Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Labirin Cahaya dan Bisikan Sang Penyelamat
Lift kargo itu bergerak turun dengan desisan hidrolik yang terasa seperti napas monster logam yang sedang sekarat. Di dalam ruangan sempit yang hanya diterangi lampu merah darurat, aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Devan. Ia berdiri membelakangiku, matanya menatap tajam ke arah pintu lift, sementara tangan kanannya menggenggam tas ransel yang berisi kotak hitam itu—warisan ibuku, bom waktu bagi keluarga Dirgantara.
"Nya, dengarkan aku," bisik Devan tanpa menoleh. Napasnya pendek-pendek, tanda adrenalinnya sedang bekerja di batas maksimal. "Begitu pintu terbuka, kita akan berada di jalur pemeliharaan MRT. Jangan berhenti berlari. Ikuti saja cahaya biru di lantai. Itu jalur evakuasi."
Aku mengangguk kaku, meski ia tidak bisa melihatnya. Ketakutan yang kurasakan sekarang berbeda dengan ketakutan saat aku berada di klinik Dokter Frans. Dulu, aku merasa seperti kelinci yang diburu di dalam labirin yang tertutup. Sekarang, aku berada di tengah kota asing yang megah, namun setiap kamera pengawas di langit-langit gedung Singapura ini terasa seperti mata Wijaya Dirgantara yang sedang mengintai.
Ting.
Pintu lift terbuka. Udara lembap dan panas khas terowongan bawah tanah menyergap indra penciumanku. Devan menyambar tanganku dan kami melesat keluar. Langkah kaki kami menggema di antara pipa-pipa beton raksasa dan kabel-kabel listrik yang bergelantungan seperti urat saraf kota. Di kejauhan, aku bisa mendengar suara gemuruh kereta MRT yang melintas, getarannya merambat melalui sol sepatuku, masuk ke dalam tulang-tulangku yang gemetar.
Kami sampai di sebuah pintu jeruji besi yang menuju peron stasiun. Devan mengeluarkan sebuah kartu akses yang tadi sempat diberikan oleh Mr. Cheng sebelum kekacauan terjadi.
Klik.
Kami masuk ke stasiun Raffles Place yang sedang dipadati oleh orang-orang berpakaian kantor. Kontrasnya sungguh menyakitkan; orang-orang ini sedang sibuk dengan kopi pagi dan ponsel mereka, tidak menyadari bahwa di antara mereka, dua buronan internasional sedang bertaruh nyawa membawa rahasia yang bisa meruntuhkan ekonomi kawasan.
"Jangan menunduk terlalu dalam. Berjalanlah seolah kau punya tujuan," instruksi Devan pelan. Ia merangkul bahuku, menarikku mendekat, seolah kami hanyalah pasangan turis yang sedang tersesat.
Kami menaiki kereta jalur hijau menuju arah Outram Park. Di dalam kereta yang dingin dan bersih itu, aku menatap pantulan wajahku di jendela kaca. Wajah Larasati—identitas palsuku—terlihat pucat dan kuyu. Di sampingku, Devan menatap layar informasi rute, namun aku tahu matanya terus memantau setiap orang yang masuk ke gerbong.
"Van, siapa 'V'?" tanyaku dengan suara nyaris berbisik.
Devan menggeleng kecil. "Aku tidak tahu pasti. Tapi ibumu menyebutnya dalam surat itu sebagai satu-satunya orang yang bisa menyiarkan data ini. Jika ibumu mempercayainya, kita tidak punya pilihan lain selain mencarinya."
Kami turun di stasiun yang jauh dari pusat bisnis, beralih ke jalur yang lebih sepi menuju kawasan Little India. Devan membawaku masuk ke sebuah gang sempit yang dipenuhi aroma rempah-rempah yang tajam dan kain-kain berwarna-warni yang digantung di depan toko. Di ujung gang, terdapat sebuah toko barang antik kecil yang tampak tidak meyakinkan dengan papan nama bertuliskan: 'The Last Archive'.
Devan mengetuk pintu kayu toko itu dengan pola yang unik. Tiga ketukan cepat, jeda dua detik, lalu satu ketukan berat.
Pintu terbuka sedikit. Seorang pria tua dengan sorban kuning dan kacamata tebal mengintip keluar. "Kami tutup untuk renovasi," ujarnya dalam bahasa Inggris dengan aksen lokal yang kental.
"Kami mencari koleksi 'Elegia' edisi terbatas," balas Devan, suaranya mantap.
