NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Pertarungan yang Tidak Seimbang

# Bab 8 — Pertarungan yang Tidak Seimbang

**POV: Bergantian (Reiki & Hubble)**

---

## BAGIAN 1: REIKI

Aku tidak tahu apa yang memicu semuanya.

Satu menit aku sedang duduk di ruang belakang pesawat, menunggu Hime kembali dengan makanan. Menit berikutnya, pintu terbuka dan Hubble masuk dengan wajah yang berbeda—lebih gelap, lebih dingin.

"Bangun," katanya.

"Apa?"

"Aku bilang bangun."

Aku berdiri, meskipun tidak tahu apa yang terjadi. "Ada apa?"

Hubble tidak menjawab. Ia melangkah maju dan meraih lenganku. Cengkeramannya kuat—terlalu kuat untuk seorang manusia biasa.

"Kau ikut aku."

"Ke mana?"

"Ke tempat di mana kau tidak bisa melukai siapa pun."

Aku berusaha melepaskan diri, tapi cengkeramannya seperti baja. "Aku tidak akan pergi!"

"Kau tidak punya pilihan."

Sesuatu di dalam diriku mendidih lagi. Seperti di ruang tengah kemarin—tapi kali ini lebih kuat. Lebih dalam.

*Lawan.*

Aku melepaskan energiku. Gelombang kejut menyebar dari tubuhku, mendorong Hubble mundur. Ia terhuyung, tapi tidak jatuh.

"Jadi kau memilih cara keras," katanya.

Ia menyerang.

---

## BAGIAN 2: HUBBLE

Aku tahu ini berbahaya. Tapi Markas sudah memberi perintah: amankan Reiki dengan cara apa pun.

Aku menyerang dengan tinju yang diperkuat energi psikis. Pukulan itu cukup untuk melumpuhkan psikis level menengah. Tapi Reiki menghindar—dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki anak SMA.

Ia mundur ke sudut ruangan, matanya mulai bercahaya biru.

"Jangan paksa aku," katanya.

"Kau tidak punya pilihan."

Aku menyerang lagi. Kali ini, aku menggunakan tekanan energi—teknik yang sama yang berhasil kemarin. Tapi Reiki sudah belajar. Ia menyerap tekananku sebelum sempat melumpuhkannya.

*Dia belajar terlalu cepat.*

Aku menggeram. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku?"

"Aku tidak ingin mengalahkanmu. Aku hanya ingin kau berhenti."

"Tidak bisa."

Aku mengeluarkan senjata psikisku—sebuah batang logam kecil yang bisa mengeluarkan gelombang energi. Aku mengarahkannya ke Reiki.

"Menyerahlah."

Reiki menatapku. Dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya—bukan ketakutan, tapi kesedihan.

"Maaf," katanya.

Lalu ia mengangkat tangannya. Dan dari telapak tangannya, energi hitam menyebar.

---

## BAGIAN 3: REIKI

Clone-clone itu muncul lagi. Tapi kali ini, mereka berbeda—lebih besar, lebih gelap, lebih mengancam.

Clone 1, 2, dan 3 berdiri di depanku, menunggu perintah.

"Lindungi aku," kataku.

Mereka bergerak.

Clone 1 menyerang Hubble dengan kekuatan fisik. Clone 2 menggunakan kecepatan untuk mengelilinginya. Clone 3—yang paling cerdas—mulai membaca pola pertarungan Hubble.

Aku mundur ke sudut, menyaksikan pertarungan itu. Tubuhku terasa ringan—terlalu ringan. Seperti ada sesuatu yang meninggalkan diriku.

*Ini tidak benar. Ini terlalu mudah.*

Tapi aku tidak bisa berhenti. Energi terus mengalir keluar dari diriku, memperkuat clone-clone itu, membuat mereka semakin kuat.

"Reiki!" Suara Hime dari luar. Ia menerobos masuk, matanya terbelalak. "Hentikan!"

