NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: benalu dan bayangan

​Fajar di Jakarta Pusat biasanya membawa harapan baru bagi jutaan orang, namun bagi Bagas Pramoedya dan sisa-sisa keluarga Herman Larasati, cahaya matahari pagi itu terasa seperti vonis mati yang dingin.

​Kirana Larasati berdiri tegak di ruang kendali pusat Menara Nusantara. Ruangan itu dipenuhi oleh deretan layar monitor raksasa yang menampilkan grafik bursa saham, aliran data logistik, dan rekaman pengawasan dari berbagai titik strategis. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan angka-angka yang terus bergerak merah—indikasi kehancuran total dari aset-aset yang selama ini dikuasai oleh musuh-musuhnya.

​Di sampingnya, Adyatma Surya berdiri dengan keanggunan seorang predator. Pria itu tidak lagi mengenakan jas formalnya; ia hanya memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Sepasang mata obsidian miliknya menatap layar dengan dingin, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang membosankan.

​"Reno, eksekusi tahap akhir. Jangan sisakan satu celah pun untuk mereka bernapas," ucap Kirana, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang mematikan.

​"Sesuai perintah Anda, Nyonya Surya," jawab Reno, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik virtual.

​Hanya dalam hitungan menit, seluruh "bom digital" yang telah dipersiapkan Kirana meledak secara serentak:

​Penangkapan Bagas Pramoedya: Tim khusus kepolisian dari unit kejahatan ekonomi mengepung apartemen persembunyian Bagas. Pria itu ditemukan sedang mencoba membakar beberapa dokumen penting, namun ia terlambat. Ia diseret keluar dengan borgol di depan belasan kamera wartawan yang sudah menunggu. Wajahnya yang dulu angkuh kini hancur oleh teror, matanya liar mencari celah yang sudah tertutup rapat.

​Pengusiran Herman dan Sari: Di kediaman lama keluarga Larasati, petugas sita didampingi oleh pengawal Surya Corp mulai mengosongkan rumah. Herman, yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah serangan jantung ringan, hanya bisa duduk di kursi roda sambil menatap kosong saat barang-barangnya dilempar keluar. Sari berteriak histeris, mencoba mempertahankan tas-tas desainer mahalnya, namun ia justru berakhir tersungkur di aspal jalanan.

​Kejatuhan Riana: Nama Riana Larasati dihapus dari seluruh kontrak endorsement kecantikan. Akun media sosialnya yang memiliki jutaan pengikut dibekukan atas dugaan penipuan dan pencucian uang. Dalam semalam, bidadari media sosial itu berubah menjadi paria yang dihujat oleh seluruh negeri.

​Kirana menatap layar yang menampilkan Bagas sedang dimasukkan ke dalam mobil tahanan. Di kehidupan sebelumnya, pria itulah yang menusukkan pisau ke dadanya. Sekarang, Kirana justru merasa hampa. Dendam yang ia simpan selama bertahun-tahun ternyata tidak memberinya rasa manis yang ia bayangkan. Justru ada rasa pahit yang tersisa di lidahnya.

​Adyatma menyadari perubahan aura istrinya. Ia melangkah mendekat, meletakkan tangannya yang besar dan hangat di bahu Kirana. Hawa panas dari tubuh Adyatma menjalar, menenangkan kegelisahan Kirana.

​"Dendammu sudah lunas secara hukum dan ekonomi, Kirana. Mereka sudah membusuk di selokan yang mereka gali sendiri. Apa kau merasa bebas sekarang?" tanya Adyatma, suaranya berat dan bergetar di dekat telinga Kirana.

​Kirana menarik napas panjang, aroma cendana dari tubuhnya menguat secara naluriah. "Seharusnya begitu, Adyatma. Tapi lihat ini."

​Kirana mengetuk layar tabletnya, menampilkan sebuah folder terenkripsi yang ia temukan di dalam brankas digital tersembunyi milik Bagas—sesuatu yang bahkan tim siber Surya Corp hampir melewatkannya.

​"Bagas mencuri ratusan miliar dari Nusantara Group, tapi hampir separuh dari dana itu tidak digunakan untuk gaya hidupnya. Uang itu mengalir ke sebuah organisasi bernama Scorpio melalui serangkaian rekening cangkang di Swiss. Dan yang paling mengejutkan..." Kirana menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh amarah dan kebingungan. "...dokumen persetujuan aliran dana awal untuk Scorpio ini ditandatangani sepuluh tahun yang lalu. Bukan oleh Bagas, bukan oleh Herman. Tapi oleh Ibuku sendiri."

