NovelToon NovelToon
Penjinak Hati Duda Hot

Penjinak Hati Duda Hot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

“Sadarlah, Kamu itu kunikahi semata-mata karena aku ingin mendapatkan keturunan bukan karena cinta! Janganlah menganggap kamu itu wanita yang paling berharga di hidupku! Jadi mulai detik ini kamu bukan lagi istriku! Pulanglah ke kampung halamanmu!”

Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong menghancurkan dunianya Citra.

“Ya Allah takdir apa yang telah Engkau tetapkan dan gariskan untukku? Disaat diriku kehilangan calon buah hatiku disaat itu pula suamiku yang doyan nikah begitu tega menceraikan diriku.”

Citra meratapi nasibnya yang begitu malang diceraikan oleh suaminya disaat baru saja kehilangan calon anak kembarnya.

Semakin diperparah ketika suaminya tanpa belas kasih tidak mau membantu membayar biaya pengobatannya selama di rawat di rumah sakit.

Akankah Citra mampu menghadapi ujian yang bertubi-tubi menghampiri kehidupannya yang begitu malang ataukah akan semakin terpuruk dalam jurang putus asa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

“Kamu selalu mampu membuat moodku enak dan membaik hanya melihatmu apalagi melihat Kamu tersenyum, berbicara dan disaat mengaji itu lah yang paling membuat hidupku nyaman,” batinnya Azrielvano.

Citra spontan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan tersenyum canggung melihat siapa orang tersebut.

“Wah, maaf Om Azriel,” sahut Citra sambil terkekeh kecil, tangannya tetap sigap merapikan perekat popok baby Jianira.

“Saya kira tadi tetangga sebelah ikut nimbrung ngaku-ngaku ternyata omnya baby twins yang paling ganteng paripurna sejagad raya,” lanjutnya bercanda, nada suaranya ringan tapi tetap sopan sadar diri siapa dia di rumah megah itu.

Azrielvano menyandarkan tubuhnya di kusen pintu, senyum jahil tak lepas dari wajahnya, jelas menikmati reaksi Citra.

“Kurang ajar, masa anak ponakan sendiri dibilang anak tetangga,” balasnya santai sambil memainkan sebuah bungkusan cokelat di tangannya..

Citra mengangkat bahunya, dan berpura-pura serius. “Lho, soalnya mirip Om Azriel juga sih. Yang satu gantengnya kebangetan, yang satu cantiknya bikin susah fokus kerja,” katanya sambil melirik Jay dan Jia bergantian.

“Aaa… uuu…” Jay bayi tujuh bulan itu ikut mengoceh, seolah menyahuti ucapan Citra.

“Nah kan,” Citra menunjuk bayi itu cepat, “saksi hidupnya protes nggak tuh,” candanya.

Azriel terkekeh pelan. “Kamu memang random, Cit.”

“Random tapi bertanggung jawab, Om,” jawab Citra enteng. “Bayi aman, popok bersih, hati tetap waras.”

Azrielvano melangkah mendekat, lalu berjongkok di depan boks bayi sambil melirik Citra sekilas. Senyumnya mengembang, nada suaranya sengaja dibuat santai.

“Heran deh,” ucapnya sambil pura-pura fokus ke Jay dan Jia padahal lirikan matanya selalu tertuju pada janda cantik itu, “bayinya makin gemoy, babysitternya juga makin glowing ini namanya paket lengkap.”

Citra mendengus kecil tanpa menoleh, tetap sibuk melipat popok kotor karena mendengar candaan yang bernada gombalan itu.

“Om Azriel salah fokus. Ini ruang bayi, bukan ruang penilaian visual,” balasnya asal, jelas tak menangkap pujian itu sebagai sesuatu yang serius.

“Lah, saya objektif banget loh sesuai dengan kenyataan malah,” Azrielvano tertawa. “Usia dua puluh lima tapi auranya kayak ibu muda idaman iklan susu.”

Citra akhirnya menoleh, menatapnya datar lalu nyengir.

“Wajar, Om. Ini efek kurang tidur, hormon ASI, sama sabun bayi. Gratis tanpa endorse.” sahutnya Citra sambil geleng-geleng kepala.

Jay tiba-tiba menendang-nendang kakinya, membuat Citra refleks mengusap perut si bayi.

“Tuh kan,” katanya santai, “anaknya aja setuju kalau Omnya yang satu ini kebanyakan ngomong.”

Azriel terkekeh, menggeleng pelan. “Kamu tuh susah diajak serius.”