"Aku tidak bisa!"

"Kau harus!"

Tapi aku tidak bisa. Tubuhku bergerak sendiri. Energiku terus mengalir. Dan clone-clone itu semakin kuat.

---

## BAGIAN 4: HUBBLE

Aku mulai kewalahan.

Tiga clone melawanku sekaligus—dan mereka semakin kuat setiap detik. Aku bisa merasakan energi Reiki mengalir ke dalam mereka, membuat mereka hampir tidak terkalahkan.

*Ini tidak normal. Ini bukan kemampuan psikis biasa.*

Aku mundur, mencoba mencari celah. Tapi clone-clone itu terus menekan. Salah satu dari mereka—yang paling besar—mendaratkan pukulan di dadaku. Aku terpental ke dinding.

"Aku tidak ingin menyakitimu!" teriak Reiki dari sudut. "Berhentilah!"

"Kau pikir aku bisa berhenti?!" Aku berdiri, meskipun tubuhku sakit. "Markas sudah memberi perintah!"

"Peduli amat dengan Markas!"

"Dia tidak mengerti!" Aku menatapnya dengan mata merah. "Jika kau terus seperti ini, kau akan menjadi ancaman bagi semua orang!"

"Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Bunuh aku?"

Aku diam.

Reiki menatapku. Dan untuk sesaat, aku melihat ketakutan di matanya.

"Kau... kau serius?"

Aku tidak menjawab. Tapi diamku sudah cukup.

---

## BAGIAN 5: REIKI

Hubble ingin membunuhku.

Atau setidaknya, ia berpikir untuk melakukannya.

Aku berdiri di sudut ruangan, gemetar. Clone-cloneku masih berdiri di depanku, melindungiku. Tapi aku tidak ingin dilindungi. Aku ingin semuanya berhenti.

"Hime," panggilku. "Tolong."

Hime, yang sejak tadi diam di pintu, akhirnya bergerak. Ia berjalan mendekat, melewati clone-cloneku tanpa rasa takut.

"Hubble," katanya dengan suara tenang. "Kau harus berhenti."

"Dia berbahaya."

"Aku tahu. Tapi membunuhnya bukan jawabannya."

"Lalu apa jawabannya?"

Hime menatapku. Lalu ia berkata, "Kita ajari dia mengendalikan kekuatannya."

Hubble tertawa pahit. "Kau pikir itu mudah?"

"Tidak. Tapi itu satu-satunya cara."

Hubble diam. Aku bisa melihatnya bergumul—antara tugas dan hati nurani.

Akhirnya, ia menghela napas. "Baik. Tapi jika ia lepas kendali lagi, aku tidak akan ragu."

Ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan aku dan Hime sendirian.

---

## BAGIAN 6: HIME

Aku duduk di samping Reiki. Ia masih gemetar, wajahnya pucat.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku.

"Tidak." Ia menatap tangannya. "Aku hampir... aku hampir kehilangan kendali."

"Tapi kau tidak kehilangan."

"Kali ini. Tapi bagaimana dengan lain kali?"

Aku meraih tangannya. "Kau akan belajar. Aku akan membantumu."

Ia menatapku. "Kenapa? Kenapa kau peduli?"

Karena kau adalah dia. Karena aku sudah mencarimu selama 38 tahun. Karena aku tidak akan kehilanganmu lagi.

Tapi aku tidak bisa mengatakan itu.

"Karena kau temanku," kataku.

Reiki tersenyum tipis. "Teman, ya?"

"Iya. Teman."

Ia tertawa kecil. "Baik. Teman."

Kami duduk di lantai ruangan itu, bersebelahan. Tidak banyak bicara. Tapi untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, aku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.

---

Malam itu, Hubble datang ke gudang tempat aku dan Reiki berlindung. Wajahnya lebih tenang—tapi masih ada ketegangan di matanya.

