Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara berburu
Siang itu, William masih berada di ruang kerjanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi di belakang meja besar yang dipenuhi tumpukan dokumen dan laporan. Sejak pagi ia hampir tidak meninggalkan ruangan tersebut. Berkas demi berkas terus berdatangan, tetapi tidak satu pun memberikan jawaban yang ia cari. Kasus perdagangan manusia yang sedang ditangani militer masih belum menemukan titik terang. Beberapa petunjuk memang berhasil dikumpulkan, namun semuanya berhenti di tengah jalan. Tidak ada nama yang cukup kuat untuk dijadikan tersangka utama, tidak ada jalur yang benar-benar mengarah kepada dalang di balik semua itu. Setiap laporan yang masuk hanya menambah pekerjaan tanpa memberikan hasil yang berarti.
Ketukan terdengar dari pintu. Setelah mendapat izin masuk, Adrian melangkah ke dalam ruangan bersama Kael yang membawa beberapa dokumen di tangannya. Keduanya segera berdiri di depan meja kerja William dan mulai memberikan laporan terbaru mengenai penyelidikan yang sedang berjalan. Namun hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada perkembangan berarti. Jalur yang mereka curigai masih bersih. Beberapa orang yang sempat diawasi juga tidak menunjukkan aktivitas mencurigakan. Semakin lama kasus itu berjalan, semakin terlihat jelas bahwa pihak lawan tahu bagaimana cara menghapus jejak mereka.
Di tengah pembahasan, Kael menyerahkan satu berkas tambahan. William menerimanya lalu membuka halaman pertama. Salah satu alisnya sedikit terangkat ketika membaca daftar nama yang tertulis di sana.
"Ini apa?"
"Daftar perwira yang sebelumnya diminta oleh Nona Aveline, Tuan," jawab Kael.
William kembali melihat isi dokumen itu. Nama-nama yang tercantum masih sama seperti beberapa minggu lalu. Henric Loar, Milo Vern, Edrik Hale, Kapten Roland Krüger, dan Mayor Darius Veyne.
"Namun sampai sekarang Nona Aveline belum pernah memberitahu kami hasil apa pun mengenai daftar tersebut," lanjut Adrian.
William membaca sekali lagi sebelum menutup berkas itu sebagian.
"Bagaimana status mereka sekarang?"
"Prajurit Henric sudah kembali bertugas seperti biasa, Tuan. Milo Vern juga sudah melapor kembali. Edrik Hale pun telah aktif menjalankan tugasnya."
Adrian berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Sedangkan Kapten Roland Krüger tidak langsung kembali ke barak. Beliau langsung ditempatkan di divisi logistik untuk menangani pemeriksaan distribusi persediaan militer."
William mengangguk pelan. Tidak ada yang aneh sampai titik itu.
"Lalu Mayor Darius?" tanyanya.
Kali ini Kael yang menjawab.
"Mayor Darius sampai saat ini belum kembali, Tuan."
Kerutan tipis muncul di dahi William.
"Belum kembali?"
"Benar. Beberapa minggu lalu beliau mengajukan tambahan cuti."
William terdiam sesaat sambil mengingat laporan sebelumnya.
"Bukankah dia mengajukan cuti untuk menemui adiknya di Eldervale?"
"Benar, Tuan."
William menyandarkan punggung ke kursi.
"Kenapa bisa selama itu?" gumamnya pelan. "Setahuku Eldervale tidak sejauh itu jika ditempuh menggunakan transportasi umum."
Tidak ada jawaban yang bisa diberikan Adrian maupun Kael.
Untuk beberapa saat William hanya menatap berkas di tangannya. Namun pikirannya justru beralih kepada orang lain. Dalam beberapa minggu terakhir, Aveline juga terus berpindah dari satu kota ke kota lain. Ia sering pergi tanpa membawa pengawal dan kembali dalam keadaan yang sulit disebut sebagai berpergian biasa. Beberapa kali William melihat pakaiannya berdebu dengan ujung gaun yang kotor, bahkan pernah tampak sedikit robek seperti seseorang yang baru saja melewati tempat yang tidak seharusnya didatangi seorang wanita bangsawan. Entah apa yang sebenarnya dilakukan wanita itu. Namun satu hal yang pasti, Aveline sama sekali tidak terlihat seperti sedang menghadiri perundingan atau pertemuan resmi. Berdasarkan laporan yang diterimanya, wanita itu justru sering menghilang ke gang-gang sempit seorang diri. Tidak seorang pun tahu apa yang ia lakukan selama berada di sana.
William mengembuskan napas pelan lalu menutup berkas tersebut.
"Aku akan membahasnya nanti. Kalian boleh kembali."
"Baik, Tuan."
