Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Meledaknya Kesabaran Kirana
Tiga hari telah berlalu sejak Arlan memutuskan untuk melakukan aksi "mogok kerja" dari kantor pusat Arlan Group.
Jika pada hari pertama Kinara merasa tersentuh, dan pada hari kedua ia merasa sedikit terhibur, maka pada hari ketiga ini, Kinara merasa seperti sedang diawasi oleh detektif selama dua puluh empat jam penuh.
Arlan benar-benar bertransformasi menjadi bayangan yang tidak pernah lepas dari punggungnya.
Pagi itu, Kinara mencoba untuk mencari ketenangan di balkon kamar utama.
Ia membuka laptopnya, berusaha menyambung kembali potongan-potongan ide untuk novel digitalnya yang sempat terbengkalai.
Menulis adalah satu-satunya pelariannya, satu-satunya cara baginya untuk merasa berdaya. Namun, baru saja ia mengetik satu paragraf, ia merasakan hembusan napas hangat di lehernya.
"Kinara... sedang apa? Kenapa kau lebih asyik menatap layar itu daripada menatap suamimu?"
suara Arlan terdengar berat, namun bernada rengekan yang kini mulai terdengar seperti suara gesekan kuku di papan tulis bagi Kinara.
Kinara menarik napas panjang, mencoba mempertahankan fokusnya.
"Arlan, aku sedang bekerja. Tolong, beri aku waktu satu jam saja untuk menyelesaikan bab ini. Setelah itu aku akan menemanimu."
"Satu jam itu terlalu lama," gumam Arlan.
Ia bukannya menjauh, malah sengaja duduk di lantai di samping kursi Kinara, lalu menyandarkan kepalanya di paha wanita itu.
"Kenapa kau harus bekerja? Jika kau butuh uang, katakan saja berapa digit yang kau mau. Aku akan mengirimkannya sekarang juga. Berhenti melakukan hal yang melelahkan ini."
Kinara menutup matanya sejenak, jemarinya berhenti di atas keyboard.
Kalimat itu—kalimat yang menganggap segalanya bisa selesai dengan uang—selalu berhasil memicu luka lama di hatinya.
Arlan mungkin sudah berubah menjadi manja, tapi keangkuhannya sebagai pria kaya raya masih sering kali muncul tanpa ia sadari.
"Ini bukan soal uang, Arlan. Ini soal mimpiku. Ini soal harga diriku," jawab Kinara dengan suara yang mulai menajam.
"Mimpimu adalah aku, Kinara. Dulu kau selalu bilang begitu," balas Arlan dengan wajah tanpa dosa, menatap Kinara dari bawah dengan tatapan puppy eyes yang kini terasa menyesakkan bagi Kinara.
Siang harinya, keadaan justru semakin memburuk.
Kinara ingin mandi untuk mendinginkan kepalanya yang mulai panas. Namun, saat ia melangkah menuju kamar mandi, Arlan sudah berdiri di depan pintu layaknya seorang pengawal kerajaan.
"Kau mau ke mana?" tanya Arlan cemas.
"Aku mau mandi, Arlan. Mandi!"
"Jangan lama-lama, ya? Aku akan menunggumu di sini. Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja. Aku akan langsung masuk," ucap Arlan tanpa rasa malu sedikit pun.
Kinara membanting pintu kamar mandi dan menguncinya dengan kasar.
Di dalam, ia berdiri di bawah pancuran air dingin, mencoba meredam emosinya. Setiap lima menit, terdengar suara ketukan pelan dari luar.
"Kinara? Kau masih di sana? Kenapa tidak ada suara? Kau tidak pingsan, kan?" suara Arlan terdengar penuh kekhawatiran yang berlebihan.
"Aku sedang memakai sabun, Arlan! Berhenti memanggil namaku!" teriak Kinara dari dalam.
Ia merasa privasinya benar-benar telah dirampas. Dulu ia merana karena diabaikan, namun sekarang ia merasa tercekik karena terlalu diperhatikan.
Puncaknya terjadi pada sore hari saat matahari mulai terbenam.
Kinara sedang duduk di ruang tengah, mencoba membalas pesan di grup komunitas penulisnya melalui ponsel.