​Adyatma menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Ibumu membayar klan Scorpio? Klan tentara bayaran paling berbahaya di Asia? Itu tidak masuk akal. Ibumu adalah seorang penjaga spiritual, ia tidak akan berurusan dengan pembunuh bayaran kecuali..."

​"Kecuali itu bukan pembayaran untuk jasa pembunuhan, melainkan uang perlindungan," potong Kirana. "Ibuku membayar mereka agar keberadaanku tetap tersembunyi. Seseorang di masa lalu tidak ingin 'Sang Naga' dan 'Cendana' bersatu. Ibuku tahu tentang kutukanmu, Adyatma. Ia tahu segalanya jauh sebelum kita bertemu."

​Suasana di ruang kendali menjadi semakin tegang. Wahyu dan intrik bisnis yang tadinya Kirana kira hanyalah masalah keserakahan keluarga, kini berubah menjadi pusaran konspirasi yang jauh lebih gelap.

​Tiba-tiba, monitor utama di ruangan itu berkedip-kedip liar. Suara statis yang mengganggu telinga menggema dari pengeras suara. Reno mencoba menguasai kembali sistem, namun layarnya justru menampilkan gambar sebuah kalajengking hitam yang perlahan-lahan merayap di atas logo Nusantara Group.

​"Nyonya! Seseorang melakukan bypass pada sistem keamanan kita!" teriak Reno panik. "Ini bukan serangan DDoS biasa. Mereka menggunakan protokol Scorched Earth tingkat militer!"

​Layar kemudian berubah menjadi hitam, dan sebuah kalimat muncul dalam huruf merah menyala:

​"DARAH HARUS DIBAYAR DARAH, ANAK PELARIAN. KEMATIAN IBUMU HANYALAH PERINGATAN KECIL. DEWAN TETUA LANGIT MENUNTUT KUNCI YANG KAU SIMPAN DALAM NADIMU."

​Kirana merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Dewan Tetua Langit. Nama itu... ia pernah mendengarnya dalam igauan Bagas tepat sebelum pria itu membunuhnya di kehidupan sebelumnya. Saat itu ia mengira itu hanyalah racauan pria gila, namun sekarang, nama itu muncul kembali sebagai ancaman nyata.

​Adyatma melepaskan aura naga yang mengerikan. Seluruh ruangan seolah bergetar. Kilat biru safir menyambar di matanya, dan hawa panas yang ia pancarkan membuat sensor suhu ruangan berbunyi nyaring.

​"Dewan Tetua Langit..." desis Adyatma, suaranya berlapis gema ganda yang mistis. "Jadi mereka masih hidup. Mereka yang memberikan kutukan pada leluhurku dan memaksa klanmu untuk bersembunyi seperti tikus."

​"Siapa mereka, Adyatma? Beritahu aku yang sebenarnya!" Kirana memutar tubuh suaminya, menatap langsung ke mata biru yang menyala itu.

​"Mereka adalah sekelompok penguasa kuno, Kirana. Orang-orang yang merasa memiliki hak untuk mengatur nasib Nusantara. Mereka menganggap kekuatan Naga sebagai ancaman dan aroma Cendana sebagai alat kendali yang harus mereka miliki. Jika klan Scorpio sudah bergerak secara terbuka, itu artinya Dewan Tetua telah menemukan lokasimu sebagai 'kunci' terakhir untuk membangkitkan Naga Hitam yang mereka puja."

​Kirana merasa dunianya kembali jungkir balik. Balas dendamnya pada Bagas dan Herman kini terasa seperti permainan anak-anak jika dibandingkan dengan musuh yang baru saja menampakkan diri. Ternyata, selama ini ia hanya berada di lapis luar dari sebuah perang kuno yang melibatkan nyawa dan takdir bangsa.

​"Jadi, Bagas dan Herman hanyalah pion?" tanya Kirana, suaranya sedikit bergetar.

​"Lebih rendah dari pion. Mereka hanyalah sampah yang digunakan Dewan Tetua untuk menguras energimu sebelum serangan utama dimulai," jawab Adyatma. Ia menarik Kirana ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan wanita itu. "Tapi mereka membuat satu kesalahan besar, Kirana. Mereka membiarkanmu bersamaku."

