Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Adrian dan Mita sudah sampai di rumah sakit swasta di Jakarta. Menunggu hasil lab yang sudah mereka lakukan sejak pagi tadi. Sejak pembahasan soal anak, Adrian langsung berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan. Baik untuk dirinya sendiri dan juga Mita. Dari tes kesehatan juga tes kesuburan.
Dua-duanya sama-sama merasa takut. Tentu saja, bagaimana tidak! Kalau ternyata rumor selama ini tentang Mita yang mandul, bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Benar-benar harus melepaskan Adrian? Membiarkan Adrian menemukan kebahagiaannya dengan wanita lain?
Lalu, bagaimana kalau itu terjadi pada Adrian? Apakah Adrian harus merelakan Mita untuk melepaskannya dan mencari sosok pria yang memang sehat dan segala-galanya? Meskipun rasanya mustahil kalau di dunia ini ada yang benar-benar sempurna.
Setelah hampir empat jam, Akhirnya nama mereka dipanggil. Adrian dan Mita kembali masuk ke dalam ruangan dokter.
Seorang dokter perempuan sedang membaca hasil lab milik Adrian dan Mita. Lalu, saat mereka masuk, dokter itu tersenyum ramah.
"Hai... Masuk sini masuk."
Adrian juga ikut tersenyum, karena ternyata dokter dihadapannya adalah sepupunya. Anak dari Tante Citra, yang bernama Arumi.
Mereka duduk berdampingan, di bawah meja, Adrian menggenggam tangan Mita dengan erat.
Tiba-tiba ruangan terasa begitu sunyi. Hingga suara detak jam di dinding pun terdengar jelas. Aroma khas rumah sakit tercium jelas bersamaan rasa gugup yang sejak tadi memenuhi dada Adrian dan Mita.
Sesekali Adrian melirik Mita. Mencoba memberikan ketenangan lewat usapan lembut di punggung tangannya.
Dokter Arumi masih membuka hasil lab dan ketika ia mengangkat wajahnya, ia tersenyum hangat, mencoba untuk menenangkan calon pasangan yang ada di hadapannya.
"Jangan tegang, dong...," ucap dokter Arumi yang kembali tersenyum hangat.
Mita terkekeh kecil, ketara sekali rasa gugupnya. "Saya takut dengar hasilnya, Dok."
Mendengar itu, Adrian yang sebenarnya menahan rasa takutnya pun berusaha tetap tenang dan kuat. Ia merangkul bahu Mita dan mengusapnya lembut.
Dokter Arumi tersenyum tipis sebelum mulai membaca hasil pemeriksaan satu persatu. Matanya bergerak teliti di atas lembaran kertas tersebut.
"Untuk hasil kesehatan secara umum..." Kalimatnya menggantung sejenak. Membuat Mita reflek menahan napas. "Semua bagus. Keduanya bagus."
Mita menoleh cepat ke Adrian. Mata mereka bertemu dan mereka tersenyum.
"Tekanan darah normal, hormon stabil, tidak ada masalah serius pada kondisi kesehatan kalian berdua," lanjutnya.
Terdengar hembusan panjang dari Adrian. Bahunya yang tegang perlahan turun.
Namun, dokter Arumi belum selesai sampai disitu. Ia kembali membuka halaman berikutnya.
"Dan untuk hasil pemeriksaan kesuburan...." Kalimatnya kembali menggantung.
Jantung Mita kembali berdebar kencang.
"Hasilnya juga sangat baik. Nggak ada masalah. Sel telur bagus, dan spermanya sehat."
Hening beberapa detik memenuhi ruangan. Sebelum Mita spontan menutup mulutnya sendiri dan matanya ya g berkaca-kaca.
"Jadi... Aku dan mas Dri nggak ada masalah, Dok?"
"Tidak ada. Kalian sehat." Dokter Arumi tersenyum lembut. "Peluang kalian untuk memiliki anak sangat bagus."
Adrian menunduk dan mengusap wajahnya pelan. Entah mengapa ia merasa lega. Seperti beban yang sejak malam itu ia tumpu, perlahan lepas.
"Semoga setelah ini, kamu nggak menyalahkan diri kamu lagi ya, Sayang," ucap Adrian sembari menahan gejolak emosi yang campur aduk dalam dirinya.
"Iya, Mas."
Arumi tersenyum dan berdehem. "Jadi... Kalian akan menikah?"
