Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK SIAPA?
Papa Lingga pun membuat Lingga sibuk dengan memberikan beberapa proyek dan aktivitas bisnis beruntun. Tujuannya agar Lingga tak fokus pada penyaluran hasrat, beliau tahu sang putra tidak akan mau menyentuh Calista, dan hanya ingin dengan Tania. Biarlah otak Lingga berpikir untuk bisnis saja.
Papa Lingga sendiri sedang menunggu kehancuran Calista, namanya orang tua mana mau punya menantu spek wc umum seperti Calista. Kalau bukan karena perjanjian kakek Lingga, tentu papa akan menjodohkan Lingga dengan perempuan yang setara dengan keluarganya.
Kalau saja kakek Lingga tidak egois hanya demi menutupi nama baiknya sebelum pencalonan, mungkin perjanjian itu tak akan merugikan keluarga Lingga. Bayangkan saja, kalau keluarga Lingga tak mau menjalankan perjanjian itu, 75% harta kakek akan diberikan kepada keluarga Calista. Jelas keluarga besar memilih mengorbankan masa depan Lingga daripada kehilangan harta. Mereka tak pernah susah, sudah terdoktrin hidup sebagai keluarga terpandang. Jelas tak mau harus memulai dari 0.
Papa Lingga sedang menunggu, terjatuhnya Calista entah karena skandal atau karena penyakit. Papa Lingga sendiri tahu, kekasih Calista sangat bisa mengendalikan media, backingannya juga kuat di dunia entertaiment, wajar skandal Calista tak pernah terblow-up.
Selain itu, papa mengharap Calista terkena penyakit kelamin, agar sekalian saja mati. Kejam, tapi sangat berharap. Hubungan kalau sudah dilandasi dengan dendam tidak akan pernah bisa bahagia.
Gimana? Tuntut Lingga pada orang suruhannya untuk mengawasi kegiatan Tania. Malam ini belum ada kabar selanjutnya setelah orang suruhannya melapor Tania ke rumah sakit setelah pulang kantor.
Tania ternyata memeriksakan kandungan rutinnya, berusaha menerima kehamilan, maka ia pun memutuskan rutin untuk periksa ke dokter. Usianya masih 8 minggu, ketuban dan plasenta keadaannya baik, panjang dan berat bayi sesuai dengan usianya. Bahkan Tania berkaca-kaca saat menatap foto cetak USG tersebut.
"Dia pasti bangga tumbuh di rahim kamu," ujar seseorang yang tiba-tiba berjalan di samping Tania. Sontak saja, Tania menyimpan foto USG tersebut dan menoleh, ternyata Salman. Tania tersenyum canggung, bertemu dengan lelaki itu dan membahas kehamilannya, Tania kurang nyaman. Dia masih punya rasa malu atas kehamilan tanpa suami. Bisa saja Salman ramah di hadapannya, namun pada kenyataannya menganggap Tania murahan, sangat mungkin bukan.
"Gimana? Sehat?" tanya Salman lagi, dan Tania hanya mengangguk. Keduanya berjalan keluar rumah sakit, masih jalan beriringan dan Salman menawarkan tumpangan.
"Gak usah menolak, udah gerimis, khawatir hujan dan taksi online banyak yang menolak, yuk keburu hujan deras!" ucap Salman sembari menggandeng Tania, menuju parkiran mobil dokter. Tania hanya diam, dan mengikuti saja. Badannya juga lelah, untuk kali ini ia akan menerima tawaran tetangga depan rumahnya.
Sialan, laki-laki itu lagi. Balas Lingga saat foto gandengan antara Tania dan Salman dikirim oleh orang suruhan Lingga.
"Mereka pacaran beneran!" celetuk Lingga penuh kekesalan.
Cari tahu kenapa Tania periksa ke rumah sakit! Lingga pun menuntut tahu riwayat penyakit Tania, setelah dirawat kok dia mengunjungi rumah sakit, Lingga yakin bukan hanya kontrol biasa.
Tidak bisa, Tuan. Pihak rumah sakit akan menjaga kerahasiaan riwayat pasien.
Uangku banyak. Kalian butuh berapa agar bisa mendapat riwayat penyakit Tania?
Lingga sudah tidak konsentrasi lagi, pikirannya tertuju pada kedekatan Tania dan lelaki itu. Rumah mereka berhadapan, jadi sangat mungkin Tania mempersilahkan masuk lelaki itu. Hanya membayangkan saja, Lingga sudah sangat cemburu.
Paginya, Lingga bangun dengan hati yang dongkol setengah mati. Orang suruhannya kembali mengirimkan foto Tania kembali. Sama seperti tadi malam, pagi ini Tania jogging bersama laki-laki itu. Bahkan keduanya terlibat obralan hingga Tania tertawa.