Citra mengangkat bahu ringan.

“Lah, hidup saya udah cukup serius, Om. Bercandanya jangan ditarik ke hati.”

Azriel menyerahkan sebuah coklat kesukaannya Citra, sedangkan Citra mengerutkan keningnya.

“Lah ini apaan lagi Tuan Muda?” Tanyanya Citra yang tidak enak hati karena Azriel selalu memberikan hadiah kepadanya meskipun itu hadiah yang nilainya tak seberapa.

Azrielvano terdiam. Gerakan tangannya yang semula hendak menyodorkan bungkusan kecil itu berhenti di udara.

Rahangnya mengeras tipis, napasnya tertahan sesaat seolah ia baru saja ditarik kembali ke dunia nyata.

Matanya turun menatap cokelat di tangannya, lalu beralih ke wajah Citra. Ada kilat kecewa yang tak sempat ia sembunyikan, meski bibirnya berusaha tetap membentuk garis tenang.

“Oh…” suaranya keluar pelan, nyaris datar. “Jadi sejauh ini kamu mikirnya begitu.”

Ia menarik tangannya perlahan, menyelipkan kembali cokelat itu ke dalam saku jasnya. Bahunya tampak mengendur, seakan ada semangat kecil yang seketika runtuh tanpa suara.

“Aku nggak pernah kepikiran orang lain bakal menilai apa,” lanjutnya lebih lirih.

“Aku cuma… ya cuma pengin ngasih cokelat karena aku suka melihatmu makan coklat sesederhana itu kok,” ujarnya.

Azrielvano tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke hatinya yang jelas-jelas merasakan kekecewaan.

“Tenang saja. Mulai sekarang aku stop,” katanya akhirnya. “Aku nggak mau kamu merasa nggak nyaman atau merasa punya beban apa pun gara-gara aku.”

Ia memalingkan wajah, menyembunyikan raut kecewa yang semakin jelas. Tangannya mengepal singkat, lalu dilepaskan kembali, seolah ia sedang berusaha menerima sesuatu yang sebenarnya tak ingin ia lepaskan.

“Kenapa hal sekecil ini dia harus permasalahkan dan tolak padahal niatku cuman pengen melihat dia bahagia,” batinnya Azrielvano.

Tanpa mereka duga, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya dari balik pintu yang tak tertutup rapat. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal tanpa sadar.

“Kenapa baby sitter itu keganjengan menggoda Azriel!?

Sok ramah, sok manis dan selalu tebar pesona, sungutnya dalam hati, panas menjalar ke dada.”

Tatapannya beralih pada Azrielvano yang tertawa lepas di depan Citra.

“Baby twins itu anakku bukan anak dari adikku,” batinnya makin tajam.

“Namun kenapa Azriel malah berperan kayak papanya saja dan akhir-akhir ini selalu mendekati Citra si janda jelek dan kampungan itu!” Sungutnya Ardhanza sambil mengepalkan kepalan tangannya.

Nada kesalnya berdesakan dengan perasaan asing yang tak ia mengerti.

Ada amarah, ada rasa terancam, tapi juga kebingungan yang membuatnya makin geram pada dirinya sendiri.

Ia tak punya alasan jelas untuk semarah ini namun dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang direbut darinya, padahal ia sendiri tak tahu apa.

Ia menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak yang tak pantas muncul dibenaknya.

“Kenapa aku peduli dengan apa yang mereka lakukan?” sungutnya.

Pertanyaan itu menggantung, tak terjawab, sementara matanya masih terpaku pada tawa kecil yang ia benci dan entah kenapa tak sanggup ia alihkan.

“Hemph! Jangan-jangan Abang cemburu lihat kedekatan Abang Azriel sama Mbak Citra, ya?” tanya Ariestya tiba-tiba muncul di belakang tubuh tinggi tegap kakak pertamanya itu.

Sudut bibirnya terangkat, senyumnya penuh arti, jelas menangkap kecemburuan terselubung yang barusan terpancar di wajah sang duda hot.

Ardhanza langsung menoleh, sorot matanya tajam.

“Kamu jangan asal ngomong dan nuduh!” bentaknya tertahan.

“Aku ini CEO TD Corp. Nggak mungkin tertarik sama perempuan modelan seperti dia. Kami jelas nggak selevel!” sangkalnya.

Ariestya malah menyilangkan tangan di dada, santai tapi menyebalkan.

