Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 lidah yang terkutuk dan sup air mata naga
Ibukota Kekaisaran Naga Biru bukanlah sekadar kota; itu adalah raksasa yang tertidur. Tembok-temboknya menjulang setinggi lima puluh meter, terbuat dari batu granit hitam yang diperkuat dengan formasi pertahanan kuno. Di atas gerbang utamanya, patung kepala naga raksasa menatap setiap pendatang dengan mata yang terbuat dari kristal roh murni.
Han Shuo berdiri di gerbang kota, merasa kerdil. Jubah sekte abunya yang sederhana tampak menyedihkan dibandingkan dengan sutra-sutra mewah yang dikenakan penduduk ibukota. Namun, di sampingnya berdiri Penatua Agung Mu Chen, yang meskipun berpakaian seperti pengemis tua, memancarkan aura yang membuat para penjaga gerbang bersujud tanpa diminta.
"Jangan terpesona oleh kemewahan, Nak," gumam Mu Chen sambil berjalan santai melewati antrean panjang pedagang. "Di balik tembok emas ini, bau busuk politik lebih menyengat daripada tempat sampah di dapur sektemu."
Han Shuo mengangguk, matanya tetap waspada. "Siapa pasien yang Anda sebutkan, Penatua? Anda bilang dia 'pelanggan besar'."
"Sangat besar," Mu Chen menunjuk ke arah istana yang melayang di atas awan buatan di tengah kota. "Putri Ketiga Kekaisaran, Long Xi. Dia menderita penyakit aneh yang disebut Anoreksia Spiritual. Sudah tiga bulan dia tidak bisa menelan apa pun. Setiap makanan yang masuk ke mulutnya terasa seperti paku berkarat atau racun yang membakar. Tabib kerajaan sudah menyerah. Alkemis terbaik sudah gagal. Sekarang, giliran koki."
Han Shuo mengerutkan kening. "Jika alkemis gagal, apa yang bisa dilakukan koki? Bukankah pil nutrisi cukup untuk membuatnya hidup?"
"Pil bisa menjaga tubuh tetap bernapas, tapi tidak bisa memberi makan jiwa," jawab Mu Chen serius. "Dan jiwa sang Putri sedang kelaparan sampai mati."
Dapur Kekaisaran: Paviliun Teratai Emas
Memasuki area Dapur Kekaisaran adalah seperti memasuki zona perang yang teratur. Ratusan koki berseragam putih bersih berlarian membawa bahan-bahan eksotis. Aroma rempah-rempah langka dari benua lain memenuhi udara.
Namun, kedatangan Mu Chen dan Han Shuo menghentikan kesibukan itu.
Seorang pria gemuk dengan topi koki yang tinggi dan jubah sutra yang disulam benang emas melangkah maju. Wajahnya merah dan berminyak, dagunya berlipat tiga. Ini adalah Kepala Koki Istana, Master Zhou.
"Penatua Mu," Zhou membungkuk hormat, namun matanya melirik Han Shuo dengan jijik. "Anda membawa... asisten baru untuk memotong kayu bakar?"
"Aku membawa dokter untuk Putri," jawab Mu Chen datar.
Master Zhou tertawa pendek, tawa yang meremehkan. "Anak ini? Maafkan kelancangan saya, Penatua. Tapi ratusan Koki Bintang Lima dari seluruh benua sudah mencoba dan gagal. Apa yang bisa dilakukan bocah dari sekte pinggiran ini? Dia bahkan masih bau bawang."
Han Shuo maju selangkah, menatap langsung ke mata Master Zhou. "Bau bawang lebih baik daripada bau kegagalan yang memenuhi dapur ini, Tuan Kepala Koki."
Wajah Master Zhou memerah padam. "Kau! Berani sekali kau bicara padaku! Aku memasak untuk Kaisar sebelum kau lahir! Penjaga, seret dia keluar!"
"Cukup!" Mu Chen menghentakkan tongkatnya. Lantai marmer retak sedikit. "Kaisar memberiku izin. Jika kau menghalangi, Zhou, aku akan memastikan kau menjadi bahan utama sup malam ini."
Ancaman itu membuat Master Zhou pucat. Ia menyingkir, meski tatapannya penuh kebencian. "Silakan. Tapi jika dia meracuni Putri atau membuatnya muntah lagi, kepalanya akan dipenggal di tempat."
