NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: HANTU DI KURSI KOSONG

Mobil mewah itu meluncur mulus di jalanan Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu kota menerobos kaca film, menari-nari di wajah Damian yang duduk diam di sampingku. Sedetik sekali, kedipan oranye menerpa tulang pipinya yang tajam—membuatnya tampak seperti patung lilin di museum. Cantik. Mati. Tidak bernyawa.

Sejak kejadian di lorong tadi malam, Damian tidak banyak bicara. Bahkan lebih sedikit dari biasanya. Aku sudah hafal polanya: diam berarti sedang memikirkan sesuatu. Atau sedang menahan amarah. Atau sedang menahan Damian Kecil agar tidak keluar.

Aku melirik tangannya. Jari-jari panjang itu bertumpu tenang di paha, sesekali bergerak—mengetuk-ngetuk ritme yang tidak kukenal.

Apakah Damian Kecil juga bisa mengetuk dari dalam?

"Alea."

Suaranya memotong lamunanku. Aku menoleh.

"Ya?"

"Aku tidak suka orang menatap tanganku."

Aku tersenyum tipis. "Maaf. Tanganmu menarik."

Dia tidak membalas senyumku. Tapi jari-jarinya berhenti mengetuk.

 

Restoran itu berada di lantai 27 sebuah gedung di SCBD. Dari lift kaca, aku bisa melihat kerlip kota di bawah—seperti lautan cahaya yang berpendar. Tapi Damian tidak melihat ke luar. Ia melihat ke pantulan dirinya di kaca lift.

Atau mungkin, ia melihat ke dalam.

"Kak, Damian dewasa suka bercermin. Katanya, biar tahu aku masih di sini."

Ucapan Damian Kecil semalam melintas di kepalaku. Aku menggenggam ujung blazer—baju yang Rania paksakan padaku. Sutra warna navy. Pasti harga sebulan gajiku dulu.

Pintu lift terbuka. Seorang pramusaji dengan jas rapi menyambut dengan senyum standar.

"Selamat malam, Tuan Damian. Meja khusus sudah disiapkan."

Damian hanya mengangguk. Satu anggukan. Sekecil mungkin. Pramusaji itu tetap tersenyum, tapi aku lihat keringat di pelipisnya.

Semua orang takut padanya.

Kami dipandu melewati deretan meja. Beberapa pasangan menoleh, berbisik. Aku bisa menebak bisikannya: "Itu Damian Adhiratria." "Yang mana?" "Yang dingin itu." "Astaga, dia bawa wanita?"

Aku ingin tertawa. Wanita. Ya, aku wanita yang dijual kakeknya.

Kami tiba di meja pojok dekat jendela. Pemandangan kota terbentang di bawah—gedung-gedung menjulang, lampu mobil yang merayap pelan. Lilin di atas meja berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang dansa di taplak putih.

Pramusaji menarik kursi untukku. Aku duduk. Damian duduk di seberang.

Sendirian.

Hanya kami berdua.

Dan keheningan yang tebal seperti selimut timah.

 

"Pesan."

Satu kata dari Damian. Ia menatapku dengan mata hitam itu—dalam, tidak berdasar, seperti sumur tua yang tidak pernah kena cahaya.

Aku membuka menu. Harga-harga di dalamnya membuat mataku sedikit terbelalak. Nasi goreng di sini harganya setara dengan dua bulan biaya kontrakanku dulu.

"Kau tidak suka?" tanyanya, melihat ragu di wajahku.

"Terlalu mahal."

Damian mengangkat alis. Bukan ekspresi marah, tapi bingung. Seperti baru pertama kali mendengar kata 'mahal' dalam konteks makanan.

"Kau tidak perlu memikirkan harga."

"Lalu aku harus memikirkan apa?"

Diam. Damian menatapku beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Lampu-lampu kota memantul di matanya.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku tidak pernah memikirkan apa pun sebelum makan."

"Kau tidak pernah lapar?"