​Malam itu, di bawah perlindungan ketat Surya Corp, Kirana mulai menyusun strategi baru. Ia menyadari bahwa kekuasaan ekonomi saja tidak cukup. Ia harus membangkitkan seluruh potensi spiritual yang diwariskan ibunya.

​Melalui fitur e-library terenkripsi yang ia buat di Google Drive, Kirana mulai membedah catatan-catatan lama ibunya yang tersimpan dalam bentuk kode sastra kuno. Ia menemukan bahwa ibunya tidak hanya mengelola Nusantara Group, tetapi juga menjaga "Kuil Cendana"—sebuah situs tersembunyi yang menyimpan energi penyeimbang bagi Nusantara.

​"Reno, siapkan tim intelijen untuk melacak koordinat yang ada di dalam sajak-sajak Ibu ini," perintah Kirana. "Gunakan Google Maps dengan lapisan satelit militer Surya Corp. Aku yakin ada sesuatu di pesisir utara yang sengaja mereka tutupi."

​Keesokan harinya, saat Kirana sedang meninjau laporan restrukturisasi Nusantara Group, ia menerima sebuah paket misterius di mejanya. Paket itu tidak memiliki nama pengirim, dan sensor pemindai Surya Corp menyatakan paket itu aman.

​Saat Kirana membukanya, tangannya gemetar. Di dalam kotak beludru hitam itu terdapat sebuah kalung giok kuno milik ibunya—kalung yang seharusnya terkubur bersama ibunya sepuluh tahun yang lalu.

​Di balik kalung itu, terukir sebuah alamat di kawasan kota tua Jakarta yang kini terbengkalai.

​"Ini jebakan," ucap Adyatma yang berdiri di belakangnya.

​"Aku tahu," jawab Kirana, mengusap giok yang terasa dingin itu. "Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk menemukan siapa mata-mata di dalam perusahaan kita. Bagas dan Herman sudah hancur, namun seseorang yang 'sangat dekat' dengan Ibuku masih bebas memberikan informasi kepada Dewan Tetua."

​"Kalau begitu, mari kita pergi," Adyatma mengambil belati peraknya. "Kita akan mengadakan 'perjamuan' pribadi dengan mereka."

​Kirana tersenyum miring, sebuah senyuman yang kini lebih mirip dengan Adyatma daripada dirinya yang dulu. "Bukan perjamuan, Adyatma. Ini adalah pengadilan. Dan kali ini, tidak akan ada pengampunan."

​Satu jam kemudian, mobil Maybach hitam itu meluncur menuju kawasan pergudangan tua di Jakarta Utara. Udara di sana terasa sangat berat dan berbau anyir, seolah-olah waktu berhenti berputar di tempat itu.

​Begitu Kirana dan Adyatma masuk ke dalam gudang nomor 04, mereka disambut oleh barisan pelayan yang mengenakan topeng putih tanpa ekspresi. Di tengah ruangan, sebuah meja makan panjang telah ditata dengan sangat mewah, lengkap dengan hidangan yang masih mengepul panas.

​Namun, yang duduk di ujung meja bukanlah Bagas atau Herman.

​Melainkan seorang wanita tua yang sangat anggun, mengenakan kebaya sutra hitam tradisional. Wanita itu adalah Mbok Sum, pengasuh setia Kirana sejak kecil, orang yang dianggap Kirana sebagai ibu kedua setelah ibu kandungnya meninggal.

​"Selamat datang, Nona Kirana. Tuan Surya," sapa Mbok Sum dengan suara yang sangat lembut, namun matanya memancarkan kedinginan yang tidak pernah Kirana lihat sebelumnya. "Duduklah. Mari kita selesaikan apa yang sudah dimulai sepuluh tahun yang lalu."

​Kirana mematung. Jantungnya terasa seperti dihantam palu godam. Orang yang paling ia percayai, orang yang selalu memeluknya saat ia menangis karena ulah Riana dan Sari... ternyata adalah mata-mata dari Dewan Tetua Langit.

​"Mbok... kenapa?" suara Kirana nyaris pecah.

​"Karena dunia ini membutuhkan keseimbangan, Nona. Dan ibumu, ia terlalu keras kepala untuk memberikan 'kunci' itu kepada mereka yang berhak mengelolanya," jawab Mbok Sum sambil menuangkan teh ke dalam cangkir kristal. "Ibumu mati bukan karena kebetulan. Ia mati karena ia memilih untuk melindungi benalu sepertimu daripada masa depan Nusantara."