“Oh ya? Tapi dari tadi urat leher Abang tegang, rahang mengeras, tatapan kayak mau baku hantam. Itu ciri khas orang lagi santai atau lagi cemburu sih, Bang?” tanyanya yang bernada mengejek.

“Kurang ajar,” geram Ardhanza. “Aku cuma nggak suka Azriel kelewat batas di depan anak-anakku.”

“Alasan klasik,” sahut Ariestya cepat.

“Padahal yang ribut itu hati Abang sendiri.”

Ardhanza mendecak kesal mendengar segala ucapan adiknya yang memang benar adanya.

“Aku sudah punya tunangan, Inara Irena. Jelas jauh lebih baik dari Citra, dari segala sisi dan hal termasuk kecantikan, pendidikan dan masa depannya. Jadi nggak mungkin banget apa yang barusan kamu tuduhkan itu benar!” tampik Ardhanza yang juga sejujurnya kebingungan dengan apa yang terjadi padanya saat ini.

“Hmm… menarik,” Ariestya mendekat setengah langkah ke arah kakaknya.

“Orang yang nggak tertarik biasanya nggak perlu repot-repot bandingkan kekasih dengan pengasuh anaknya Abang.” tukasnya.

“Diam kamu!” Ardhanza menunjuk adiknya. “Jangan bawa-bawa perasaan yang nggak mungkin ada dan mustahil aku rasakan.”

Ariestya terkekeh, mundur selangkah sambil mengangkat kedua tangannya.

“Oke, oke. Anggap aja aku salah. Anggap saja aja Abang cuma ayah super protektif yang kebetulan panas dingin tiap lihat Mbak Citra ketawa sama pria lain.” imbuhnya.

Ardhanza memalingkan wajah, napasnya berat. “Dasar bocah,” gumamnya.

“Siap, Bang. Bocah,” balas Ariestya enteng.

“Tapi bocah ini yakin kalau Tom lagi ngejar Jerry, cuma gengsinya aja yang kegedean buat ngaku dan jujur apa yang terjadi pada hatinya.”

Mereka kembali berbalas tatapan sengit, adu mulut tanpa benar-benar marah lebih mirip kejar-kejaran ala Tom and Jerry, sementara Ardhanza tetap keras menyangkal satu hal yang pelan-pelan mulai mengusik ketenangannya sendiri.

Azrielvano menunduk, pandangannya kosong menatap lantai marmer yang dingin. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tak ia pahami sepenuhnya.

“Jadi sejauh ini aku cuma jadi majikan yang berlebihan di matanya,” batinnya getir.

Ada rasa kecewa yang merambat pelan, bukan karena cokelat itu ditolak, tapi karena niat sederhananya seolah diberi jarak.

DIa tak pernah berniat membeli perhatian, apalagi membuat Citra merasa rendah atau berhutang budi. Ia hanya ingin memberi, tanpa alasan, tanpa pamrih.

“Kenapa rasanya seperti ditolak bukan hadiahnya, tapi aku?” Azrielvano membatin.

Azrielvano menghela napas panjang. Tangannya mengepal, lalu mengendur kembali. Ia sadar, Citra hanya menjaga batas, menjaga dirinya sendiri.

Tapi tetap saja, ada bagian kecil di hatinya yang terluka bagian yang selama ini jarang ia biarkan hidup untuk wanita manapun.

“Mulai sekarang aku harus biasa saja,” katanya dalam hati, memaksa diri untuk kembali ke perannya sebagai Tuan Muda yang dingin dan berjarak.

Namun perasaan itu tertinggal, mengendap diam-diam, menjadi kecewa yang tak terucap, menunggu waktu untuk kembali muncul saat ia mengingat senyum Citra yang kini terasa semakin jauh.

Azriel kemudian meninggalkan kamar kedua keponakan kembarnya dengan hati yang kacau dan frustasi karena patah hati.

Kalimat itu bergetar di dadanya, menjadi doa yang hanya berani diucapkan dalam hati.

“Tapi aku terlanjur mencintainya, Tuhan…”

Azrielvano menelan ludah, napasnya terasa berat.

“Aku sangat menyayanginya, ya Allah… bukan sekadar sebagai pengasuh di rumah ini sedari awal aku melihat dia datang ke rumah ini,” gumamnya.

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan perasaan itu mengalir tanpa perlawanan. Ada pasrah yang bercampur harap, ada takut yang berdampingan dengan keyakinan.

“Kalau memang perasaan ini bukan salah, bukakan pintu hatinya…” doanya lirih.

