Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bella
Rembulan benar-benar terang malam ini aku bisa rasakan sinarnya menyentuh kulitku yang masih tertutup renda gaun pernikahan. Botol anggur berserakan di atas meja kayu di halaman belakang aku bahkan bisa mencium aroma anggur merah yang sudah sedikit menguap, bercampur dengan aroma rumput basah dan malam.
Kakinya goyah ketika aku mencoba merangkak mendekatinya, pusingnya begitu kuat sampai dunia seolah berputar. Aku panjatkan tangan, jari-jari ku meraba bibirnya yang dingin... tapi dia menarik wajahnya menjauh, bahunya menolak dengan keras.
"Kita sudah sah, kan? Sudah jadi suami istri... apa lagi yang kamu mau?" Aku bisik, suaraku terengah-engah karena kepala yang berputar. Mataku benar-benar sulit untuk tetap terbuka setiap kali aku coba, cahaya bulan terasa menyilaukan.
Dia menggelengkan kepalanya dengan ganas, rambut hitamnya bergoyang. Aku melihat dia menengadah gelas anggur yang masih tersisa, meneguknya sampai habis lehernya bekerja dengan kuat, dan aku bisa melihat bagaimana dia mencoba menekan sesuatu di dalam dirinya.
"Ini cuma bisnis, Bella. Cuma itu saja. Jangan terlalu jauh." Suaranya kasar, seperti kerikil yang digosok satu sama lain.
Aku menggeleng, tapi tanganku sudah menggenggam kerah jas putihnya. Kainnya kasar di kulitku yang sudah mulai berkeringat karena alkohol. Aku merayap naik ke pangkuannya, dadaku menyentuh dadanya yang masih tertutup kemeja aku bisa rasakan denyut nadinya yang kuat di balik kain itu. Bibirku menemukan bibirnya lagi, hangat dan pahit karena anggur... aku mencoba membukanya dengan lembut, tapi dia menjawabnya dengan dingin.
Jemariku mulai meraba kancing kemejanya satu per satu logamnya dingin di ujung jariku. Tapi tiba-tiba, tangannya besar dan kuat menahan tanganku dengan erat, membuatku kesakitan sedikit.
"Jangan lakukan itu!" Dia terengah-engah, matanya yang merah karena alkohol menatapku dengan marah. "Jangan kurang ajar padaku!"
Aku merasa air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Tolong... malam ini saja. Biarin aku benar-benar jadi istri kamu. Rasakan aku..." Napasku menyentuh lehernya, aku bisa merasakan getaran di suaraku sendiri.
Dia diam sejenak, lalu mengangguk dengan lambat. Matanya sudah mulai kabur, tapi tangannya tetap kuat saat mengangkatku dari pangkuannya. Kakinya goyah sedikit saat membawaku masuk rumah, menyeberangi lantai di bawah berat badan kita berdua.
Dia meletakkan aku di atas ranjang seprai putihnya terasa dingin di kulitku yang terbakar.
"Baiklah... kalau itu yang kamu mau." Suaranya sudah tidak sekeras tadi, tapi tetap dingin seperti es. "Tubuhku milikmu... tapi hatiku tidak. Jangan harap lebih dari itu."
Kata-katanya menusuk seperti jarum. Aku mengangguk pelan apa pun saja, selama aku bisa dekat dengannya.
Dia berdiri, mulai melepas jasnya dengan gerakan yang cepat dan kasar. Kemudian kemejanya satu per satu kancingnya terbuka, dan aku bisa melihat otot-otot perutnya yang jelas terlihat di bawah sinar bulan yang masuk lewat jendela. Kulitnya hangat ketika tanganku meraba-rabanya, dari bahunya yang lebar sampai ke perutnya yang rata... aku merasakan bagaimana dia sedikit menggigil di bawah sentuhanku.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu tangannya mulai meraih ikat pinggang celananya. Aku melihat bagaimana kain itu terbuka, dan tubuhnya yang sudah penuh menjadi milikku sepenuhnya aku tidak bisa berpikir lain selain betapa indahnya dia di hadapanku, bahkan hanya diterangi cahaya bulan yang samar.
Dia menatapku dengan pandangan yang dalam, sedikit sinis tapi juga penuh dengan keinginan yang tersembunyi. Dia mendorong bahuku pelan sampai aku terbaring telanjang di atas ranjang. Tanpa banyak bicara, dia datang padaku aku merasakan sakit sedikit pertama kali, sampai akhirnya berganti dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih hangat. Aku menutup mataku, air mata menetes ke pipiku karena campuran rasa sakit dan kebahagiaan yang aneh.
