NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memorable Love 2

Pagi menjelang, seperti biasa Janice bangun lebih awal. Saat ia turun ke bawah, seorang bibi yang bekerja di rumah Stendy pun menyapanya dengan lembut. 

“Pagi, Nona.” 

Janice tersenyum, dan berkata. “Pagi juga, Bibi. Bagaimana dengan putramu, apakah dia sudah lebih baik?” tanya Janice dengan begitu sopan dan ramah. 

Bibi Jane tersenyum dengan wajah berserinya. “Sudah lebih baik, Nona. Ini juga berkat kau dan Tuan Stendy,” jawab Jane. 

Janice tersenyum sambil mengusap lengan Jane. “Jangan sungkan seperti itu, Bi. Bibi sudah lama bekerja di keluarga Canet. Jadi, apa salahnya membantu sedikit untuk meringankan beban Bibi dan keluarga. Lagi pula aku sangat tahu, kalau Stendy selalu menyayangi Bibi Jane dan juga Bibi Ivy,” ucap Janice. 

Di keluarga Canet, Jane dan Ivy adalah dua orang yang paling di sayang dan paling dipercaya oleh Stendy. Sebab kedua orang itu sudah merawat Stendy sejak lahir. Kesibukan kedua orang Stendy membuat pria itu lebih dekat pada Jane dan Ivy, yang bekerja sebagai pengasuh dan pelayanan saat itu. 

Mata Jane terus mengamati penampilan nona mudanya. Ia tahu bahwa nona mudanya itu sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi, dirinya tidak berani untuk sekedar bertanya. Jane takut nantinya akan menyinggung perasaan Janice. Janice tahu dirinya sedang diperhatikan oleh Jane, untuk itu ia pun mengalihkan diri dengan alasan mau membuat sarapan. 

“Aku mau membuat sarapan untuk Stendy,” 

Jane tersadar dengan apa yang dia lakukan. Ia pun menunduk dan mempersilakan Janice untuk menuju dapur. 

“Biar saya bantu, Nona.” 

Janice hanya tersenyum menanggapi. Mereka berdua pun bekerja sama menyiapkan sarapan untuk Stendy dan Janice. Jane masih terus mencuri pandangannya ke arah wajah Janice yang pagi ini terlihat murung. Namun, wajah murung itu akan menghilang saat Janice sedang bicara atau bertatap muka dengan Jane. 

Jane menatap nanar pada sosok nona mudanya yang baik hati itu. Entah apa yang terjadi saat dirinya sedang mengambil cuti, karena putra sulungnya mengalami kecelakaan. Setelah satu Minggu cuti Jane kembali dua hari yang lalu. Dia baru tiba di villa milik Stendy pukul 5 pagi, namun setelah kembali bekerja di villa itu Jane malah melihat wajah Janice tidak sama seperti dulu. Ceria dan murah senyum. Akan tetapi, hari ini sangatlah berbeda. 

Jane semakin mengerutkan dahinya saat ia tidak sengaja melihat senyum kelu  di wajah Janice. Dirinya semakin curiga, kalau ada hal yang terjadi di antara tuan dan nona mudanya itu. 

“Aku akan ke atas untuk membangunkan Stendy,” kata Janice dengan tidak seantusias dulu. 

Sikap itu menjadi perhatian Jane. Kecurigaannya semakin mendalam, karena pagi ini Janice tidak terlihat begitu bahagia. Biasanya setelah menyiapkan sarapan untuk Stendy. Janice akan terlihat bersemangat sambil bertepuk tangan dengan wajah cerianya, karena telah berhasil membuat sarapan untuk Stendy. Tapi, kali ini tidak. Jane tidak menemukan wajah ceria dan semangat itu dalam diri Janice. 

Jane mendesah dan berdoa dalam hatinya, agar hubungan tuan muda dan nona mudanya baik-baik saja. 

Di lantai atas, Janice mengetuk pintu kamar Stendy. Mereka memang satu rumah, sebab semenjak mereka berpacaran, Janice begitu ingin dekat dengan Stendy. Janice yang sering datang ke villa milik Stendy pun, mengusulkan diri untuk tinggal bersama Stendy. Karena rasa cintanya pada Stendy yang begitu besar, membuat Janice berpikir untuk lebih dekat dengan kekasihnya itu. Karena ia ingin mengurus Stendy. Akan tetapi Stendy tidak mau satu kamar dengan Janice. Dengan alasan takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. 

Janice tidak berpikir terlalu jauh, dirinya hanya berpikir kalau Stendy ingin menjaganya sampai suatu hari mereka terikat dengan ikatan suci pernikahan. Namun, setelah semuanya terungkap akankah Janice masih menginginkan pernikahan dengan Stendy? 