"Aku selalu makan." Ia kembali menatapku. "Tapi aku tidak pernah menikmatinya."

Hening lagi. Aku menggigit bibir bawahku. Ada rasa iba yang mengganjal di dada—perasaan yang tidak seharusnya ada untuk pria yang mengurungku di kamar tanpa jendela.

Tapi dia bukan hanya pria itu. Ada Damian Kecil di dalamnya.

Aku memesan yang paling murah di menu. Damian memesan hal yang sama—mungkin hanya agar aku tidak merasa aneh. Atau mungkin dia benar-benar tidak peduli dengan rasa.

 

Makanan datang sepuluh menit kemudian. Wangi bawang putih dan mentega memenuhi hidungku. Nasi goreng seafood dengan telur ceplok di atasnya. Sederhana. Tapi di piring porselen mahal, semuanya terlihat seperti seni.

Aku mengambil sendok. Damian sudah mulai makan—cepat, efisien, seperti robot. Tidak ada ekspresi. Tidak ada kenikmatan.

Lalu aku melihatnya.

Di kursi kosong di samping Damian.

Damian Kecil duduk di sana.

 

Aku membeku. Sendok di tanganku hampir jatuh.

Damian Kecil tersenyum padaku. Lebar. Polos. Ia memakai piyama sutra yang sama seperti tadi malam—kebesaran, lengan panjang menutupi jari-jarinya. Kakinya menjuntai, tidak menyentuh lantai.

"Kak, aku lapar," bisiknya, meski bibirnya tidak bergerak.

Aku menelan ludah. Jangan panik. Jangan tunjukkan apa pun.

"Alea."

Suara Damian dewasa memecahkan hipnosismu. Aku menoleh padanya. Wajahnya datar, tapi ada kerutan samar di kening.

"Kau pucat."

"Aku baik-baik saja," jawabku cepat. Terlalu cepat.

Damian menatapku lama. Terlalu lama. Lalu matanya beralih ke kursi kosong di sampingnya.

Apakah dia bisa melihat?

"Aku hanya..." Aku mencari alasan. "Aku baru sadar ini pertama kalinya aku makan di restoran semewah ini."

Damian menatapku lagi. Tidak ada reaksi.

Lalu Damian Kecil tertawa.

"Kak, Damian dewasa percaya bohong kamu."

Aku menggigit bibir dalam-dalam. Jangan lihat ke sana. Jangan lihat.

Tapi mataku tetap bergerak—hanya sepersekian detik. Cukup untuk melihat Damian Kecil kini memegang sendok, menyendok nasi dari piring imajinernya.

"Enak, Kak. Tapi Damian dewasa makannya cepat. Aku nggak bisa ngejar."

Suara itu. Polos. Lucu. Tapi menggetarkan tulang belakangku.

"Alea."

Suara Damian dewasa lagi. Kini lebih tajam.

"Kau lihat sesuatu?"

Pertanyaan itu seperti palu yang menghantam dadaku.

Jawab. Harus jawab.

"Aku lihat pemandangan," kataku, menunjuk ke jendela dengan dagu. "Cantik."

Damian mengikuti arah pandangku. Di luar, lampu kota berpendar di kegelapan. Indah. Romantis. Aku benci bahwa aku harus berbohong di momen seperti ini.

"Iya," katanya pelan. "Cantik."

Tapi dia tidak melihat ke luar. Dia melihat ke pantulan dirinya di kaca jendela.

Atau mungkin, dia melihat ke dalam.

 

Sisa makan malam berlangsung dalam keheningan yang aneh. Aku berusaha tidak melihat ke kursi kosong, tapi selalu gagal. Damian Kecil duduk di sana sepanjang waktu. Kadang makan. Kadang memandang Damian dewasa dengan mata sedih. Kadang melambai padaku.

"Kak, nanti main petak umpet lagi ya?"

Aku tersenyum kecil. Tidak sengaja.

"Senyum apa?"

Damian dewasa bertanya. Aku terperangkap.

"Tidak ada. Aku hanya... menikmati makanan."