“Lembutkan hatinya, ya Allah. Jadikan Citra hanya untukku, jika itu memang yang terbaik menurut-Mu.” cicitnya.

Namun setelah doa itu meluncur, ia justru merasa semakin kecil. Karena ia sadar, cinta tak bisa dipaksa dankepada Tuhan ia hanya bisa memohon, bukan menuntut.

Citra berdiri di sisi lemari kecil kamar bayi, tangannya sibuk mengecek pakaian si kembar satu per satu.

Kaos ganti, topi kecil, jaket tipis semuanya ia rapikan dengan teliti. Namun sesekali, pandangannya terangkat ke arah pintu.

Langkah Azriel yang menjauh masih sempat tertangkap oleh sudut matanya.

Ia terdiam sejenak. Ada rasa tak enak yang menyelip di dadanya, samar tapi nyata.

Raut kecewa Azriel tadi masih terbayang jelas, membuat jemarinya tanpa sadar berhenti bergerak.

Citra, kamu nggak boleh macam-macam, batinnya mengingatkan diri sendiri. Kamu di sini untuk kerja.

Ia kembali fokus, menarik nafas pelan, lalu melipat pakaian si kembar dengan lebih rapi.

Hari ini Ardhanza papa kandung mereka akan membawa kedua bayi itu jalan-jalan. Ia tak boleh lengah, tak boleh terbawa perasaan.

Namun ketika suara langkah Azriel benar-benar menghilang, Citra menoleh sekali lagi ke arah pintu yang kini tertutup.

“Maaf, aku datang ke sini bukan untuk mengacaukan tapi aku datang mencari nafkah untuk kehidupan aku yang terlahir anak yatim tanpa mengetahui siapa mamaku hanya mampu mengenang kebaikan ayah yang sesaat,” gumamnya hampir tak terdengar, entah ditujukan pada siapa.

Tangannya kembali bekerja, tapi hatinya terasa sedikit berat, seolah ada sesuatu yang baru saja pergi tanpa ia sempat menahannya.

Citra menghela nafasnya dengan perlahan," Maaf, aku tidak akan pernah membuka hatiku lagi untuk lelaki manapun untuk sementara waktu, cukup Mas Ardiansyah yang dulu menyakitiku dan semua pria di dunia ini sama saja."

Citra melamun sendiri memikirkan apa yang seharusnya diperbuatnya selama menjadi pengasuh hingga suara seseorang membuyarkan lamunannya.

"Apa kamu sudah siap!?"

Citra sontak mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan langsung terkejut melihat orang yang baru datang.

1
Intan Melani
y banyak Napa thor upnya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak 😍
total 1 replies
Aqella Lindi
lanjut ya thor jgn lama
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah...
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎💎
Aqella Lindi
tetap d tguya thor semangat💪
Aqella Lindi
jgn lama2 ya thor nti lupa ceritany
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Evi Lusiana
dasar laki² gila lo yg nyakitin,nyerai in tp msih jg mo ngganggu hidupny dasr gak waras
Evi Lusiana
sungguh kluarga ardian yg toxic itu pst dpt balasan tlh menyakiti mendholimi mnsia ber akhlak baik sprti citra
Evi Lusiana
menggelikan satu kluarga toxic tunggu sj karma kalian
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
💃💃💃💃💃
Sastri Dalila
😅😅😅 semangat Citra
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: makasih banyak kak 🙏🏻🥰
total 1 replies
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Adrian tabur tuai pasti ada .ingat apa yg kamu tuai itu yg akan kamu dpt, dasar mantan suami iblis
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
Bagus Citra.. usah di balas dgn kejahatan pd org yg tlh berbuat jahat kpd kamu.
Sastri Dalila
👍👍👍
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
semoga bener Citra itu anak pak Ridho yg hilang. aduhhh Citra terima saja pekerjaan yg ditawarkan semoga kehidupan kamu berubah dgn lbh baik lagi.
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
rose pasti akan menerima nasib yg sama seperti Citra, jgn terlalu sombong kerna karma itu ada. apa yg dituai itu yg kamu dpt begitu juga dgn ibu serta sdra Andrian yg sudah menyakiti hati dan mental Cutra
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
siapa yg dtg ya
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: ditebak kira-kira siapa???
total 1 replies
§𝆺𝅥⃝©༆𝓐𝓯𝔂𝓪♡𝓣𝓪𝓷༆ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥
ayuh Citra ga usah peduli dgn kata2 pedas dari keluarga mantan sok percaya diri bgt mereka.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!