"Betul, Mi." Adrian menjawab singkat.
"Lebih cepat, lebih baik. Melihat usia kalian yang sudah nggak muda. Kalian tuh serasi banget tau," ujarnya lagi.
"Tau, Kok. Makanya kami mau nikah." Adrian menjawab dengan percaya diri.
Arumi mengangguk setuju.
"Mbak Mita nggak boleh stres ya. Sejauh ini semua stabil. Pikirannya juga harus tenang. Mendekati pernikahan memang ada aja ujiannya. Kalian harus saling menjaga kepercayaan dan saling memahami tentunya." Arumi memberikan nasehat, karena ia sendiri sudah menjalani itu sejak lama.
"Iya, Mi. Makasih banyak ya."
Mita mengangguk pelan dan menyadari air matanya jatuh satu tetes.
Adrian langsung menggenggam erat tangan Mita lebih erat.
Dan untuk pertama kalinya bagi Mita, ia merasa lega dan merasa beban yang selama ini menumpuk di bahunya perlahan menghilang. Rasa percaya dirinya perlahan muncul kembali ke permukaan.
。◕‿◕。
Ruang makan itu terasa hangat dengan lampu kekuningan yang menggantung di atas meja panjang. Aroma sup krim dan ayam panggang memenuhi udara. Mita duduk sedikit tegang di hadapan wanita yang terlihat elegan meskipun sudah berusia. Sejak tadi memperhatikan dengan senyum tipis.
Setelah makan malam, Tante Citra mengajak Mita untuk duduk di beranda rumah, sambil minum teh hangat. Sedangkan Adrian sibuk dengan pekerjaan di ruang tamu.
"Akhirnya kita ketemu juga ya, Mita," ucap Tante Citra sambil menyesap teh hangatnya.
Mita tersenyum sopan. "Iya, Tante. Maaf ya baru bisa ketemu sekarang. Karena kemarin aku kurang enak badan."
"Nggak apa-apa. Adrian itu anaknya jarang bicara. Semua dipendam sendiri. Diselesaikan sendiri. Kalau sudah terpojok, baru deh bilang. Kamu harus sabar ya sama Adrian." Tante Citra tersenyum lembut.
"Iya, Tante. Mita akan berusaha."
"Kamu itu perempuan pertama yang dibawa ke rumah. Dari dulu dia tuh kalau ditanya cuma cengar cengir aja. Alhamdulillah, sekarang kamu orangnya. Tante percaya kamu perempuan yang baik dan penyabar. Dengar dari cerita Adrian tentang kamu, Tante tau kalau Adrian begitu sayang dan mencintai kamu, Mita," jelasnya panjang lebar.
Pipi Mita bersemu hangat. Mendengar pujian dan cerita tentang calon suaminya.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?"
"Ehm... Lumayan, Tan. Mas Dri minta aku nggak usah pusing. Tapi, tetap aja kepikiran. Soal undangan juga hampir rampung, karena memang nggak banyak yang diundang." Mita terdengar menghela napas pelan.
"Kalau butuh bantuan Tante, jangan sungkan ya. Tante siap kok."
Mita tersenyum sopan dan merasa lega karena diterima baik oleh keluarga Adrian. Mita bisa menilai kalau Tante Citra baik. Dari cara bicaranya yang keibuan dan cara menatapnya yang hangat, tidak mengintimidasi.
"Kamu lihat kan, tuh! Adrian masih aja sibuk kerja. Padahal kita kan mau kumpul keluarga." Tante Citra menggeleng pelan melihat ponakannya yang masih berkutat dengan laptopnya.
Mita terkekeh, mungkin Adrian sedang menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda, karena hari ini mereka sibuk ke rumah sakit, urus undangan, urus seserahan dan malamnya ke rumah Tante Citra.
"Kalian ngomongin aku, ya?"
Tante Citra langsung menjawab, " iya nih! Ternyata calon istri kamu jauh lebih sabar daripada dugaan Tante."
Adrian mendekat dan duduk dekat dengan Mita. "Berarti, aku nggak salah pilih kan, Tan? Ternyata telat nikah tuh, nggak ada yang salah."
"Emang nggak ada yang salah. Yang salah itu ya ... Mulut orang-orang!" Tante menanggapi.
Mita bersyukur sekali, hari ini ia benar-benar merasa lega. Tali-tali yang mengikat tubuhnya selama ini, satu persatu telah terlepas.
[]