Kamar Putri Long Xi
Ruangan itu dingin. Sangat dingin. Tirai-tirai sutra putih menutupi jendela, menghalangi sinar matahari. Di tengah ruangan, di atas ranjang batu giok hangat, terbaring sesosok tubuh yang begitu kurus hingga tampak seperti kerangka yang dibalut kulit pucat.
Putri Long Xi, yang dulunya dikenal sebagai "Bunga Tercantik Ibukota", kini tampak seperti hantu. Matanya cekung, bibirnya pecah-pecah.
Seorang pelayan wanita sedang mencoba menyuapinya sesendok bubur ginseng cair.
Begitu sendok itu menyentuh bibir sang Putri, tubuhnya kejang.
"Uhuk! Arghhh!"
Ia memuntahkan bubur itu bercampur darah. Wajahnya berkerut kesakitan seolah-olah ia baru saja menelan bara api.
"Sakit... panas..." rintihnya lemah.
Kaisar Long Tian, pria paruh baya dengan jubah naga yang berdiri di sudut ruangan, memalingkan wajahnya tak tega. "Mu Chen, sahabatku... apakah ini harapan terakhirku?"
Mu Chen menepuk bahu Han Shuo. "Lakukan diagnosismu."
Han Shuo mendekati tempat tidur. Ia tidak memeriksa denyut nadi seperti tabib. Ia mengaktifkan Mata Rasa-nya.
Dunia di mata Han Shuo berubah warna. Ia melihat aliran Qi di tubuh Putri.
Meridian perutnya berwarna hitam pekat. Ada sesuatu yang melilit di sana. Bukan penyakit fisik. Itu adalah gumpalan energi dingin yang jahat, berbentuk seperti ular kecil yang menggigit dinding lambungnya.
Kutukan Pembenci Rasa, batin Han Shuo.
Setiap kali ada energi "Kehidupan" (makanan) yang masuk, ular kutukan itu akan bereaksi agresif, mengubah rasa makanan menjadi rasa sakit fisik. Pil alkimia tidak memicunya karena pil adalah energi murni tanpa rasa. Tapi manusia butuh rasa untuk merasa hidup.
"Dia dikutuk," kata Han Shuo pelan.
"Kami tahu!" sentak Master Zhou yang ikut masuk. "Tabib sudah bilang ada energi Yin dingin di perutnya. Kami sudah memberinya sup Yang panas, daging naga api, semuanya! Hasilnya dia muntah darah lebih banyak!"
"Itu karena kalian bodoh," kata Han Shuo dingin. "Memberi api pada es yang keras hanya akan menyebabhkan ledakan. Kalian memaksanya bertarung di dalam perutnya sendiri."
Han Shuo berbalik menghadap Kaisar. "Yang Mulia, saya butuh dapur. Dan saya butuh bahan-bahan spesifik. Bukan bahan mahal, tapi bahan penyeimbang."
Kembali ke Dapur
Master Zhou menyilangkan tangannya. "Apa yang kau butuhkan? Hati Phoenix? Empedu Kura-kura Dewa?"
"Aku butuh Tahu," jawab Han Shuo.
"Tahu?" Zhou melongo. "Makanan rakyat jelata?"
"Tahu Sutra yang dibuat dari Kedelai Bulan. Dan... Tulang Iga Babi Roh Angin."
"Hanya itu?"
"Dan akses ke kebun herbal kerajaan. Aku akan memetik sendiri bumbunya."
Setengah jam kemudian, Han Shuo berdiri di depan kompor pribadinya. Ia mengabaikan tatapan sinis para koki istana.
Masalah Putri adalah perutnya menolak "Kehidupan". Jadi, Han Shuo harus membuat makanan yang "Mati" namun "Menghidupkan". Makanan yang begitu lembut sehingga bisa menyelinap melewati ular kutukan itu tanpa membangunkannya, lalu meledakkan energi penyembuhan dari dalam.
Teknik yang akan ia gunakan adalah gabungan dari Bab 2 (Pengendalian Air) dan Bab Alkimia yang baru ia pelajari.
Langkah 1: Kaldu Tanpa Wujud.
Han Shuo mengambil Tulang Iga Babi Roh Angin. Babi jenis ini memiliki sumsum yang sangat ringan.
Alih-alih merebusnya, Han Shuo menggunakan teknik Telapak Hampa.
Bam! Bam! Bam!