​Adyatma melangkah maju, namun tiba-tiba ia terhuyung. Ia mencengkeram dadanya, napasnya tersengal-sengal. "Racun... aroma ini..."

​"Ah, benar sekali, Tuan Surya," Mbok Sum tersenyum tipis. "Bunga melati yang ada di ruangan ini sudah dicampur dengan 'Darah Kalajengking'. Racun yang dirancang khusus untuk membuat Naga dalam dirimu mengamuk dan menghancurkan Penjangkarmu sendiri."

​Kirana segera berlari ke arah Adyatma, memeluknya erat. Ia melepaskan energi cendananya secara maksimal, mencoba melawan racun tersebut. Namun ruangan itu dipenuhi oleh ribuan kuntum melati beracun.

​"Pilih, Kirana," tantang Mbok Sum. "Berikan padaku 'Kitab Cendana' milik ibumu, atau lihatlah suamimu berubah menjadi monster yang akan merobek jantungmu sendiri malam ini."

​Kirana menatap mata Adyatma yang mulai berubah menjadi biru liar yang tak terkendali. Di detik itu, Kirana menyadari bahwa balas dendamnya kini telah memasuki babak yang paling berdarah. Ia tidak lagi bertarung demi uang atau nama baik, melainkan demi nyawa pria yang ia cintai dan masa depan rahasia yang ia pikul.

​"Kau salah tentang satu hal, Mbok," desis Kirana, matanya berkilat penuh dengan kekuatan magis yang baru bangkit. "Ibu tidak melindungiku karena aku lemah. Ia melindungiku karena ia tahu... akulah yang akan menghancurkan Dewan Tetua Langit berkeping-keping."

​Kirana menarik sebuah jarum perak dari rambutnya, lalu menusukkannya ke telapak tangannya sendiri. Darahnya yang harum cendana menetes ke lantai, menciptakan gelombang kejut spiritual yang memadamkan seluruh lilin di ruangan itu.

​Pertempuran yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

​[Bersambung ke Bab 10...]

​Fajar di Jakarta Pusat biasanya membawa harapan baru bagi jutaan orang, namun bagi Bagas Pramoedya dan sisa-sisa keluarga Herman Larasati, cahaya matahari pagi itu terasa seperti vonis mati yang dingin.

​Kirana Larasati berdiri tegak di ruang kendali pusat Menara Nusantara. Ruangan itu dipenuhi oleh deretan layar monitor raksasa yang menampilkan grafik bursa saham, aliran data logistik, dan rekaman pengawasan dari berbagai titik strategis. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan angka-angka yang terus bergerak merah—indikasi kehancuran total dari aset-aset yang selama ini dikuasai oleh musuh-musuhnya.

​Di sampingnya, Adyatma Surya berdiri dengan keanggunan seorang predator. Pria itu tidak lagi mengenakan jas formalnya; ia hanya memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Sepasang mata obsidian miliknya menatap layar dengan dingin, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang membosankan.

​"Reno, eksekusi tahap akhir. Jangan sisakan satu celah pun untuk mereka bernapas," ucap Kirana, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang mematikan.

​"Sesuai perintah Anda, Nyonya Surya," jawab Reno, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik virtual.

​Hanya dalam hitungan menit, seluruh "bom digital" yang telah dipersiapkan Kirana meledak secara serentak:

​Penangkapan Bagas Pramoedya: Tim khusus kepolisian dari unit kejahatan ekonomi mengepung apartemen persembunyian Bagas. Pria itu ditemukan sedang mencoba membakar beberapa dokumen penting, namun ia terlambat. Ia diseret keluar dengan borgol di depan belasan kamera wartawan yang sudah menunggu. Wajahnya yang dulu angkuh kini hancur oleh teror, matanya liar mencari celah yang sudah tertutup rapat.

​Pengusiran Herman dan Sari: Di kediaman lama keluarga Larasati, petugas sita didampingi oleh pengawal Surya Corp mulai mengosongkan rumah. Herman, yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah serangan jantung ringan, hanya bisa duduk di kursi roda sambil menatap kosong saat barang-barangnya dilempar keluar. Sari berteriak histeris, mencoba mempertahankan tas-tas desainer mahalnya, namun ia justru berakhir tersungkur di aspal jalanan.

