NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Menjelang ujian akhir, suasana di kelas 6 semakin serius. Suatu pagi, guru masuk dengan wajah yang lebih tegas dari biasanya.

"Anak-anak, mulai minggu ini kita akan mengadakan les tambahan setelah jam sekolah," kata guru.

Kelas langsung ramai.

"Hah? Les, Bu?" keluh beberapa siswa.

"Iya. Ini penting untuk persiapan ujian kalian, dan jangan lupa besok bawa bekal lebih karena kita akan langsung lanjut les" lanjut guru.

Kayla terdiam.

Keesokan harinya sepulang sekolah hari itu, mereka tidak langsung pulang. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, tapi mereka masih duduk di kelas.

"Aduh, capek banget…" kata Raka sambil menyandarkan kepala di meja.

"Iya, biasanya jam segini udah di rumah," tambah Salsa.

Kayla hanya tersenyum kecil.

"Ayo semangat… bentar lagi ujian," katanya pelan.

Guru mulai membagikan soal latihan.

"Hari ini kita fokus matematika," kata guru.

Beberapa siswa langsung menghela napas panjang.

"Matematika lagi…" bisik Dion.

Kayla melihat lembar soal di depannya. Ia menelan ludah. Matematika masih menjadi pelajaran yang cukup menantang baginya.

"Ayo, coba nomor satu dulu," kata guru.

Semua mulai mengerjakan. Suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara pensil yang bergerak. Di samping Kayla, Salsa juga terlihat kebingungan.

"Kayla, kamu ngerti gak?" bisiknya.

Kayla menggeleng pelan.

Hari-hari les pun terus berjalan. Setiap sore, Kayla dan teman-temannya tetap di sekolah. Kadang lelah, kadang bosan, bahkan kadang ingin menyerah.

Suatu sore, saat les dimulai, guru masuk ke kelas dengan senyum lebar.

"Hari ini kita belajar… tapi dengan cara yang berbeda," kata guru.

Anak-anak langsung saling pandang.

"Maksudnya, Bu?" tanya Salsa penasaran.

Guru tersenyum.

"Kita akan belajar sambil bermain."

Kelas langsung ramai.

"Serius, Bu?" kata beberapa siswa tidak percaya.

Guru mengangguk. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Kayla satu kelompok dengan Salsa, Raka, dan Nadia.

"Setiap kelompok akan mendapatkan soal, tapi jawabannya harus didiskusikan bersama," jelas guru.

"Kelompok tercepat dan paling tepat akan mendapat poin." lanjut bu Sri

"Yeay, seru!" kata Salsa.

"Akhirnya belajar gak ngantuk," tambah Raka.

Kayla tersenyum. Ia mulai merasa semangat.

"Kita mulai yahh..." kata bu Sri

"5 × 6 + 10 \= ?"

Raka langsung berbisik cepat,

"30 tambah 10… 40!"

Kayla mengangkat tangan.

"40, Bu!"

"Benar!" jawab guru.

"Yes!" kata Salsa sambil tersenyum lebar.

Pertanyaan pertama di lontarkan, setiap siswa mulai merasa tegang ingin memenangkan kuis dari guru.

"Selanjutnya, Bahasa Indonesia!"

"Apa lawan kata dari ‘rajin’?"

"Malas, Bu." sahut Raka

"Benar," kata guru.

Salsa menepuk bahu Raka.

"Keren!" kata Salsa

Suasana kelas semakin ramai dan menyenangkan. Tidak ada yang mengantuk. Semua ikut berpartisipasi.

"Masuk ke IPA!"

"Apa sumber energi utama di bumi?"

Semua langsung serempak,

"Matahari!"

Guru tertawa kecil.

"Betul!"

Untuk pertama kalinya, Kayla merasa belajar itu benar-benar menyenangkan. Ia tidak lagi takut salah. Tidak lagi merasa tertinggal. Setelah kuis selesai, guru berkata,

"Lihat kan? Belajar bisa seru kalau kalian menikmatinya."

Kayla mengangguk pelan.

"Iya, Bu…" serentak para siswa menjawab.

Saat pulang, mereka berjalan bersama.

"Seru banget tadi!" kata Salsa.

"Iya, besok-besok lagi dong!" tambah Raka.

Kayla tersenyum.

"Dulu aku gak pernah bayangin belajar bisa seseru ini…"

Les tambahan yang dulu terasa berat, sekarang justru jadi momen yang paling ditunggu. Karena di sanalah, Kayla dan teman-temannya menemukan semangat baru mereka.

Keesokan harinya, suasana les kembali berjalan seperti biasa.

Namun kali ini terasa sedikit berbeda. Guru kembali membagi kelompok untuk latihan soal. Kayla masih satu tim dengan Salsa, Raka, dan Nadia. Awalnya semua berjalan lancar. Mereka berdiskusi, saling membantu, dan tertawa seperti biasanya. Namun saat masuk ke soal yang lebih sulit, suasana mulai berubah.

