NovelToon NovelToon
ISTRI TENGIL OM DUDA

ISTRI TENGIL OM DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Beda Usia / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nonton Film

Film dimulai. Suasana meredup. Sean sesekali mencuri pandang ke arah Kiara, memberikan senyum penyemangat seolah meminta kekasihnya itu bersabar menghadapi 'paman' yang menyebalkan. "Aku menyayangimu, Kiara.” bisik Sean tanpa suara.

Belum sempat Kiara merespons, Bara tiba-tiba terbatuk dengan sangat keras dan dibuat-buat hingga menarik perhatian penonton lain.

Film yang mereka tonton sebenarnya adalah film drama remaja romantis dengan batasan usia 17 tahun ke atas. Kiara dan teman-temannya tampak terpesona dengan adegan-adegan manis di layar, namun Bara justru terlihat sangat gelisah. Mantan duda itu terus-menerus menggerutu tentang kualitas film yang dianggapnya tidak mendidik.

Saat adegan di layar menampilkan pasangan yang hendak berciuman dengan latar cahaya bulan yang estetis, Kiara sedikit menganga karena terbawa suasana. Namun tiba-tiba, dunianya menjadi gelap gulita. Telapak tangan Bara yang besar dan hangat mendarat tepat di depan matanya.

"Om, kenapa sih? Resek sekali!" bentak Kiara tertahan, berusaha menyingkirkan tangan suaminya.

"Tidak pantas kamu menonton adegan seperti itu, kamu masih di bawah umur!"

"Tapi aku sudah tujuh belas tahun, Om!" Kiara murka karena melewatkan adegan kunci tersebut.

"Kalau kamu jadi ingin meniru adegan itu, bagaimana? Besok kamu pindah sekolah saja!" ucap Bara tiba-tiba, pikirannya sudah dipenuhi bayangan buruk jika Kiara melakukan itu dengan Sean.

"Atau homeschooling saja!" tambahnya lagi.

Kiara mengepalkan tinju. "Aku tidak mau pindah sekolah! Om tidak bisa mengatur hidupku sesuka hati kalau masih ingin aku tinggal di rumah itu!"

"Ssssttt!"

"Berisik sekali, sih!"

"Kalau mau berdebat, cari acara talkshow sana!"

Protes dari penonton lain membuat mereka tersentak dan segera terdiam karena malu. Selama sepuluh menit berikutnya, suasana terasa terkendali, hingga sebuah suara lembut menyela keheningan mereka.

"Maaf, Mas... apakah kursi di sebelah ini kosong?"

Seorang gadis cantik seumuran Kiara menatap Bara dengan tatapan memuja sembari memegang kotak popcorn. "Saya tadi duduk di barisan depan tapi leher saya pegal sekali. Boleh saya duduk di sini?"

"Oh, silakan." jawab Bara dengan ramah yang sangat jarang ia tunjukkan.

Kiara langsung menegakkan duduknya, tangannya sudah gatal ingin mencubit pinggang Bara lagi. Gadis bernama Bunga itu duduk dengan anggun tepat di samping Bara, bahkan sempat menyilangkan kakinya dengan sengaja.

"Perkenalkan, namaku Bunga."

"Saya Bara." jawab Bara, hendak mengulurkan tangan. Namun, sebuah cubitan maut dari Kiara mendarat di lengannya, membuatnya meringis tertahan.

"Mas mau popcorn? Aku beli banyak, kita bagi saja ya." tawar Bunga, mengabaikan kehadiran Kiara di sana.

"Tidak usah, terima kasih. Saya sudah kenyang." tolak Bara, kembali fokus ke layar.

"Mas sendirian ke sini?" tanya Bunga lagi, seolah-olah Kiara hanyalah poster pajangan.

Kesabaran Kiara yang setipis kapas akhirnya lenyap. Ia menarik lengan Bara dengan kasar. "Temani aku ke toilet! Sekarang, Om!"

Kiara menyeret suaminya berdiri, melewati Bunga yang tampak terkejut. Dengan sengaja, Kiara menginjak kaki gadis itu saat lewat.

