Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Malam ini Bagas tengah berada di rumah sakit. Tadi mamanya sudah siuman dan sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. kata dokter mamanya hanya kecapean dan banyak pikiran.
Bagas menatap ke arah adiknya " Van, kamu pulang aja biar malam ini aku yang jagain mama"
Revan langsung menoleh. “Lah, Mas. Nggak usah. Aku di sini aja, nemenin Mama juga.”
Bagas menghela napas, berusaha sabar. “Kamu besok masih kerja kan? Pulang, istirahat. Lagian Mama udah siuman, tinggal pemulihan aja. Kalau kamu ikut begadang, malah tambah nyusahin Mama kalau besok kamu sakit.”
Revan terdiam sebentar, matanya ngarah ke Mama. “Tapi Mas, serius nih, kalau ada apa-apa langsung kabarin aku."
Bagas mengangguk mantap. “Iya, pasti. Aku kabarin. Kamu tenang aja.”
Revan menarik napas panjang, akhirnya berdiri. “Oke deh. Aku pulang dulu. Tapi besok pagi aku balik lagi.”
"iya, udah sana. Kamu hati-hati jangan ngebut di jalanan"
Setelah Revan pergi Bagas memilih duduk di kursi dekat ranjang ibunya.
Tangannya terulur, menggenggam jemari ibunya dengan hati-hati. Wajah kerasnya luluh saat melihat sosok yang begitu ia hormati terbaring lemah.
“Ma…” bisiknya lirih. “Maaf kalau aku bikin Mama banyak mikirin aku. Aku janji, mulai sekarang aku bakal lebih jaga Mama. Aku nggak mau kehilangan Mama.”
Kelopak mata ibunya bergerak sedikit, seolah mendengar meski masih dalam tidur. Bagas menunduk, mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bagas merasa rapuh.
Bagas meraih handphonenya, menekan tombol hubungi dan setelah menunggu beberapa saat sambungan telpon terhubung.
" halo, ada pak" terdengar suara serak Dika diseberang sana sepertinya dia baru bangun tidur.
" sekarang kamu ke apartemen ku dan bawakan satu stel pakaian kerja dan perlengkapan pribadiku. bawakan ke rumah sakit permata kamar nomor 201 lantai tiga sekarang juga"
Dika yang disana menghembuskan nafasnya dengan kasar " pak ini udah tengah malam loh, apa ngga bisa besok aja"
" kamu mau kerja lagi atau ngga"
" iya-iya dua puluh menit lagi sampe"
Usai menutup telpon Bagas memilih merebahkan dirinya di sofa rumah sakit ini karena dia memesan kamar viv untuk ibunya.
Sesuai dengan apa yang di ucapkan Dika di telpon. Dua puluh menit kemudian dia sudah berada di ruangan yang Bagas sebutkan.
" Tante sakit apa pak. Kok bisa sampe masuk rumah sakit"
yang di tanya malah menghembuskan nafas berat dan berjalan ke luar kamar" kata dokter cuma kecapean dan banyak pikiran, tapi pas aku tanya tadi mama malah buang muka ngga mau ngomong"
Dika mengangguk paham " mungkin kamu buat kesalahan atau ada permintaan Tante yang belum kamu turuti. Coba deh kamu ingat-ingat, terus nanti tanyakan apa itu yang Tante pikirkan sampe bisa kayak gini"
Bagas mengusap wajahnya dengan kasar, kepalanya terasa penuh. Kata-kata Dika barusan seperti menusuk pikirannya.
Kesalahan? Permintaan yang belum dituruti?
Ia menoleh sekilas ke arah ranjang, tempat sang mama berbaring dengan wajah pucat tapi tenang. Bayangan percakapan terakhir mereka sebelum Mama jatuh sakit kembali muncul di kepalanya.
"Gus, Mama cuma pengin satu hal… Kamu menikah. Mama nggak bisa tenang kalau lihat kamu sendirian terus."
Waktu itu ia hanya mengalihkan pembicaraan, menganggapnya sekadar kekhawatiran seorang ibu. Tapi ternyata… hal itu benar-benar dipikirkan Mama sampai membuatnya sakit begini.
Bagas membuka mata, menatap hampa ke langit-langit ruangan. “Mama pengin aku nikah, mama sudah berulang kali menyuruh ku untuk menikah Dik. Mungkin Itu yang bikin beliau terus mikirin aku.”
Dika terdiam, lalu mengangguk pelan. “Wajar sih, Pak. Orang tua pasti pengin lihat anaknya berumah tangga. Apalagi usia Bapak sekarang…” Ia berhenti, sadar ucapannya bisa jadi terlalu jauh.
Dika melirik tuannya yang terlihat lebih rapuh dari biasanya. “Pak… mungkin ada benarnya. Tante kan cuma pengin lihat Bapak bahagia, punya pasangan, punya keluarga. Apalagi umur Tante makin sepuh. Wajar kalau beliau khawatir.”
Bagas menghela napas panjang, matanya kembali menatap ibunya yang terbaring di ranjang. “Nikah, ya…” gumamnya, getir. Bayangan wajah mantan istrinya Kyra tiba-tiba muncul di kepalanya. Senyumnya, tatapan matanya waktu tadi di ruang kerja. Dan wajah seorang bocah kecil, Aldian.
Tangannya terangkat, mengusap wajah lelahnya. “Nggak semudah itu, Dik,” suaranya parau, hampir berbisik.
Bagas menghela napas berat. Ada rasa lega sekaligus perih mendengar kalimat itu. “ kamu juga tahu kenapa aku nggak bisa gampang nurutin Mama buat nikah lagi. Aku masih nyimpen rahasia segede ini, Dik. Kalau Mama sampai tahu…”
Dika menunduk sopan. “tante pasti kaget, iya. Tapi kalau Tante sayang sama Bapak, cepat atau lambat beliau juga harus tahu. Bapak nggak bisa selamanya sembunyiin itu semua”
" tapi aku bingung mau di mulai darimana"
Dika yang sedari tadi berdiri di samping, menarik kursi lalu duduk menghadap Bagas. Senyumnya tipis. “Pak… kalau Bapak masih cinta sama Bu Kyra, kenapa nggak jujur aja? Kenapa nggak kejar lagi? Toh waktu belum tentu benar-benar habis.”
"Aku rasa Kyra… nggak bakal mau balik lagi ke aku. Semua ini kan salahku dari awal. Kalau waktu itu aku berani lawan ayahku, dia nggak akan pergi. Kalau aku bisa lindungi dia, mungkin sekarang ceritanya beda. Tapi aku gagal.”
Dika terdiam sejenak, lalu menatap Bagas serius. “Pak, semua orang bisa bikin kesalahan. Tapi bukan berarti kesalahan itu nutup kemungkinan buat memperbaiki. Kalau Bapak yakin Bu Kyra masih punya tempat buat Bapak, kenapa nggak coba?”
Bagas menggeleng pelan,“Aku nggak yakin, Dik. Aku takut pas aku datang, dia justru makin benci sama aku. Takut semua usahaku malah bikin dia tambah jauh.”
Dika menepuk bahu atasannya dengan lembut. “Tapi kalau Bapak diem aja, hasilnya juga sama, Pak. Bu Kyra tetap jauh. Bedanya, Bapak nggak pernah tahu apakah masih ada harapan atau nggak.”
Bagas menunduk, terdiam lama. Hatinya seperti ditarik ke dua arah antara rasa bersalah yang menghantui dan kerinduan yang masih begitu nyata.
udah ancur lebur ini hati tutup hempas ke Amazon,,apa Balikan lagi kamu kyra move on bisa ga