Mata pria tua itu seketika menajam. Ia memindai wajah kami berdua, lalu pandangannya jatuh pada liontin kamboja di leherku. Tanpa kata, ia membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan kami masuk.
Bagian dalam toko itu sangat gelap dan penuh dengan tumpukan buku-buku kuno serta perangkat elektronik tua yang sudah dibongkar. Bau kertas lama dan timah solder memenuhi udara. Pria tua itu menuntun kami ke bagian belakang toko, di mana terdapat sebuah lift kecil yang tersembunyi di balik lemari buku raksasa.
Kami turun ke lantai bawah tanah yang ternyata adalah sebuah laboratorium komputer yang sangat canggih. Layar-layar monitor besar memenuhi dinding, menampilkan aliran data yang terus bergerak cepat. Di tengah ruangan, duduklah seorang pria muda—mungkin usianya tidak jauh dari Devan—dengan rambut dicat perak dan mengenakan hoodie kebesaran.
"V?" tanya Devan waspada.
Pria muda itu berbalik. Ia tidak terlihat seperti penyelamat dunia; ia terlihat seperti seorang gamer yang kurang tidur. Namun, saat ia menatapku, ada sebuah pengakuan di matanya.
"Anya Kusuma," ujarnya lembut dalam bahasa Indonesia yang fasih. "Kau jauh lebih mirip ibumu daripada yang aku bayangkan."
Aku tertegun. "Kau mengenal Ibuku?"
"Namaku Vincent. Tapi di dunia bawah, orang mengenalku sebagai 'V'," ia berdiri dan berjalan mendekati kami. "Ibumu, Melati, adalah mentorku sepuluh tahun yang lalu. Dia yang mengajariku bahwa kode bukan hanya angka, tapi adalah senjata untuk membela keadilan. Dia memberitahuku bahwa suatu hari nanti, 'kaset rusak' itu akan sampai padaku."
Vincent mengambil tas ransel dari tangan Devan. Ia mengeluarkan kotak hitam itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah ia sedang memegang benda keramat.
"Jadi, ini adalah drive terakhir," gumam Vincent. "Wijaya Dirgantara telah membunuh banyak orang untuk mendapatkan benda ini. Kau tahu apa isinya, Anya?"
"Ibu bilang itu adalah daftar pejabat global dan algoritma 'Proyek Elegia'," jawabku.
"Bukan cuma itu," Vincent menghubungkan drive tersebut ke salah satu komputernya. Layar monitor besar di depannya seketika berubah warna menjadi merah pekat. "Isi sesungguhnya adalah bukti bahwa Dirgantara Group bukan sekadar perusahaan properti. Mereka adalah sindikat perdagangan identitas. Mereka menggunakan zat 'Elegia' untuk menghapus memori narapidana politik di berbagai negara, lalu menjual mereka sebagai tenaga kerja tanpa protes atau 'prajurit kosong' ke daerah konflik."
Duniaku serasa berhenti berputar. Ini jauh lebih mengerikan dari sekadar korupsi pembangunan gedung. Ini adalah perbudakan modern skala global yang menggunakan biokimia sebagai rantainya.
"Kita harus menyiarkannya sekarang, Vincent," ujar Devan tegas.
Vincent tertawa getir. "Menyiarkannya tidak semudah menekan tombol upload, Devan. Begitu data ini menyentuh jaringan publik, sistem keamanan 'G-Azure' milik Dirgantara akan langsung mendeteksi sumbernya dan memutus seluruh akses internet di radius satu kilometer. Mereka akan mengirim tim pembersih dalam waktu lima menit."
"Lalu apa solusinya?" tanyaku putus asa.
"Kita butuh pemancar satelit independen," Vincent menunjuk ke arah peta digital Singapura. "Ada sebuah menara telekomunikasi lama di puncak Bukit Timah yang sudah tidak digunakan oleh pemerintah, tapi masih memiliki akses ke jaringan satelit militer lama. Jika kita bisa masuk ke sana dan menghubungkan perangkatku, kita bisa menyiarkan data ini ke setiap stasiun televisi dan portal berita di dunia secara bersamaan."
"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiarkannya?" tanya Devan.
"Tiga puluh menit proses enkripsi," jawab Vincent. "Artinya, kita harus bertahan di puncak bukit itu selama tiga puluh menit sementara orang-orang Dirgantara mencoba membunuh kita."