Ia sedang berdiskusi serius tentang kontrak karyanya. Tiba-tiba, sebuah tangan besar merebut ponsel itu dari genggamannya.
"Siapa yang mengirim pesan? Apakah pria itu lagi? Si Devan itu?" suara Arlan berubah menjadi dingin dan penuh selidik.
Matanya berkilat penuh kecemburuan yang tidak pada tempatnya.
"Kembalikan, Arlan! Itu grup penulis, bukan Devan!" Kinara berdiri, mencoba meraih ponselnya yang diangkat tinggi-tinggi oleh Arlan.
"Kau tidak butuh grup-grup seperti ini. Mereka hanya menyita waktumu yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak suka kau membagi perhatianmu pada orang-orang yang tidak jelas ini," Arlan sudah siap menekan tombol block pada beberapa kontak di sana.
Melihat hal itu, sesuatu di dalam diri Kinara seolah meledak.
Semua rasa sesak, rasa lelah karena diikuti terus-menerus, dan rasa frustrasi karena tidak dihargai privasinya, pecah seketika.
"ARLAN, CUKUP!!! BERHENTI!!!" bentak Kinara dengan suara yang sangat menggelegar, hingga gema suaranya memantul di langit-langit ruangan yang tinggi itu.
Arlan mematung.
Tangannya yang memegang ponsel membeku di udara.
Wajahnya yang tadi penuh kecemburuan kini berubah menjadi sangat pucat karena terkejut.
Ia belum pernah mendengar Kinara berteriak sekeras itu selama tiga tahun mereka bersama.
Bahkan para pelayan yang sedang membersihkan meja di ruang makan langsung menjatuhkan kain lap mereka, tidak berani bergerak sedikit pun.
"K-Kinara? Kau membentakku?" tanya Arlan dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca karena kaget.
"YA! AKU MEMBENTAKMU KARENA KAU SUDAH KETERLALUAN!" teriak Kinara lagi, kali ini dengan air mata frustrasi yang mulai mengalir.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, Arlan! Kau pikir ini romantis? Kau pikir dengan menempel padaku dua puluh empat jam itu tandanya kau mencintaiku? TIDAK! Kau mencekikku!"
Kinara melangkah maju, merebut ponselnya dengan kasar dari tangan Arlan yang sudah lemas.
"Dulu kau mengabaikanku sampai aku merasa seperti hantu di rumah ini. Sekarang kau menjadikanku tawanan dengan sifat manjamu yang tidak masuk akal ini! Aku butuh ruang untuk bernapas! Aku bukan mainan yang harus kau pegang setiap detik agar tidak hilang!"
"Aku... aku hanya ingin menebus kesalahanku, Kinara. Aku takut kau pergi lagi..." bisik Arlan, air matanya kini benar-benar jatuh membasahi pipinya.
Sang CEO yang ditakuti ribuan orang itu kini tampak sangat kecil dan menyedihkan.
"Caramu salah, Arlan! Kau tidak bisa membeli cintaku dengan cara merampas privasiku!" Kinara menunjuk ke arah pintu depan dengan tangan gemetar.
"Pergilah ke kantor! Jadilah pria dewasa yang bertanggung jawab! Berhenti menjadi parasit dalam hidupku hanya karena kau merasa bersalah! Aku butuh Arlan yang berwibawa, bukan bayi besar yang merepotkan seperti ini!"
Kinara berbalik, berlari menuju kamar tamu dan mengunci pintunya dari dalam dengan sangat keras.
BRAK!
Di ruang tengah, Arlan masih berdiri mematung di tempatnya.
Hening yang mencekam menyelimuti mansion itu. Arlan menatap pintu yang tertutup rapat, merasakan dadanya sesak luar biasa, lebih sakit daripada saat ia kehilangan kontrak bisnis terbesarnya.
Ia baru sadar bahwa keinginannya untuk berubah justru menjadi beban bagi wanita yang ia cintai.
Arlan duduk merosot di lantai marmer yang dingin, menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya.
Isakan pelan mulai terdengar dari pria itu.
Malam itu, untuk pertama kalinya, sang penguasa itu menyadari bahwa mencintai seseorang ternyata jauh lebih sulit daripada memimpin sebuah imperium bisnis.