NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Lorong Dingin

​Langkah kaki Asha bergema di sepanjang lorong marmer menuju sel isolasi tempat Arlan ditahan sementara sebelum dipindahkan ke penjara pusat. Suasana di markas kepolisian Neovault terasa sangat sunyi, hanya ada dengung lampu neon yang sesekali berkedip di atas plafon beton yang dingin. Bau disinfektan yang tajam merayap masuk ke indra penciumannya, mengingatkan Asha pada bangsal rumah sakit tempat ia berjuang melawan maut dahulu.

​Ia masih mengenakan setelan jas hitam yang sama saat ia merobek kekuasaan Arlan di Menara Neovault. Di balik kain jas yang mahal itu, luka bakar di bahunya berdenyut halus, seolah ikut bereaksi terhadap atmosfer pembalasan yang kini telah tuntas. Asha berhenti tepat di depan jeruji besi yang memisahkan dunia luar dengan kegelapan tempat Arlan meringkuk.

​"Tahanan ini terus meracau sejak tiba dua jam yang lalu, Nyonya V," lapor seorang petugas polisi yang menjaga gerbang sel dengan nada hormat.

​"Tinggalkan kami sebentar. Aku ingin memberikan salam perpisahan yang layak untuk mantan atasanku," perintah Asha dengan suara yang rendah dan tidak terbantahkan.

​Petugas itu mengangguk, lalu melangkah menjauh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di koridor remang-remang tersebut. Asha menatap ke dalam sel, melihat sosok pria yang dulunya begitu berkuasa kini meringkuk di sudut lantai yang lembap. Pakaian Arlan sudah kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak hancur oleh keputusasaan yang tidak terkira.

​"Siapa di sana? Siapa lagi yang datang untuk menertawakanku?" suara Arlan terdengar serak, bergetar karena emosi yang tidak lagi terkendali.

​Asha melangkah satu kaki lebih dekat ke arah jeruji, membiarkan cahaya lampu koridor menyinari separuh wajahnya yang sempurna. "Aku datang untuk membawakanmu berita terbaru tentang istrimu, Arlan. Elena baru saja mengakui semua keterlibatannya dalam penggelapan dana demi mendapatkan keringanan hukuman."

​Arlan tersentak, ia mendongak dengan mata yang memerah karena kurang tidur dan amarah yang terpendam. "Wanita ular itu! Dia selalu hanya peduli pada kulitnya sendiri! Tapi kau, Asha ... bagaimana kau bisa setega ini padaku setelah semua yang kita lalui?"

​"Semua yang kita lalui? Maksudmu adalah semua pengkhianatan yang kau susun dengan rapi di belakangku?" balas Asha dengan nada dingin yang stabil.

​Arlan merangkak mendekat ke arah jeruji, mencengkeram besi dingin itu dengan jemarinya yang gemetar hebat. Bau keringat dingin dan aroma alkohol yang mulai menguap dari tubuhnya memenuhi udara di sekitar mereka. Ia menatap wajah Asha, mencoba mencari celah untuk memanipulasi perasaan wanita yang dulu sangat mencintainya itu.

​"Asha, dengarkan aku. Kita bisa memulai kembali. Aku punya simpanan aset tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh sistemmu!" bisik Arlan dengan nada memohon yang menjijikkan.

​"Kau masih mencoba bernegosiasi di saat kau tidak memiliki satu pun bidak catur yang tersisa?" Asha tertawa kecil, sebuah tawa yang tidak memiliki sedikit pun kehangatan.

​"Aku serius! Ambil uang itu, lepaskan aku dari sini, dan kita bisa pergi dari Neovault selamanya!" Arlan terus meracau, seolah akal sehatnya telah terbang menguap.

​Asha membungkuk sedikit, menatap lurus ke dalam pupil mata Arlan yang melebar karena paranoia dan ketakutan yang absolut. "Uangmu sudah tidak berharga bagiku, Arlan. Setiap sen yang kau miliki adalah darah dan air mata warga distrik Rust yang kau racuni."

​Arlan melepaskan cengkeramannya pada jeruji besi dan jatuh terduduk di lantai sel dengan posisi yang sangat rendah. "Lalu apa yang kau inginkan? Kau sudah mengambil perusahaanku, rumahku, bahkan nama baikku! Apa lagi yang tersisa untuk kau rampas dariku?"

​"Aku tidak ingin merampas apa pun lagi. Aku hanya ingin kau merasakan apa yang kurasakan saat aku tenggelam dalam air sungai yang hitam," jawab Asha.

​Asha mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya, lalu menyelipkannya melalui celah jeruji hingga jatuh tepat di depan lutut Arlan. Di dalam amplop itu terdapat selembar foto lama mereka saat pertama kali membangun Neovault, saat semuanya masih tampak jujur dan penuh harapan. Arlan mengambil foto itu dengan tangan gemetar, lalu air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor.

​"Kenapa kau memberikan ini padaku sekarang? Apa ini cara lain untuk menyiksaku?" tanya Arlan sambil terisak pelan.

​"Itu adalah pengingat bahwa kau pernah menjadi manusia sebelum keserakahan mengubahmu menjadi sesuatu yang harus dibuang ke dasar sungai," sahut Asha.

