NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Tidak Bisa Bernafas

"Maaf untuk apa?"

Kedua teman baru Zivanna sama-sama mengangkat bahunya. "Nggak tahu. Pemuda itu sepertinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal."

"Bibi nggak tanya sama Ayu?" Zivanna semakin penasaran.

"Ayu itu bukan gadis yang terbuka. Dia jarang cerita. Kalau pun cerita paling soal jualannya. Kalau soal ibu dan adik tirinya yang jahat itu sudah jadi rahasia umum. Jadi Ayu tidak cerita pun semua orang tahu."

Zivanna termenung. Rasa penasarannya tidak bisa dibendung tapi sumber utama informasinya mentok hanya sampai di sini.

"Sudah belum, Zi?" teriak Minah dari tempatnya duduk.

"Iya, sudah," balas Zivanna. Karena merasa sangat nyaman dia sampai tidak sadar jika dia telah membuat neneknya menunggu cukup lama. Gadis itu berpamitan kepada dua penjual jajanan lalu segera menghampiri sang nenek.

* * *

"Dokter Alvaro tampan, ya?" Di dalam mobil yang berjalan Minah membuka suara.

"Apa sih, nek?" Zivanna tidak mengerti maksud neneknya.

"Mulailah membuka hati. Yang sudah pergi biarkan pergi jangan di sesali," lanjut Minah. Zivanna memutar bola matanya begitu mengerti kemana arah pembicaraan neneknya.

Zivanna membuang wajahnya menatap jauh pemandangan di luar kaca mobil. Neneknya pasti sudah diracuni papanya kalau dia belum bisa move on dari Rio.

"Kamu menyukai dokter itu?"

Zivanna mendengus pelan.

"Alvaro itu orangnya baik, nggak neko-neko. Nenek sangat mendukung kalau kamu sama dia."

"Saya juga setuju kalau Non Ziva sama dokter tampan itu," sahut Budi dari balik kemudi.

"Ini pada kenapa, sih?" Zivanna menoleh menatap neneknya heran. "Aku baru ketemu sekali sama dokter itu kok langsung dijodoh-jodohin?"

"Kalau suka bilang aja, Zi. Nanti keduluan orang baru menyesal. Benar kan, Bud?"

"Tapi aku nggak suka sama dokter itu," jawab Zivanna tegas.

"Masa? Tadi nenek lihat kamu menatapnya sampai terkagum-kagum begitu. Nenek pikir kamu jatuh cinta pada pandangan pertama sama Alvaro."

"Masa sih, Nek? Aku merasa tatapanku tadi juga biasa saja. Aku benar-benar nggak ngerasain apa-apa apalagi jatuh cinta." Zivanna ngotot dengan pendiriannya karena memang itu yang dia rasakan.

Sejak dulu sekolah di international school dia bertemu dengan siswa tampan dari berbagai negara. Mulai dari yang mirip artis Hollywood sampai yang mirip idola K-Pop semuanya ada. Jadi kalau hanya soal ketampanan bagi Zivanna itu sudah biasa.

"Saya pikir Non Ziva naksir. Tadi di parkiran saya sampai bilang, 'Dokternya tampan ya, Non?' gitu karena Non Ziva sampai nggak kedip memandanginya."

"Sejelas itu? Tapi beneran aku nggak ngerasain apa-apa." Sekali lagi Zivanna meyakinkan dua orang yang sedang salah paham kepadanya.

"Kok bisa gitu, ya?" Minah heran. Padahal tadi dia yakin betul dari tatapannya Zivanna terpesona. Tapi dia juga percaya jika Zivanna tidak sedang berbohong. Cucunya itu akan salah tingkah dan pipinya merona kemerahan jika benar jatuh cinta.

Zivanna tidak kalah herannya dengan mereka berdua. Dia yakin dia tidak jatuh cinta dengan dokter itu. Memang dia akui Alvaro tampan. Tapi tadi, dia bahkan tidak sempat jatuh cinta, merasakan sakit kepalanya hilang saja Zivanna sudah bahagia.

Sampai di rumah Zivanna langsung menuju kamarnya. Dia ingin segera beristirahat. Tadi selama di puskesmas dia merasa baik-baik saja. Tetapi sampai rumah dia kembali merasa lemas tidak bertenaga.

Setelah meminum obat, Zivanna berusaha memejamkan matanya.

Zivanna berdiri di halaman parkir puskesmas. Dia melihat Ayu sedang berjualan seperti biasanya. Lalu seorang dokter muda nan tampan menghampirinya. Dokter itu memborong semua dagangan Ayu. Gadis itu terlihat sangat bahagia.

