Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Minggu pagi di kafe itu terasa hidup.
Sinar matahari masuk melalui jendela kaca besar yang menghadap jalan raya. Cahaya hangat jatuh di meja-meja kayu cokelat yang tersusun rapi. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan wangi roti panggang dan croissant dari dapur terbuka di belakang barista.
Mesin espresso sesekali berbunyi “psssshh…” saat susu dipanaskan.
Para pengunjung berbincang santai. Ada pasangan muda yang sarapan, beberapa mahasiswa dengan laptop, dan sekelompok teman yang tertawa keras di sudut ruangan.
Di meja dekat jendela, Ryuga duduk dengan sikap santai namun aura dingin yang khas.
Di depannya duduk Naomi.
Naomi terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya, meski masih ada sedikit kegelisahan di wajahnya.
Ia menarik napas dalam.
“Ryuga… aku mau minta maaf.”
Ryuga tidak langsung merespon. Ia hanya menatap Naomi datar.
Naomi melanjutkan pelan.
“Aku minta maaf karena udah ganggu Quinn.”
Ryuga masih diam.
Naomi menggigit bibirnya.
“Aku tahu aku salah.”
Ryuga akhirnya bersuara.
“Terus?”
Naomi sedikit gugup.
“Tapi… Quinn juga udah balas aku.”
Ryuga mengangkat alis tipis.
“Maksud lo?”
Naomi menegakkan punggungnya, merasa Ryuga masih peduli padanya. Ia pun mengangguk cepat dengan wajah memelas.
“Dia juga ngurung aku di toilet.”
Naomi mencoba tersenyum kecil, berharap Ryuga sedikit berpihak padanya.
“Jadi… kita sama-sama salah kan?”
Ryuga menatapnya lama.
Lalu berkata dengan nada datar.
“Dia cuma lakuin yang seharusnya dia lakuin.”
Naomi langsung terdiam.
Wajahnya kaku.
“...”
Ia menatap Ryuga tidak percaya.
“Ryuga…”
Namun Ryuga sudah bersandar santai di kursinya.
“Lo yang mulai duluan.”
Naomi mencoba membela diri.
“Aku cuma kesal sama dia—”
Ryuga memotong dingin.
“Itu bukan alasan.”
Naomi terdiam.
Ryuga menatapnya tajam.
“Lo ngurung dia di toilet rusak.”
Naomi menelan ludah.
Ryuga melanjutkan.
“Kalau dia nggak keluar gimana?”
Naomi tidak bisa menjawab.
Ryuga berkata pelan namun penuh tekanan.
“Kalau dia kenapa-napa gimana?”
Naomi menunduk.
“Aku… nggak mikir sejauh itu.”
Ryuga tertawa kecil tanpa humor.
“Lo memang gitu. Egois.”
Naomi menggenggam tangannya.
“Aku cuma cemburu…”
Ryuga menjawab singkat.
“Itu masalah lo.”
Naomi menatapnya lagi, sedikit putus asa.
“Aku udah lama suka sama kamu.”
Ryuga tetap datar.
“Dan lo tahu gue cinta sama Quinn.”
Naomi terdiam. Ia tahu sejak dulu Ryuga memang mencintai Quinn.
Ryuga benar-benar tidak berpihak padanya.
Sedikit pun tidak. Begitu juga dengan hatinya.
Flashback — 3 Tahun Lalu...
Sore hari di sebuah sekolah menengah pertama yang cukup elit.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit lalu. Koridor lantai dua yang biasanya ramai kini mulai sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang.
Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela panjang di sepanjang lorong. Angin sore meniup tirai tipis yang bergerak pelan.
Di ujung koridor—
Ryuga berdiri sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.
Wajahnya masih sama seperti sekarang.
Tenang.
Dingin.
Dan sulit ditebak.
Langkah sepatu terdengar mendekat.
Tap… tap… tap…
Ryuga tidak menoleh sampai suara itu berhenti tepat di depannya.
“Ga.”
Ryuga akhirnya mengangkat pandangan.