Ia memukul tulang-tulang itu dengan ritme tertentu. Ia tidak menghancurkan tulangnya, tapi menghancurkan struktur sumsum di dalamnya menjadi cairan tanpa merusak kulit tulang.
Kemudian, ia menusuk tulang itu dengan jarum perak, membiarkan sumsum cair itu menetes keluar setetes demi setetes ke dalam mangkuk berisi air embun pagi.
Proses ini memakan waktu, tapi Han Shuo mempercepatnya dengan Api Batin.
Kaldu yang dihasilkan bening seperti air, tidak keruh sama sekali, namun memiliki esensi rasa daging yang sangat kuat namun halus.
Langkah 2: Tahu Ilusi.
Han Shuo mengambil kedelai bulan yang telah direndam. Ia tidak menggilingnya dengan batu. Ia meremasnya dengan tangan kosong menggunakan teknik Remasan Awan Lembut.
Sari kedelai itu keluar, putih bersih. Ia mencampurnya dengan sedikit air kapur yang diambil dari stalaktit gua (kaya mineral Yin).
Saat tahu itu mulai mengental, Han Shuo memasukkan kaldu sumsum tadi ke dalam adonan tahu.
Ini adalah teknik tingkat tinggi: Penyatuan Rasa. Tahu itu sendiri adalah kaldunya.
Langkah 3: Alkimia Bumbu.
Han Shuo mengambil tiga jenis herbal:
* Daun Mint Hantu (Sifat dingin, untuk menenangkan ular kutukan).
* Jahe Matahari Kecil (Sifat hangat, untuk memulihkan energi Putri).
* Madu Bunga Tidur (Sifat penenang).
Ia tidak mencincangnya. Ia melemparkan herbal itu ke udara, lalu menggunakan Qi apinya untuk membakar herbal itu menjadi asap.
Asap herbal itu kemudian ia giring masuk ke dalam panci, menyerap ke dalam tahu yang sedang dikukus.
Ini adalah teknik Pengasapan Roh. Rasa herbal masuk, tapi serat fisiknya tidak.
Satu jam kemudian, hidangan selesai.
Di atas piring porselen putih, terdapat semangkuk sup bening. Di tengahnya, ada satu blok tahu putih yang bergoyang lembut seperti jeli. Tidak ada hiasan. Tidak ada minyak. Terlihat sangat membosankan.
"Ini?" cibir Master Zhou. "Air putih dan tahu mentah? Kau ingin menghina Kaisar?"
"Ini adalah Sup Tahu Awan Penenang Jiwa," kata Han Shuo. "Bawa ke Putri."
Saat Penentuan
Di kamar Putri, suasana tegang. Han Shuo membawa nampan itu sendiri.
Putri Long Xi membuka matanya sedikit. Ia mencium aroma sup itu. Tidak ada aroma daging yang menyengat. Tidak ada aroma herbal yang pahit.
Hanya aroma... bersih. Seperti aroma udara setelah hujan badai.
Ular kutukan di perutnya tidak bereaksi. Ia tidak merasa mual.
"Cobalah, Tuan Putri," bisik Han Shuo lembut.
Kaisar menahan napas. Master Zhou tersenyum licik, menunggu Putri memuntahkannya.
Putri Long Xi membuka mulutnya sedikit. Han Shuo menyuapkan potongan kecil tahu itu.
Tahu itu masuk ke mulutnya.
Ia tidak perlu mengunyah. Tahu itu lenyap.
Lumer menjadi cairan hangat yang langsung meluncur ke tenggorokannya.
Detik pertama: Tidak ada rasa sakit.
Detik kedua: Rasa gurih sumsum tulang yang tersembunyi meledak dengan lembut, bukan ledakan yang kasar, tapi seperti pelukan hangat seorang ibu.
Detik ketiga: Efek Daun Mint Hantu menidurkan ular kutukan itu, sementara Jahe Matahari mulai menyalakan kembali tungku kehidupan di dantian Putri.
Mata Putri Long Xi terbuka lebar. Air mata menetes dari sudut matanya.
"Lagi..." bisiknya serak.
Satu kata itu meledak seperti petir di ruangan itu.
"Apa?" Kaisar Long Tian maju selangkah, tak percaya. "Dia... dia minta lagi?"
Han Shuo tersenyum tipis dan menyuapkan sendok kedua, ketiga, keempat.
Putri Long Xi makan dengan lahap, seolah-olah dia baru pertama kali merasakan makanan dalam hidupnya. Rona merah mulai kembali ke pipinya yang pucat. Keringat dingin berhenti mengalir.