Dia tidak percaya. Aku bisa melihatnya dari cara matanya menyipit. Tapi dia tidak mendesak. Damian tidak pernah mendesak. Ia hanya menunggu—seperti ular yang menunggu mangsa masuk ke dalam jangkauan.

Setelah makan, Damian memanggil pramusaji untuk membayar. Ia mengeluarkan kartu hitam—yang kulihat hanya di film-film. Pramusaji menerimanya dengan dua tangan, membungkuk dalam-dalam.

Di kursi kosong, Damian Kecil melompat turun.

"Kak, aku ikut pulang ya?"

Aku mengangguk kecil. Sekali. Hampir tidak terlihat.

Tapi Damian dewasa melihatnya.

"Kau mengangguk pada apa?"

Jantungku berhenti satu detak.

"Pada pramusaji," jawabku cepat. "Dia sopan."

Damian menoleh ke pramusaji yang masih membungkuk. Lalu kembali padaku.

"Pramusaji itu perempuan. Kau mengangguk ke kanan."

Aku membeku. Ia memperhatikan. Ia selalu memperhatikan.

"Aku hanya... meregangkan leher."

Damian diam. Tiga detik. Lima detik. Lalu ia bangkit.

"Ayo pulang."

 

Di dalam mobil, Damian Kecil duduk di antara kami.

Aku bisa merasakannya—suhu di kursi tengah lebih dingin. Jauh lebih dingin. Damian dewasa mungkin tidak menyadari, tapi AC mobil tidak menyala terlalu kencang.

Apa dia bisa merasakannya?

Aku melirik Damian. Ia menatap lurus ke depan, wajahnya tidak terbaca. Tangannya bertumpu di setir—tidak mengetuk-ngetuk lagi.

Apa dia tahu?

Apa dia selalu tahu?

"Alea."

Suaranya membuatku tersentak.

"Ya?"

"Kau berbohong padaku."

Udaranya langsung membeku. Atau mungkin hanya perasaanku.

"Apa maksudmu?"

Di kursi tengah, Damian Kecil menutup telinganya. "Kak, aku nggak mau dengar Damian dewasa marah."

Damian dewasa tidak menjawab pertanyaanku. Ia terus menyetir, matanya tetap lurus ke depan.

"Di restoran. Kau melihat sesuatu. Kau mengangguk pada sesuatu. Dan kau tersenyum pada sesuatu yang tidak ada."

Dadaku berdegup kencang. "Aku sudah bilang—"

"Jangan." Potongannya tajam, seperti pisau. "Jangan bohong lagi."

Aku diam. Damian Kecil merangkak naik ke pangkuanku—setidaknya itu yang aku rasakan. Tekanan ringan. Dingin. Seperti es yang membeku di atas paha.

"Kak, Damian dewasa tahu," bisik Damian Kecil. "Dia selalu tahu."

"Alea."

Suara Damian dewasa melembut. Hampir tidak terdengar. Aku menoleh. Untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresi di wajahnya yang tidak dingin.

Ada sesuatu di sana. Kelelahan. Kesedihan. Atau mungkin... takut?

"Kau lihat dia, kan?"

Aku menelan ludah. "Siapa?"

"Damian Kecil."

 

Udara di dalam mobil benar-benar membeku sekarang.

Aku tidak bisa berkata-kata. Damian tahu. Damian selalu tahu.

"Jawab."

Satu kata. Tapi nada suaranya—bukan perintah. Bukan ancaman. Itu adalah... permohonan.

Aku menghela napas panjang. Damian Kecil masih duduk di pangkuanku—atau setidaknya aku merasakannya. Tangannya yang dingin meraih jariku.

"Kak, jangan takut. Damian dewasa sayang aku. Dia nggak bakal marah."

Aku memejamkan mata. Lalu membukanya.

"Iya. Aku lihat dia."

Mobil berhenti mendadak.

