NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satria si Penjinak Arwah Galau

Setelah insiden penculikan sukma oleh Sang Kolektor, Satria berharap bisa mendapatkan cuti satu hari saja dari segala urusan dunia lain. Namun, menjadi satu-satunya remaja indigo yang "bisa diajak ngobrol" di SMA Wijaya Kusuma membuatnya tidak lebih dari seorang konselor bagi para penghuni astral yang tidak bisa move on.

​Pagi itu, di koridor kelas dua belas, suasana mendadak menjadi sangat melankolis. Bukan karena nilai ujian fisika yang anjlok, melainkan karena munculnya kabut tipis berwarna biru yang menyelimuti sepanjang lorong. Setiap siswa yang lewat tiba-tiba merasa ingin menangis, teringat mantan, atau sekadar merasa sedih tanpa alasan yang jelas.

​"Sat, ini bukan serangan kan? Kok gue mendadak pengen dengerin lagu galau tahun 90-an ya?" tanya Arini sambil mengusap matanya yang mendadak sembab.

​Satria menghela napas, matanya menyisir pojok plafon. Di sana, duduk sesosok hantu laki-laki berambut gondrong dengan gaya ala anak band jadul. Dia sedang memetik gitar ghaib yang senarnya sudah putus, mengeluarkan nada-nada minor yang menyayat hati.

​"Bukan serangan, Rin. Itu si Raka. Dia hantu angkatan 2005 yang mati karena... yah, katanya sih karena patah hati yang teramat sangat sampai lupa makan dan kena tipes," bisik Satria.

​“Satriaaa... kenapa dia pergi dengan cowok yang punya motor ninja? Padahal lagu yang gue ciptain buat dia belum selesai...” ratap Raka, suaranya bergema seperti gema di dalam gua yang dalam.

Satria tahu, jika Raka dibiarkan galau terus-menerus, seluruh sekolah bisa depresi massal. Ia segera menarik Arini menuju gudang musik di belakang aula, tempat Raka biasanya bersemayam.

​"Raka, turun lo! Lo bikin satu sekolah kena mental tahu nggak!" seru Satria sambil menendang kaki kursi kayu di bawah Raka.

​Raka melayang turun dengan gerakan yang sangat dramatis, rambut gondrongnya menutupi sebagian wajahnya yang pucat. “Lo nggak ngerti, Sat. Lo punya Arini. Gue? Gue cuma punya lagu yang nggak ada endingnya. Luka ini... terlalu dalam.”

​"Gila, ini hantu atau lirik lagu pop melayu sih?" gumam Satria.

​Arini, yang sekarang sudah bisa melihat Raka dengan jelas, merasa kasihan. "Raka, siapa sih cewek yang kamu maksud? Mungkin kita bisa bantu cari tahu kabarnya sekarang."

​“Namanya Lintang. Dulu dia vokalis band sekolah kita. Dia janji bakal nunggu gue sukses, tapi nyatanya dia malah jadian sama anak otomotif yang cuma tau cara ganti oli, bukan cara nulis bait puisi!” Raka kembali memetik gitarnya dengan emosional hingga lampu gudang berkedip-kedip.

Satria memijat pelipisnya. "Oke, dengerin. Gue bakal bantu lo 'selesai' sama perasaan ini. Tapi syaratnya, stop sebarin aura galau di koridor. Kasihan tuh anak-anak kelas sepuluh, mereka baru masuk sekolah masa udah disuruh mikirin beban hidup orang mati."

​“Deal. Tapi gue mau denger lagu ini dinyanyiin sama orang yang bener-bener punya rasa,” tantang Raka.

​Satria menoleh ke Arini. "Rin, lo kan suara paling bagus di paduan suara. Lo yang nyanyiin lirik dia."

​"Hah? Gue? Tapi gue nggak tau nadanya, Sat!"

​“Gue bakal masuk ke pikiran lo, Noni. Gue bakal kasih liat gimana cara lagu ini harusnya mengalun,” bisik Raka.

​Satria segera memasang barikade garam di pintu gudang agar tidak ada siswa lain yang masuk. Ucok tiba-tiba muncul, kali ini dia memakai kacamata hitam yang entah dicolong dari mana. “Gue jadi manajernya ya! Ayok Noni, tunjukkan pesonamu!”

Arini memejamkan mata. Raka meletakkan tangan transparannya di dekat kening Arini. Seketika, Arini bisa melihat potongan-potongan memori tahun 2005—suasana panggung pensi, bau asap rokok yang sembunyi-sembunyi di belakang kantin, dan wajah seorang gadis bernama Lintang yang tertawa riang.

​Lagu itu berjudul "Sisa Nafas di Wijaya". Melodinya sedih, tapi sebenarnya sangat indah.

​Arini mulai bernyanyi. Suaranya yang jernih mengisi ruang gudang yang berdebu.

​"Di antara tembok tua yang membisu...

"Aku menitipkan janji di setiap hembusan angin...

"Namun kau terbang bersama debu yang tak kembali..."