Naomi berdiri di sana.
Seragamnya rapi, rambutnya diikat setengah, dan wajahnya terlihat sedikit tegang.
Ryuga menatapnya datar.
“Apa?”
Naomi menggenggam tangannya sendiri sebentar, seperti sedang mengumpulkan keberanian.
“Kamu sibuk?”
Ryuga menggeleng kecil.
“Kenapa?”
Naomi menarik napas dalam.
“Aku… mau ngomong sesuatu.”
Ryuga bersandar ke dinding koridor.
“Ngomong aja.”
Naomi terlihat gugup.
Ia melirik kanan kiri koridor yang cukup sepi.
Lalu menatap Ryuga lagi.
“Ga… kita kan udah temenan lama.”
Ryuga tidak merespon. Ia hanya menunggu Naomi melanjutkan ucapannya.
“Dari SD.” lanjut Naomi.
Ryuga mengangguk sedikit.
“Terus?”
Naomi menarik napas lagi.
“Selama itu… aku selalu bareng kamu.”
Ryuga mulai merasa arah pembicaraan ini aneh.
Namun ia tetap diam.
Naomi akhirnya berkata dengan suara sedikit gemetar.
“Ga… aku suka sama kamu.”
Koridor itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Angin dari jendela berhembus pelan.
Ryuga menatap Naomi beberapa detik.
Tanpa perubahan ekspresi.
Naomi menunggu dengan jantung berdebar.
“Ga…”
Namun Ryuga akhirnya menjawab dengan nada datar.
“Gue nggak bisa.”
Naomi langsung menegang.
“...”
Ia menatap Ryuga tidak percaya.
“Kenapa?”
Ryuga menjawab singkat.
“Karena gue udah suka orang lain.”
Naomi langsung bertanya cepat.
“Siapa?”
Ryuga tidak terlihat ragu sedikit pun.
“Quinn.”
Nama itu seperti menghantam Naomi.
Beberapa detik Naomi hanya diam.
“...Quinn?”
Ryuga mengangguk.
“Hm.”
Naomi mencoba tersenyum kecil meskipun jelas terlihat dipaksakan.
“Oh…”
Ia menunduk sebentar.
Lalu tertawa kecil.
“Ternyata bener ya.”
Ryuga mengerutkan dahi.
“Maksud lo?”
Naomi mengangkat bahu.
“Udah lama kelihatan kok.”
Ryuga tidak menjawab.
Naomi menatapnya lagi.
“Aku kira… aku punya kesempatan.”
Ryuga berkata jujur.
“Sorry.”
Naomi dengan cepat menggeleng.
“Eh... nggak!”
Ia mencoba tersenyum lagi.
“Jangan minta maaf.”
Ryuga menatapnya.
Naomi berkata pelan.
“Perasaan itu nggak bisa dipaksa kan?”
Ryuga tidak mengatakan apa-apa.
Naomi menarik napas panjang.
“Lagipula…”
Ia mencoba terdengar santai.
“Aku nggak mau pertemanan kita rusak cuma gara-gara ini.”
Ryuga sedikit mengangguk.
“Bagus.”
Naomi tertawa kecil lagi.
“Iya dong.”
Ia menambahkan bercanda.
“Kamu kan temen aku dari kecil.”
Ryuga berdiri tegak lagi.
“Kalau udah selesai, gue balik.”
Naomi buru-buru berkata.
“Tunggu!”
Ryuga berhenti.
Naomi menatapnya.
“Ga…”
Ia ragu beberapa detik.
Lalu berkata pelan.
“Boleh aku minta peluk?”
Ryuga langsung mengerutkan dahi.
“Ng—”
Namun sebelum ia sempat menolak—
Naomi sudah melangkah maju.
BRUK!
Ia memeluk Ryuga erat.
Ryuga langsung membeku.
Matanya sedikit melebar.
Ia benar-benar tidak menyangka Naomi akan melakukan itu.
Beberapa detik—
Ia hanya berdiri kaku.
Naomi memeluknya erat seperti tidak mau melepas.