​Kejatuhan Riana: Nama Riana Larasati dihapus dari seluruh kontrak endorsement kecantikan. Akun media sosialnya yang memiliki jutaan pengikut dibekukan atas dugaan penipuan dan pencucian uang. Dalam semalam, bidadari media sosial itu berubah menjadi paria yang dihujat oleh seluruh negeri.

​Kirana menatap layar yang menampilkan Bagas sedang dimasukkan ke dalam mobil tahanan. Di kehidupan sebelumnya, pria itulah yang menusukkan pisau ke dadanya. Sekarang, Kirana justru merasa hampa. Dendam yang ia simpan selama bertahun-tahun ternyata tidak memberinya rasa manis yang ia bayangkan. Justru ada rasa pahit yang tersisa di lidahnya.

​Adyatma menyadari perubahan aura istrinya. Ia melangkah mendekat, meletakkan tangannya yang besar dan hangat di bahu Kirana. Hawa panas dari tubuh Adyatma menjalar, menenangkan kegelisahan Kirana.

​"Dendammu sudah lunas secara hukum dan ekonomi, Kirana. Mereka sudah membusuk di selokan yang mereka gali sendiri. Apa kau merasa bebas sekarang?" tanya Adyatma, suaranya berat dan bergetar di dekat telinga Kirana.

​Kirana menarik napas panjang, aroma cendana dari tubuhnya menguat secara naluriah. "Seharusnya begitu, Adyatma. Tapi lihat ini."

​Kirana mengetuk layar tabletnya, menampilkan sebuah folder terenkripsi yang ia temukan di dalam brankas digital tersembunyi milik Bagas—sesuatu yang bahkan tim siber Surya Corp hampir melewatkannya.

​"Bagas mencuri ratusan miliar dari Nusantara Group, tapi hampir separuh dari dana itu tidak digunakan untuk gaya hidupnya. Uang itu mengalir ke sebuah organisasi bernama Scorpio melalui serangkaian rekening cangkang di Swiss. Dan yang paling mengejutkan..." Kirana menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh amarah dan kebingungan. "...dokumen persetujuan aliran dana awal untuk Scorpio ini ditandatangani sepuluh tahun yang lalu. Bukan oleh Bagas, bukan oleh Herman. Tapi oleh Ibuku sendiri."

​Adyatma menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Ibumu membayar klan Scorpio? Klan tentara bayaran paling berbahaya di Asia? Itu tidak masuk akal. Ibumu adalah seorang penjaga spiritual, ia tidak akan berurusan dengan pembunuh bayaran kecuali..."

​"Kecuali itu bukan pembayaran untuk jasa pembunuhan, melainkan uang perlindungan," potong Kirana. "Ibuku membayar mereka agar keberadaanku tetap tersembunyi. Seseorang di masa lalu tidak ingin 'Sang Naga' dan 'Cendana' bersatu. Ibuku tahu tentang kutukanmu, Adyatma. Ia tahu segalanya jauh sebelum kita bertemu."

​Suasana di ruang kendali menjadi semakin tegang. Wahyu dan intrik bisnis yang tadinya Kirana kira hanyalah masalah keserakahan keluarga, kini berubah menjadi pusaran konspirasi yang jauh lebih gelap.

​Tiba-tiba, monitor utama di ruangan itu berkedip-kedip liar. Suara statis yang mengganggu telinga menggema dari pengeras suara. Reno mencoba menguasai kembali sistem, namun layarnya justru menampilkan gambar sebuah kalajengking hitam yang perlahan-lahan merayap di atas logo Nusantara Group.

​"Nyonya! Seseorang melakukan bypass pada sistem keamanan kita!" teriak Reno panik. "Ini bukan serangan DDoS biasa. Mereka menggunakan protokol Scorched Earth tingkat militer!"

​Layar kemudian berubah menjadi hitam, dan sebuah kalimat muncul dalam huruf merah menyala:

​"DARAH HARUS DIBAYAR DARAH, ANAK PELARIAN. KEMATIAN IBUMU HANYALAH PERINGATAN KECIL. DEWAN TETUA LANGIT MENUNTUT KUNCI YANG KAU SIMPAN DALAM NADIMU."