"Aduh! Kalau jalan hati-hati dong, kamu menginjak sepatuku!" keluh Bunga kesal.

Kiara menoleh sekilas dengan senyum paling manis namun tajam yang ia miliki. "Ups... maaf. Aku tidak lihat ada orang duduk di sini tadi. Habisnya, aku kira kamu itu Sound System!"

Tanpa menunggu balasan, Kiara menyeret Bara keluar dari studio dengan langkah lebar-lebar.

**

Kiara Masita menarik pria itu dengan langkah terburu-buru, membawa sang suami menyusuri koridor bioskop hingga turun ke area basement. Tak berhenti di sana, ia kembali menyeretnya naik melalui lift menuju parkiran rooftop. Bara mulai merasa pening dengan tingkah impulsif istrinya. Dengan satu gerakan tegas, ia melepaskan paksa cengkeraman tangan Kiara.

"Sebenarnya kita mau ke mana, Kiara? Tadi katamu ingin ke toilet, tapi sekarang kamu malah mengajakku tur keliling mal?" Bara menatap istrinya dengan kening berkerut.

Kiara tertegun. Ia baru menyadari bahwa ia tidak memiliki arah tujuan yang pasti. Ia hanya ingin menjauhkan Bara dari jangkauan wanita-wanita yang sedari tadi sengaja mencari perhatian suaminya.

"Aku hanya ingin mencari tempat sepi untuk bicara serius dengan Om. Tapi di mana-mana terasa sangat bising.” gumam Kiara.

"Ini pusat perbelanjaan, Kiara. Tentu saja ramai. Kalau ingin tempat yang benar-benar kosong, pergilah ke Segitiga Bermuda!" Bara mulai kehilangan kesabaran dan melangkah mendahului.

Namun, Kiara bukanlah gadis yang mudah menyerah. Ia kembali menarik lengan suaminya, menyeret pria berusia 27 tahun itu hingga mereka tiba di depan sebuah ruangan.

"Nah, di sini pasti sepi."

Bara mengernyitkan alis menatap papan di depan pintu. "Nursery room? Ini ruangan menyusui, Kiara."

Pikirannya seketika melanglang buana tanpa tiket pulang-pergi. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh, Om!" Kiara menepuk pipi suaminya dengan gemas, membawa Bara kembali ke realita.

"Jadi, hal serius apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bara setelah mereka memasuki ruangan bernuansa merah muda yang nyaman itu.

Kiara mencoba bersikap elegan. Ia nyaris membuka sweater-nya karena merasa kegerahan, namun ia teringat lengannya yang terasa lengket akibat sisa hair spray. Ia pun mengurungkan niatnya.

"Begini Om, kita harus menambahkan poin dalam kesepakatan kita."

Sepasang mata Bara bergerak mengikuti gerak-gerik Kiara yang mulai mondar-mandir di depannya.

"Jika aku dilarang bersentuhan fisik dengan lawan jenis, maka Om juga harus melakukan hal yang sama!" Kiara menunjuk perut suaminya karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup mencolok. Bara dengan tenang mengarahkan telunjuk gadis itu ke dadanya.

"Baiklah... lalu?"

"Om tidak boleh kegenitan, apalagi pada gadis-gadis remaja tadi. Siapa namanya? Kembang Sepatu? Om sok ramah sekali mempersilakan mereka lewat. Cih!" Kiara mengomel dengan bibir mengerucut. Bara terdiam sejenak, mencoba mengingat bahwa gadis tadi bernama Bunga, bukan kembang sepatu.

Bara hendak menanggapi, namun telunjuk Kiara kembali terangkat di depan wajahnya.

"Satu lagi!" potong Kiara cepat. "Om tidak suka jika aku memakai pakaian yang terlalu terbuka, bukan? Aku juga tidak suka melihat Om berdandan ala anak muda seperti ini. Berdandanlah sewajarnya, jangan sengaja ingin terlihat terlalu tampan!"

Kiara mengucapkan itu dalam satu tarikan napas panjang.

