Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 009
Ziva tersentak, tudung hoodie-nya melorot, menampilkan wajah bantal yang sangat polos dan mata yang mengerjap bingung. "Eh... iya, Bu? Sudah buka puasa?"
Seluruh kelas tertawa ledak. Bu Lastri melotot. "Buka puasa apa? Ini masih jam sepuluh pagi! Berdiri di depan sekarang!"
Ziva menguap lebar, tidak merasa malu sedikit pun. Ia bangkit berdiri dengan gerakan sangat lambat, saking lambatnya Bu Lastri sampai harus mengelus dada sabar. "Aduh Bu, saya lagi masa pertumbuhan, kalau berdiri terus nanti nutrisinya lari ke kaki semua, nggak ke otak."
"Zivanna!"
"Iya, iya, Bu. Saya maju," ucap Ziva pasrah.
Saat berjalan ke depan, matanya tak sengaja menoleh ke arah jendela koridor. Di sana, Aksa dan gengnya sedang berjalan lewat. Pandangan mereka bertemu.
Ziva memberikan tatapan "liat nih gara-gara tiang listrik gue jadi dihukum" ke arah Aksa.
Aksa yang melihat itu sempat berhenti sejenak. Ia melihat Ziva yang berdiri di depan kelas dengan rambut sedikit berantakan tapi malah terlihat lebih "manusia" daripada siapa pun di gedung ini. Aksa tidak tersenyum, tapi ia melakukan sesuatu yang membuat seisi kelas yang melihat ke jendela langsung heboh: Aksa mengangkat tangannya, memberikan gestur "semangat" yang sangat kaku—hanya sekadar kepalan tangan kecil—lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Ziva mendengus, kembali menatap papan tulis. "Emang tiang listrik satu itu hobby banget nambahin beban hidup orang," gumamnya pelan, meski ada sedikit hangat yang aneh di dadanya.
Hukuman berdiri di depan kelas ternyata jauh lebih melelahkan daripada mengerjakan soal Matematika. Ziva melirik jam dinding di atas papan tulis yang seolah-olah berputar menggunakan tenaga siput. Setiap menit terasa seperti satu jam.
"Oke, anak-anak, sekarang Ibu akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok untuk proyek penelitian anatomi tumbuhan. Satu kelompok terdiri dari tiga orang, dan Ibu sudah menentukan pembagiannya berdasarkan hasil ujian terakhir," suara Bu Lastri menggelegar, memecah lamunan Ziva tentang kasur empuk di rumahnya.
Ziva memejamkan mata. Plis, jangan sama yang ribet, plis jangan sama yang drama, doanya dalam hati.
"Kelompok tujuh: Reygan Dirgantara, Liana Putri, dan... Zivanna Clarissa."
...DEG....
Ziva hampir saja menjatuhkan kapur yang ia pegang. Ia menoleh ke arah bangku tengah, di mana Reygan sedang menatapnya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan, sementara Liana hanya menunduk malu.
"Mampus gue," gumam Ziva pelan. Ini bukan lagi sekadar kelompok belajar; ini adalah jebakan maut sisa-sisa plot novel.
...Teng. Teng....
Begitu bel istirahat berbunyi, Ziva tidak membuang waktu. Sebelum Reygan atau Liana sempat menghampirinya untuk membahas tugas, ia sudah menyelinap keluar lewat pintu belakang kelas.
"Ziv! Mau ke mana?" teriak Manda dari kejauhan.
"Perut gue mules! Mau ke UKS, mau pingsan!" sahut Ziva asal sambil terus melangkah cepat.
Langkah kaki Ziva (Zura) yang biasanya diseret, kali ini mendadak lincah demi menghindari konfrontasi. Baginya, berurusan dengan "mantan gebetan" yang gagal move on dan "si protagonis" yang terlalu baik adalah pemborosan energi tingkat nasional.
Koridor menuju UKS relatif sepi karena sebagian besar murid sudah menyerbu kantin. Begitu sampai di depan pintu UKS yang bercat putih bersih, Ziva langsung membukanya tanpa permisi.
"Permisi, Bu Penjaga UKS yang baik hati, saya mau numpang pingsan satu jam—"
Ucapannya terhenti.
