Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — Arteri Valmere
"Jangan lepaskan peganganmu, Alice! Apa pun yang terjadi, jangan pernah lepaskan!"
Suara Leon menggelegar di balik helm hitamnya, nyaris tenggelam oleh raungan mesin motor sport yang bergema hebat di terowongan bawah tanah gedung apartemen. Ban belakang motor itu berdecit, menciptakan kepulan asap karet yang berbau menyengat saat Leon memutar gas dengan kasar.
Alice tidak menjawab. Ia tidak sanggup. Jantungnya terasa seperti ingin meloncat keluar dari rusuknya. Ia membenamkan wajahnya di punggung Leon, melingkarkan lengannya begitu erat di pinggang pria itu hingga jemarinya memutih. Bau sisa asap ledakan dari lantai atas masih menempel di jaket Leon, sebuah pengingat bahwa maut hanya tertinggal beberapa detik di belakang mereka.
"Leon! Drone di posisi jam tujuh! Mereka keluar dari ventilasi gedung!" suara Gray melengking di earpiece.
Leon melirik spion kecilnya. Benar saja, tiga buah drone pengintai dengan laras senapan mesin ringan meluncur cepat, melayang stabil mengikuti kecepatan motor mereka.
"Sialan! Mereka benar-benar niat menghabisi kita!" umpat Leon.
Ia memacu motornya menaiki tanjakan keluar garasi. Begitu mereka keluar ke udara malam Valmere, gerimis kecil menyambut mereka, membuat aspal jalanan berkilau seperti cermin yang berbahaya.
"Tundukkan kepalamu!" perintah Leon mendadak.
RAT-TAT-TAT-TAT!
Rentetan peluru dari drone pertama menghantam bagasi mobil yang terparkir di pinggir jalan, menciptakan percikan api. Leon melakukan manuver zigzag yang ekstrem, memiringkan motornya hingga lututnya nyaris menyentuh aspal.
"Leon, aku takut!" teriak Alice, suaranya pecah karena terpaan angin.
"Jangan tutup matamu, Alice! Aku butuh kau tetap sadar!" balas Leon sambil melaju menembus lampu merah persimpangan. "Gray, cari rute buntu untuk drone itu!"
"Masuk ke Sektor Industri Dua, Leon! Konstruksi baja di sana akan mengacaukan sinyal navigasi mereka!" sahut Gray cepat.
Leon membelokkan stangnya dengan sentakan kuat, memasuki area konstruksi yang dipenuhi perancah besi. Ia memacu motornya menembus lorong-lorong sempit yang gelap, hanya mengandalkan lampu depan motor yang membelah kabut.
Setelah manuver yang menguras nyawa, Leon akhirnya berhasil mengelabui pengejar dengan ranjau elektromagnetik mini. Ia memperlambat kecepatan saat mereka memasuki Sektor Nol, wilayah gudang-gudang terbakar di tepian sungai yang tak tersentuh hukum Valmere.
Leon mematikan mesin di depan sebuah gudang kontainer tua. "Turun," perintah Leon pendek.
Alice turun dengan kaki yang gemetar hebat. Ia melepas helmnya, membiarkan rambutnya yang berantakan tergerai. Wajahnya sepucat kertas. Ia bersandar pada salah satu peti kemas, mencoba menstabilkan napasnya yang memburu. Matanya menatap Leon yang sedang memindai area dengan waspada.
"Leon," panggil Alice, suaranya parau namun tajam. "Katakan padaku. Apa mereka... Helix?"
Langkah kaki Leon terhenti. Ia berdiri mematung di kegelapan, membelakangi Alice. Keheningan yang mengikuti pertanyaan itu terasa lebih mencekam daripada suara tembakan drone tadi. Perlahan, Leon berbalik. Di bawah cahaya bulan yang remang, matanya yang dingin menatap Alice tanpa sedikit pun emosi yang terbaca.
"Ya," jawab Leon singkat.
Alice tertegun. Ia mundur selangkah, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kamu tahu? Sejak kapan kamu tahu kalau pengejarku adalah Helix?"
Leon menarik napas pendek. "Sejak aku menerima kontrak untuk menjemputmu di klinik."
Rasa panas mendadak menjalar di dada Alice—bukan karena adrenalin, melainkan rasa kecewa yang menusuk. "Jadi selama ini kamu tahu siapa aku? Kamu tahu tentang masa laluku, tentang ayahku, dan kamu hanya diam? Kamu membiarkan aku merawat lukamu, membiarkan aku mengikutimu seperti orang bodoh tanpa tahu bahwa kamu memegang semua informasi tentangku?"
"Informasi tidak akan mengubah caraku melindungimu, Alice," sahut Leon datar.
"Bohong!" teriak Alice, suaranya menggema di gudang kosong itu. "Kamu melihatku ketakutan mencari jawaban, dan kamu hanya menonton! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa tahu sebanyak itu tentang mereka sementara aku harus kehilangan segalanya untuk menyadarinya?"
Leon melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Alice. Wajahnya tampak seperti pahatan batu yang keras dan tidak tersentuh oleh rasa bersalah.
