Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
perjalanan turun dari Puncak terasa jauh lebih berat daripada saat Genesis naik tadi malam. Langkahnya tetap mantap, tapi kali ini bukan nekat yang mendorongnya, melainkan sesuatu yang lebih dingin dan lebih sadar. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dunia Alexa sekarang—pagar tinggi, penjagaan ketat, dan orang-orang yang jelas tidak akan membiarkannya masuk begitu saja.
Ia berhenti sejenak di tikungan, menatap kabut yang menggantung di bawah sana, lalu menghela napas panjang seperti sedang merapikan isi kepalanya yang semalaman berantakan.
“Jadi segitu jauhnya jarak kita sekarang…” gumamnya pelan, bukan untuk mengeluh, tapi untuk mengakui kenyataan.
Tadi malam ia datang dengan satu tujuan sederhana: bawa Alexa pulang.
Tapi yang ia temukan justru sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan, dan untuk pertama kalinya Genesis benar-benar sadar, masalahnya bukan sekadar “orang kaya lawan orang miskin”.
Ini tentang sistem, tentang kekuasaan, tentang dunia yang memang tidak pernah dirancang untuk orang seperti dirinya bisa masuk dengan mudah. Ia mengepalkan tangannya, bukan karena emosi meledak, tapi karena ia akhirnya paham satu hal penting.
“Kalau gue maksa, gue cuma bakal kalah cepat,” lanjutnya pelan, matanya tajam menatap ke depan.
Angin dingin menyapu wajahnya, tapi Genesis tidak bergeming. Ia justru berdiri lebih tegak, seolah keputusan yang selama ini ia hindari akhirnya terbentuk jelas di dalam kepalanya.
“Berarti gue harus ganti cara main,” ucapnya lirih, dan kali ini suaranya tidak goyah. Ia tidak akan lagi datang sebagai anak kampung yang cuma berani nekat, ia harus datang sebagai seseorang yang tidak bisa mereka remehkan, seseorang yang punya posisi.
Ia berjalan lagi, langkahnya lebih teratur, pikirannya lebih terarah.
.
.
Di sisi lain, vila Puncak terasa jauh lebih sunyi setelah pertemuan itu.
Alexa duduk di tepi ranjang dengan tubuh sedikit membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan, seolah mencoba menahan sesuatu yang terus ingin pecah dari dalam dadanya. Pertemuan dengan Genta tadi bukan hanya mengejutkan, tapi seperti menarik seluruh masa lalunya kembali ke permukaan secara paksa.
Wajah itu, suara itu, cara bicara yang tenang itu—semuanya terlalu sama dengan yang ia ingat, terlalu nyata untuk disebut kebetulan.
“Ini nggak masuk akal…” bisiknya pelan, matanya kosong menatap lantai.
Ia mengingat jelas hari ketika kabar itu datang, hari ketika hidupnya runtuh karena kehilangan orang yang ia cintai. Ia menangis, ia menerima, ia belajar hidup tanpa Genta, bahkan membesarkan anak sendirian dengan keyakinan bahwa semuanya sudah selesai.
Tapi sekarang, pria itu berdiri di depannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah waktu tidak pernah memisahkan mereka.
Alexa menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya mulai tidak beraturan.
“Kalau dia hidup… berarti selama ini siapa yang bohong sama aku…?” gumamnya gemetar.
Pintu kamar diketuk pelan, membuatnya tersentak.
“Nona Alexa, Tuan Genta ingin berbicara sebentar. Apakah Anda bersedia?” suara pelayan terdengar hati-hati, seolah tahu kondisi Alexa tidak baik.
Tubuh Alexa langsung menegang. Jantungnya kembali berdebar tidak karuan. Ia diam beberapa detik, mencoba mengumpulkan dirinya sendiri sebelum akhirnya menjawab pelan, “...biarkan dia masuk.”
Pintu terbuka perlahan, dan Genta masuk dengan langkah tenang. Ia tidak membawa ekspresi berlebihan, tidak juga terlihat memaksa, tapi justru ketenangan itu yang membuat Alexa semakin sulit membaca situasi. Pria itu berhenti beberapa langkah darinya, menjaga jarak, seolah tidak ingin membuatnya semakin tertekan.
“Kamu kelihatan nggak baik-baik aja,” ucap Genta pelan, suaranya tetap stabil seperti sebelumnya.
Alexa tertawa kecil, tawa yang lebih mirip hembusan napas lelah.
“Menurut kamu?” balasnya, lalu mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke mata Genta. “Kamu tiba-tiba muncul di depan aku setelah… semua yang aku tahu selama ini, terus kamu tanya aku baik-baik aja?”
Genta tidak tersinggung. Ia justru memperhatikan Alexa lebih dalam, seperti sedang mencoba menyusun potongan puzzle yang belum lengkap.
“Reaksi kamu dari tadi… aneh,” katanya jujur. “Bukan cuma kaget. Lebih dari itu.”
