Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Balik Kemewahan
Malam kemenangan di Milan baru saja berakhir. Sorak sorai dunia mode masih terngiang di telinga, tapi di balik tirai kemegahan itu, Alexandra Surya sudah beralih menjadi iblis yang paling dingin.
Di ruang pribadi suite presiden, Aulia sedang melepas lelah, duduk santai di tepi kasur sambil menatap piala penghargaan “Desainer Terbaik Debut Internasional” yang kini menjadi miliknya. Wajahnya masih bersinar bangga, tapi hatinya sedikit resah. Ia tahu, keberhasilan besar selalu datang dengan harga mahal, dan Alex… tidak pernah membiarkan pengkhianat atau perusak lolos begitu saja.
Pintu terbuka perlahan. Alex masuk. Jas hitamnya sudah dilepas, kemeja putihnya kancing atasnya terbuka, tapi yang membuat napas Aulia tertahan bukan penampilannya melainkan aura membunuh yang pekat menyelimuti seluruh tubuh pria itu. Matanya gelap, kosong, tanpa sepercik pun kemanusiaan yang biasanya hanya muncul saat bersamanya. Di tangan kanannya, ia memutar pelan sebilah pisau lipat kecil berlapis emas hadiah dari Luca Rossi, kini berkilau basah oleh cairan merah pekat.
“Alex…” panggil Aulia pelan, berdiri perlahan. “Kau… baru saja melakukan sesuatu, bukan?”
Alex berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan menatap Aulia. Sedetik kemudian, topeng dingin itu runtuh, diganti tatapan lembut namun lelah. Ia berjalan mendekat, menyeka darah di bilah pisau ke kain sapu tangan, lalu meletakkan benda tajam itu di meja jauh dari jangkauan Aulia.
“Dalang sabotase itu Julian Moreau, desainer Prancis yang mengejekmu,” ucap Alex datar, nada suaranya tenang mengerikan, seolah sedang membahas cuaca, bukan nyawa manusia. “Dia berpikir hanya dengan merusak kain, dia bisa menjatuhkanmu. Dia lupa… dia sedang bermain api dengan gunung berapi.”
Darah seketika meninggalkan wajah Aulia. Ia tahu persis arti nada suara itu. Julian tidak lagi ada di dunia ini.
“Kau… membunuhnya?” bisik Aulia gemetar, langkahnya mundur sedikit. Bukan takut pada Alex, tapi takut pada realita dunia tempat mereka berpijak.
Alex menatap gadis itu tajam, lalu maju selangkah, menangkap pergelangan tangan Aulia lembut namun tak terelakkan, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Aroma besi bercampur parfum mahal tercium kuat.
“Aku tidak hanya membunuhnya, Sayang,” bisik Alex tepat di depan wajah Aulia, manik matanya menembus jiwa. “Aku pastikan dia merasakan setiap detik rasa sakit yang dia rencanakan untukmu. Aku buat dia sadar betapa bodohnya menyentuh milikku. Aku hancurkan bisnisnya, reputasinya, lalu aku ambil nyawanya pelan-pelan. Karena kau adalah Ratu, dan setiap luka, setiap ejekan, setiap ancaman padamu… adalah hukuman mati bagi siapa pun yang melakukannya.”
Air mata menetes di pipi Aulia. Ia benci kekerasan, ia benci darah, tapi di balik semua kengerian itu, ia merasakan ketulusan mutlak. Alex melakukan kejamnya itu… hanya demi dia.
Aulia merentangkan tangannya, memeluk pinggang Alex erat, menempelkan telinganya ke dada bidang yang masih berdetak tenang itu. “Aku benci darah, Alex. Aku benci kematian. Tapi aku mengerti… dunia kita seperti ini. Kau jadi monster hanya agar aku tetap bisa jadi manusia. Kau berlumur dosa hanya agar aku tetap bersih.”
Tubuh Alex menegang kaku, lalu perlahan ia meluruhkan kekerasannya, membalas pelukan itu dengan segala kelembutan yang ia miliki. Ia mengecup puncak kepala Aulia berkali-kali, rasa bersalah samar menyusup di hatinya. Ia takut sisi gelapnya akan membuat Aulia jijik, takut gadis itu akan pergi.
“Maaf,” gumam Alex parau, suaranya pecah. “Maaf harus menunjukkan sisi terburukku padamu. Aku rela seluruh dunia menyebutku iblis, penjahat, pembunuh… asalkan kau tetap aman, tetap tersenyum, dan tetap di sini. Tanpa aku yang kotor ini, kau tidak akan bertahan satu detik pun di luar sana. Aulia… jangan pernah tinggalkan aku karena hal ini. Dunia boleh hancur, tapi jika kau pergi… aku benar-benar jadi setan murni yang tak ada lagi belas kasihnya.”
Aulia menggeleng kuat, mendongak menatap mata hitam yang kini tampak rapuh itu. Jari-jarinya halus menyentuh wajah keras pria itu, menghapus jejak ketegangan di sana.
“Tidak akan pernah,” janji Aulia tegas, bibirnya bergetar namun matanya mantap. “Aku tidak mencintai pahlawan yang bersih, Alex. Aku mencintaimu. Seluruhmu. Cahayamu, gelapmu, kebaikanmu, kejahatanmu. Kau adalah aku, dan aku adalah kau. Jika kau iblis, maka aku akan jadi ratu nerakamu. Kita terjun ke dalam kegelapan ini bersama-sama, asalkan kita berdua.”
Kalimat itu menghancurkan sisa tembok pertahanan di hati Alex. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang penuh rasa sakit, syukur, dan cinta yang tak terbatas. Ciuman yang menyatukan dua dunia yang bertolak belakang menjadi satu kesatuan abadi.
Saat keduanya masih tenggelam dalam dekapan hangat, ponsel di meja bergetar. Alex melepaskan ciuman itu, meraih ponsel dengan satu tangan sambil tangan satunya tak melepaskan pinggang Aulia. Saat ia membaca pesan tertera, alis tebalnya terangkat tak terduga.
“Apa itu?” tanya Aulia lembut, menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
Alex menoleh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis campuran kejutan dan kepuasan.
“Undangan,” jawab Alex rendah, matanya menatap layar ponsel yang menampilkan segel kerajaan emas bergambar mahkota. “Dari Istana Buckingham. Keluarga Kerajaan Inggris mengundang kita berdua ke acara Gala Amal Kerajaan di London. Mereka mendengar tentang koleksimu, tentang kejeniusanmu… dan tentu saja, mereka ingin bertemu dengan pria yang mampu mengguncang seluruh Eropa hanya dalam seminggu.”
Aulia terbelalak, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. “Kerajaan… Inggris? Kita?!”
Alex tertawa pelan, suara rendah yang bergetar di dadanya. Ia memeluk pinggang Aulia makin erat, menatap jendela besar yang menampakkan pemandangan kota Milan yang tidur.
“Ya, Sayang. Kita,” tegas Alex, penuh keyakinan. “Dari gadis belian seharga 1 Miliar, jadi Ratu Mode Internasional, kini duduk sejajar dengan bangsawan tertinggi di dunia. Lihatlah seberapa jauh kita melangkah. Dan percayalah… ini baru permulaan. London, Paris, New York, seluruh dunia… semuanya akan kita taklukkan bersama. Tidak ada yang terlalu tinggi untuk kita.”
Aulia tersenyum lebar, air mata bahagia kembali menetes, kali ini murni karena rasa syukur luar biasa. Ia tidak lagi merasa kecil, tidak lagi merasa hanya beban. Di sisi Alex, ia merasa mampu melakukan apa saja.