Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Tuan, sepertinya Nona Hong akan kembali dalam waktu dekat. Seperti yang dia katakan saat itu,” ucap Shane hati-hati, memperhatikan perubahan ekspresi Dev.
Dev tetap menatap layar beberapa detik sebelum mematikan televisi dengan remote di tangannya.
“Dia telah mencapai impiannya sebagai artis terkenal. Luar biasa,” ucap Dev dengan senyum tipis.
Shane ragu sejenak sebelum melanjutkan, “Tuan, kalau Nona kembali, bagaimana menjelaskan padanya tentang pertunangan Anda dengan Nona Fang?”
Dev bersandar di kursinya. Sorot matanya kembali tegas.
“Tidak perlu menjelaskan apa pun. Prinsipku sederhana—kalau Lolitta telah menjadi tunanganku, maka aku harus mengutamakannya.”
Beberapa hari kemudian.
Di sebuah kafe mewah yang tenang, Lolitta duduk berhadapan dengan Dev. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela kaca besar, memantulkan bayangan keduanya di atas meja.
“Kenapa tiba-tiba bertemu denganku?” tanya Lolitta datar.
Dev tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sebuah map dokumen dari tas kerjanya dan mendorongnya perlahan ke arah Lolitta.
“Lolitta, ada yang ingin aku berikan padamu.”
Lolitta mengerutkan kening, lalu membuka map itu. Matanya menyisir setiap lembar dokumen dengan teliti. Semakin lama, ekspresinya semakin sulit dibaca.
“Ji Group… kau mendapatkannya kembali?” Ia mengangkat pandangan menatap Dev. “Kenapa berinvestasi ke sana?”
Dev menautkan kedua tangannya di atas meja. “Aku tidak ingin Ji Group benar-benar jatuh dan tidak bisa bangkit. Itu peninggalan ibumu.” Suaranya melunak. “Lolitta, mulai besok kau harus ambil alih dan mengelolanya.”
Ucapan itu membuat Lolitta terdiam.
Beberapa detik terasa begitu panjang. Suasana di antara mereka menjadi sunyi, hanya terdengar suara pelayan dan dentingan sendok dari meja lain.
Perlahan, Lolitta menutup map itu dan mendorongnya kembali ke arah Dev.
“Aku tidak berencana mengambil alih,” jawab Lolitta tegas.
Dev mengernyit. “Kenapa? Bukankah kau menantang mereka demi Ji Group?”
Lolitta tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Iya. Tapi bagaimanapun juga, aku tidak akan mengambil alih. Dev, kau adalah investor terbesar sekarang. Aku ingin kau menjaganya dengan baik. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih dariku.”
“Apakah kau punya rencana lain?” tanya Dev, menatapnya lekat seolah ingin membaca isi hatinya.
“Benar,” jawab Lolitta mantap. “Aku suka dengan kehidupanku saat ini. Bisnis bukan keahlianku. Aku lebih suka bekerja di luar daripada duduk di kantor mengurus angka-angka.”
Dev terdiam sejenak, lalu suaranya melembut. “Lolitta, sebagai tunanganmu aku mendukung setiap pilihanmu. Aku akan membuat Ji Group kembali seperti dulu… dan menunggumu sampai kau siap mengambil alih.” Ia menatapnya penuh kesungguhan. “Aku hanya membantumu menjaganya. Tapi kau tetap pemilik aslinya. Beritahu aku setelah kau bersedia.”
Keheningan singkat menyelimuti mereka.
“Baiklah… terima kasih karena telah membantuku,” ucap Lolitta akhirnya.
Dev tersenyum hangat. “Jangan sungkan denganku. Kita bukan orang asing. Kita adalah keluarga.”
Perlahan, ia menggenggam tangan Lolitta di atas meja.
Lolitta terdiam. Tangannya tidak ditarik, namun juga tidak membalas genggaman itu.
***
Malam hari.
Lampu bar yang temaram memantulkan cahaya keemasan di gelas-gelas minuman. Musik pelan mengalun, namun tidak mampu mengusir kesunyian di hati Lolitta.