Keduanya memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup dan suasana menjadi sunyi. William memijat pelipisnya beberapa saat sebelum suara dering telepon genggam memecah keheningan. Ia melirik layar sebentar, lalu menarik napas panjang seperti seseorang yang sudah mengetahui masalah baru sedang menunggunya. Dengan enggan ia mengangkat telepon itu dan mendekatkannya ke telinga.
"WILHELM!" Suara keras dari seberang membuat William langsung memejamkan mata. Ia bahkan belum sempat mengatakan apa pun.
Pria itu menghela napas gusar dan hampir memutus sambungan saat itu juga. Namun suara di seberang bergerak lebih cepat.
"Jika kau berani menutup telepon sekarang, jangan salahkan aku kalau memilih mengundurkan diri sebagai Raja detik ini juga!"
William mendecih pelan. Benar-benar suara yang kekanak-kanakan.
"Leopold ...."
"Apa?"
"Apa kau sedang berusaha mengancamku?"
Tawa puas langsung terdengar dari seberang.
"Kau kira karena sekarang seluruh militer berada di bawah kendalimu, kau bisa memperlakukan kakakmu sesuka hati? Aku benar-benar muak mengurus semua ini. Sejak awal yang pandai membaca strategi itu adalah kau, bukan aku. Bukankah saat kecil kita sudah sepakat bahwa aku tidak akan menjadi Raja? Astaga naga, aku masih mengingatnya dengan jelas."
"Itu hanya sementara."
"Sementara sampai kapan?!"
William baru saja membuka mulut ketika Leopold kembali berbicara tanpa memberinya kesempatan.
"Aku tidak peduli. Kau harus datang ke acara berburu minggu ini di hutan Westmere."
"Tidak tertarik."
Geraman kesal langsung terdengar dari seberang. Namun sebelum Leopold sempat membalas, suara orang lain menyela.
"Yang Mulia."
"Apa lagi?"
"Daftar peserta berburu tahun ini."
"Letakkan saja di sana. Aku sudah hafal bangsawan mana saja yang akan ikut."
"Yang Mulia ... sepertinya tahun ini ada peserta baru."
William yang sejak tadi bersandar di kursinya perlahan membuka mata.
Sementara di seberang, Leopold tertawa kecil.
"Peserta baru? Jangan bercanda."
"Benar, Yang Mulia."
"Siapa?"
"Seorang wanita."
Leopold langsung mendecih.
"Wanita? Mana mungkin."
Prajurit itu menunduk melihat dokumen di tangannya.
"Di sini tertulis Lady Aveline de Grimwald."
"Apa?!"
Suara Leopold menggema begitu keras hingga William harus menjauhkan telepon beberapa senti dari telinganya.
"Coba katakan sekali lagi!"
"Lady Aveline de Grimwald telah resmi mendaftar sebagai peserta berburu."
Ruangan di sisi lain langsung sunyi selama beberapa detik.
Kemudian terdengar kekehan pelan.
"Sepertinya ini akan menarik. Kau boleh pergi."
Langkah prajurit itu menjauh. Tak lama kemudian Leopold kembali berbicara melalui telepon.
"Jadi, Wilhelm—"
"Aku akan menghadiri acara itu."
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Leopold terdiam.
"Apa?"
"Aku akan hadir."
"Tunggu sebentar. Bukankah tadi kau bil—"
William langsung menutup sambungan telepon tanpa memberinya kesempatan menyelesaikan kalimat.
Di sisi lain kerajaan, Leopold masih berdiri di dalam ruang kerjanya sambil menatap telepon di tangannya. Pria berusia lebih dari tiga puluh lima tahun itu mengenakan pakaian resmi kerajaan berwarna gelap yang dihiasi sulaman emas di bagian kerah dan lengan. Jubah kerajaan yang tadi ia kenakan bahkan masih tersampir begitu saja di sandaran kursi karena sejak pagi ia sibuk menandatangani berbagai dokumen kenegaraan. Rambut cokelat keemasannya tampak sedikit berantakan akibat kebiasaan buruk mengacaknya setiap kali kesal.
Leopold menatap gagang telepon beberapa detik, kemudian urat di pelipisnya berkedut.
"Dasar bocah tengik sialan!" umpatnya.
~oo0oo~
Pagi menyingsing di kawasan perjamuan berburu itu. Langit semakin dengan sisa warna biru pucat, sementara suara kicauan burung terdengar bersahut-sahutan dari arah pepohonan Hutan Westmere di kejauhan. Embun masih menempel di rerumputan, memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai naik perlahan. Udara terasa dingin ringan, khas pagi di wilayah berburu kerajaan yang luas itu. Di sisi lapangan terbuka, paviliun-paviliun besar sudah berdiri rapi dengan kain putih dan lambang kerajaan yang berkibar pelan tertiup angin.
