Ren Abraham, seorang anak laki-laki yatim piatu bertekad untuk menjadi kuat setelah desanya di hancurkan oleh para penyembah iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendeta Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Ramuan
Dua hari telah berlalu, banyak hal yang terjadi semenjak Ren dan Evan menemukan warisan Kaisar Pedang.
Efil mengunjungi Ren untuk berterima kasih, meskipun dia tidak melihat Ren saat ibunya pulang, dia tahu jika Ren terlibat, dia datang setelah keadaan cukup tenang agar para kesatria sihir tidak mencurigainya.
Para demonstran akhirnya berhasil menggulingkan penguasa kota, meminta kerajaan untuk mencari pemimpin yang baru.
Kerajaan menyetujuinya setelah melakukan penyelidikan mendalam terhadap penguasa kota, setelah menemukan jika dia sering melakukan korupsi, menggunakan posisinya untuk melakukan tindakan tidak adil, jual beli manusia dan ras lain, kerajaan memberinya hukuman mati dan semua anggota keluarganya di penjara karena tidak melaporkan tindakan penguasa kota.
Di halaman belakang guild, Ren melihat Douglas dan Herald sedang duduk bersama anggota ekslusif guild, Ren juga melihat Evan disana.
Tanpa berlama-lama, Ren langsung pergi mendekati Evan, lalu menyerahkan buku yang dia pegang.
" Evan, aku sudah selesai mencatatnya "
" Oh terimakasih! "
Evan dengan wajah senang menerima buku yang Ren berikan, itu adalah buku berisi teknik yang mereka janjikan, namanya adalah Hero Descent.
Saat Evan membaca halaman pertama, wajahnya berubah menjadi tertekan.
" Mengorbankan energi kehidupan? "
Ren merentangkan kedua tangannya" Ada kualitas ada harga, kau sendiri yang memilihnya "
"...Iya sih, sudahlah, lagipula teknik ini memberikan peningkatan yang luar biasa, wajar jika syaratnya sangat menantang "
Hero Descent adalah teknik tingkat tinggi yang Ren pelajari, teknik ini menguras energi kehidupan seseorang untuk memberikan peningkatan yang luar biasa terhadap pemakainya.
" Terimakasih "
" Ya...kalau begitu aku pergi dulu untuk menemui Douglas "
Setelah itu, Ren pergi menuju Douglas yang sedang mengejek Herald.
" Hm...apa kau memiliki sesuatu untuk di katakan padaku Ren? "
Ren mengangguk" Ya, aku dengar dari Evan jika anda mahir dalam membuat artefak tipe senjata, aku ingin anda membuatkan sebuah pedang untukku "
Douglas melirik Evan, dia pernah membuatkan Evan beberapa artefak, dia senang karena Evan merekomendasikannya.
" Aku mengerti tapi... saat ini aku kekurangan bahan untuk membuat senjata, jadi kau harus menunggu sedikit lebih lama, dan karena ada kemungkinan harga bahannya akan naik, mungkin kau harus membayar lebih mahal dari biasanya "
Ren tidak memiliki masalah dengan uang, dia punya banyak, dan dia juga punya banyak waktu jadi dia juga tidak memiliki masalah dengan menunggu.
" Tidak masalah...jika boleh tahu, bahan apa saja yang anda perlukan, siapa tahu saya bisa membantu "
Douglas memegang dagunya" Yang paling penting adalah bahan utamanya yaitu logam, karena ingin membuat artefak, besi bukanlah pilihan yang bagus, aku merekomendasikan untuk menggunakan logam yang lebih kuat dan mudah di aliri energi sihir, seperti Tenebrium "
Tenebrium adalah salah satu logam yang memiliki ketahanan tinggi, karena sangat mudah untuk di aliri energi sihir, senjata dengan bahan ini sangat populer di kalangan warior biasa.
" Artefak pedang seperti apa yang kau inginkan? "
" Yang terpenting kemampuannya tidak berhubungan dengan atribut "
Evan yang mendengar hal itu menjadi sangat penasaran, tapi dia pura-pura tidak peduli.