Devan menatapku. Tangannya mengepal. Aku bisa melihat pertempuran batin di matanya. Ia ingin melindungiku, ia ingin membawaku lari ke tempat yang aman, namun ia juga tahu bahwa jika kami tidak melakukan ini sekarang, kami akan selamanya menjadi buronan.
"Aku akan melakukannya," ujarku, memutus keraguan Devan. "Ibu mengorbankan segalanya untuk ini. Aku tidak akan membiarkan pengorbanannya menjadi sia-sia hanya karena aku takut."
Devan menghela napas panjang, lalu ia menarikku ke dalam pelukannya. "Baik. Kita lakukan. Tapi dengar ini, Anya... jika situasi menjadi tidak terkendali, kau harus lari dengan Vincent. Biarkan aku yang menjadi penghalang."
"Tidak, Devan! Kita berangkat bersama, kita pulang bersama!"
Devan tidak membantah, namun sorot matanya memberitahuku bahwa ia sudah menyiapkan rencana cadangan yang pahit.
Perjalanan menuju Bukit Timah dilakukan menggunakan van tua milik Vincent yang sudah dimodifikasi agar tidak terdeteksi oleh kamera pengawas lalu lintas (ERP). Hujan mulai turun mengguyur Singapura, menciptakan tirai air yang menyamarkan pergerakan kami.
Di dalam van yang berguncang, aku duduk di samping Devan. Ia sedang memeriksa magasin pistolnya untuk terakhir kalinya. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara deru mesin van dan rintik hujan yang menghantam atap logam.
"Van," panggilku pelan.
"Iya?"
"Kau ingat apa yang kau katakan di ruang musik kampus? Tentang wujud dunia yang sebenarnya?"
Devan berhenti bergerak. Ia menatap ke luar jendela yang buram oleh embun. "Iya. Kenapa?"
"Ternyata wujud dunia yang sebenarnya sangat gelap, ya? Aku pikir setelah Ayah ditangkap, semuanya akan berakhir. Ternyata kita baru saja membuka pintu menuju neraka yang lebih besar."
Devan meletakkan pistolnya, lalu ia meraih tanganku. Ia mencium punggung tanganku dengan sangat lama. "Dunia ini memang gelap, Anya. Tapi kau tahu apa yang membuat kegelapan itu tidak berkuasa sepenuhnya? Api kecil yang menolak untuk padam. Ibumu adalah api itu. Kau adalah api itu. Dan aku... aku akan memastikan api itu membakar habis semua kebohongan mereka."
Kami sampai di kaki Bukit Timah tepat saat tengah malam. Menara telekomunikasi itu berdiri angkuh di tengah rimbunnya hutan lindung, siluetnya tampak seperti jarum raksasa yang menusuk langit yang mendung.
Kami mulai mendaki jalur setapak yang tersembunyi. Vincent membawa tas berisi peralatan siaran, sementara Devan memimpin di depan dengan kewaspadaan penuh. Suara serangga hutan dan deburan angin di antara pepohonan terasa sangat mencekam.
Tiba-tiba, suara dengung halus terdengar di atas kepala kami.
"Drone!" desis Vincent. "Tiarap!"
Kami segera merunduk di balik rimbunnya semak pakis. Sebuah drone pengintai dengan lampu inframerah merah kecil melintas tepat di atas posisi kami. Sinar merahnya menyapu tanah, mencari tanda-tanda panas tubuh.
"Mereka sudah di sini," bisik Devan. "Vincent, lari ke menara. Anya, ikut dia. Aku akan memancing mereka ke arah lembah."
"Devan, jangan!" teriakku tertahan.
"LAKUKAN, ANYA! SEKARANG!"
Devan melesat ke arah yang berlawanan, sengaja menyalakan lampu senter taktisnya untuk menarik perhatian drone tersebut. Terdengar suara tembakan dari kejauhan, disusul oleh raungan mesin mobil SUV yang mendekat dari jalur aspal utama.
Vincent menarik lenganku. "Ayo! Kita tidak punya banyak waktu!"
Kami berlari menanjak dengan sisa tenaga kami. Paru-paruku terasa mau pecah, dan luka di pergelangan kakiku kembali berdenyut hebat. Namun, bayangan Devan yang bertarung sendirian di bawah sana membuatku terus memacu kakiku.
Kami berhasil mencapai pangkalan menara. Vincent segera membongkar panel kontrol di bagian bawah menara dan menghubungkan komputernya.
"Memulai enkripsi!" teriak Vincent di tengah deru angin puncak bukit. "Sepuluh persen... dua puluh persen..."