Ryuga akhirnya tersadar.
Tangannya langsung mendorong bahu Naomi.
Hingga gadis itu terhuyung mundur dan hampir jatuh.
Ryuga menatapnya tajam.
“Lo harus tahu batasan, Naomi.”
Nada suaranya dingin.
Naomi terdiam.
Ryuga melanjutkan.
“Jangan pernah sentuh gue.”
Naomi hanya mengangguk kecil.
“Iya. Maaf, Ga.”
Ryuga tidak berkata apa-apa lagi.
Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Naomi yang perlahan tersenyum tipis menatap punggung seorang gadis yang berjalan pergi di ujung koridor.
Dia adalah Quinn.
Kembali ke saat ini...
Ryuga lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
Tatapannya tajam.
“Denger baik-baik.”
Naomi menelan ludah.
“Kalau lo masih berani ganggu dia lagi…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu berkata dingin.
“Lo bakal terima akibatnya.”
Naomi merasakan tubuhnya merinding.
Ia tahu Ryuga tidak bercanda.
Naomi akhirnya menunduk.
“Baik…”
Ia berkata pelan.
“Aku janji.”
Ryuga tetap menatapnya.
Naomi melanjutkan.
“Aku nggak akan ganggu Quinn lagi.”
Ryuga tidak menjawab.
Naomi menambahkan pelan.
“Sekali lagi... Maaf.”
Ryuga mengabaikannya begitu saja.
Ia berdiri dari kursinya.
Percakapan selesai.
Naomi ikut berdiri.
Ryuga berjalan menuju pintu keluar kafe.
Naomi mengikutinya.
Namun tiba-tiba—
Langkah Ryuga terhenti.
Matanya sedikit menyipit.
Seseorang baru saja masuk ke dalam kafe.
Seorang gadis dengan rambut panjang indah dan wajah cantik yang mencuri perhatian.
Quinn.
Beberapa orang langsung menoleh.
Seorang pria berbisik pada temannya.
“Gila… cantik banget.”
Temannya mengangguk.
“Model kali ya?”
Namun Quinn tampak tidak peduli.
Ia hanya berjalan masuk dengan tenang.
Namun ketika matanya menangkap sosok Ryuga—
Langkahnya sedikit melambat.
Dan saat ia melihat siapa yang berdiri di dekat Ryuga—
Naomi.
Hati Quinn langsung terasa tidak enak.
Namun ia tetap memasang wajah tenang.
Sementara Naomi diam-diam tersenyum miring.
Ia jelas melihat sesuatu di mata Quinn.
Cemburu.
“Ra.” sapa Ryuga tersenyum tipis.
Quinn berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Ngapain?” tanya Ryuga melangkah mendekat.
Quinn menjawab santai.
“Kencan.”
Naomi hampir tertawa kecil mendengar itu.
Sementara rahang Ryuga langsung mengeras.
Quinn kemudian berjalan melewati mereka.
Namun saat melewati Naomi—
Ia sengaja menabrak bahu Naomi.
“Ups.”
Quinn meliriknya sinis.
Naomi membalas dengan senyum tipis.
Quinn lalu berjalan menuju salah satu meja.
Di sana sudah duduk Darren yang tersenyum melihatnya.
“Quinn.”
Quinn duduk di depannya.
“Sorry lama.”
Darren tersenyum.
“Nggak kok.”
Sementara itu—
Ryuga masih berdiri di tempatnya.
Tangannya mengepal.
Naomi memperhatikannya.
“Ga?”
Ryuga tidak menjawab. Namun tiba-tiba ia berbalik arah.
Naomi mengernyit heran.
“Kamu mau ke mana?”
Ryuga mengabaikannya.
Ia malah kembali berjalan ke meja tadi.
Dan duduk lagi di kursinya.
Naomi bingung.
Ia mengikutinya.
“Kamu kok balik lagi?”
Ryuga menjawab singkat.
“Duduk.”
Naomi masih bingung.
Namun akhirnya ia duduk juga.