Setelah mangkuk itu kosong, Putri Long Xi menghela napas panjang. Dari mulutnya, keluar asap hitam tipis yang berbau busuk—sisa energi negatif kutukan yang terdorong keluar oleh kemurnian makanan Han Shuo.
"Enak..." kata Putri, suaranya kini terdengar lebih jelas. "Rasanya seperti... pulang ke rumah."
Kaisar Long Tian jatuh berlutut di samping ranjang, memeluk putrinya yang kini tertidur pulas dengan wajah damai.
"Terima kasih... Terima kasih Dewa..." isak Sang Kaisar.
Mu Chen tersenyum bangga dan menepuk bahu Han Shuo. "Lihat? Koki lebih hebat dari tabib."
Han Shuo berbalik menghadap Master Zhou yang kini berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, keringat dingin membanjiri lehernya yang berlemak.
"Master Zhou," panggil Han Shuo. "Sepertinya 'makanan rakyat jelata' ini cukup untuk lidah kerajaan."
Master Zhou gemetar. Ia tahu karirnya tamat. Tapi lebih dari itu, ia takut pada tatapan Han Shuo.
Pembersihan
Malam itu juga, Han Shuo dipanggil ke ruang kerja pribadi Kaisar.
Kaisar Long Tian duduk di tahtanya, wajahnya lelah namun bahagia. Di sampingnya, Mu Chen sedang minum teh.
"Han Shuo," kata Kaisar. "Kau menyelamatkan nyawa putriku. Emas, tanah, gelar... sebutkan apa yang kau inginkan."
Han Shuo berlutut satu kaki. "Hamba hanya butuh satu hal, Yang Mulia. Akses penuh ke Perpustakaan Bahan Kerajaan."
Kaisar tertawa. "Hanya itu? Koki lain meminta tanah. Kau meminta gudang? Baiklah! Aku beri kau lencana Koki Naga Emas. Kau boleh mengambil bahan apa saja, kapan saja."
Han Shuo tersenyum. Itu adalah kunci yang ia butuhkan untuk melanjutkan kultivasinya. Bahan di dunia luar sangat langka, tapi gudang istana pasti memiliki apa yang ia butuhkan untuk membuka Bab Lanjutan Kitab Rasa Semesta.
"Tapi," Kaisar merendahkan suaranya, matanya menjadi dingin. "Ada satu hal lagi yang harus kita bicarakan. Kutukan di perut putriku... itu bukan penyakit alamiah. Itu buatan manusia."
"Benar," jawab Han Shuo. "Seseorang memberinya makan racun Cacing Es Yin secara bertahap selama berbulan-bulan. Racun itu tidak berasa, tidak berbau, dan hanya bereaksi saat korban makan."
"Siapa yang punya akses ke makanan Putri setiap hari?" tanya Mu Chen.
Pintu ruangan terbuka. Pengawal kerajaan menyeret masuk seseorang yang sudah babak belur.
Itu adalah Master Zhou.
"Ampun! Ampun Yang Mulia!" teriak Zhou sambil menangis.
"Dia yang meracuni Putri?" tanya Han Shuo.
"Dia pelakunya, tapi bukan otaknya," kata Kaisar dingin. "Setelah diinterogasi, dia mengaku dibayar mahal untuk mencampurkan bubuk Telur Cacing Es ke dalam teh Putri. Dia dibayar oleh seseorang dari... Sekte Awan Merah."
Han Shuo dan Mu Chen saling berpandangan.
"Siapa?" tanya Mu Chen, suaranya mengandung badai.
"Seorang Tetua Logistik bernama... Wang Lin," jawab Kaisar.
Darah Han Shuo mendidih. Keluarga Wang lagi.
"Mereka ingin melemahkan Kaisar dengan membunuh Putri, agar faksi bangsawan yang didukung Keluarga Wang bisa mengambil alih kendali militer di perbatasan," analisis Kaisar tajam. "Keluarga Wang bermain api."
Kaisar menatap Han Shuo. "Han Shuo, kau punya masalah pribadi dengan Keluarga Wang, bukan? Mu Chen sudah menceritakan semuanya."
"Benar, Yang Mulia."
"Bagus. Karena aku tidak bisa bergerak secara langsung tanpa memicu perang saudara. Keluarga Wang memiliki tentara pribadi yang kuat. Aku butuh seseorang yang bisa menghancurkan mereka dari dalam... atau dari 'dapur' mereka."