Bukan di lampu merah. Damian menginjak rem di tengah jalan—jalan kosong, untungnya. Tidak ada mobil di belakang. Ia menoleh padaku. Mata itu—untuk pertama kalinya, mata hitam itu tidak kosong.

Ada api di sana. Atau air. Aku tidak bisa membedakan.

"Kau benar-benar lihat dia?"

Aku mengangguk.

"Seperti apa dia?"

Pertanyaannya membuatku tersentak. Bukan tentang apa yang Damian Kecil katakan. Bukan tentang apa yang Damian Kecil lakukan. Tapi: seperti apa dia?

Seperti seorang ayah yang ingin tahu tentang anaknya yang sudah lama tidak dilihat.

"Dia kecil," jawabku pelan. "Mungkin 8 tahun. Pakai piyama sutra kebesaran. Rambutnya sama sepertimu—tapi lebih berantakan. Matanya..." Aku berhenti.

"Matanya?"

"Matanya sedih. Tapi dia selalu berusaha tersenyum."

Damian menatapku lama. Sangat lama. Lalu ia membuang muka, menatap jalan kosong di depan.

Selama beberapa detik, tidak ada suara. Hanya deru mesin mobil dan detak jantungku sendiri.

Lalu Damian berkata, dengan suara yang hampir pecah:

"Apa dia... apa dia bilang aku jahat?"

 

Pertanyaan itu seperti palu godam di dadaku.

Aku menoleh ke Damian Kecil—yang masih duduk di pangkuanku, kini menatap Damian dewasa dengan mata berkaca-kaca.

"Kak, aku nggak pernah bilang Damian dewasa jahat. Aku cuma bilang dia kunci aku. Tapi mungkin... mungkin aku yang jahat. Makanya dia kunci aku."

Air mataku tiba-tiba panas.

"Dia tidak bilang kau jahat."

Damian menoleh. Matanya mencari kebenaran di mataku.

"Dia bilang apa?"

Aku meraih tangan Damian Kecil—yang dingin, yang tidak nyata, yang mungkin hanya ada di kepalaku. Tapi aku merasakannya. Aku merasakan jari-jari kecil itu menggenggam erat.

"Dia bilang dia kangen kamu."

Damian diam. Rahangnya mengeras. Otot di lehernya menegang. Ia menatap lurus ke depan, tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku melihatnya.

Setetes air.

Jatuh dari mata Damian.

Hanya satu. Cepat, seperti kilat. Ia segera mengusapnya dengan punggung tangan—gerakan yang terlalu cepat, terlalu malu.

Tapi aku melihatnya.

Aku melihat Damian menangis.

"Ayo pulang."

Suaranya serak. Ia menarik napas dalam—mengendalikan diri. Lalu mobil melaju lagi, lebih cepat dari sebelumnya.

Di pangkuanku, Damian Kecil tersenyum. Tapi senyumnya sedih.

"Kak, Damian dewasa nangis. Aku nggak pernah lihat dia nangis. Makasih ya, Kak."

Aku mengelus rambut Damian Kecil—rambut yang mungkin hanya halusinasi. Tapi aku merasakannya. Lembut. Hangat. Ironis, untuk sesosok yang dingin.

"Terima kasih," bisikku pelan.

Damian dewasa menoleh sekilas.

"Terima kasih untuk apa?"

Aku tersenyum. Kali ini, senyum sungguhan.

"Untuk makan malam ini."

Dia tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya—hanya sepersekian detik—bergerak naik.

Damian tersenyum.

Atau mungkin hanya bayangan lampu jalan.

Atau mungkin...

Mungkin keajaiban itu benar-benar ada.

 

Malam itu, di kamarku, aku duduk di tepi tempat tidur menatap lampu tidur berbentuk bintang yang Damian beri kemarin. Cahayanya lembut, oranye kekuningan, seperti matahari terbenam versi mini.

Aku masih memikirkan air mata Damian. Satu tetes. Tapi cukup untuk mengubah segalanya.

Dia bukan monster. Dia pria yang kehilangan dirinya sendiri.