Di meja itu—
posisinya tidak jauh dari meja Quinn.
Dari sana, Ryuga bisa melihat Quinn dengan jelas.
Naomi menyadarinya.
Ia melirik ke arah Quinn dan Darren.
Darren sedang berbicara.
“Jakarta gimana? Betah?”
Quinn tersenyum kecil.
“Lumayan.”
Darren tertawa.
“Dulu kamu bilang benci kota ini.”
Quinn ikut tertawa.
“Iya sih.”
Ryuga melihat semuanya.
Melihat Quinn tersenyum.
Bahkan tertawa.
Naomi menyadarinya.
Ia melirik Ryuga yang menatap tajam ke arah meja Quinn.
Naomi bertanya hati-hati.
“Kamu kenal cowok itu?”
Ryuga tidak menjawab.
Ia hanya mengambil gelas kopi di depannya.
Namun tangannya mencengkeram gelas itu kuat.
Naomi memperhatikan.
Sementara di meja Quinn—
Darren tersenyum.
“Aku seneng akhirnya kita bisa ngobrol santai lagi.”
Quinn tersenyum.
“Iya.”
Darren bercanda.
“Jujur aja, aku takut kamu nolak ketemu aku.”
Quinn tertawa kecil.
“Sebenernya hampir.”
Darren ikut tertawa.
Melihat Quinn tertawa lagi—
Cengkeraman Ryuga pada gelasnya semakin kuat.
Naomi meliriknya.
Dan diam-diam tersenyum kecil.
Ia mulai mengerti sesuatu.
Ryuga…
sedang cemburu.
...----------------...
Ryuga masih duduk di kursinya dengan wajah datar.
Suasana terasa berbeda.
Lebih dingin.
Di depannya Naomi duduk rapi, mencoba terlihat santai, tapi sebenarnya ia terus mengamati Ryuga.
Tatapan Ryuga sejak tadi hanya terfokus ke satu arah—meja Quinn yang sedang duduk bersama Darren.
Quinn tampak cantik dengan rambut panjangnya yang jatuh lembut di bahu. Ia sedang tersenyum kecil saat Darren mengatakan sesuatu.
Sesekali bahkan Quinn tertawa.
Tawa itu terdengar jelas sampai meja Ryuga.
Dan setiap kali Quinn tertawa—
Rahang Ryuga semakin mengeras.
Tangannya mencengkeram gelas kopi di depannya.
Naomi yang memperhatikan semua itu diam-diam tersenyum kecil.
Namun tiba-tiba—
Pintu kafe terbuka.
Angin pagi sedikit masuk bersama tiga pria yang baru datang.
Zayden, Keano, dan Elric.
Keano yang paling duluan melihat ke dalam kafe langsung menunjuk heboh.
“WOI!”
Ia menepuk bahu Zayden.
“Itu bukannya Ryuga?!”
Zayden melirik ke arah yang ditunjuk.
Ia langsung menyeringai.
“Yup.”
Elric hanya melihat sekilas lalu berkata datar.
“Iya.”
Keano langsung berjalan cepat ke arah meja itu.
“BROOO!”
Ia menarik kursi tanpa basa-basi lalu duduk di samping Ryuga.
Zayden ikut duduk santai di kursi sebelahnya.
Elric menyusul duduk paling ujung.
Keano menyenggol bahu Ryuga.
“Ga!”
Tidak ada respon.
Keano mengerutkan dahi.
“Bro?”
Ryuga masih diam.
Matanya bahkan tidak berpindah.
Masih ke arah yang sama.
Keano mengikuti arah tatapan itu.
Lalu matanya langsung melebar.
“OHHHH MY GOOODDD…”
Zayden juga melirik.
Ia langsung menyeringai jahil.
“Pantes.”
Elric ikut melihat sekilas.
Di sana—
Quinn sedang ngobrol dengan Darren.
Keano langsung menyeringai lebar.
“Pantes auranya dingin banget di sini.”
Zayden menahan tawa.
“Cemburu, Pak?”
Ryuga akhirnya bersuara tanpa menoleh.