Tapi di sudut lain puskesmas, Zivanna melihat seorang perawat menatap mereka dengan tatapan tidak suka. Perawat dengan tahi lalat di dekat hidungnya itu tampak mengepalkan tangan sementara si dokter tampan dan Ayu tidak menyadarinya.

Dokter tampan itu pergi lalu membagi-bagikan makanan yang dia beli dari Ayu kepada rekan sesama petugas medis di puskesmas tersebut.

Setelah kepergian Dokter tampan, perawat yang Zivanna yakini bernama Suci itu mendatangi Ayu. Dia terlihat marah. Suci mengatakan beberapa kalimat yang Zivanna tidak bisa dengar. Setelah itu Ayu pun pergi dengan wajah terlihat kecewa.

Zivanna membuka mata. Setelah sering bermimpi aneh dia jadi terbiasa. Dia tidak lagi heran atau bertanya-tanya. Mungkin karena tadi dia bertemu dokter itu dan juga membicarakan Ayu makanya sekarang dia memimpikan mereka, pikirnya.

Zivanna kembali memejamkan matanya. Sepertinya obat yang dia minum memberikan efek ngantuk sehingga dia kembali tertidur dengan sangat cepat.

Peluh membasahi kening Ayu. Pulang dari jualan dia langsung memasak dan memberes rumah. Setelah itu dia mencuci baju semua penghuni rumah, terutama seragam perawat Suci karena besok akan dipakai.

Zivanna duduk di sebuah bangku kayu kecil di belakang rumah Ida. Dia sedang memperhatikan Ayu yang sedang mengucek baju di samping sumur yang masih menggunakan timba untuk mengambil airnya.

Ayu tengah sibuk mencuci ketika tiba-tiba Suci datang dan memintanya mengisikan bak air karena dia ingin mandi.

Ayu menolak. Dia meminta Suci untuk mengisi bak mandi itu sendiri karena dia seni sedang mencuci. Suci tidak mau melakukannya karena dia lelah baru pulang dari puskesmas.

Akhirnya Ayu mengalah. Dia berhenti mencuci lalu menimba air agar Suci bisa mandi.

Setelah bak mandi penuh, Ayu memanggil Suci. Adik tidak tahu diri itu segera mandi sementara Ayu lanjut mencuci.

Ketika akan masuk ke kamar mandi, Suci tidak sengaja melihat seragam perawatnya belang-belang sepertinya tidak sengaja kelunturan pakaian lain.

Suci memarahi Ayu habis-habisan. Ayu sudah terbiasa jadi dia diam mengacuhkannya, selain itu dia juga sudah terlalu lelah.

Di saat yang bersamaan, Ida pulang dari sawah. Seperti biasa, setiap pulang dari sawah dia langsung menuju sumur untuk membersihkan tubuhnya. Sampai di sumur Ida melihat anak kesayangannya sedang memarahi anak tirinya.

Ida langsung menyimpulkan Ayu yang salah tanpa perlu dijelaskan asal mulanya. Apapun yang terjadi harus Ayu yang salah tidak peduli kenyataannya.

Tanpa mendengarkan penjelasan apapun Ida ikut memarahi Ayu. Lelah karena selalu disalahkan, gadis malang itu tidak diam. Dia berusaha membela diri dan melawan ibu tirinya, yang membuat Ida merasa tidak dihormati. Itu membuat Ida semakin marah.

Dia menarik rambut Ayu lalu memasukkan kepala Ayu ke dalam ember berisi air bekas rendaman pakaian. Suci tidak tinggal diam. Dia bergerak cepat dengan memegangi tangan Ayu sehingga gadis itu tidak bisa melawan.

Beberapa detik kemudian Ida mengeluarkan kepala Ayu dari dalam ember. Dia memarahinya kemudian kembali memasukkan kepala Ayu ke dalam air, dan itu mereka lakukan berulang-ulang.

Ketika akhirnya dua orang kejam itu menyudahi aksinya, Ayu sudah lemas kehabisan oksigen. Gadis malang terduduk tak berdaya bersandar dinding sumur.

Seperti belum puas, Suci dan Ida bersama-sama mengangkat ember besar berisi air bekas rendaman pakaian itu lalu mengguyurkannya di atas kepala Ayu.

Zivanna terbangun. Dia gelagapan, tidak bisa bernafas. Rasanya air itu benar-benar mengguyur kepalanya.

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!