NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kota Perbatasan Batu Darah

​Perjalanan menembus Hutan Belantara Selatan tanpa menggunakan jalur udara adalah siksaan yang nyaris tanpa akhir. Selama setengah bulan penuh, Lin Tian, Lin Xue, dan Lin Chen harus bertahan hidup di bawah bayang-bayang pepohonan raksasa yang tidak pernah tersentuh sinar matahari, bertarung melawan binatang buas beracun, dan menembus rawa-rawa miasma mematikan.

​Bagi kultivator sekte yang terbiasa hidup nyaman, rute ini adalah neraka. Namun bagi mereka bertiga, ini adalah kuali penempaan yang sesungguhnya.

​Lin Chen, yang awalnya hanya berada di Pengumpulan Qi Tingkat 3, terpaksa bertarung mati-matian melawan binatang buas tingkat rendah setiap hari, di bawah pengawasan ketat Lin Tian. Tidak ada rasa kasihan. Jika Lin Chen terluka parah, Lin Tian hanya melemparinya pil penyembuh murahan dan memaksanya kembali memegang pedang. Hasilnya sangat nyata. Meski meridiannya tidak sejenius kultivator elit, pengalaman bertarung hidup dan matinya kini mengasah insting membunuhnya jauh melampaui usianya. Ia perlahan merangkak naik menuju puncak Tingkat 4.

​Sementara itu, Lin Tian menghabiskan sebagian besar waktunya saat istirahat untuk memulihkan diri. Inti Teratai Pedang di perutnya masih retak, namun secara konstan memancarkan energi perak redup yang perlahan-lahan memperbaiki meridian dan Tulang Pedang Sejati-nya. Ia menyadari bahwa tahap ketiga Seni Pedang Sembilan Kematian tidak bisa dicapai hanya dengan satu kali lompatan pencerahan. Tubuhnya membutuhkan sumber daya ekstrem—daging binatang spiritual tingkat tinggi, obat langka pemadat tulang, atau tekanan pertarungan setingkat Inti Emas—untuk benar-benar menyempurnakan tulangnya menjadi senjata absolut.

​Suatu sore yang terik, rimbunnya hutan belantara akhirnya mulai menipis. Bau amis darah khas hutan digantikan oleh bau tembaga, debu gurun, dan keringat yang menguar di udara kering.

​Di kejauhan, berdiri tembok raksasa berwarna merah kecokelatan setinggi lima puluh meter. Tembok itu dipenuhi oleh bekas cakaran binatang buas raksasa dan noda darah yang mengering selama ratusan tahun. Itulah Kota Perbatasan Batu Darah.

​Kota ini adalah batas pemisah yang kotor antara Hutan Belantara Selatan dan dataran rendah yang mengarah ke pinggiran Benua Tengah. Tempat ini tak memiliki penguasa mutlak. Geng-geng tentara bayaran, sekte aliran hitam skala kecil, pedagang budak, dan buronan sekte besar berkumpul di sini, membentuk ekosistem brutal yang diatur oleh satu hukum tunggal: Batu Spiritual adalah nyawa, kekuatan adalah dewa.

​"Kita sampai," ucap Lin Tian pelan, menyibak tudung jubahnya yang sudah sangat kumal.

​Lin Chen menyeka keringat di dahinya, napasnya lega melihat peradaban, meski kota itu terlihat seperti tumpukan batu bata karatan. "Akhirnya... aku pikir kita akan mati membusuk dan dimakan lintah di rawa itu."

​Lin Xue tersenyum tipis, menggenggam erat tangan kakaknya. Tubuh gadis kecil itu terlihat jauh lebih sehat, meski wajahnya tetap pucat akibat bakat alami Tubuh Roh Es-nya. Lin Tian telah mengajarkan teknik pernapasan sederhana agar Lin Xue bisa menekan fluktuasi hawa dinginnya, menyembunyikan bakat istimewanya agar tidak menarik perhatian predator.

​Sebelum melangkah lebih jauh, Lin Tian berhenti dan menatap sepupunya.