Di kejauhan, di bawah bukit, aku melihat kilatan cahaya tembakan dan ledakan kecil. Hatiku hancur setiap kali mendengar suara itu. Tahan, Devan. Tolong, bertahanlah.
Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik kegelapan menara. Seorang pria dengan setelan jas hitam yang sudah kotor, namun wajahnya tetap memancarkan aura dominasi yang mengerikan.
Wijaya Dirgantara.
Ia memegang sebuah alat kendali jarak jauh di tangannya. Di belakangnya, berdiri empat orang tentara bayaran bersenjata lengkap.
"Anya Kusuma," suara Wijaya terdengar sangat tenang, mengalahkan suara badai. "Ibumu adalah wanita yang sangat merepotkan. Dan sepertinya, sifat itu menurun padamu."
Ia menatap ke arah Vincent yang masih sibuk dengan komputernya. "Hentikan proses itu, anak muda. Atau aku akan meledakkan menara ini bersama kalian di dalamnya."
Aku melangkah maju, berdiri di depan Vincent sebagai perisai. "Tembak saja, Wijaya! Jika menara ini meledak, transmisi satelit militer yang sudah dikunci oleh Vincent akan otomatis mengirimkan sinyal darurat berisi seluruh data itu ke server Pentagon dan Interpol! Kau akan hancur dalam hitungan detik!"
Wijaya tertawa sinis. "Kau menggertak, Putri Kecil."
"Coba saja kalau kau berani," balasku dengan tatapan paling tajam yang pernah kumiliki. "Aku bukan lagi Anya yang kau kenal. Aku adalah Elegi yang akan menghapus namamu dari sejarah."
Di saat yang sama, sebuah suara motor trail meraung keras dari arah lereng. Sebuah motor melompat melewati barikade tentara bayaran Wijaya, menabrak dua orang di antaranya hingga terpental.
Itu Devan.
Ia turun dari motor dengan gerakan yang sangat beringas. Wajahnya bersimbah darah, namun matanya berkilat seperti iblis yang sedang murka. Ia langsung menodongkan pistolnya ke arah Wijaya.
"JAUHKAN TANGANMU DARI DIA, BAJINGAN!" raung Devan.
Ketegangan di puncak Bukit Timah mencapai puncaknya. Di antara deru badai, rahasia sepuluh tahun, dan cinta yang menolak untuk menyerah, kaset rusak di kepalaku memutar sebuah memori terakhir dari Ibu—sebuah memori yang memberitahuku mengapa nama 'Elegia' dipilih untuk proyek ini.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
INT. RUANG MUSIK RUMAH KUSUMA - MALAM HARI (10 TAHUN LALU)
MELATI (Ibu Anya) sedang duduk di depan piano, memainkan melodi yang sangat sedih. ANYA kecil (9 tahun) duduk di bawah piano, mendengarkan dengan penuh kekaguman.
ANYA KECIL
"Ma, kenapa lagunya sedih sekali?"
MELATI
(Berhenti bermain, mengusap pipi Anya)
"Elegia artinya adalah ratapan, Sayang. Sebuah lagu untuk mengenang sesuatu yang telah hilang. Ibu menamai penelitian Ibu 'Elegia' karena Ibu ingin memastikan bahwa rasa sakit karena kehilangan tidak akan pernah sia-sia. Bahwa setiap air mata adalah saksi bahwa kita pernah mencintai."
Melati mengambil tangan Anya kecil, menempelkannya ke dadanya.
MELATI (CONT'D)
"Ingat ini, Anya. Suatu hari nanti, orang-orang akan mencoba menghapus ingatanmu tentang rasa sakit, karena mereka takut pada kekuatan yang lahir dari luka itu. Jangan biarkan mereka. Simpanlah lukamu, karena di sanalah letak kemanusiaanmu."
Kamera fokus pada mata Melati yang berkaca-kaca, sebelum layar perlahan memudar menjadi warna abu-abu yang pekat di puncak Bukit Timah masa kini.
FADE OUT.
"ENKRIPSI SELESAI! MENYIARKAN!" teriak Vincent.
Lampu-lampu di puncak menara telekomunikasi itu seketika menyala terang benderang, menembus kabut malam Singapura. Di seluruh penjuru dunia, di jutaan layar televisi dan ponsel, wajah Wijaya Dirgantara dan dokumen-dokumen berdarahnya mulai bermunculan.
Elegi kami telah disiarkan. Dan kali ini, seluruh dunia akan ikut menyanyikannya.
[BERSAMBUNG KE BAB 29]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??