Kaisar melempar sebuah gulungan emas ke Han Shuo.
"Bulan depan, akan diadakan Kompetisi Kuliner Kekaisaran Tahunan. Keluarga Wang memiliki restoran terbesar di ibukota, Paviliun Naga Terbang, yang selalu menjadi juara bertahan selama sepuluh tahun. Itu adalah sumber uang utama mereka."
"Hancurkan bisnis mereka," perintah Kaisar. "Buat restoran mereka bangkrut. Buat nama mereka hancur di dunia kuliner. Jika kau berhasil, aku akan punya alasan untuk menyita aset mereka dan memenggal Wang Lin."
Han Shuo menangkap gulungan itu. Matanya berkilat tajam. Ini bukan lagi sekadar balas dendam pribadi. Ini adalah misi kekaisaran.
"Hamba mengerti," kata Han Shuo. "Saya akan memasak hidangan perpisahan untuk Keluarga Wang."
Epilog Bab 14: Pertemuan di Lorong Gelap
Setelah keluar dari istana, Han Shuo berjalan menyusuri lorong gelap menuju penginapan yang disediakan Mu Chen.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti.
"Keluar," katanya datar.
Dari bayang-bayang, muncul sesosok wanita berpakaian hitam ketat, wajahnya tertutup cadar. Di pinggangnya tergantung dua belati kembar.
"Insting yang tajam untuk seorang koki," suara wanita itu merdu namun berbahaya.
"Siapa kau?" Han Shuo menyalurkan Qi ke Tangan Bayangan-nya.
"Teman," wanita itu melempar sebuah token giok hijau. Han Shuo menangkapnya. Ada ukiran "Teratai Hitam" di atasnya.
"Putri Long Xi mengirimku. Namaku Ying. Aku adalah bayangannya. Dia tahu kau akan menjadi target Keluarga Wang mulai besok. Dia memintaku menjadi... asisten dapurmu."
Han Shuo menatap wanita itu. Aura pembunuhnya sangat pekat, setingkat dengan kultivator Inti Emas (Golden Core) awal. Seorang pembunuh menjadi asisten dapur?
"Bisa memotong bawang?" tanya Han Shuo.
Ying menarik belatinya. Dalam sekejap mata, lalat yang terbang di dekat mereka terbelah menjadi empat bagian yang sama rata.
"Aku bisa memotong apa saja. Bawang, daging... atau leher," jawab Ying.
Han Shuo menyeringai. "Diterima. Besok kita mulai bekerja. Kita akan membuka warung makan tepat di depan restoran termewah Keluarga Wang."
"Warung makan?" Ying bingung. "Melawan restoran bintang lima dengan warung?"
"Makanan enak tidak butuh atap emas, Nona Ying. Makanan enak hanya butuh jiwa."
Han Shuo melangkah pergi, diikuti oleh bayangan barunya. Perang kuliner ibukota akan segera dimulai.
Pojok Informasi Kuliner & Kultivasi Arc 2
Teknik Baru:
* Mata Rasa (Taste Eye - Tingkat Lanjut): Kini bisa melihat "kutukan" atau energi negatif yang menempel pada organ pencernaan, bukan hanya kualitas bahan.
* Telapak Hampa (Void Palm): Teknik memukul benda padat untuk menghancurkan bagian dalam tanpa merusak bagian luar. Berguna untuk mengekstrak sumsum atau mememarkan daging tanpa menghancurkan serat.
* Penyatuan Rasa (Flavor Fusion): Teknik alkimia kuliner untuk memasukkan cairan ke dalam benda padat (seperti kaldu ke dalam tahu) saat proses pembentukan.
Resep:
* Sup Tahu Awan Penenang Jiwa: Resep tingkat medis. Menggunakan prinsip "Keseimbangan Yin-Yang Semu" untuk menipu tubuh yang menolak nutrisi. Efek: Menyembuhkan luka dalam pada organ pencernaan dan membersihkan racun spiritual.
Karakter Baru:
* Kaisar Long Tian: Penguasa yang bijak namun terikat politik.
* Putri Long Xi: Pasien yang selamat, kini menjadi pendukung Han Shuo.
* Ying: Pembunuh bayaran kerajaan/Bodyguard Han Shuo. Tipe Tsundere yang dingin tapi loyal.