"Sudah selesai?" tanya Bara lembut. Ia menangkup kedua pipi istrinya dengan hangat. Kiara mendongak, terpaku menatap sepasang mata teduh Bara. Lidahnya mendadak kelu, ia tak sanggup lagi membalas. Ia hanya bisa mengangguk cepat sementara hatinya tiba-tiba menghangat.

"Oke. Aku akan menuruti semua kemauanmu. Bisa kita kembali ke dalam sekarang?" Bara mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan. Seketika, emosi Kiara yang sebelumnya meluap-luap luruh begitu saja.

Kiara menurut saat Bara menggandeng lengannya keluar. Mereka sempat berpapasan dengan seorang ibu muda yang menggendong bayi. Wanita itu menatap heran ke arah mereka, bingung melihat pasangan muda keluar dari ruang menyusui tanpa membawa bayi.

Mereka kembali ke dalam bioskop. Namun, saat hampir mencapai bangku mereka, lampu gedung mendadak menyala terang. Film telah usai. Kiara segera melepaskan genggaman tangan Bara ketika menyadari teman-temannya tengah menatap mereka.

"Mas Bara, terima kasih ya sudah memberikan kursinya tadi." seru Bunga, gadis yang tadi duduk di sebelah Bara.

Khawatir dengan tatapan tajam istrinya, Bara hanya mengangguk singkat dan segera menggeser posisinya ke sebelah kiri Kiara.

"Om Bara, kenapa tadi tidak duduk di sampingku saja?" Melati berseru manja sembari mencoba melingkarkan tangannya di lengan Bara.

"Eh... bagaimana kalau kita lanjut makan saja? Kalian pasti lapar, kan?" Bara segera melepaskan tangan Melati, demi menjaga keselamatan gadis itu dari amukan "istri jagoannya".

"Makan Korean food saja ya, Om." rengek Melati yang masih saja berusaha mendekati Bara.

"Sekali lagi kamu menggoda Om-ku, akan kucabut paku di kepalamu!" bisik Kiara geram pada sahabatnya yang centil itu.

"Kamu pikir aku kuntilanak?" dengus Melati. Namun, menyadari Kiara adalah tipe gadis yang bisa melakukan tindakan nekat tanpa pikir panjang, Melati mulai menjaga jarak.

"Kiara, tali sepatumu lepas." Sean, spontan membungkuk hendak membantu. Namun dengan sigap, Bara mendahuluinya. Pria itu mengikat tali sepatu Kiara dengan sangat kencang, hingga Kiara merasa kakinya sedikit tercekat. Ia tak berani protes melihat wajah Bara yang tampak menegang.

"Tali sepatuku juga lepas, Om.” Hanum sengaja melepas tali sepatunya sendiri.

1
merry
cemburu di bar bar 🤣🤣🤣🤣tp kshnn seann klo ngk di ksh tau klo Kiara dh pyn laki hrs y di ksh tau lhh ki minimal cari alsann atau cari keburuknn seann supaya pyn alsann buat putusinn seann
Siti Zumaroh
semangat thor💪 up nya
merry
hidup mu penuh wrna bar 🤣🤣🤣🤣
merry
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 klurga somplak pants Kiara juga usil
merry
kyk y bags cerita y moga Kiara thnn dgn mertua sambung Dan sepupu tiri y Bara🤭🤭🤭
Daryl Daryl
semangat thor
aku
makan ati bgt sikap bara. cb hargai dkit posisi istrimu. biarpun msh labil. 😭
Siti Zumaroh
up lagi dong💪
Nining Komalasari
masa sih sekelas CEO didompetnya ada uang sepuluh ribuan?
Rose
mana ni lanjutanya
Noona Rara: Nanti malam yah kak. Beberapa hari ini sangat sibuk
total 1 replies
Evi Lusiana
waduh,si ibu dgr jabatan ny bara lgsg luluh
Siti Zumaroh
ditunggu up nye thor
Siti Zumaroh
semangat thor💪
Siti Zumaroh
ceritanya menarik....
semangat💪 crazyup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!