​Kirana merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Dewan Tetua Langit. Nama itu... ia pernah mendengarnya dalam igauan Bagas tepat sebelum pria itu membunuhnya di kehidupan sebelumnya. Saat itu ia mengira itu hanyalah racauan pria gila, namun sekarang, nama itu muncul kembali sebagai ancaman nyata.

​Adyatma melepaskan aura naga yang mengerikan. Seluruh ruangan seolah bergetar. Kilat biru safir menyambar di matanya, dan hawa panas yang ia pancarkan membuat sensor suhu ruangan berbunyi nyaring.

​"Dewan Tetua Langit..." desis Adyatma, suaranya berlapis gema ganda yang mistis. "Jadi mereka masih hidup. Mereka yang memberikan kutukan pada leluhurku dan memaksa klanmu untuk bersembunyi seperti tikus."

​"Siapa mereka, Adyatma? Beritahu aku yang sebenarnya!" Kirana memutar tubuh suaminya, menatap langsung ke mata biru yang menyala itu.

​"Mereka adalah sekelompok penguasa kuno, Kirana. Orang-orang yang merasa memiliki hak untuk mengatur nasib Nusantara. Mereka menganggap kekuatan Naga sebagai ancaman dan aroma Cendana sebagai alat kendali yang harus mereka miliki. Jika klan Scorpio sudah bergerak secara terbuka, itu artinya Dewan Tetua telah menemukan lokasimu sebagai 'kunci' terakhir untuk membangkitkan Naga Hitam yang mereka puja."

​Kirana merasa dunianya kembali jungkir balik. Balas dendamnya pada Bagas dan Herman kini terasa seperti permainan anak-anak jika dibandingkan dengan musuh yang baru saja menampakkan diri. Ternyata, selama ini ia hanya berada di lapis luar dari sebuah perang kuno yang melibatkan nyawa dan takdir bangsa.

​"Jadi, Bagas dan Herman hanyalah pion?" tanya Kirana, suaranya sedikit bergetar.

​"Lebih rendah dari pion. Mereka hanyalah sampah yang digunakan Dewan Tetua untuk menguras energimu sebelum serangan utama dimulai," jawab Adyatma. Ia menarik Kirana ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan wanita itu. "Tapi mereka membuat satu kesalahan besar, Kirana. Mereka membiarkanmu bersamaku."

​Malam itu, di bawah perlindungan ketat Surya Corp, Kirana mulai menyusun strategi baru. Ia menyadari bahwa kekuasaan ekonomi saja tidak cukup. Ia harus membangkitkan seluruh potensi spiritual yang diwariskan ibunya.

​Melalui fitur e-library terenkripsi yang ia buat di Google Drive, Kirana mulai membedah catatan-catatan lama ibunya yang tersimpan dalam bentuk kode sastra kuno. Ia menemukan bahwa ibunya tidak hanya mengelola Nusantara Group, tetapi juga menjaga "Kuil Cendana"—sebuah situs tersembunyi yang menyimpan energi penyeimbang bagi Nusantara.

​"Reno, siapkan tim intelijen untuk melacak koordinat yang ada di dalam sajak-sajak Ibu ini," perintah Kirana. "Gunakan Google Maps dengan lapisan satelit militer Surya Corp. Aku yakin ada sesuatu di pesisir utara yang sengaja mereka tutupi."

​Keesokan harinya, saat Kirana sedang meninjau laporan restrukturisasi Nusantara Group, ia menerima sebuah paket misterius di mejanya. Paket itu tidak memiliki nama pengirim, dan sensor pemindai Surya Corp menyatakan paket itu aman.

​Saat Kirana membukanya, tangannya gemetar. Di dalam kotak beludru hitam itu terdapat sebuah kalung giok kuno milik ibunya—kalung yang seharusnya terkubur bersama ibunya sepuluh tahun yang lalu.

​Di balik kalung itu, terukir sebuah alamat di kawasan kota tua Jakarta yang kini terbengkalai.

​"Ini jebakan," ucap Adyatma yang berdiri di belakangnya.

​"Aku tahu," jawab Kirana, mengusap giok yang terasa dingin itu. "Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk menemukan siapa mata-mata di dalam perusahaan kita. Bagas dan Herman sudah hancur, namun seseorang yang 'sangat dekat' dengan Ibuku masih bebas memberikan informasi kepada Dewan Tetua."

​"Kalau begitu, mari kita pergi," Adyatma mengambil belati peraknya. "Kita akan mengadakan 'perjamuan' pribadi dengan mereka."