Ia duduk di kursi tinggi, segelas minuman keras di tangannya. Ken berdiri tidak jauh darinya, wajahnya penuh kekhawatiran.
“Nona, Ji Group dan rumah sudah kembali. Kenapa Anda masih terlihat sedih?” tanya Ken pelan.
Lolitta meneguk minumannya sebelum menjawab.
“Semua itu bukan benar-benar milikku,” ucapnya lirih. “Kau juga tahu aku tidak ingin seperti mamaku—hidup bergantung pada pria. Aku ingin mengandalkan diriku sendiri untuk mencari uang.”
“Tapi, Nona, Ji Group memang milik Anda. Itu bukan berarti Anda bergantung pada Tuan Zhang,” bantah Ken lembut.
Lolitta tertawa kecil, getir.
“Dev Zhang masih belum melupakan cinta pertamanya. Aku tidak mau semakin dalam mencintainya. Cukup sekadar akting di depan kakek.” Ia menatap cairan di gelasnya. “Aku masih ingat saat mama terluka karena mengetahui papa berselingkuh. Dia menangis setiap malam… sampai akhirnya jatuh sakit.”
Suaranya mulai bergetar.
“Sejak saat itu aku membenci pria. Aku mencintai pria yang sama selama ini… dan yang kulihat, dia mencintai wanita lain.” Ia tersenyum pahit. “Jadi kenapa sekarang aku harus mengemis cinta?”
Ken hanya bisa diam.
“Walau aku harus bekerja keras demi biaya hidupku, aku rela. Yang penting aku tidak mau berutang padanya, baik uang… maupun perasaan.”
“Kalau tidak ada urusan lagi, kau boleh pulang,” kata Lolitta tanpa menoleh pada Ken.
“Nona, saya akan mengantar Anda pulang,” ujar Ken khawatir.
“Tidak perlu. Aku ingin sendirian,” jawab Lolitta singkat.
Ken ragu sejenak, lalu menunduk. “Baiklah, Nona.” Ia pun beranjak pergi, meski hatinya tak tenang meninggalkan majikannya sendiri di bar malam itu.
Setelah Ken pergi, Lolitta kembali menatap gelas di tangannya.
“Karena pernah di penjara, namaku jadi buruk di mana-mana. Walau sudah banyak yang tahu aku hanya menggantikan wanita itu… tetap saja mereka memandangku sebagai narapidana yang tidak tahu malu,” gumamnya lirih.
Tatapannya kosong, namun rahangnya mengeras menahan emosi.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya.
“Nona cantik, kenapa duduk sendirian di sini? Tidak kesepian?” goda seorang pria dengan senyum meremehkan.
Lolitta melirik tajam ke arah pria itu. Tatapannya dingin dan penuh peringatan.
“Singkirkan tanganmu,” katanya sambil menepis kasar tangan pria tersebut.
Pria itu tertawa kecil. Tak lama kemudian, beberapa temannya mendekat. Mereka berdiri mengelilinginya dengan senyum licik.
“Sepertinya Nona ini butuh hiburan dari kami,” ucap salah satu dari mereka.
Lolitta memutar kursinya menghadap mereka sepenuhnya. Lima pria berdiri dengan ekspresi sinis, merasa unggul karena jumlah mereka lebih banyak.
“Kalian ingin menindasku karena aku sendirian?” tanya Lolitta tenang. “Apa tidak salah pilih orang?”
Salah satu dari mereka mendekat setengah langkah, jelas meremehkannya.
Di sisi lain ruangan, seorang pria berjas rapi yang baru saja masuk menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju pada kerumunan itu.
Sorot matanya berubah tajam saat melihat lima pria mengelilingi seorang gadis.
Ia tidak langsung bergerak, namun pandangannya tak lepas dari Lolitta.
"Gadis itu tidak asing," ucap pria itu pada asistennya yang berdiri di sampingnya.
"Namanya adalah Lolitta Fang, akhir-akhir ini keluarga Fang menjadi topik utama dalam negeri," jawab Asistennya.
"Lolitta Fang yang baru bebas dari penjara, cari tahu masa lalunya. Aku ingin tahu semua tentangnya!" perintahnya yang membuat asistennya langsung terkejut.