"Aku sudah bicara dengan Markas," katanya. "Mereka setuju untuk memberimu waktu."

"Waktu untuk apa?" tanya Reiki.

"Untuk belajar mengendalikan kekuatanmu. Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

Hubble menatapku. "Hime akan menjadi gurumu. Dan aku akan mengawasi."

Aku mengerutkan dahi. "Kenapa aku?"

"Karena kau satu-satunya yang bisa menenangkannya."

Aku menatap Reiki. Ia menatapku kembali.

"Kau mau?" tanyaku.

Ia mengangguk. "Aku mau."

Dan dengan itu, kami memulai perjalanan baru—bukan lagi sebagai musuh, tapi sebagai guru dan murid. Atau mungkin lebih dari itu.

Tapi itu masih terlalu dini untuk dikatakan.

---

Malam itu, setelah Hubble pergi, aku dan Reiki duduk di gudang. Api unggun kecil menyala di antara kami, menerangi wajah-wajah kami yang lelah.

 "Kau percaya padanya? " tanya Reiki.

 "Hubble? Tidak sepenuhnya. Tapi ia berubah. "

 "Berubah bagaimana? "

 "Sejak pertarungan tadi, ada sesuatu yang berbeda. Seperti ia mulai melihatmu bukan sebagai ancaman, tapi sebagai... manusia. "

Reiki tersenyum pahit.  "Butuh pertarungan hampir mati untuk membuatnya sadar. "

 "Kadang itulah yang diperlukan. "

Kami diam sejenak. Api unggun berderak, memancarkan kehangatan.

 "Hime. "

 "Hm? "

 "Apa yang terjadi padaku di ruangan itu? Aku merasa seperti... kehilangan kendali. "

Aku menatapnya.  "Itu adalah insting bertahan hidup. Ketika tubuhmu merasa terancam, kekuatanmu bangkit untuk melindungimu. "

 "Tapi aku hampir menyakitinya. "

 "Tapi kau tidak jadi. Itu yang penting. "

Reiki menunduk.  "Bagaimana jika lain kali aku tidak bisa menghentikannya? "

Aku meraih tangannya.  "Maka aku akan ada di sini untuk menghentikanmu. "

Ia menatapku. Di matanya, aku melihat ketakutan. Tapi juga kepercayaan.

 "Terima kasih, " bisiknya.

 "Sama-sama. "

---

Keesokan harinya, aku bangun dengan keputusan bulat. Aku harus memberitahu Reiki tentang siapa dirinya. Tidak sekarang—tapi segera. Ia berhak tahu.

Tapi sebelum aku sempat melakukannya, KSAN datang dengan berita mengejutkan.

 "Aku menemukan sesuatu, " katanya, napasnya tersengal.  "Di catatan ayahku. "

Ia menunjukkan laptopnya. Di layar, ada peta dengan koordinat yang ditandai.

 "Apa ini? " tanyaku.

 "Koordinat sebuah pulau. Ayahku menyimpannya di folder rahasia. Dan lihat ini— " ia menunjuk ke sebuah catatan di samping peta.  "'Gerbang. Koordinat utama. Jangan buka tanpa persiapan.' "

Aku menatap layar itu. Koordinatnya familiar—terlalu familiar.

 "Ini... ini sama dengan yang ada di log mesin waktuku. "

 "Apa? "

 "Setiap kali aku melompat, mesin waktuku selalu mencatat koordinat tertentu. Dan ini— " aku menunjuk layar  "—ini adalah koordinat yang sama. "

KSAN menatapku.  "Berarti pulau ini bukan kebetulan. "

 "Bukan. Ini adalah pusat dari semuanya. "

Aku menatap Reiki. Ia menatapku kembali.

 "Kita harus pergi ke sana, " katanya.

 "Aku tahu. "

---

Kami memutuskan untuk berangkat malam itu juga. Tidak memberi tahu Hubble—setidaknya, belum. Kami tidak tahu bagaimana reaksinya.

