NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Jejak Menuju Kota Karang Hitam

Perjalanan ke timur memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan Xiao Chen.

Padang rumput liar berganti menjadi hutan lebat, lalu hutan berganti menjadi perbukitan berbatu, lalu perbukitan berganti menjadi rawa-rawa berkabut. Setiap perubahan medan membawa tantangannya sendiri—binatang buas yang kelaparan, tanaman beracun yang sulit dibedakan, dan sungai-sungai deras yang harus diseberangi tanpa jembatan.

Tapi Xiao Chen tidak mengeluh. Setiap langkah adalah latihan.

Setiap malam, sebelum tidur, ia menciptakan satu retakan baru di lengannya. Retakan ketujuh di lengan kanan selesai di hari keempat perjalanan. Retakan kedelapan di hari keenam. Retakan kesembilan—yang terakhir untuk lengan kanan—selesai di hari kesembilan, tepat saat ia tiba di tepi sebuah danau besar yang airnya berwarna keperakan di bawah sinar bulan.

Sekarang, seluruh lengan kanannya—dari bahu hingga pergelangan tangan—memiliki sembilan retakan keemasan yang membentang seperti urat naga. Setiap retakan adalah wadah kecil Energi Chaos. Setiap retakan membuat aliran kekuatannya semakin lancar, semakin deras, semakin tak terbendung.

"Lapis Ketiga untuk lengan kanan sudah selesai," kata Yue Que suatu pagi. "Kau bisa mulai lengan kiri sekarang."

Xiao Chen mengangguk. Ia duduk bersila di tepi danau keperakan, airnya yang tenang memantulkan langit kelabu dan awan pengawas yang masih setia mengikuti. Hui minum dengan lahap di sampingnya, lalu berbaring di atas rumput, berjemur di bawah sinar matahari yang menerobos celah-celah awan.

"Sebelum mulai lengan kiri, aku ingin mencoba sesuatu."

Ia mengambil Yue Que dengan tangan kanannya. Pedang patah itu kini terasa sangat ringan, seperti perpanjangan alami dari lengannya. Ia menutup mata, membiarkan Energi Chaos dari tulang dada, tulang punggung, dan sembilan retakan di lengan kanan mengalir bersama.

"Jurus kedua," bisiknya. "Sobekan Horizon."

Ia membuka mata. Di hadapannya, danau keperakan membentang luas. Di seberang danau, sekitar tiga ratus langkah jauhnya, ada sebuah pohon tua yang berdiri sendirian di tepi air.

Xiao Chen mengayunkan Yue Que secara horizontal, dari kanan ke kiri.

SWOOOOOOOOOSH!

Gelombang Energi Chaos melesat dari bilah pedang. Bukan gelombang tak terlihat seperti sebelumnya. Kali ini, gelombang itu terlihat—garis keemasan tipis yang membentang horizontal, memotong permukaan danau.

Air danau terbelah.

Bukan terbelah seperti dibelah pedang biasa. Tapi terbelah seperti ada dinding tak terlihat yang memisahkan air. Garis keemasan itu melesat terus, menyeberangi danau, dan menghantam pohon tua di seberang.

DUK!

Pohon itu tidak tumbang. Pohon itu terpotong menjadi dua bagian yang sama rata, dari batang hingga ke akar yang muncul di permukaan. Potongannya begitu halus sehingga pohon itu tetap berdiri selama beberapa detik sebelum akhirnya bagian atasnya meluncur turun dan jatuh ke air dengan percikan raksasa.

Xiao Chen terpaku. Napasnya tersengal. Itu hanya satu ayunan, tapi Energi Chaos di tubuhnya terkuras hampir setengah.

"Itu... itu baru setengah dari kekuatan sebenarnya," kata Yue Que, suaranya terdengar terkesan. "Tuanku dulu bisa membelah cakrawala dengan jurus itu. Secara harfiah. Tapi untuk seseorang yang baru menyelesaikan Lapis Ketiga di satu lengan... ini sudah luar biasa."

Hui, yang terbangun oleh suara pohon jatuh, menatap Xiao Chen dengan mata merah terbelalak. Lalu ia melolong panjang ke langit, seolah ikut merayakan pencapaian itu.

Xiao Chen tersenyum lelah. "Satu lengan selesai. Masih ada satu lengan lagi, dua belas retakan untuk jari-jemari, dan entah berapa banyak lagi untuk seluruh tubuh."

"Jangan terburu-buru. Fondasi yang kuat lebih penting daripada kecepatan."

"Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa berlama-lama. Utusan Langit itu akan kembali. Mungkin dengan teman-teman."

Ia menatap ke timur. Menurut peta yang ia terima dari Inti Kenangan Leluhur, Kota Karang Hitam masih sekitar seminggu perjalanan lagi. Kota pelabuhan di pesisir timur Benua Timur Liar. Tempat di mana kapal-kapal berlayar ke pulau-pulau lain, bahkan ke benua lain.

Dan di sana, di sebuah tempat bernama Penginapan Bulan Sabit, ada seseorang bernama Lian Xin.