​Satria merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, tapi karena keindahan lagu itu. Bahkan Meneer Van De Berg muncul di pojok ruangan, menyandarkan pedangnya dan mendengarkan dengan khidmat.

​“Hm, selera musik anak zaman sekarang sangat... emosional. Tapi liriknya cukup kuat untuk menembus batas dunia,” puji sang Meneer pelan.

Tepat saat Arini mencapai nada tinggi di bagian reff, pintu gudang bergetar hebat. Muncul sesosok hantu wanita lain dari balik lemari piano. Dia mengenakan baju yang agak modis untuk ukuran tahun 2000-an, wajahnya tampak kesal.

​“HEI! SIAPA YANG BERANI NYANYIIN LAGU GUE TANPA IZIN?!” teriak hantu wanita itu.

​Raka tersentak, gitarnya hampir jatuh. “Lintang?!”

​Ternyata, selama ini Lintang juga sudah meninggal! Dia meninggal beberapa tahun setelah Raka karena kecelakaan saat menuju studio rekaman. Dia sudah lama menghuni ruang seni, tapi dia sangat gengsi untuk menemui Raka karena dia pikir Raka yang meninggalkannya duluan (karena Raka mati duluan tanpa pamit).

​“Lo pikir lo doang yang galau, Rak?! Gue nungguin lo di studio sampai gue sendiri jadi arwah, dan lo malah asyik galau di gudang ini!” omel Lintang sambil berkacak pinggang.

​Satria dan Arini saling pandang. "Gila... ternyata sesama hantu juga bisa salah paham ya?" bisik Satria.

Suasana gudang yang tadinya melankolis berubah menjadi arena pertengkaran rumah tangga ghaib. Raka dan Lintang saling melempar tuduhan, membuat benda-benda di gudang melayang-layang.

​"STOOOOOP!" teriak Satria menggunakan frekuensi suara indigo yang cukup tinggi hingga kedua hantu itu terdiam di udara. "Lo berdua itu sama-sama egois! Satunya ngerasa dikhianati, satunya ngerasa ditinggalin. Padahal lo berdua itu sama-sama udah mati!"

​Arini maju, menggandeng tangan kedua hantu itu. "Lintang, Raka... lagu ini sebenernya adalah jembatan buat kalian. Raka nggak pernah nyelesain lagu ini karena dia nunggu suara kamu buat ngisi bagian akhirnya."

​Raka menatap Lintang dengan mata yang mulai bersinar lembut. “Benar, Tang. Bagian terakhir lagu ini judulnya 'Pertemuan Kembali'. Gue nggak bisa nulis itu sendirian.”

​Lintang perlahan melunak. Wajahnya yang tadinya marah berubah menjadi sendu. “Maafin gue, Rak. Gue pikir motor ninja itu lebih keren daripada puisi lo... tapi ternyata gue salah.”

Arini, Raka, dan Lintang akhirnya berkolaborasi. Satria bertindak sebagai "penyeimbang energi" agar mereka bisa mewujud lebih padat sesaat.

​Mereka bernyanyi bersama. Suara Arini menjadi jembatan bagi harmoni suara Raka dan Lintang yang sudah terpisah selama puluhan tahun. Di saat itu, kabut biru yang menyelimuti koridor sekolah perlahan berubah menjadi cahaya putih yang hangat. Siswa-siswa yang tadi galau mendadak merasa tenang dan tersenyum tanpa sebab.

​Di akhir lagu, sosok Raka dan Lintang perlahan mulai memudar. Mereka berpegangan tangan.

​“Makasih, Sat... Makasih, Arini... Sekarang lagu ini udah selesai,” bisik Raka sebelum sukmanya naik ke atas bersama Lintang.

​“Cieee... akhirnya jomblo ghaibnya berkurang satu!” seru Ucok sambil tepuk tangan heboh.

Gudang musik kembali sunyi. Debu-debu menari di bawah sinar matahari yang masuk lewat celah genteng. Aura galau yang menindas sekolah sudah hilang sepenuhnya.

​Satria terduduk di kursi kayu, merasa energinya terkuras habis. "Gue mending lawan Genderuwo daripada disuruh dengerin curhatan hantu patah hati, Rin. Capek di kuping, capek di batin."

​Arini tertawa, ia mengusap sisa air mata di pipinya. "Tapi seru kan, Sat? Kita baru aja nyelametin dua jiwa yang terjebak karena ego mereka sendiri."

​"Iya sih. Tapi tetep aja, ini sekolah atau biro jodoh akhirat?" gerutu Satria.

​Mereka keluar dari gudang musik. Di koridor, mereka berpapasan dengan Suster Lastri yang tampak bingung. “Loh, kok mendadak banyak anak yang minta obat sakit hati ya? Saya kan cuma punya paracetamol sama minyak kayu putih!”

​"Kasih minyak kayu putih aja, Sus. Biar mereka sadar kalau hidup harus tetep berlanjut meskipun perih," canda Satria.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!