Di dalam area perjamuan, para wanita bangsawan mulai duduk bersama para ibu mereka di paviliun sebelah, mengenakan gaun formal dengan kipas di tangan. Mereka berbicara pelan, sebagian tersenyum tipis, sebagian lagi mengamati suasana dengan pandangan penuh perhitungan. Di sisi lain, para bangsawan laki-laki yang hadir bersama orang tua mereka duduk berderet di kursi masing-masing sesuai status, mengenakan pakaian formal berburu yang tetap rapi namun tidak seketat pakaian istana. Suasana di antara mereka dipenuhi percakapan rendah tentang politik, wilayah, dan hasil perburuan tahun-tahun sebelumnya.
Di kursi kehormatan paling depan, Raja Leopold sudah duduk. Ia mengenakan pakaian khas seorang raja untuk acara berburu—bukan jubah istana penuh upacara, melainkan mantel kerajaan berwarna gelap dengan detail emas sederhana, sarung tangan kulit, dan lambang mahkota kecil di dada kirinya. Ia duduk santai namun berwibawa, matanya mengamati lapangan seperti seseorang yang sedang menilai jalannya sebuah pertunjukan, bukan sekadar menghadiri acara.
Tak lama kemudian, suara pengumuman menggema dari arah pintu masuk paviliun utama.
“Pangeran Ketiga telah tiba.”
Suasana seketika berubah. Dari arah gerbang utama, Wilhelm—Pangeran Ketiga—memasuki area perjamuan. Ia mengenakan setelan formal berburu milik bangsawan tinggi, jas panjang berwarna gelap dengan potongan rapi, sarung tangan hitam, serta sepatu kulit tinggi yang bersih tanpa noda. Di pinggangnya terpasang perlengkapan ringan berburu sebagai simbol keikutsertaannya dalam acara tersebut. Namun yang paling mencolok adalah topeng emas yang menutupi wajahnya sepenuhnya, tanpa memperlihatkan sedikit pun ekspresi atau identitas di baliknya.
Di kursi Raja, Leopold melirik adiknya dengan tatapan sinis yang disamarkan sebagai rasa malas, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat tingkah seseorang yang merepotkan.
Sementara itu, di antara para wanita bangsawan, bisik-bisik mulai menyebar cepat seperti api kecil yang menyambar jerami kering.
“Apakah benar itu Pangeran Ketiga?” tanya Lady Celin Valcrest, putri dari Viscount Theron Valcrest, sambil menatap ke arah Wilhelm yang baru masuk.
“Astaga … kupikir aku tidak akan pernah melihatnya seumur hidup,” jawab seorang bangsawan wanita lain pelan, matanya masih terpaku.
Lady Celin menggeleng pelan. “Tapi aku sama sekali belum pernah melihat wajahnya.”
“Sepertinya memang begitu. Sebagian besar wanita di kerajaan Koningswald tidak pernah melihat wajah Pangeran Ketiga,” sahut yang lain.
Di sisi lain, Lady Lillian mengibaskan kipasnya perlahan, ikut masuk dalam percakapan dengan nada yang lebih tajam dan berbisik.
“Aku tidak tahu pasti … tapi mungkin saja Pangeran memiliki luka yang cukup serius di wajahnya,” bisiknya pelan.
Clarissa yang sejak tadi terlihat tenang, awalnya memejamkan mata sambil tersenyum kecil seolah menikmati pujian yang beredar tentang Wilhelm. Namun saat mendengar ucapan itu, ia langsung membuka mata dan menatap Lillian dengan tidak suka.
“Luka? Memangnya kau tahu apa tentang Yang Mulia Pangeran?” balas Clarissa dengan nada dingin.
Lillian melirik Clarissa lalu tersenyum tipis. “Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi bukankah masuk akal jika Yang Mulia tidak menampakkan wajahnya karena alasan tertentu? Hampir seluruh rakyat Koningswald bahkan tidak pernah melihatnya. Mungkin saja … ada bekas cacar, atau luka yang tidak ingin ia tunjukkan.”
“Lady … kau terlalu jauh,” ujar Lady Celin, meski nadanya justru terdengar seperti menambah bensin pada api kecil itu.
Clarissa mengepalkan tangannya di sisi tubuh, jelas tidak terima dengan gosip yang semakin liar.
“Ah, ngomong-ngomong … Kolonel itu tidak hadir hari ini,” ucap Lady Celin sambil melirik ke arah deretan kursi perwira.
Mendengar itu, Lillian mendecih pelan. “Tentu saja dia tidak datang ke acara seperti ini.”