"Ini jawabannya apa?" tanya Kayla pelan.

Raka langsung menjawab cepat,

"Udah, ikut aja jawabanku."

Kayla ragu.

"Tapi… aku belum ngerti," katanya.

Raka menghela napas.

"Aduh, lama banget sih. Nanti kita kehabisan waktu!"

Kayla langsung terdiam. Perkataan itu membuatnya tidak nyaman. Nadia mencoba menengahi.

"Gak apa-apa, kita jelasin pelan-pelan dulu."

Tapi Raka mulai terlihat kesal.

"Kita lagi lomba loh, bukan ngajarin terus!"

Suasana jadi canggung. Salsa melirik Kayla. Ia tahu Kayla mulai merasa tidak enak. Kayla menunduk, memegang pensilnya erat. Perasaan lama itu muncul lagi rasa takut jadi beban.

"Aku… aku coba lagi deh," kata Kayla pelan.

Namun tangannya justru berhenti. Pikirannya jadi kosong.

Saat guru mendekat, suasana kelompok mereka terlihat tidak seperti biasanya.

"Ada apa?" tanya guru.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Akhirnya Salsa berkata pelan,

"Kita lagi beda pendapat, Bu…"

Guru mengangguk.

"Lalu, bagaimana cara kalian menyelesaikannya?"

Semua diam.

Guru tersenyum kecil.

"Belajar itu bukan hanya tentang jawaban benar."

"Tapi juga tentang bagaimana kalian bekerja sama."

Raka menunduk sedikit. Kayla masih diam.

Setelah guru pergi, suasana masih canggung. Beberapa detik berlalu, akhirnya Raka berkata,

"Maaf ya… aku tadi terlalu maksa."

Kayla mengangkat wajahnya.

"Gapapa… aku juga harusnya lebih cepat ngerti," jawabnya.

Nadia langsung tersenyum.

"Yaudah, kita ulang bareng-bareng ya."

Salsa menambahkan,

"Yang penting kita sama-sama belajar, bukan cuma menang."

Mereka mulai lagi dari awal. Kali ini lebih pelan, lebih sabar, dan lebih saling mendengarkan.

"Jadi gini ya, Kayla…" kata Nadia sambil menjelaskan.

Kayla mengangguk.

"Oh… aku ngerti sekarang!"

Raka tersenyum kecil.

"Nah, gitu dong."

Meskipun tidak jadi kelompok tercepat hari itu, mereka merasa lebih lega. Sepulang les, Kayla berjalan pelan. Ia berpikir. Ternyata belajar bersama tidak selalu mudah. Ada perbedaan pendapat, ada emosi, ada rasa tidak enak. Tapi dari situ, ia belajar sesuatu yang lebih besar. Bahwa menjadi pintar itu penting, tapi belajar memahami orang lain, itu jauh lebih penting.

Hari itu, Kayla tidak hanya belajar soal, tapi juga belajar tentang kerja sama dan menghargai orang lain. Dan tanpa ia sadari, itu adalah bekal penting, untuk menghadapi tantangan yang lebih besar ke depan.

Hari ujian semakin dekat. Hanya tinggal beberapa hari lagi. Suasana kelas berubah drastis. Tidak ada lagi tawa seperti sebelumnya yang terdengar hanya suara halaman buku dibalik dan bisikan pelan. Kayla duduk di bangkunya, menatap catatan. Ia sudah belajar setiap hari. Sudah ikut les. Sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi rasa takut itu tetap ada. Di papan tulis, guru menulis:

“SIMULASI UJIAN TERAKHIR”

Kelas langsung tegang.

"Ini seperti ujian asli. Nilainya akan Ibu gunakan untuk melihat kesiapan kalian," kata guru.

Ini bukan sekadar latihan lagi. Ini penentuan.

Soal demi soal mulai ia kerjakan. Masih ada yang sulit, masih ada yang ragu tapi ia tidak berhenti. Kayla menelan ludah.

Setelah keluar kelas, suasana langsung ramai.

"Susaaah banget!" kata Raka.

"Iya, aku juga hampir panik," tambah Salsa.

Kayla hanya diam. Namun kali ini ia tidak merasa kalah.

Hari ujian tinggal menghitung hari. Tekanan semakin besar, Kayla dan teman-temannya semakin hari semakin serius untuk belajar. Bahkan mereka membentuk kelompok belajar bersama. Saat istirahat, Kayla mendekati Salsa, Raka, dan Nadia.

"Eh… gimana kalau kita belajar bareng?" tanya Kayla ragu.

Salsa langsung tersenyum.

"Boleh banget!"

Raka mengangguk.

"Setuju. Biar gak pusing sendiri."

Nadia menambahkan,

"Kita bisa saling bantu juga."

Sore itu, mereka berkumpul di ruang tamu rumah Kayla. Buku dan catatan terbuka di mana-mana. Mama datang membawa camilan.

"Wah, rajin-rajin semua ya," kata Mama sambil tersenyum.

"Terima kasih, Tante!" jawab mereka serempak.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!