Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana jahat yang mematikan
Kembalinya Adel ke sekolah disambut dengan sorak-sorai hangat oleh sebagian besar siswa. Banyak yang datang memeluknya, mengucapkan selamat, dan menyatakan dukungan mereka.
Namun, di sisi lain koridor, Rina dan gengnya memandang dengan tatapan membunuh. Bagi Rina, keberhasilan Adel adalah kegagalannya sendiri. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa gadis miskin itu justru semakin dicintai dan dihormati setelah melewati berbagai ujian.
"Lihat tuh, sok suci banget jalan nya. Padahal dasar pembawa sial," gerutu Rina sambil meremas buku di tangannya kuat-kuat.
"Rin, kita harus gimana nih? Sekarang semua orang malah makin suka sama dia. Bahkan guru-guru juga mulai percaya lagi," tanya salah satu anak buahnya cemas.
Mata Rina menyala licik. "Gue gak peduli. Selama dia masih di sini, gue gak bakal tenang. Kali ini gue gak bakal main-main lagi. Gue harus bikin dia malu seumur hidup sampai dia minta keluar sendiri dari sekolah ini."
Rina punya rencana yang sangat jahat. Ia tahu minggu depan sekolah akan mengadakan acara Bazar Amal yang dihadiri oleh banyak orang tua dan undangan penting. Itu adalah acara paling bergengsi. Rina berniat menghancurkan acara itu dan menjebak Adel sebagai kambing hitamnya.
Hari H Bazar Amal tiba. Suasana sekolah sangat ramai dan meriah. Setiap kelas memiliki stand sendiri. Stand kelas Rina terlihat paling mewah dan megah, penuh dengan makanan mahal dan dekorasi mewah, tentu saja biayanya ditanggung oleh uang orang tuanya yang tebal.
Sementara itu, stand kelas Adel terlihat sederhana namun unik. Mereka menjual kerajinan tangan dan makanan rumahan yang dibuat sendiri dengan penuh cinta.
Adel sibuk mengatur barang dagangan. Karena sedang banyak urusan, ia meninggalkan stand sebentar untuk mengambil stok barang di gudang. Saat itulah kesempatan emas bagi Rina.
Dengan hati-hati, Rina menyelinap masuk ke stand kelas Adel. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi ganja yang ia sembunyikan di dalam tasnya. Dengan tangan gemetar tapi penuh niat jahat, ia menyelipkan bungkusan itu di dalam laci meja kas yang biasa dipakai Adel.
"Silakan nikmati hasilnya, Del. Kali ini lo gak bakal bisa selamat," bisik Rina seram lalu pergi dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak lama kemudian, acara sedang berlangsung meriah. Tiba-tiba, beberapa petugas keamanan sekolah dan guru datang dengan wajah serius. Mereka didatangi oleh laporan anonim bahwa ada siswa yang membawa barang terlarang.
Pemeriksaan mendadak dilakukan. Saat mereka membuka laci meja di stand kelas Adel, semua orang terkejut. Bungkusan itu ditemukan!
"Ini milik siapa?!" teriak Pak Guru dengan suara menggelegar.
Suasana menjadi hening total. Semua mata tertuju pada Adel yang baru saja kembali. Wajahnya pucat pasi melihat benda itu.
"Itu... itu bukan milik Adel! Adel tidak tahu apa-apa!" teriak Adel panik, tangannya gemetar hebat.
"Siapa lagi kalau bukan kamu? Meja ini kan yang kamu pegang!" tuduh Rina dari belakang dengan suara dramatis. "Ya ampun Del, gila ya kamu? Sampah-sampah kayak gitu kamu bawa ke sekolah? Kamu mau rusak masa depan kamu sendiri apa gimana?!"
"Gue gak bawa! Itu jebakan! Rina, lo yang taruh kan?!" Adel tak mampu menahan emosinya lagi. Ia menatap tajam ke arah Rina.
"Bukti dong? Jangan nuduh seenaknya! Mana buktinya?" Rina tersenyum mengejek, merasa menang.
Situasi menjadi sangat kacau. Orang tua tamu undangan mulai berbisik-bisik, memandang jijik.
"Jahat banget ya, ternyata dia pemakai..."
"Pantesan kelakuannya aneh, kerja sana sini, ternyata buat biayain kebiasaan buruknya..."
Kata-kata itu menghujam hati Adel lebih sakit dari apapun. Ia merasa dunia benar-benar runtuh kali ini. Tuduhan korupsi bisa diluruskan dengan data, tapi tuduhan narkoba adalah aib yang sulit dibersihkan dalam sekejap.
Pak Kepsek tampak sangat marah dan kecewa. "Adel! Ikut saya ke ruangan sekarang! Ini masalah serius! Kalau terbukti benar, kamu bisa dikeluarkan dan diproses hukum!"
Adel menangis histeris. "Bapak percaya sama Adel! Adel jujur! Adel tidak pernah sentuh barang macam itu! Itu fitnah! Itu semua Rina yang buat!"
Namun, bukti ada di depan mata. Tidak ada yang membelanya saat itu kecuali Lina yang berteriak tidak terima, tapi suaranya tenggelam oleh keributan.
Rina mendekati Adel yang sedang ditahan oleh guru, lalu berbisik tepat di telinganya.
"Gimana rasanya jadi penjahat, Del? Sekarang lo udah bener-bener tamat. Lo pikir lo bisa menang lawan gue? Lo cuma sampah yang gak berguna! Minggir dari jalan hidup gue!"
Adel menatap Rina dengan mata yang merah dan bengkak karena menangis. Di tengah kepanikan dan ketakutan itu, ada satu hal yang tersisa di hatinya: Keyakinan.
"Rina... Lo boleh menang sekarang. Lo bisa bikin semua orang benci gue. Tapi ingat... Tuhan itu Maha Adil. Suatu hari nanti, kebenaran bakal keluar walau ditutupin pake bumi sekalipun. Dan saat hari itu tiba... lo yang bakal hancur."
Adel pun dibawa pergi meninggalkan acara yang seharusnya membanggakan itu, dengan kepala tertunduk dan air mata yang tak henti mengalir.
Malam itu adalah malam tergelap dalam hidup Adel. Ia terkurung di ruang isolasi sekolah, menunggu pemeriksaan lebih lanjut. Sendirian. Gelap. Dan penuh ketakutan.
Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyerah. Ia akan mencari cara untuk membongkar kebohongan ini, atau mati mencoba!