Aku, Reiki, dan KSAN berkumpul di gudang, menyiapkan perlengkapan. Makanan, air, perangkat, peta. Semua yang kami butuhkan.

 "Kau yakin ini bukan jebakan? " tanya KSAN.

 "Tidak. Tapi kita tidak akan tahu sampai kita sampai di sana. "

Reiki mengangkat tasnya.  "Aku siap. "

Aku menatap mereka berdua. Dua remaja yang terjebak dalam permainan yang lebih besar dari mereka. Tapi mereka tidak lari. Mereka memilih untuk bertarung.

 "Ayo, " kataku.

Kami berjalan menuju pesawat kecil yang aku  "pinjam " dari Hubble. Mesinnya menyala pelan. Satu per satu, kami naik.

Dan untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku merasa bahwa aku berada di jalan yang benar.

---

Pesawat kecil itu terbang di atas laut yang gelap. Aku duduk di kursi depan, memegang kemudi. Di belakangku, Reiki dan KSAN diam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

 "Berapa lama lagi? " tanya KSAN.

 "Sekitar satu jam. "

Aku menatap ke luar jendela. Laut di bawah kami gelap, hanya diterangi cahaya bulan. Tidak ada kapal, tidak ada lampu. Hanya kegelapan yang tak berujung.

 "Hime. " Suara Reiki dari belakang.

 "Ya? "

 "Apa yang akan kita lakukan jika Penjaga Gerbang ada di sana? "

Aku diam sejenak.  "Kita akan bicara. Jika tidak bisa, kita akan bertarung. "

 "Kau pikir kita bisa mengalahkan mereka? "

 "Tidak. Tapi kita tidak perlu mengalahkan mereka. Kita hanya perlu mencari jawaban. "

Reiki tidak menjawab. Tapi aku bisa merasakan kekhawatirannya dari sini.

 "Hei, " kataku.  "Apa pun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama. "

 "Kau yakin? "

 "Aku yakin. "

Dan untuk sesaat, aku percaya pada kata-kataku sendiri.

---

Pesawat itu mendarat di pulau kecil itu. Aku mematikan mesin dan diam sejenak, merasakan udara di sekitarku. Ada sesuatu di sini—sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

 "Kita sudah sampai, " kataku.

Kami turun. Pulau itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan. Tapi di tengahnya, ada cahaya biru yang berdenyut—sama seperti yang kulihat di data perangkatku.

 "Di sana, " kataku, menunjuk.

Kami berjalan mendekat. Struktur batu dan logam itu menjulang di depan kami, seperti kuil kuno yang dilupakan waktu.

 "Apa itu? " tanya KSAN.

 "Gerbang, " jawabku.  "Atau setidaknya, pintu menuju gerbang. "

Kami masuk. Di dalam, gelap. Tapi perangkatku bisa berfungsi sebagai penerangan. Lorong-lorong batu berkelok-kelok, turun ke bawah tanah.

Dan di ujung lorong, kami menemukannya.

Sebuah kristal raksasa, berdenyut dengan cahaya biru. Dan di sekelilingnya, tiga sosok berjubah hitam.

Penjaga Gerbang.

 "Kami sudah menunggumu, Hime Hafitis, " kata salah satu dari mereka.

Aku melangkah maju, melindungi Reiki dan KSAN.  "Kau tahu siapa aku? "

 "Kami tahu segalanya tentangmu. Perjalananmu. Pencarianmu. Dan apa yang kau cari. "

 "Kalau kau tahu, kau pasti tahu kenapa aku di sini. "

 "Kami tahu. Tapi jawaban yang kau cari tidak ada di sini. "

 "Lalu di mana? "

Sosok itu menatap Reiki.  "Di dalam dirinya. "

---

Kami berdiri di ruangan kristal itu, berhadapan dengan tiga Penjaga Gerbang. Aku bisa merasakan energi mereka—kuat, stabil, seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan.