​"Dengarkan aku baik-baik," suara Lin Tian berubah dingin dan serius. "Mulai saat ini, identitas kita sebagai pelarian Sekte Awan Hijau dan target dari Sekte Pedang Surgawi mati di hutan itu. Di kota ini, sekte dari Tanah Suci mungkin tidak bisa sembarangan membunuh, tapi mereka punya banyak mata-mata.

​Lin Tian mengeluarkan sebuah topeng kayu setengah wajah berwarna abu-abu polos dan mengenakannya, hanya menyisakan rahang dan mata peraknya yang tajam. Ia menyembunyikan lengan kanan perungnya ke dalam balutan perban kain kasar, pura-pura membuatnya terlihat seperti lumpuh.

​"Namaku sekarang adalah Mo. Kalian adalah adik-adikku yang sedang mencari paman kita. Chen, kau yang bicara jika kita berhadapan dengan orang luar. Aku hanyalah kakak tuamu yang cacat dan bisu."

​Lin Chen mengangguk paham. Menyamar sebagai orang cacat di kota yang kejam ini adalah risiko, namun jauh lebih aman daripada menampilkan aura arogansi yang mengundang kecurigaan. Lagipula, siapa yang akan menyangka bahwa pemuda "cacat lengan kanan" ini adalah monster fisik yang menghancurkan kapal perang Inti Emas?

​Mereka melangkah menuju Gerbang Selatan kota yang dipenuhi antrean pedagang dan gerobak barang.

​Para penjaga gerbang di sana bukanlah murid berseragam rapi, melainkan pria-pria kasar berwajah codet dari kelompok tentara bayaran lokal yang menyewa gerbang untuk memungut pajak.

​"Berhenti!" bentak penjaga bertubuh gempal sambil menyilangkan tombaknya saat giliran Lin Chen tiba. Ia menatap sinis penampilan kumal ketiganya, terutama tatapannya yang kurang ajar mengarah ke Lin Xue. "Kalian tidak terlihat seperti pedagang. Jika ingin masuk, bayar pajak keamanan: tiga Batu Spiritual tingkat rendah untuk masing-masing kepala!"

​Sembilan Batu Spiritual? Itu harga perampokan. Penduduk biasa mungkin butuh setahun untuk mendapatkan satu batu.

​Lin Chen berpura-pura gugup, mengeluarkan sebuah kantong kecil dari pinggangnya, dan menyerahkan sembilan batu dengan tangan gemetar.

​Penjaga itu mengambil batunya dengan senyum serakah, namun matanya masih melirik Lin Xue. "Adikmu ini terlihat lemah. Mungkin dia butuh 'pemeriksaan kesehatan' tambahan di pos jaga sebelum masuk."

​Penjaga itu mengulurkan tangannya yang kotor ke arah bahu Lin Xue.

​Namun, sebelum jari itu menyentuh Lin Xue, sebuah tangan yang dibalut perban kasar bergerak dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat.

​TAK.

​Tangan Lin Tian yang berperan sebagai si bisu Mo menepis pelan pergelangan tangan penjaga tersebut.

​Penjaga itu terkejut. Namun sedetik kemudian, rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pergelangan tangannya. Tenaga tepisan Lin Tian sangat terukur—tidak sampai menghancurkan, namun cukup untuk membuat urat syaraf di lengan penjaga itu kram seketika, membuat tangannya terkulai lemas seperti mie basah.

​"A-Argh!" penjaga itu meringis memegangi tangannya, menatap pemuda bertopeng abu-abu itu dengan bingung sekaligus takut. Ia sama sekali tidak merasakan fluktuasi Qi! Sihir aneh apa itu?!

​Lin Chen segera maju, menghalangi pandangan penjaga ke arah Lin Xue. "Maaf, Tuan Penjaga. Kakak saya memang cacat dan tidak bisa bicara, tapi ia memiliki refleks kasar dari penyakit sarafnya. Pajak sudah kami bayar lunas, mohon izinkan kami lewat."