Matanya kemudian menyapu para peserta yang hadir, termasuk beberapa perwira tinggi yang duduk di sisi lain paviliun, Letnan Komandan Severin Hale, Kapten Armand Veint, Mayor Lucan Virel, serta Bram yang duduk tidak jauh dari mereka.
Di sisi lain, para putra bangsawan sudah berkumpul dalam kelompok masing-masing. Di antaranya tampak Lord Caelum de Grimwald, putra Marquis Edmund yang berusia dua puluh sembilan tahun, Lord Leon Volmark, putra Baron David Volmark, serta Arvian Valcrest, putra dari Viscount Theron Valcrest.
Sedangkan para wanita paruh baya duduk di paviliun sebelah, mengawasi putri-putri mereka sambil sesekali berbicara pelan mengenai aliansi, pernikahan, dan peluang politik yang mungkin lahir dari acara ini.
Bisik-bisik para gadis kembali terdengar, semakin ramai.
“Lady Lillian, apakah kau sudah dengar? Adik perempuanmu ikut dalam kompetisi ini.”
Lillian menoleh cepat. “Apa? Kau bercanda?”
“Tidak. Lady Aveline de Grimwald mendaftar sebagai peserta berburu,” jawab Lady Celin.
Untuk sesaat, Lillian terkekeh pelan, lalu mengibaskan kipasnya. “Konyol sekali. Wanita itu bahkan tidak bisa menunggang kuda dengan benar. Apa yang akan ia lakukan di sana? Menjadi umpan?”
Beberapa wanita lain ikut tertawa kecil.
“Bayangkan saja,” lanjut Lillian. “Para pria membawa hasil buruan, sementara dia mungkin hanya membawa ranting dan daun.”
“Kau terlalu berlebihan,” ujar Celin, meski ia sendiri ikut tersenyum.
Akan tetaoi, tiba-tiba saja ....
Dor!
Suara tembakan memecah udara pagi. Peluru melesat cepat dan menghantam sisi kayu paviliun di dekat mereka, membuat semua orang langsung terdiam. Beberapa wanita menjerit kecil, para bangsawan laki-laki berdiri refleks, dan para prajurit langsung siaga dengan tangan di senjata, memastikan tidak ada ancaman terhadap Raja maupun para pangeran, termasuk Wilhelm yang langsung bangkit dari duduknya.
Namun perhatian semua orang tidak tertuju pada arah ancaman, melainkan pada suara langkah kuda yang datang dari arah lapangan terbuka.
Seorang wanita muncul menunggang kuda hitam dengan kendali stabil, bergerak langsung menuju area utama. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang ketat dan fungsional—jas tempur ringan dengan detail emas gelap, sarung tangan kulit, sabuk dengan beberapa tali pengikat, holster senjata di pinggang, celana panjang pas badan, serta sepatu boot tinggi yang kuat. Di belakangnya terpasang mantel panjang seperti sayap gelap yang berkibar mengikuti gerakan kuda. Rambut panjangnya terikat rapi dalam gaya ponytail, bergerak mengikuti angin saat ia mendekat.
Begitu kuda berhenti di lapangan, ia menarik tali dengan satu gerakan tegas hingga hewan itu berhenti sempurna.
Tatapan Lillian langsung berubah tajam. “Aveline … kau!”
Wanita itu menoleh santai. “Ah, Lillian. Ternyata kau di sini. Maaf, tembakanku sedikit meleset.”
Beberapa bangsawan wanita lain mulai tertawa kecil, sebagian terkejut, dan yang lain jelas menikmati kekacauan itu.
Di sisi paviliun, Clarissa langsung berdiri dan turun dengan cepat.
“Lady Aveline!” panggilnya dengan suara yang terdengar lega sekaligus senang.
Namun dari arah belakang, suara laki-laki terdengar sinis.
“Yooo … gadis rendahan dari mana yang berani ikut serta acara berburu? Kau seharusnya tahu, di sini hanya ada dua kemungkinan. Memburu atau diburu.”
Aveline menoleh perlahan. Rambutnya bergerak ringan. Salah satu alisnya terangkat tipis.
“Maaf … aku tidak melihat monyet yang berbicara tadi. Di mana dia?” tanyanya datar.
Sesaat paviliun meledak dalam tawa kecil. Pria itu mengernyit, jelas tersinggung.
Aveline mengamati wajah pria itu beberapa detik, lalu ekspresinya berubah sedikit—bukan karena takut, melainkan karena ia mengenali sesuatu. Itu adalah Caelum de Grimwald, putra Marquis Edmund, yang baru ia lihat dalam jarak dekat hari ini.
Tatapan di antara mereka mengeras, suasana lapangan berubah tegang sesaat, seolah momen berikutnya akan menentukan arah pertemuan itu.
.
.
.
Bersambung