"Siapa aku tidak penting sekarang," kata Leon dengan nada rendah yang menekan. "Yang penting adalah fakta bahwa Helix ingin sejarahmu terkubur. Dan aku satu-satunya orang yang tahu cara menghadapi cara kerja mereka."
"Kamu menghadapi mereka dengan cara yang tidak masuk akal, Leon!" Alice menunjuk ke arah jalanan yang baru saja mereka lalui. "Kecepatanmu, refleksmu... tidak ada manusia biasa yang bisa melakukan itu! Apa kamu juga bagian dari mereka? Apa kamu salah satu pembunuh yang mereka ciptakan?"
Leon mengerutkan rahangnya, seolah pertanyaan itu menyinggung martabat yang ia bangun selama bertahun-tahun di jalanan. "Aku bukan ciptaan siapa pun, Alice. Jika aku secepat ini, itu karena aku dilatih di neraka oleh Gray sejak aku kecil. Setiap refleks yang kau lihat adalah hasil dari ribuan jam rasa sakit dan latihan fisik yang brutal di dunia bawah."
Alice menatap Leon dengan pandangan ngeri sekaligus tidak percaya. "Latihan? Kamu ingin aku percaya bahwa manusia bisa menandingi mesin hanya dengan latihan?"
"Di Valmere, kau tidak punya pilihan selain melampaui batasmu jika ingin tetap hidup," Leon menatap tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam. "Disiplin militer yang aku jalani adalah satu-satunya alasan kenapa aku bisa menarikmu keluar dari api klinimu malam itu. Jangan samakan aku dengan monster-monster Helix itu."
Alice terdiam, matanya meneliti setiap inci tubuh Leon. Meskipun Leon berbicara dengan keyakinan penuh, Sebagai seorang dokter Alice melihat sesuatu yang lain. Ia melihat efisiensi gerak yang terlalu sempurna, sebuah sinkronisasi saraf yang melampaui puncak kemampuan atletik manusia manapun. Namun, melihat sorot mata Leon yang penuh kebencian terhadap Helix, Alice menyadari satu hal: pria ini benar-benar percaya bahwa kekuatannya adalah murni miliknya sendiri.
"Kamu menyembunyikan identitasku dariku sendiri," bisik Alice, suaranya bergetar karena marah. "Aku tidak tahu harus mempercayaimu sebagai pelindung atau membencimu sebagai pembohong."
"Pilih yang mana saja, asalkan kau tetap berada di belakangku," jawab Leon dingin. Ia berbalik menuju pintu gudang yang terbuka secara otomatis. "Masuklah. Gray menunggu di dalam. Kita punya waktu tiga jam sebelum mereka menyisir sektor ini dengan termal."
Alice tidak bergerak. Ia menatap punggung Leon yang mulai masuk ke dalam kegelapan gudang. Rasa pahit masih tertinggal di lidahnya. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan oleh dua orang yang sama-sama misterius, Helix di satu sisi, dan Leon di sisi lain.
"Leon," panggil Alice pelan sebelum Leon menghilang di balik pintu.
Leon berhenti, namun tidak menoleh. "Apa lagi?"
"Kenapa? Kalau kamu tahu Helix yang mengirimmu, dan kamu tahu nilaiku bagi mereka... kenapa kamu tidak menyerahkanku saja? Kenapa memilih menjadi buronan bersama seorang dokter yang tidak berguna bagimu?"
Leon terdiam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Ia menoleh sedikit, memberikan profil wajahnya yang tampak hancur oleh bayangan.
"Karena aku membenci mereka lebih dari aku mencintai nyawaku sendiri," sahut Leon pelan, namun penuh dengan racun dendam. "Dan membawamu pergi adalah satu-satunya cara untuk merusak rencana yang sudah mereka susun selama sepuluh tahun."
Alice mengepalkan tangannya, menatap tas medisnya yang masih tersampir di bahu. Di dalamnya, map cokelat dari ayahnya terasa semakin berat.
"Masuklah, Alice. Sebelum aku berubah pikiran untuk menjadi lebih ramah," tambah Leon.
Saat Alice melewati ambang pintu gudang yang dingin, ia berhenti sejenak dan menatap Leon yang masih berjaga di pintu dengan pistol di tangan.
"Jika suatu saat aku tahu kamu juga memanfaatkan aku, Leon..." Alice menggantung kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah mata Leon yang sedingin es.
Leon tidak menjawab. Ia hanya menarik pintu gudang itu hingga tertutup rapat, mengunci mereka berdua di dalam kegelapan yang aman, sementara di luar sana, Valmere mulai membara mencari keberadaan mereka.
"Masuk ke dalam," gumam Leon. "Kopi di dalam lebih hangat daripada amarahmu."
Alice berdiri mematung di tengah ruangan yang dipenuhi monitor redup. Ia menoleh ke arah Leon yang sedang melepaskan jaketnya, memperlihatkan luka lama di punggungnya yang tampak seperti bekas pembedahan yang rapi.
"Lalu, jika Gray memintamu untuk memilih antara keselamatanku dan informasi yang bisa menghancurkan Helix... siapa yang akan kau pilih, Leon?"
Leon berhenti bergerak, tangannya menggantung di udara tepat di atas holster senjatanya.
"Aku tidak bekerja untuk informasi, Alice. Aku bekerja untuk mengakhiri sejarah."