Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suasana di ruang UGD mendadak berubah menjadi kepanikan yang mencekam.
Suara mesin elektrokardiogram (EKG) yang tadinya berbunyi teratur, kini berubah menjadi nada panjang yang melengking—sebuah garis lurus statis muncul di layar monitor.
Zaidan di ruang UGD kehilangan napas. Tubuhnya yang tegap kini terkulai pasrah di atas brankar, sementara para perawat dan dokter segera melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP).
"Siapkan defibrilator! Satu, dua, tekan!" teriak dokter jaga di tengah kekalutan itu.
Sulfi yang dipaksa berdiri di balik tirai hanya bisa menatap dengan pandangan kabur oleh air mata.
Dunianya seolah runtuh melihat tubuh pria yang baru beberapa hari menjadi pelindungnya itu kini harus berjuang melawan maut.
Ia tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai pengacara yang biasanya logis dan dingin; saat ini, ia hanyalah seorang istri yang ketakutan.
"Mas, jangan tinggalkan aku. Aku mohon," ucap Sulfi dengan suara yang nyaris hilang, tertelan oleh isak tangis yang menyesakkan dada.
Ia meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Ingatannya kembali pada senyum Zaidan saat sarapan tadi pagi, dan bagaimana pria itu dengan berani menceraikan Maya demi membelanya.
Sulfi merasa sangat tidak adil jika Zaidan harus pergi sekarang, di saat mereka baru saja memulai sebuah hidup yang penuh kejujuran.
"Satu kali lagi! Naikkan dosisnya!" perintah dokter lagi.
Tubuh Zaidan tersentak saat kejutan listrik dialirkan ke dadanya.
Sulfi menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan jeritan.
Dalam hatinya, ia berjanji bahwa jika Zaidan selamat, ia tidak akan pernah membiarkan satu orang pun menyentuh suaminya lagi.
Ia akan menggunakan seluruh kemampuan hukumnya untuk menghancurkan Maya dan Riko sampai ke akar-akarnya.
Di tengah keheningan yang menyiksa setelah kejutan listrik ketiga, terdengar suara pelan dari mesin monitor.
Pip... pip... pip...
Garis lurus itu mulai bergelombang kembali, meski masih lemah.
Dokter menyeka keringat di dahinya, lalu menoleh ke arah Sulfi dengan anggukan kecil.
"Napasnya kembali, tapi kondisinya masih sangat kritis. Kita harus memindahkannya ke ICU sekarang."
Sulfi terduduk lemas di lantai rumah sakit, menyandarkan kepalanya ke dinding dingin sembari terus membisikkan doa syukur.
Ia tahu perjuangan belum selesai, karena di luar sana, musuh-musuh mereka masih bergerak dalam kegelapan.
Langkah kaki yang terburu-buru menggema di lorong rumah sakit yang sunyi.
Belum sempat Sulfi menghapus sisa air mata di pipinya, sesosok wanita dengan setelan formal yang tampak sedikit berantakan karena berlari muncul dari balik tikungan koridor.
Itu Yuana. Sahabat sekaligus rekan sesama praktisi hukum yang mengiriminya pesan pagi tadi.
Begitu melihat sosok Sulfi yang terduduk lemas di depan ruang UGD, Yuana tidak membuang waktu.
Ia segera menghampiri dan kedatangan Yuana sahabatnya yang langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Sulfi! Ya Tuhan, Sulfi..." bisik Yuana dengan suara bergetar.
Sulfi yang tadinya mencoba tegar, akhirnya runtuh dalam pelukan sahabatnya itu.
Ia menangis tersedu-sedu di bahu Yuana, menumpahkan segala ketakutan dan beban yang sejak pagi ia pikul sendirian.
"Zaidan, Yu. Dia hampir tidak bernapas," isak Sulfi di sela tangisnya.
Yuana mengelus punggung Sulfi, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Tenang, Fi. Aku sudah dengar semuanya dari Rani. Dia sudah mulai mengumpulkan bukti-bukti pengkhianatan di kantor polisi. Sekarang fokusmu adalah mendampingi Zaidan."
Yuana melepaskan pelukannya sedikit, memegang kedua bahu Sulfi dan menatap matanya dengan tajam. Aura pengacaranya muncul kembali.
"Dengar, Sulfi Mentari yang aku kenal tidak pernah menyerah. Jangan biarkan mereka menang. Zaidan sudah berjuang dengan nyawanya, sekarang giliran kita yang berjuang dengan hukum. Aku di sini, Fi. Kita akan buat Riko dan siapa pun yang terlibat membayar setiap tetes air matamu malam ini."
Kehadiran Yuana di sana bukan hanya sebagai sahabat, tapi sebagai sinyal bahwa
"Singa Betina" di dunia hukum telah kembali. Sulfi menghapus air matanya, menarik napas panjang, dan menatap pintu ruang ICU tempat Zaidan baru saja dipindahkan. Ia tahu, mulai detik ini, ia tidak akan lagi hanya diam dan bersembunyi.
Sambil menggenggam tangan Yuana, Sulfi berkata dengan nada yang kini jauh lebih tenang dan dingin, "Bantu aku, Yu. Aku ingin tuntutan paling berat untuk Riko, dan siapkan berkas untuk menyeret Maya ke pengadilan atas tuduhan konspirasi dan percobaan pembunuhan."
Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Di dalam ruangan itu, Zaidan berjuang untuk hidup, sementara di luar, dua pengacara handal mulai menyusun strategi untuk meruntuhkan kerajaan kebohongan yang telah dibangun musuh mereka.
Malam semakin larut, namun atmosfer di markas kepolisian dan rumah sakit justru semakin memanas. Kompol Hendrawan akan menangkap Maya malam ini juga.
Ia tidak ingin memberikan celah sedikit pun bagi wanita itu untuk menghilangkan barang bukti atau melarikan diri setelah rencana kejinya dengan Riko terbongkar.
Yuana mengikuti Kompol, memastikan bahwa setiap prosedur penangkapan berjalan sesuai koridor hukum agar tidak ada celah bagi Maya untuk berkelit nantinya.
Sebagai pengacara, Yuana ingin menyaksikan sendiri jatuhnya wanita yang telah menyalahgunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk menghancurkan hidup orang lain.
Sementara itu, di lorong rumah sakit yang sepi dan hanya diterangi lampu redup, Sulfi duduk di depan ruang ICU memandang wajah suaminya yang masih belum sadarkan diri melalui kaca transparan.
Zaidan tampak begitu rapuh di balik tumpukan kabel dan selang oksigen yang kini menyokong hidupnya.
Wajah yang biasanya tegas itu kini pucat pasi, terlelap dalam koma yang menyakitkan.
Sulfi memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya.
Namun, bayangan mengerikan di sel tikus tadi terus berputar di kepalanya.
Ia masih ingat bagaimana sumpalan itu menutup mulut suaminya, menghalangi setiap inci udara yang seharusnya masuk ke paru-paru Zaidan.
Ia ingat binar mata Zaidan yang meredup karena kekurangan oksigen, dan bagaimana kain itu bukan hanya menyumbat suara, tapi hampir saja merenggut nyawa pria yang ia cintai.
"Bertahanlah, Mas..." bisik Sulfi pelan, tangannya menyentuh kaca dingin yang membatasi mereka.
Di tengah kesunyian itu, Sulfi menyadari satu hal. Dunia mungkin melihatnya sebagai janda desa yang malang, namun malam ini, ia telah kembali menjadi Sulfi Mentari.
Sambil memandang suaminya, ia berjanji bahwa saat Zaidan membuka mata nanti, semua orang yang bertanggung jawab atas penderitaan ini sudah berada di balik jeruji besi.
Ketegangan di rumah sakit memuncak saat malam mencapai puncaknya.
Kabar mengenai kondisi Zaidan di rumah sakit membuat Guntur mencari celah untuk membunuhnya.
Bagi Guntur, ini adalah kesempatan emas untuk melenyapkan detektif yang selama ini menjadi duri dalam daging bagi bisnis haramnya.
Dengan langkah yang sangat tenang dan terukur, Guntur memakai masker dan masuk ke ruang ICU disaat semua orang terlelap.
Ia bergerak seperti bayangan, melewati meja perawat yang tampak lengang di jam-jam kritis tersebut.
Ia berdiri di samping tempat tidur Zaidan,
menatap wajah pucat detektif itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Akhirnya kamu akan mati di tanganku," bisik Guntur pelan, suaranya terdengar dingin di balik masker.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak memicu alarm monitor, Guntur mengambil suntikan dan akan memasukkan cairan ke selang infus.
Cairan bening yang mematikan itu tinggal satu sentimeter lagi dari jalur darah Zaidan. Namun, tepat sebelum jarum itu menembus karet selang, sebuah suara yang sangat rendah namun tajam terdengar di ruangan yang sunyi itu.
"Kamu kira aku akan mati begitu saja?"
Zaidan membuka matanya dan dengan gerakan refleks yang masih lemah namun presisi, ia mencengkeram pergelangan tangan Guntur yang memegang suntikan.
Ternyata, Zaidan sudah melewati masa kritisnya beberapa saat yang lalu dan hanya menunggu waktu yang tepat.
"Mas!!"
Sulfi, yang ternyata tidak tertidur melainkan sedang bersujud syukur di sudut ruangan yang gelap, langsung melompat berdiri.
Ia tidak membuang waktu. Dengan insting yang cepat, Sulfi mengambil tali sisa pengikat perlengkapan medis yang ada di meja samping dan mengikat tangan Guntur dengan lilitan yang kuat, memanfaatkan momentum saat Guntur sedang berduel tenaga dengan Zaidan di atas ranjang.
Guntur terperanjat, ia tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan dari dua orang sekaligus dalam kondisi seperti ini.
Ia mencoba meronta, namun cengkeraman Zaidan yang penuh dendam dan ikatan Sulfi membuatnya terkunci.
"Dokter! Suami saya sadar!! Polisi! Tolong!" teriak Sulfi dengan suara melengking, memecah kesunyian malam di lantai ICU.
Dalam hitungan detik, suara langkah kaki petugas keamanan dan tim medis mendekat.
Zaidan tersenyum tipis di balik masker oksigennya, menatap Guntur yang kini tak berkutik.
Penjahat yang ia buru hingga masuk ke pemukiman warga itu akhirnya tertangkap di tempat yang paling tidak terduga: di sisi ranjang pesakitannya sendiri.