“Diem.”
Nada suaranya rendah.
Namun Keano justru semakin semangat.
Ia menyandarkan siku di meja.
“Yang di sana itu Quinn kan?”
Ryuga tidak menjawab.
Keano menoleh ke Zayden.
“Yang sama dia siapa?”
Zayden menjawab santai.
“Katanya namanya Darren.”
Keano mengangguk.
“Oh… pacarnya?”
Zayden mengangkat bahu.
"Mungkin."
Keano memperhatikan Darren dari kejauhan.
“Hmm…”
Ia pun memiringkan kepala.
“Lumayan juga sih.”
Ryuga tetap diam.
Namun tangan yang memegang gelas mulai menegang.
Zayden ikut menatap ke arah meja Quinn.
“Cakep juga tuh anak.”
Keano tertawa kecil.
“Lo bener.”
Ia menunjuk sedikit ke arah mereka.
“Serasi loh mereka.”
Zayden menambahkan santai.
“Cocok.”
Keano menyenggol Ryuga.
“Bro... Menurut gue mereka lumayan cocok.”
Ryuga masih tidak menoleh.
Namun rahangnya mengeras.
Zayden sengaja menambahkan.
“Daripada sama lo yang mukanya kayak debt collector.”
Keano langsung tertawa keras.
“HAHAHA!”
Namun Ryuga akhirnya menoleh perlahan.
Tatapannya dingin sekali.
“Lo mau mati?”
Keano langsung mengangkat kedua tangannya.
“Eh... santai!”
Zayden malah semakin menyeringai.
“Tuh kan...”
Ia menunjuk Ryuga.
“Fix cemburu.”
Elric yang sejak tadi diam akhirnya berkata datar.
“Jelas.”
Ryuga menatapnya tajam.
“Berisik lo.”
Elric tetap tenang.
“Lo dari tadi nggak kedip lihat ke sana.”
Keano tertawa lagi.
“Bro, serius deh.”
Ia menunjuk Quinn.
“Lo suka dia kan?”
Ryuga tidak menjawab.
Namun matanya kembali ke arah Quinn.
Di meja sana—
Darren sedang mengatakan sesuatu.
Quinn tertawa kecil lagi.
Suara tawa itu membuat tangan Ryuga kembali mencengkeram gelasnya kuat.
Krek!
Zayden mengangkat alis.
“Pelan bro.”
Keano mencondongkan tubuh.
“Kalau lo nggak suka lihat itu…”
Ia menunjuk Quinn dan Darren.
“Samperin aja.”
Ryuga tetap diam.
Elric berkata datar.
“Dia nggak akan lakuin itu.”
Keano menoleh.
“Kenapa?”
Elric menjawab singkat.
“Takut.”
Zayden tertawa kecil.
“Takut ditolak.”
Ryuga menatap mereka tajam.
Sementara itu—
Di meja seberang.
Quinn sebenarnya sadar.
Sejak tadi—
Ia merasakan tatapan seseorang yang sangat familiar.
Ia tahu siapa.
Ryuga.
Quinn melirik sekilas ke arah meja itu.
Dan benar saja.
Ryuga sedang menatapnya.
Namun yang membuat Quinn kesal—
Naomi duduk di sana.
Quinn langsung memalingkan wajah.
Dalam hatinya menggerutu.
"Ngapain juga dia duduk bareng Naomi."
Ia mencoba kembali fokus pada Darren.
Darren berkata sambil tersenyum.
“Kamu kenapa?”
Quinn menggeleng kecil.
“Nggak pa-pa.”
Darren tertawa.
“Kayaknya kamu nggak denger cerita aku tadi.”
Quinn tersenyum tipis.
“Maaf.”
Darren bercanda.
“Wah... parah.”
Quinn ikut tertawa kecil.
Namun sebenarnya—
Ia sedang berusaha keras tidak melihat ke arah Ryuga lagi.
Karena setiap kali ia melihat—
Ia hanya semakin kesal.
...****************...
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Jangan berani²...
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