---

Tujuh hari kemudian.

Xiao Chen akhirnya melihatnya: Laut.

Ia belum pernah melihat laut sebelumnya. Seluruh hidupnya dihabiskan di pegunungan dan hutan sekitar Sekte Langit Pedang. Jadi ketika ia tiba di puncak bukit terakhir dan melihat hamparan air biru keabu-abuan yang membentang hingga ke cakrawala, ia berhenti dan hanya menatap.

Angin laut menerpa wajahnya, membawa bau garam dan ikan. Burung-burung laut berputar-putar di atas, berteriak-teriak. Dan di tepi pantai, berdiri sebuah kota yang dibangun di atas karang-karang hitam raksasa.

Kota Karang Hitam.

Berbeda dengan Kota Batu Hitam yang suram dan penuh ancaman, kota ini ramai dan hidup. Pelabuhannya dipenuhi kapal-kapal dari berbagai ukuran—perahu nelayan kecil, kapal dagang menengah, bahkan beberapa kapal besar dengan lambung berlapis logam. Pasar di sepanjang dermaga dipenuhi pedagang yang menjual ikan segar, mutiara, kain dari benua lain, dan benda-benda aneh yang tidak dikenali Xiao Chen.

Orang-orang dari berbagai ras hilir mudik. Ada manusia biasa, kultivator dengan jubah berwarna-warni, pedagang gemuk dengan perhiasan berlebihan, bahkan beberapa makhluk yang bukan manusia—seorang pria berkulit biru dengan insang di leher, seorang wanita bertelinga runcing dengan mata ungu, dan seorang raksasa setinggi tiga meter yang membawa karung-karung besar di pundaknya.

Xiao Chen menarik napas dalam. Ini adalah dunia yang lebih luas dari yang pernah ia bayangkan.

"Ayo, Hui. Kita cari Penginapan Bulan Sabit."

Mereka berjalan menyusuri jalanan kota yang sibuk. Hui berjalan dekat dengannya, tidak ingin terpisah di tengah keramaian. Beberapa orang menatap serigala hitam itu dengan heran, tapi tidak ada yang berani mendekat.

Setelah bertanya pada beberapa penduduk lokal, Xiao Chen akhirnya menemukan tempat yang ia cari.

Penginapan Bulan Sabit adalah bangunan dua lantai yang terbuat dari kayu tua dan batu karang. Papan namanya sudah pudar, lukisan bulan sabit di atasnya nyaris tak terlihat. Jendela-jendelanya kecil, dan dari dalam terdengar suara tawa dan denting gelas.

Xiao Chen masuk.

Di dalam, penginapan itu setengah kosong. Beberapa meja ditempati oleh pelaut yang minum dan bermain dadu. Seorang wanita setengah baya berdiri di belakang meja kayu panjang, membersihkan gelas dengan kain. Rambutnya hitam dengan beberapa helai putih, diikat asal-asalan. Wajahnya memiliki bekas luka tipis di pipi kiri, tapi senyumnya ramah.

"Selamat datang di Penginapan Bulan Sabit," katanya, suaranya serak tapi hangat. "Mau kamar atau sekadar minum?"

Xiao Chen mendekati meja. "Aku mencari seseorang. Lian Xin."

Wanita itu berhenti membersihkan gelas. Matanya menatap Xiao Chen dengan saksama, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu ia melirik Hui yang duduk sabar di samping Xiao Chen.

"Kau... pewarisnya," bisiknya pelan. "Shen Lian mengirimmu."

Xiao Chen mengangguk.

Wanita itu—Lian Xin—meletakkan gelas dan kainnya. Wajahnya berubah serius. "Ikut aku. Ke belakang. Kita tidak bisa bicara di sini."

Ia berjalan ke pintu di belakang meja, memberi isyarat pada Xiao Chen untuk mengikuti. Hui ikut serta.

Mereka masuk ke sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai gudang sekaligus ruang pribadi. Lian Xin menutup pintu rapat-rapat, lalu berbalik menatap Xiao Chen.

"Aku sudah menunggumu selama dua puluh tahun," katanya. "Shen Lian menyelamatkan hidupku dulu. Aku berutang budi padanya. Dia bilang, suatu hari nanti, seorang pemuda dengan jubah hitam dan pedang patah akan datang. Dan aku harus membantunya."

"Bantu bagaimana?"

Lian Xin menyeringai. "Kau ingin ke Puncak Langit Terbalik, kan? Di atas Laut Mati?"

Xiao Chen mengangguk.

"Itu tidak mudah. Laut Mati bukan laut biasa. Airnya beracun. Tidak ada angin. Tidak ada arus. Kapal biasa tidak akan bergerak di sana. Kau butuh Kapal Tulang."

"Kapal Tulang?"

"Kapal yang dibuat dari tulang-tulang binatang laut kuno. Hanya kapal seperti itu yang bisa berlayar di Laut Mati. Dan kebetulan..." Lian Xin menyeringai lebih lebar. "Aku tahu di mana mendapatkannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!