​Menyadari bahwa rombongan ini, meskipun kumal, tidak bisa diremehkan—terutama setelah menerima 'sengatan' tenaga fisik yang aneh—penjaga itu mendengus marah namun tidak berani memperpanjang masalah. Ia tidak ingin mengundang perhatian komandannya hanya karena menggoda gadis kecil.

​"Cepat masuk, sampah! Jangan bikin onar di dalam, atau kepalamu akan dipajang di tiang alun-alun!" gerutu penjaga itu sambil menyingkir.

​Ketiganya melangkah masuk, membaur dengan lautan manusia di dalam Kota Perbatasan Batu Darah.

​Jalanan tanah itu becek dan berbau alkohol murah. Di kiri kanan, terdapat pandai besi, toko pil gelap, tempat pelelangan artefak yang dirampok dari mayat, serta rumah judi yang riuh. Ini adalah kota di mana hukum rimba berlaku secara harfiah.

​"Tugas pertama kita: mencari tempat tinggal yang aman dan murah," gumam Lin Chen.

​Lin Tian tidak merespons, ia mengamati sekeliling. Matanya menyipit saat menangkap sekelompok pria berseragam merah tua sedang memaku sebuah perkamen di papan pengumuman kota, sekitar lima puluh meter dari mereka.

​Pada perkamen tersebut, tergambar sketsa kasar wajah seorang pemuda berambut hitam dengan mata tajam—wajah Lin Tian tanpa topeng. Di bawahnya, terdapat stempel emas yang menyilaukan mata milik Sekte Pedang Surgawi.

​"Dicari Hidup atau Mati. Iblis Tanpa Dantian. Hadiah: Seratus Ribu Batu Spiritual Tingkat Menengah, Satu Pil Penembus Inti Emas, dan Hak Menjadi Murid Dalam Tanah Suci."

​Mendengar jumlah imbalan itu dibacakan oleh kerumunan, seluruh kota perbatasan seolah berhenti bernapas.

​Seratus ribu batu tingkat menengah?! Sebuah geng tentara bayaran terbesar di kota ini sekalipun tidak akan pernah mengumpulkan kekayaan sebanyak itu seumur hidup mereka! Belum lagi Pil Penembus Inti Emas, harta yang bisa membuat kultivator Puncak Pembangunan Pondasi gila dan rela membantai keluarga mereka sendiri.

​Dalam sekejap mata, suasana di Kota Perbatasan Batu Darah berubah. Mata para pemburu bayaran, kultivator pengembara, dan preman-preman jalanan menyala dengan api keserakahan yang buas.

​"Seratus ribu..." gumam Lin Chen pelan, menelan ludahnya dengan susah payah. Ia melirik kakak sepupunya yang berdiri tenang di sebelahnya. "Kak Tian... nilai kepalamu bisa membeli seluruh kota ini."

​Di balik topeng kayunya, Lin Tian hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan tantangan. Nilai buruan itu bukan sekadar ancaman, melainkan konfirmasi bahwa Tanah Suci benar-benar menaruh dendam kesumat.

​"Sembunyikan ketakutanmu, Chen," bisik Lin Tian pelan. "Mulai malam ini, kota ini akan dipenuhi oleh pemburu bayaran yang saling menggorok leher demi hadiah itu. Kita akan menyewa penginapan kumuh, lalu aku akan pergi ke Asosiasi Tentara Bayaran malam nanti."

​"Untuk apa, Kak?" tanya Lin Chen bingung. "Mencari petunjuk?"

​"Bukan." Lin Tian menyentuh pelan perban di lengan kanannya yang menutupi Tulang Pedang Sejati. Matanya berkilat dengan aura perak murni yang mematikan. "Bahan-bahan untuk menyempurnakan tulangkup ada di pasar gelap. Kita butuh banyak Batu Spiritual. Jika Sekte Pedang Surgawi menghargai kepalaku semahal itu... tidak ada salahnya aku 'berburu' para pemburu itu untuk mendapatkan uang saku kita."

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!