​Arlan menatap foto itu, melihat senyum Asha yang dulu begitu tulus dan ceria, sesuatu yang tidak akan pernah ia lihat lagi pada wajah V yang sekarang. Ia meraung keras, suara teriakan yang penuh dengan penyesalan yang terlambat, menggema di sepanjang lorong isolasi yang dingin itu. Asha hanya berdiri diam, menyaksikan kehancuran mental pria yang dulu pernah menjadi pusat dunianya.

​"Petugas, saya sudah selesai di sini. Pindahkan dia ke penjara pusat malam ini juga," panggil Asha tanpa menoleh kembali ke arah sel.

​Petugas polisi segera datang kembali dan mengunci pintu sel dengan bunyi dentum besi yang sangat solid dan final. Asha berbalik, melangkah menjauh dari lorong itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada saat ia datang tadi. Setiap langkah yang ia ambil seolah-olah membuang satu keping ingatan tentang Arlan Valeska ke tempat sampah sejarah.

​"Apakah kau benar-benar merasa lega sekarang, Asha?" suara nelayan tua itu terdengar melalui sambungan di telinga Asha.

​"Aku merasa seperti baru saja keluar dari air yang sangat dalam dan akhirnya bisa menghirup udara segar tanpa rasa sesak," jawab Asha.

​Di luar markas kepolisian, salju tipis mulai turun di atas kota Neovault, memberikan lapisan putih yang tenang di atas semua kekacauan. Asha berdiri di depan pintu keluar, menengadah ke arah langit malam yang gelap namun terasa luas tanpa batas. Ia merapatkan jas hitamnya, merasakan angin dingin yang menerpa wajahnya sebagai tanda kebebasan yang sesungguhnya.

​"Mobil sudah siap di depan, Nyonya V. Kita akan menuju kantor pusat untuk rapat pembersihan direksi besok pagi," lapor sopirnya.

​"Tunggu sebentar. Aku ingin menikmati kesunyian ini lebih lama lagi. Neovault terasa sangat berbeda malam ini," ujar Asha sambil menghela napas panjang.

​Dari kejauhan, ia bisa melihat Menara Neovault yang lampunya kini menyala dengan warna biru, simbol perubahan arah perusahaan di bawah kendalinya. Tidak ada lagi limbah rahasia, tidak ada lagi pengkhianatan di dalam, dan tidak ada lagi bayang-bayang Arlan Valeska yang menghantui setiap sudut koridor. Asha merasa telah benar-benar terlahir kembali dari debu dan air sungai yang dingin.

​"Asha! Jangan tinggalkan aku di sini! Aku akan membalasmu!" teriakan Arlan masih terdengar sayup-sayup dari dalam gedung kepolisian.

​Asha hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan otoritas dan kedamaian yang baru saja ia temukan kembali. Ia tahu bahwa Arlan tidak akan pernah bisa menyentuhnya lagi, karena pria itu kini hanyalah hantu di dalam sistem hukum yang ia bangun sendiri. Masa lalu telah terkubur sedalam sungai Rust, dan masa depan kini membentang luas di hadapannya.

​"Balas dendammu hanyalah gema yang tidak berarti di lorong yang dingin ini, Arlan," batin Asha dengan penuh kepuasan yang dingin.

​Asha masuk ke dalam mobilnya yang mewah, meninggalkan markas kepolisian tanpa rasa ragu sedikit pun untuk menatap ke belakang lagi. Di dalam mobil, aroma parfum kayu cendana kembali menenangkan syarafnya, memberinya kekuatan untuk menghadapi tantangan baru besok pagi. Sebagai V, ia akan menjadi penguasa yang adil bagi kota ini, penguasa yang lahir dari rasa sakit dan pengkhianatan.

​"Bawa aku pulang, Paman. Aku butuh istirahat sebelum memulai hari pertama sebagai pemimpin Neovault yang baru," kata Asha pada sang nelayan.

​"Dengan senang hati, Nyonya. Kau sudah berjuang dengan sangat baik sepanjang perjalanan panjang ini," jawab nelayan tua itu dengan bangga.

​Mobil hitam itu meluncur perlahan melewati jalanan kota yang mulai sepi, meninggalkan gema konfrontasi yang akan menjadi legenda di Neovault. Arlan Valeska kini hanyalah nomor tahanan, sementara Asha adalah wajah baru dari kemajuan yang beretika. Babak hitam dalam hidupnya telah resmi ditutup dengan tanda titik yang sangat tegas dan berdarah.

​"Selamat malam, masa lalu yang pahit. Selamat datang, masa depan yang penuh dengan kendali di tanganku sendiri," bisik Asha pelan.

​Lampu-lampu kota yang terpantul di kaca mobil tampak seperti bintang-bintang kecil yang menuntun jalannya menuju kedamaian yang abadi. Asha memejamkan matanya sejenak, membiarkan kelelahan dan kepuasan menyatu di dalam jiwanya yang kini telah utuh kembali. Tidak ada lagi Asha yang lemah, tidak ada lagi V yang penuh dendam, yang ada hanyalah seorang penguasa yang bijaksana.

​Keheningan di dalam mobil menjadi saksi bisu bahwa setiap tetes air mata yang jatuh di sungai Rust telah terbayar dengan kemenangan yang mutlak. Esok pagi, saat matahari terbit di atas Neovault, dunia akan melihat fajar baru yang tidak lagi tertutup oleh asap kebohongan Arlan. Asha telah menang, dan suaranya akan terus menggema di setiap lorong Menara Neovault sebagai pengingat akan keadilan yang tak terelakkan.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!