" Kenapa kau menginginkan senjata yang tanpa atribut, sebagai orang yang tidak bisa menggunakan sihir, senjata yang bisa mengeluarkan api itu sangat berguna "
" Aku memiliki alasan tersendiri untuk itu "
"..."
Douglas menyadari jika hal ini berkaitan dengan rahasia Ren, karena tidak ingin membuat Ren merasa tidak nyaman, dia memilih untuk tidak memperdulikannya.
" Baiklah, aku mengerti, aku akan membuatkan pedang untukmu setelah semua bahannya terkumpul "
" Terimakasih...kalau begitu aku permisi dulu,aku ingin mengambil sebuah misi "
" Berhati-hatilah "
" Ya "
Setelah itu, Ren pergi meninggalkan halaman belakang, menuju ruang depan, tempat dimana Neil berada.
" Hei Neil, tentang misi yang kau bicarakan kemarin, apakah itu masih ada? "
" Misi tentang penyelidikan sekelompok bandit yang bermarkas di desa Lestor bukan, ada kok "
Jawab Neil dengan senyuman ramah seperti biasanya.
" Aku akan mengambilnya "
" Kenapa sekarang kau ingin mengambilnya, padahal kemarin kau menolaknya? "
Ren menggaruk pipinya, dia bingung harus mulai darimana.
"...Aku berasal dari desa Lestor, di sanalah aku di lahirkan, kemarin aku menolaknya karena aku sibuk latihan "
"...Aku mengerti, maaf karena membuatmu mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan "
Sebagai Resepsionis guild petualang yang ada di kota Lonor, Neil tentunya memiliki jaringan informasi yang kuat, dia tahu apa yang terjadi di kota Lonor dan di dekatnya, desa Lestor yang di hancurkan oleh para penyembah iblis menjadi perbincangan hangat di kalangan para petualang waktu itu.
" Hahaha, jangan di pikirkan "
Setelah Neil menandai misi penyelidikan akan di kerjakan oleh Ren, Ren keluar dari guild, pergi untuk menyiapkan barang-barang yang di perlukan.
Misi terakhir kali menjadi pelajaran serius bagi Ren jika takdir itu tidak menentu, dia harus siap untuk segala situasi yang mungkin terjadi.
Karena misi waktu itu, Ren membuat aturan baru dalam hidupnya, hormati takdir, jangan remehkan lawan.
' Ramuan adalah yang terpenting tapi karena aku memiliki banyak uang, aku juga akan membeli beberapa item sihir '
Setelah menentukan tujuannya, Ren pergi menuju toko ramuan, kebetulan ada satu yang dekat dengan guild, Ren melihatnya saat berkeliling kota bersama Efil.
' Ramuan penyembuhan, ramuan stamina, dan penangkal racun, untuk sekarang ketiga itulah yang penting, jika ada ramuan yang menarik aku akan membelinya '
Setibanya di depan toko ramuan, Ren memandangi toko tersebut dari atas ke bawah, bentuknya sama persis dengan yang dia ingat.
Bangunan seluas delapan meter dengan panjang kira-kira lima belas meter, tembok batu di cat putih dengan bagian bawah berwarna hitam, atapnya yang curam di cat berwarna cokelat, dan terdapat ceroboh asap disana.
Ren masuk dan melihat banyak ramuan, obat-obatan, dan bahan pembuatan keduanya, berjejer di rak, ketika melihat si penjual sedang sibuk melayani pembeli lain, Ren memutuskan untuk melihat-lihat barang-barang yang di jual.
" Pil penguat nafsu makan...penambah darah, penambah libido, ramuan penyembuhan 1..."
Akhirnya si penjual selesai melakukan transaksi dengan pembeli, Ren mendekatinya sambil membawa tiga botol berisi ramuan penyembuhan, satu botol berisi pil penambah stamina, dan satu botol penguat tulang.
" Apa disini kamu memiliki obat untuk menangkal racun? "
" Ya, ada ramuan yang bisa menghilangkan racun, berapa banyak yang anda inginkan? "
" Tiga botol "
" Saya mengerti, ada lagi? "
Ren tidak langsung menjawab, jika disini ada ramuan penguat tulang, seharusnya peningkat otot juga ada bukan.