Alexa langsung mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. Ia tahu kalau ia tidak hati-hati, semuanya bisa terbongkar.
“Aku cuma capek,” jawabnya cepat, terlalu cepat. “Banyak hal terjadi dalam waktu singkat. Itu aja.”
“Alexa,” suara Genta sedikit lebih tegas, tapi tetap tenang, “aku kenal kamu dari dulu. Kamu bukan tipe orang yang bakal bereaksi sejauh ini cuma karena ‘capek’.”
Kalimat itu menusuk. Bukan karena keras, tapi karena terlalu tepat.
Alexa menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang hampir keluar. Ia tidak bisa bilang bahwa ia bukan Alexa yang dulu, tidak bisa bilang bahwa ia adalah Naura yang seharusnya tidak berada di sini. Semua itu terlalu berbahaya.
“Terus kamu maunya apa?” tanya Alexa akhirnya, menatap lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kamu mau aku jelasin sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak ngerti?”
Genta terdiam sejenak. Untuk pertama kalinya, ia terlihat berpikir lebih lama sebelum bicara.
“Aku cuma mau ngerti apa yang terjadi sama kamu,” jawabnya pelan. “Karena jelas… kamu berubah.”
Alexa tersenyum tipis, tapi senyum itu pahit. “Kalau aku bilang aku juga nggak ngerti diri aku sendiri sekarang, kamu bakal percaya?”
Genta tidak langsung menjawab. Ia menatap Alexa dalam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Iya. Tapi itu bukan berarti aku bakal berhenti cari tahu.”
Kalimat itu tidak terdengar mengancam, tapi cukup untuk membuat Alexa sadar bahwa pria di depannya ini bukan orang yang mudah dibohongi. Ia bukan orang tua Alexa yang hanya melihat dari status dan aturan, Genta melihat langsung ke dalam, dan itu berbahaya.
“Jangan terlalu dalam,” bisik Alexa pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Genta. “Nanti kamu nyesel…”
“Kenapa?” tanya Genta, kali ini benar-benar penasaran.
Alexa menggeleng cepat. “Nggak ada. Lupakan aja.”
Suasana menjadi canggung, tapi bukan canggung yang kosong. Ada sesuatu yang menggantung di antara mereka, sesuatu yang belum terucap tapi sudah terasa berat.
Di sisi lain kota, Genesis akhirnya sampai di rumah kecilnya menjelang siang. Ia membuka pintu, masuk, dan langsung disambut oleh kesunyian yang familiar. Meja makan masih berantakan, sisa makanan masih ada, tapi kali ini ia tidak berhenti lama di situ. Ia justru duduk, mengambil sendok, dan mulai makan tanpa banyak pikir.
“Kalau gue terus kayak gini, gue nggak bakal pernah nyampe ke sana,” gumamnya pelan, matanya menyapu sekeliling rumah.
Ia berdiri, masuk ke kamar, membuka lemari kecilnya, lalu mengambil map berisi dokumen. Ijazah, KTP, dan beberapa lamaran kerja lama yang dulu ia buat tapi tidak pernah ia kirim. Ia membuka satu per satu, membaca ulang, lalu menarik napas dalam.
“Gue udah buang terlalu banyak waktu,” lanjutnya lirih.
Ia mengambil kertas baru, duduk di lantai, dan mulai menulis lagi. Tapi kali ini bukan sekadar lamaran kerja asal, ia berpikir lebih jauh. Ia sadar kalau ia hanya bertahan di level sekarang, ia tidak akan pernah bisa menyentuh dunia tempat Alexa berada.
“Gue harus masuk ke sistem mereka… bukan nabrak dari luar,” katanya pelan, lebih seperti menyusun strategi daripada sekadar berandai.
Tangannya bergerak lebih cepat, pikirannya lebih terarah. Ia tidak lagi digerakkan oleh cemburu semata, tapi oleh tujuan yang jauh lebih jelas. Ia ingin berdiri di tempat di mana ia bisa mengambil kembali apa yang ia anggap miliknya.
Sore mulai turun perlahan, dan untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, Genesis tidak merasa tersesat.
Sementara itu di vila, Alexa masih duduk diam setelah Genta pergi. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut, melainkan karena konflik di dalam dirinya yang semakin besar. Di satu sisi, ada masa lalu yang kembali hidup di depan matanya. Di sisi lain, ada seseorang yang sedang berjuang di luar sana untuknya.
“Kenapa harus sekarang…” bisiknya pelan, air mata kembali jatuh.
Ia menatap keluar jendela, ke arah kabut yang perlahan turun menutupi pemandangan. Di balik semua kemewahan ini, ia justru merasa semakin terjebak.
Dan tanpa ia sadari, di dua tempat yang berbeda, dua orang yang sama-sama mencintainya sedang berjalan ke arah yang sama—menuju sebuah titik di mana tidak hanya cinta yang akan diuji, tapi juga kebenaran yang selama ini tersembunyi rapat.