​Kirana tersenyum miring, sebuah senyuman yang kini lebih mirip dengan Adyatma daripada dirinya yang dulu. "Bukan perjamuan, Adyatma. Ini adalah pengadilan. Dan kali ini, tidak akan ada pengampunan."

​Satu jam kemudian, mobil Maybach hitam itu meluncur menuju kawasan pergudangan tua di Jakarta Utara. Udara di sana terasa sangat berat dan berbau anyir, seolah-olah waktu berhenti berputar di tempat itu.

​Begitu Kirana dan Adyatma masuk ke dalam gudang nomor 04, mereka disambut oleh barisan pelayan yang mengenakan topeng putih tanpa ekspresi. Di tengah ruangan, sebuah meja makan panjang telah ditata dengan sangat mewah, lengkap dengan hidangan yang masih mengepul panas.

​Namun, yang duduk di ujung meja bukanlah Bagas atau Herman.

​Melainkan seorang wanita tua yang sangat anggun, mengenakan kebaya sutra hitam tradisional. Wanita itu adalah Mbok Sum, pengasuh setia Kirana sejak kecil, orang yang dianggap Kirana sebagai ibu kedua setelah ibu kandungnya meninggal.

​"Selamat datang, Nona Kirana. Tuan Surya," sapa Mbok Sum dengan suara yang sangat lembut, namun matanya memancarkan kedinginan yang tidak pernah Kirana lihat sebelumnya. "Duduklah. Mari kita selesaikan apa yang sudah dimulai sepuluh tahun yang lalu."

​Kirana mematung. Jantungnya terasa seperti dihantam palu godam. Orang yang paling ia percayai, orang yang selalu memeluknya saat ia menangis karena ulah Riana dan Sari... ternyata adalah mata-mata dari Dewan Tetua Langit.

​"Mbok... kenapa?" suara Kirana nyaris pecah.

​"Karena dunia ini membutuhkan keseimbangan, Nona. Dan ibumu, ia terlalu keras kepala untuk memberikan 'kunci' itu kepada mereka yang berhak mengelolanya," jawab Mbok Sum sambil menuangkan teh ke dalam cangkir kristal. "Ibumu mati bukan karena kebetulan. Ia mati karena ia memilih untuk melindungi benalu sepertimu daripada masa depan Nusantara."

​Adyatma melangkah maju, namun tiba-tiba ia terhuyung. Ia mencengkeram dadanya, napasnya tersengal-sengal. "Racun... aroma ini..."

​"Ah, benar sekali, Tuan Surya," Mbok Sum tersenyum tipis. "Bunga melati yang ada di ruangan ini sudah dicampur dengan 'Darah Kalajengking'. Racun yang dirancang khusus untuk membuat Naga dalam dirimu mengamuk dan menghancurkan Penjangkarmu sendiri."

​Kirana segera berlari ke arah Adyatma, memeluknya erat. Ia melepaskan energi cendananya secara maksimal, mencoba melawan racun tersebut. Namun ruangan itu dipenuhi oleh ribuan kuntum melati beracun.

​"Pilih, Kirana," tantang Mbok Sum. "Berikan padaku 'Kitab Cendana' milik ibumu, atau lihatlah suamimu berubah menjadi monster yang akan merobek jantungmu sendiri malam ini."

​Kirana menatap mata Adyatma yang mulai berubah menjadi biru liar yang tak terkendali. Di detik itu, Kirana menyadari bahwa balas dendamnya kini telah memasuki babak yang paling berdarah. Ia tidak lagi bertarung demi uang atau nama baik, melainkan demi nyawa pria yang ia cintai dan masa depan rahasia yang ia pikul.

​"Kau salah tentang satu hal, Mbok," desis Kirana, matanya berkilat penuh dengan kekuatan magis yang baru bangkit. "Ibu tidak melindungiku karena aku lemah. Ia melindungiku karena ia tahu... akulah yang akan menghancurkan Dewan Tetua Langit berkeping-keping."

​Kirana menarik sebuah jarum perak dari rambutnya, lalu menusukkannya ke telapak tangannya sendiri. Darahnya yang harum cendana menetes ke lantai, menciptakan gelombang kejut spiritual yang memadamkan seluruh lilin di ruangan itu.

​Pertempuran yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

​[Bersambung ke Bab 10...]

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!