 "Kami tidak akan menyakitinya, " kata pemimpin mereka.  "Kami hanya ingin memastikan bahwa ia tidak menjadi ancaman. "

 "Ia bukan ancaman, " kataku.  "Ia hanya anak SMA yang tidak tahu apa-apa tentang kekuatannya. "

 "Tapi kekuatan itu bisa menghancurkan keseimbangan dunia. "

 "Maka ajari dia. Bimbing dia. Jangan mengurungnya. "

Pemimpin itu diam. Lalu ia menatap Reiki.

 "Kau beruntung memiliki pelindung seperti dia, " katanya.  "Tapi ingat: kekuatanmu adalah pedang bermata dua. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, ia akan menghancurkanmu—dan semua orang di sekitarmu. "

Reiki menatapnya dengan tatapan kosong.  "Aku tahu. "

 "Kau boleh pergi. Tapi kami akan mengawasi. "

Pemimpin itu memberi isyarat, dan ketiga sosok itu menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan kami bertiga di ruangan kristal itu.

Aku menghela napas lega. Tapi aku tahu ini belum berakhir. Ini baru awal.

---

Kami kembali ke pesawat dan terbang pulang. Di sepanjang perjalanan, aku memikirkan kata-kata Penjaga Gerbang.

*Kekuatanmu adalah pedang bermata dua.*

Aku menatap Reiki di kursi belakang. Ia tertidur, kelelahan setelah pertarungan dan penyerapan energi. Wajahnya damai—seperti anak kecil yang tidak punya beban.

Tapi aku tahu beban yang ia pikul. Beban yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti.

 "Hime. " Suara KSAN memecah keheningan.

 "Ya? "

 "Apa yang akan kita lakukan jika Penjaga Gerbang datang lagi? "

 "Kita akan menghadapinya. "

 "Tapi kita tidak bisa melawan mereka selamanya. "

 "Aku tahu. Tapi kita tidak perlu melawan mereka selamanya. Kita hanya perlu bertahan sampai Reiki cukup kuat. "

 "Kuat untuk apa? "

Aku diam sejenak.  "Kuat untuk memilih jalannya sendiri. "

KSAN tidak menjawab. Tapi aku bisa merasakan kekhawatirannya.

Aku juga khawatir. Tapi aku tidak bisa menunjukkan itu. Tidak sekarang.

Kami terbang di atas laut yang gelap, menuju desa yang mungkin tidak akan pernah sama lagi.

---

Pesawat mendarat dengan mulus di lapangan dekat gudang. Aku mematikan mesin dan diam sejenak, menikmati keheningan sebelum kembali ke kekacauan.

 "Kita sudah sampai, " kataku.

Reiki terbangun, mengucek matanya.  "Sudah? "

 "Ya. Ayo. "

Kami turun. Udara malam terasa sejuk. Bulan bersinar terang di atas desa yang tenang.

Tapi ketenangan itu tidak akan bertahan lama.

 "Hime. " Suara Hubble dari kegelapan membuatku tersentak.

Ia berdiri di dekat gudang, tangannya bersedekap. Wajahnya tidak terbaca.

 "Kau pergi tanpa izin, " katanya.

 "Aku tahu. Maaf. "

 "Kau beruntung karena tidak terjadi apa-apa. "

Ia menatap Reiki, lalu kembali menatapku.

 "Besok, kita lanjutkan latihan. Dan kau— " ia menunjukku  "—kau akan membantuku. "

Aku mengangguk.  "Baik. "

Hubble berbalik dan pergi, meninggalkan kami bertiga di bawah sinar bulan.

 "Dia berubah, " kata KSAN.

 "Ya. Tapi aku tidak tahu apakah itu baik atau buruk. "

 "Kita lihat saja besok. "

Aku mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—kami bisa bekerja sama.

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!