Pintu kamar terbuka sedikit. Aku menoleh, berharap melihat Damian dewasa.

Tapi yang masuk adalah Damian Kecil.

"Kak, aku boleh tidur di sini?"

Aku tersenyum, menepuk tempat di sampingku. "Ayo."

Damian Kecil naik ke tempat tidur, meringkuk di sampingku. Dinginnya terasa—tapi kali ini tidak menakutkan. Seperti es krim di siang panas.

"Kak, makasih udah bilang ke Damian dewasa kalau aku kangen dia."

"Sama-sama."

"Kak, Damian dewasa sayang aku, kan?"

Aku memeluknya—pelukan yang mungkin hanya pelukan ke bantal. Tapi aku merasakannya. Aku merasakan tubuh kecil itu bergetar.

"Iya, dia sayang kamu. Dia menangis karena kamu."

Damian Kecil diam sebentar. Lalu ia berbisik, sangat pelan:

"Kak, aku mau Damian dewasa bahagia. Kalau aku harus pergi biar dia bahagia... aku rela."

Dadaku sesak. "Kamu nggak perlu pergi."

"Tapi aku yang bikin dia sedih."

"Kamu juga yang bikin dia tersenyum."

Damian Kecil menatapku. Matanya—mataku menatap mata Damian dewasa versi kecil—berbinar.

"Beneran?"

"Beneran."

Ia tersenyum. Lalu memejamkan mata.

"Kak, besok main lagi ya?"

"Besok."

"Lusa?"

"Lusa."

"Selamanya?"

Aku mengecup keningnya. Kening yang dingin. Kening yang mungkin tidak nyata.

"Selamanya."

 

Pintu kamar terbuka lagi.

Damian dewasa berdiri di ambang pintu, menerawang ke arahku—ke arah tempat tidur, ke arah tempat Damian Kecil berbaring.

"Alea."

"Ya?"

"Kau bicara dengan siapa?"

Aku tersenyum. "Dengan masa lalumu."

Damian diam. Lalu, perlahan, ia berjalan masuk. Ia duduk di ujung tempat tidur, menatap kursi kosong di sudut kamar—tepat di tempat Damian Kecil biasanya duduk.

"Apa dia di sini?"

"Iya. Dia tidur."

Damian menatapku. Matanya—untuk pertama kalinya—lembut.

"Jaga dia."

Bukan perintah. Bukan ancaman. Itu adalah doa.

Aku mengangguk. "Aku jaga."

Damian bangkit, berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata:

"Alea."

"Ya?"

"Terima kasih."

Pintu tertutup pelan.

Aku memeluk Damian Kecil lebih erat—atau setidaknya memeluk bantal, memeluk kehangatan yang kurasakan di dadaku.

Selamat malam, Damian Kecil.

Selamat malam, Damian dewasa.

Selamat malam, hati yang selama ini beku.

Di luar, hujan mulai turun. Derasnya memukul jendela, tapi di dalam kamar ini—dengan lampu bintang yang berpendar—semuanya terasa hangat.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di mansion ini, aku merasa...

Ini rumah.

---[Bersambung...]---

Bagaimana menurut Raiders? Damian Kecil makin sering muncul, dan Damian dewasa mulai menunjukkan sisi manusianya! Tapi apakah Damian dewasa benar-benar bisa menerima keberadaan Damian Kecil? Atau justru ini awal dari konflik yang lebih besar?

🔥 Like, komen, dan share ya, Raiders! Dukung Alea dan Damian untuk terus bertahan di tengah badai!

#TheDevilsWife #MafiaRomanceIndonesia #NovelToonJuara #DamianKecil #CintaYangMembeku

Jika kalian suka dengan cerita ini, SHARE ke teman-teman kalian! Biar makin banyak yang baca, makin seru diskusinya!

Jangan lupa vote dan follow untuk dapat update bab selanjutnya!

#TheDevilsWife

#IstriIblis

#MafiaRomanceIndonesia

#HorrorMisteri

#ViralNovel

 

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!