih dua kali lipat deh, apa aja deh yang penting jangan sakiti aku!"

Dio menoleh ke arah Hans. Sepupunya itu hanya mengangkat bahu dan diam saja. Mereka sudah memeriksa latar belakang pria itu sebelumnya. Hasilnya sangat jelas. Pria itu sama sekali tidak memiliki aset berharga atas namanya sendiri. Bisnisnya berantakan, dan semua harta kekayaannya masih tercatat atas nama Ayahnya.

"Gimana caranya kamu mau lakuin rencana itu?" tanya Dio, nada suaranya penuh rasa penasaran.

"Aku bakal nikah. Calon istriku punya harta melimpah. Dia keturunan keluarga Rachmandi," jawab pria itu langsung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!