Di dalam sana, tidak ada petugas UKS. Yang ada hanyalah aroma minyak kayu putih yang tipis dan satu brankar di pojok ruangan yang tirainya setengah terbuka. Di atas brankar itu, seorang cowok sedang berbaring santai dengan satu tangan menumpu kepala dan kaki yang disilangkan.
Aska.
Aksa menurunkan ponselnya, menatap Ziva dengan mata elangnya yang tenang. "Pingsan kok izin," ucapnya datar.
Ziva mematung di ambang pintu. "Lo... ngapain di sini? Bukannya tadi lo ke kantin bareng geng Black Eagle?"
"Berisik," sahut Aksa singkat. "Di sini tenang."
Ziva mendengus, rasa malunya mendadak hilang berganti dengan rasa lelah. Ia menutup pintu UKS rapat-rapat, lalu berjalan menuju brankar kosong tepat di sebelah Aksa. Tanpa memedulikan tatapan heran cowok itu, Ziva langsung naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya.
"Minggir dikit, Tiang Listrik. Kasur ini punya sekolah, bukan punya bapak lo. Meskipun bapak lo yang punya sekolah sih," gumam Ziva sambil menarik selimut tipis sampai ke dagu.
Suasana di UKS menjadi sangat tenang. Hanya ada suara detak jarum jam dan deru pelan AC. Aksa tidak mengusir Ziva, dan Ziva juga tidak berniat mengajak Aksa bicara.
Namun, keheningan itu justru terasa hidup.
Aksa melirik Ziva dari balik tirai tipis yang memisahkan mereka. Gadis itu benar-benar memejamkan mata. Tidak ada lagi Ziva yang berisik, yang selalu mencari perhatian di koridor, atau yang hobi dandan menor. Ziva yang sekarang terlihat... sangat damai.
"Lo satu kelompok sama Reygan?" suara berat Aksa tiba-tiba memecah keheningan.
Ziva membuka satu matanya, menatap plafon UKS dengan lesu. "Tahu dari mana? Lo cenayang?"
"Tadi lewat kelas lo pas Bu Lastri lagi bagi kelompok."
"Nasib emang lagi nggak bersahabat sama gue," curhat Ziva pelan. "Gue cuma mau tenang, Aks. Gue males debat, males rebutan cowok, males semuanya. Kenapa sih semua orang di sekolah ini hobby banget narik gue masuk ke drama mereka?"
Aksa terdiam sejenak. Ia meletakkan ponselnya di dada. "Karena lo menarik."
"Hah?" Ziva menoleh ke samping, menatap Aksa yang masih menatap lurus ke atas. "Menarik apanya? Menarik kayak mobil mogok?"
Aksa tidak langsung menjawab. Ia mengubah posisinya menjadi miring, menatap Ziva dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya. "Dulu lo kayak kembang api. Berisik, silau, tapi cepet ilang. Sekarang lo kayak... awan mendung."
Ziva mengerutkan kening. "Maksud lo gue suram?"
"Bukan. Adem. Bikin orang pengen ikut istirahat," lanjut Aksa dengan nada yang sangat tenang, sebelum ia kembali menatap ponselnya seolah-olah tidak baru saja melontarkan kalimat paling puitis yang pernah didengar Ziva.
Ziva tertegun. Jantungnya berkhianat lagi dengan memberikan satu detakan ekstra. Ia segera memutar tubuhnya membelakangi Aksa.
"Terserah lo deh. Pokoknya kalau si Reygan nyari gue ke sini, bilang gue udah dibawa ambulans," gumam Ziva sambil menyembunyikan wajahnya di bantal.
Aksa hanya tersenyum tipis—kali ini benar-benar sebuah senyuman—yang sayangnya tidak bisa dilihat oleh Ziva.
Di luar UKS, Reygan sedang berjalan mondar-mandir di koridor dengan wajah gusar, sementara Liana berdiri di belakangnya dengan cemas. Mereka tidak tahu bahwa target pencarian mereka sedang berbagi ketenangan dengan penguasa sekolah di balik pintu yang terkunci.
lanjut ya thor... 🤧