Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9: "PERSIAPAN DAN PERKEMBANGAN"
*****
Sinaran matahari pagi menyinari kamar tidur Rio dan Ratna. Ratna sudah memasuki trimester ketiga kehamilannya—perutnya membuncit jelas dan dia semakin sering merasakan gerakan aktif dari bayi di dalam kandungannya. Dia sedang duduk di kursi berlengan sambil melihat buku panduan persiapan kelahiran, sementara Rio menyusun lemari bayi yang baru saja tiba kemarin malam.
“Bagaimana kalau rak ini kita taruh di sisi kanan, sayang?” tanya Rio sambil menyesuaikan posisi lemari kayu berwarna putih muda. “Jadi kamu bisa mudah mengambil baju bayi kapan saja.”
Ratna tersenyum dan mengangguk. “Bagus saja, sayang. Oh, dan jangan lupa tempatkan kotak popok di dekat ranjang bayi ya. Aku sudah beli beberapa jenis popok untuk mencoba mana yang paling cocok.”
Sri Wahyuni masuk ke kamar dengan mangkuk bubur merah delima hangat. “Ini untuk kamu, Nak. Dokter bilang makanan kaya zat besi baik untukmu dan bayi.” Dia melihat ke arah lemari bayi yang hampir selesai disusun dan tersenyum bangga. “Rasanya seperti kemarin saja kamu baru menikah, sekarang sudah akan jadi ibu.”
“Bu sudah siap jadi nenek kan?” tanya Ratna dengan senyum ceria.
“Sudah sejak kamu bilang kamu hamil, Nak,” jawab Sri Wahyuni sambil mencium dahi Ratna. “Aku sudah menyimpan beberapa kain batik tua untuk dibuat baju bayi lho.”
Sementara itu, di lokasi proyek perumahan yang kini diberi nama “Puri Harapan”, suasana sangat ramai. Ribuan pekerja sedang sibuk mengerjakan berbagai tahap pembangunan—mulai dari pondasi hingga pemasangan atap. Pak Hendra dan Pak Surya sedang berjalan mengelilingi lokasi bersama tim teknis.
“Proses pembangunan berjalan 15% lebih cepat dari target awal,” ucap Pak Surya sambil melihat catatan di tabletnya. “Kita bisa menyelesaikan blok pertama dalam waktu dua minggu lagi dan mulai proses finishing.”
Pak Hendra mengangguk dengan puas saat melihat struktur rumah-rumah yang sudah mulai terbentuk dengan rapi. “Pemasaran juga berjalan dengan baik. Sudah lebih dari 40% unit di blok pertama terjual bahkan sebelum pembangunan selesai. Banyak calon pembeli yang tertarik dengan desain rumah yang ramah keluarga dan fasilitas lengkap yang kita sediakan.”
Di area depan lokasi proyek, sebuah tenda informasi sudah dibangun. Banyak masyarakat yang datang untuk bertanya tentang detail rumah dan proses pembelian. Bu Rina sedang membantu tim pemasaran menjawab pertanyaan serta menjelaskan skema pembiayaan yang disediakan oleh perusahaan bersama dengan beberapa bank kerja sama.
“Kita juga menawarkan paket khusus untuk keluarga muda dan pekerja profesional,” ucap Bu Rina kepada salah satu calon pembeli. “Termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan yang akan dibangun di kawasan ini.”
Kembali ke rumah Rio dan Ratna, sore hari itu Raisa datang dengan beberapa teman sekelasnya membawa banyak barang untuk bayi. Mereka membawa mainan kayu, perlengkapan makan bayi, dan sebuah karpet bermain yang dihiasi dengan gambar binatang lucu.
“Kita sudah merencanakan ini dari lama, Kak,” ujar Raisa sambil meletakkan barang-barang di lantai kamar bayi. “Semua ini dari kumpulan kita untuk adik kita yang akan lahir.”
Ratna merasa sangat tersentuh. Dia berdiri dengan bantuan Rio dan berpelukan dengan Raisa. “Terima kasih banyak, Ras. Kamu dan teman-temanmu benar-benar baik hati.”
Malam itu, Rio mengajak Ratna pergi ke luar rumah untuk melihat matahari terbenam dari teras belakang. Udara sore yang segar membuat Ratna merasa lebih nyaman setelah seharian berada di dalam rumah.
“Kamu tahu kan, sayang,” ucap Rio sambil membungkus selimut tipis di sekitar tubuh Ratna. “Proyek ‘Puri Harapan’ sudah mulai menunjukkan hasil yang luar biasa. Bapak Darmawan bilang kalau perusahaan akan memberikan bonus khusus bagi semua karyawan karena keberhasilan proyek ini.”
“Betapa baiknya itu,” jawab Ratna dengan lembut. “Semua usaha kamu dan teman-teman kantor memang layak mendapatkan balasan yang baik.”
Rio menatap ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi oranye dan merah. “Aku sudah berencana untuk membeli satu unit rumah di sana nanti. Buat kita dan Harapan. Fasilitasnya lengkap dan lokasinya juga strategis.”
Ratna mengangguk dengan senyum. “Itu ide yang bagus. Bayangkan saja nanti kita bisa bermain bersama Harapan di taman kawasan itu, bertemu dengan banyak keluarga lain yang sama-sama muda dan penuh semangat.”
Beberapa hari kemudian, Rio dan Ratna pergi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan bulanan ke rumah sakit. Dokter Arif dengan senyum ramah menyambut mereka dan segera melakukan pemeriksaan.
“Semua indikator menunjukkan bahwa kamu dan bayi dalam kondisi yang sangat baik, Ratna,” ucap Dokter Arif setelah selesai pemeriksaan ultrasound. “Kita sudah bisa melihat wajahnya yang lucu lho,” tambahnya sambil menunjukkan layar monitor kepada Rio dan Ratna.
Keduanya melihat dengan mata penuh kebahagiaan saat melihat bayi mereka bergerak di dalam kandungan, dengan hidung kecil dan bibir yang tampak jelas di layar. Rio meraih tangan Ratna dan merasakan air matanya hampir keluar.
“Ini adalah momen paling indah dalam hidupku, sayang,” ucap Rio dengan suara lembut.
Ratna menyandarkan kepalanya pada bahu Rio. “Aku juga merasakan hal yang sama. Segala perjuangan yang aku lalui sepertinya sudah berharga semua karena bisa sampai pada momen ini.”
Di perjalanan pulang dari rumah sakit, mereka berhenti sebentar di lokasi proyek “Puri Harapan”. Mereka berdiri melihat rumah-rumah yang semakin rampung, dengan mata penuh harapan untuk masa depan keluarga kecil mereka.
“Sebentar lagi kita akan punya rumah baru yang lebih besar, dan Harapan akan tumbuh dengan baik di sana,” ucap Rio sambil mencium pelukan Ratna.
Ratna tersenyum dan melihat ke arah perutnya yang membuncit. “Ya, sayang. Semua ini adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan bagi kita.”
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...