"Sialan!" gumam Lingga marah, ia langsung menghubungi asistennya untuk mempercepat urusan bisnis di kota ini. Ia ingin kembali secepatnya dan bertemu dengan Tania.
"Akan aku perjelas Tania hanya miliku," ucap Lingga dengan mengepalkan tangan.
Tak hanya itu, Lingga juga mencari tahu kabar Tania pada Yovi, dan jawaban sang kakak, Tania bekerja seperti biasa, soal kabar punya pacar atau enggak, Yovi tak tahu. Toh, soal privasi Tania sangat menyimpan rapat, bahkan Siska yang dianggap dekat pun tak tahu pacar Tania siapa.
Lingga tak puas dengan jawaban Yovi, malam ini ia kembali ke kota dan langsung meluncur ke rumah Tania. Tak peduli sudah malam, ia hanya ingin memastikan Tania hanya miliknya.
Benar saja, hujan begitu deras. Lingga memencet bel di pagar rumah Tania terus, mau tak mau Tania pun mencari tahu siapa tamu di kondisi hujan deras begini. Begitu melihat Lingga, Tania kembali. Ia tak mau berurusan dengan lelaki itu. Ia mengunci rapat pintu dan jendela. Namun Lingga tak kurang akal, dia sampai memanjat pagar rumah, dan terus mengetuk rumah Tania. Tak peduli perempuan itu tak bisa tidur juga.
Pukul 1 dini hari barulah Tania membukakan pintu, karena ia tak tega. Dari CCTV depan, Lingga duduk dengan baju yang basah. Sekali lagi Tania bodoh dan luluh pada kelakuan Lingga.
Baju dan training Lingga masih disimpan Tania, yah saat Tania pergi dari apartemen, dia sengaja mengambil dua kaos dan juga satu training baju Lingga, sebagai obat kangen pikirnya. Ternyata sekarang terpakai juga.
"Aku kangen," ucap Lingga to the point setelah membersihkan diri dan keduanya masih di kamar Tania. Bahkan Lingga langsung memeluk Tania.
Bohong kalau Tania menolak, hatinya langsung menghangat dan tak dipungkiri ia langsung membalas pelukan Lingga. Air matanya langsung turun dengan deras.
Ia sangat butuh pelukan ini, dengan kondisi hamil muda seperti ini. Ia butuh diperhatikan, ia butuh pelukan, karena nyatanya ia tak sanggup hidup sendiri menjadi single parent untuk sang janin.
Entah berapa lama mereka pelukan, pada akhirnya diri Lingga bergejolak, ingin menyalurkan rasa rindu dengan penyatuan. Tania juga tak menolak, diraba dan dilumat bibirnya oleh Lingga. Ia sangat merindukan aktivitas panas dengan suami orang ini. Hingga saat Lingga akan melakukan penyatuan, spontan Tania mendorong tubuh polos Lingga.
"Kenapa Sayang?" tanya Lingga kaget. Moment yang ditunggunya, malah ditolak oleh Tania. Bisa dibayangkan hasrat yang sudah diujung dan tak bisa terwujud. Kepala mendadak pusing. Terlebih Tania langsung menyelimuti tubuhnya. "Aku tahu tubuh kamu juga merindukanku, dan sumpah aku belum pernah melakukannya bersama Calista!"
Tania menggeleng, bukan itu yang menjadi alasannya menolak Lingga, tapi karena kehamilannya yang masih rentan, ia tak mau merasakan sakit yang luar biasa akibat pendarahan lagi. "Maaf, Ngga. Aku gak bisa!"
Badan capek, rasa rindu membuncah, hasrat diujung, dan ditolak. Emosi Lingga sangat mudah terpancing. Dia tersenyum sinis, "Kamu menolaknya karena kamu sudah dipakai lelaki itu kah?" tuduh Lingga.
"Lelaki siapa, Ngga!"
"Gak menyangka saja kamu bisa semudah itu memberikan tubuh kamu pada lelaki lain, sedangkan aku saja yang punya istri, tak ada kepikiran satu kali pun menyentuhnya!"
"Jaga omongan kamu, Ngga!" suasana romantis berubah menjadi tegang dan panas, Tania langsung memakai bajunya dan keluar kamar. Jangan sampai terpancing emosi hingga dia kelepasan soal kehamilan. Tania tak mau Lingga tahu akan kehamilan ini, khawatir menambah masalah suatu hari nanti.
Sedangkan Lingga hanya menghela nafas berat, sepertinya dia salah bicara lagi. Ia memejamkan mata, merebahkan diri di ranjang Tania, dan satu moment dia menangkap sesuatu di atas nakas Tania.
"USG?" gumamnya sembari mencermati foto USG yang diletakkan Tania di atas nakas di samping ponselnya. "Tania hamil? Anak siapa?"
GO go Tania semangat