" Adakah obat untuk otot dan yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh? "
" Ada, keduanya dalam bentuk pil "
" Kalau begitu masing-masing satu botol "
" Baiklah "
Penjual itu pergi untuk mengambil pesanan Ren di rak, dia kembali sambil membawa dua botol kaca berisi pil berwarna putih dan kuning cerah.
" Total semuanya adalah 24 Fond 4 keping "
Ren memberikan dua lembar 10 Fond dan satu lembar 5 Fond, setelah menerima uang kembalian 16 keping dan penjual selesai membungkus semua ramuan yang Ren beli, dia keluar dari toko.
Tujuan Ren yang selanjutnya adalah toko artefak, dia akan pergi ke toko yang Evan rekomendasikan waktu itu.
Setelah berjalan beberapa menit, Ren akhirnya bisa melihat lautan yang luas dan puluhan kapal yang berlabuh, burung camar berterbangan di sekitar kapal, angin laut menyapu tubuh Ren.
Seorang pria mendekati Ren, dengan kecepatan luar biasa, dia mengambil dompet yang ada di saku baju Ren lalu melewati Ren seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun sayangnya, Ren bisa melihatnya, dia dengan cepat meraih tangan pencuri tersebut lalu dengan tenang menendang bagian belakang lututnya dan mendorongnya ke tanah.
Yang Ren lakukan membuatnya menarik banyak perhatian orang-orang, pencuri yang dia jatuhkan mulai berkeringat dingin, mungkin karena dia membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Semuanya, orang ini adalah pencuri, dia baru saja mengambil dompetku! "
Beberapa pria datang untuk membantu Ren, mereka menahan pencuri tersebut dan mulai memeriksa saku dan pakaiannya.
" Ada 10 dompet di sakunya, dan beberapa uang di sepatunya! "
Setelah tahu jika dia memang benar-benar seorang pencuri, wajah semua orang yang ada di sekitar berubah, kesal, marah, dan dingin.
" Sialan, itu dompetku! "
" Dasar bajingan, ku bunuh kau! "
" Dasar anjing, apa kau tahu seberapa sulit seseorang mencari uang, dan disini kau mengambilnya seenaknya! "
Orang-orang yang barusan menahan pencuri tersebut mulai memukuli wajahnya, mereka tidak menerima yang namanya penjelasan, hukuman yang pantas untuk orang yang mengambil hasil kerja keras orang lain adalah kematian!
Di saat Ren ingin menghentikan orang-orang yang main hakim sendiri, sekelompok penjaga datang untuk menghentikan amukan warga.
" Hentikan, jelaskan apa yang terjadi disini! "
" Dia seorang pencuri tuan! "
" Ya, ada banyak dompet yang bisa di jadikan barang bukti di sakunya! "
Salah satu penjaga mendekati pencuri tersebut dengan wajah tanpa ekspresi.
" Apa benar? "
"..."
Melihat pencuri tersebut diam, tatapan mata penjaga itu berubah dingin, diam berarti benar.
" Kau akan ikut kami ke penjara! "
Sebelum para penjaga itu membawa pergi pencuri tersebut, Ren ingin mendapatkan kembali dompetnya.
" Permisi tuan, dompetku ada padanya "
" Yang mana? "
" Hitam, disana terdapat 520 Fond dan 16 keping "
Salah satu kesatria mengambil setumpuk dompet berwarna hitam dan mencari dompet yang sesuai dengan penjelasan Ren, setelah menemukannya, dia menyerahkannya.
" Ini, jumlahnya sesuai dengan yang kau katakan "
" Terimakasih "
Dengan itu, pencuri tersebut di bawa pergi oleh para penjaga, dia melirik Ren dengan ekspresi penuh kebencian.
Ren tidak peduli dengan hal itu, apa yang dia lakukan barusan sudah benar, dia tidak ingin tahu apa yang membuat orang tersebut menjadi pencuri, entah karena kesulitan ekonomi, anak butuh biaya pengobatan, istri butuh uang untuk lahiran, dia tidak peduli dengan semua itu.
Yang namanya keadilan di dunia itu bukanlah tentang semua orang yang hidup setera, tapi tentang penderitaan dan kebahagiaan yang setara, jika ingin bahagia maka seseorang harus menderita, itulah keadilan sejati.