Sinar matahari yang masuk lewat celah tirai benar-benar menyilaukan aku harus mengerutkan kening dan menutup mataku sebentar sebelum bisa melihat dengan jelas. Kepalaku masih berdenyut sakit, dan tubuhku merasa lelah seperti sudah bekerja seharian penuh. Tapi ketika aku mengingat malam kemarin, bibirku secara tidak sengaja sedikit mengangkat ke atas.
Pintu kamar mandi terbuka dengan suara sedikit berdecit, dan aroma sabun mandi yang segar menyebar ke seluruh kamar. Dia keluar dengan tubuhnya yang basah, hanya dibaluti handuk putih yang melilit pinggangnya. Air masih menetes dari rambutnya yang hitam, jatuh ke punggungnya yang lebar.
"Kamu mau pergi kemana?" Suaraku serak sekali aku bahkan bisa merasakan bagaimana tenggorokanku kering dan sakit.
"Kantor. Ada pekerjaan yang harus kelar." Dia tidak melihat padaku, hanya mengambil baju dari lemari dengan cepat. Jas navy-nya terlihat kaku di tangannya.
"Tapi... kita baru saja menikah kemarin. Kok kamu sudah harus kerja lagi?" Aku bisa merasakan bagaimana suara aku sedikit bergetar aku coba menyembunyikannya, tapi tidak berhasil.
Dia berhenti sejenak, lalu melemparkan jasnya ke atas tempat tidur. Dia berjalan cepat mendekatiku, wajahnya penuh dengan kemarahan yang aku kenal.
"Aku sudah bilang bukan? Ini cuma urusan bisnis." Jarinya panjang menunjuk tepat di depan hidungku aku bisa merasakan napasnya yang hangat di wajahku. "Jangan campuri urusanku. Jangan harap ada yang lebih dari ini."
Aku merasa seperti ada batu besar tertanam di dadaku. Napasku tersengal-sengal, dan aku harus menelan dengan susah payah. Aku mau membantah, mau bilang bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar bisnis antara kita... tapi kata-katanya sudah terlalu dalam menusuk hatiku.
"Aku... aku mengerti. Aku akan ingat batasnya." Suaraku kecil sekali, seperti suara anak kecil. Air mata sudah tidak bisa kuhalangi lagi mereka menetes ke pipiku dan merembes ke dalam selimut yang masih hangat.
Dia hanya mengangguk pendek, lalu segera mengambil jasnya lagi dan berjalan keluar kamar. Pintu tertutup dengan suara keras yang membuatku terkejut. Aku meraih selimut lebih erat, menangis dengan diam-diam hanya suara napas terengah-engah dan tangisan kecil yang terdengar di kamar yang sepi itu.
Ketika aku akhirnya bisa berhenti menangis, aku tertidur lagi dengan lelap. Ketika aku terbangun lagi, aku hampir berpikir semua itu hanya mimpi buruk tapi rasa sakit di dadaku begitu nyata, dan ketika aku bergerak sedikit, aku merasakan bagaimana tubuhku terasa perih di beberapa tempat.
"Aduh..." Aku merengut pelan, tangan secara refleks menyentuh perutku yang masih sedikit sakit. Aku tarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan semangat. Aku tidak bisa terus seperti ini aku harus kuat sendiri.
Setelah mandi dan berpakaian dengan baju yang nyaman, aku keluar rumah. Udara pagi segar menyegarkan wajahku, dan aku bisa melihat mobil-mobil yang lewat di jalan besar di depan rumah kita.
Aku mengangkat tangan dan menyetop taksi yang lewat sopirnya seorang pria tua dengan wajah ramah.
"Ke mal di Jalan Y ya, Pak. Tolong."
Aku duduk di belakang, melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang tinggi di sepanjang jalan. Salah satunya adalah kantornya aku bisa melihat logo perusahaan besar itu dari jauh. Ada suara kecil di dalam diriku yang bilang untuk mampir ke sana, mungkin bawa makan siang untuknya... tapi aku tahu batasnya. Aku hanya istri bisnisnya. Itu saja.
Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan mal besar itu. Aku bayar sopirnya, lalu keluar dengan langkah yang ku coba jadikan anggun. High heels-ku mengeluarkan suara klik-klik di lantai keramik pelataran mal, dan aku merasakan beberapa orang melihat padaku.
Aku naik eskalator yang lambat membawa aku ke lantai dua. Di sana, butik-butik dengan lampu yang terang berjejer rapi kain-kain mewahnya terlihat begitu menarik dari luar kaca.
Apakah Bella bisa memiliki Langit seutuhnya?