Janice berhenti mengetuk saat mengingat kembali dimana dirinya pertama kali masuk ke dalam kamar Stendy. Saat itu Janice tidak pernah berburuk sangka pada Stendy, dan langsung masuk saja ke dalam kamar kekasihnya itu. Akan tetapi, saat masuk ke dalam kamar ia sangat terkejut ketika melihat foto wanita di dalam bingkai kecil yang ada di atas nakas samping tempat tidur. 

Saat itu Stendy baru keluar dari dalam kamar mandi, membuat Janice membeku. Saat itu juga Stendy membentaknya dan kesal pada Janice. Karena wanita itu masuk tanpa izin. Semenjak saat itu Janice selalu mengetuk pintu kamar Stendy saat membangunkan pria itu. Janice tidak mau membuat Stendy marah lagi padanya. Janice takut kehilangan pria yang sangat ia cintai itu. Janice memilih untuk mengalah dan menuruti keinginan Stendy. 

Mengingat itu semua Janice kembali merutuki dirinya yang bodoh, hanya demi seorang pria yang nyatanya tidak sama sekali menghargainya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes kembali. Janice tertawa getir dalam hatinya, lalu ia  mendesah kasar sambil menengadahkan wajahnya, dengan mata berkedip cepat. Ia tidak ingin kembali menangis lagi, cukup tadi dan semalam saja ia menangisi semuanya. 

Janice kembali mengetuk pintu kamar Stendy, dan barulah pria itu menyahut dari dalam kamar. Lalu pintu pun terbuka, terlihat Stendy yang baru saja bangun tidur. 

“Aku sudah menyiapkan sarapan. Aku akan menunggumu di bawah,” ucap Janice yang membuat Stendy mengerutkan dahinya. 

Nada bicara Janice sangat berbeda, tidak seperti dulu yang begitu antusias. Stendy hanya mengangguk, dan Janice pun tersenyum. Lalu wanita itu pun berbalik badan dan berjalan meninggalkan Stendy yang masih diam di depan pintu. 

“Ada apa dengannya?” Stendy menggelengkan kepalanya. 

Lalu ia menghela nafas sambil menutup pintu kamarnya. Stendy sudah tidak aneh lagi dengan sikap Janice. Karena ia tahu wanita itu hanya sedang mencari perhatian darinya. 

Stendy berpikir seperti itu, karena memang dulu Janice selalu membuat alasan untuk menarik perhatian Stendy. Jadi, kali ini Stendy tidak akan terpengaruh oleh perubahan sikap yang Janice tunjukkan. 

Dulu Janice memang suka menjilat untuk mendapatkan perhatian Stendy. Akan tetapi sikap Stendy yang selalu dingin tidak pernah menyurutkan tekad Janice untuk mendapatkan dirinya. Sampai suatu saat dengan sangat terpaksa Stendy menerima Janice sebagai kekasihnya. 

Itu pun Stendy lakukan, karena ucapan kedua orang tuanya. Mereka meminta untuk menerima cinta Janice, sebab Janice adalah wanita yang baik menurut mereka. Entah apa yang membuat kedua orang tua Janice begitu menginginkan Janice menjadi menantu di keluarga Canet. Sampai saat ini Stendy tidak tahu jawabannya. Bahkan untuk mencintai Janice saja, Stendy tidak akan bisa. Karena melihat sikap dan perilaku Janice yang selalu menjilatnya,  membuat Stendy semakin kesal dan juga membenci wanita itu. 

Di ruang makan Janice menunggu Stendy sendirian. Tatapannya begitu kosong saat menatap menu makanan yang dibuatnya bersama dengan Bibi Jane. Sampai ia tersadar saat mendengar suara langkah dari tangga. Janice memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum di depan Stendy, agar pria itu tidak curiga padanya. 

“Ayo, sarapan.” Janice seperti biasa melayani Stendy. 

Janice mengambilkan nasi merah dan beberapa lauk untuk Stendy. Stendy melirik piring yang Janice. Di sana hanya ada roti panggang  dengan selai srikaya dan juga ada jus alpukat. Alis Stendy terangkat satu, dan kemudian ia bertanya pada Janice. 

“Kau hanya sarapan dengan itu saja?” tanya Stendy tanpa melihat ke arah Janice. 

Janice melirik sekilas ke arah roti bakar miliknya, dan tersenyum. “Iya, aku pagi ini sedang ingin makan roti panggang,” jawab Janice. 

Stendy hanya mengangguk dan kembali fokus pada makanannya. Sementara itu di bandara, seorang wanita cantik berdiri dengan anggun sambil memegang koper yang dibawanya. 

“Harisa,” 

Wanita itu menoleh dan tersenyum lembut, ketika melihat sosok pria yang selalu bersikap ramah padanya. 

“Kenapa kamu yang jemput aku? Mengapa bukan Stendy yang menjemputku?” 

Harisa merasa kecewa, sebab yang datang menjemputnya di bandara adalah Yohan. Yohan tersenyum melihat Harisa yang mengerucutkan bibirnya. 

“Stendy sedang ada meeting penting. Jadi, dia tidak bisa menjemputmu dan memintaku yang menjemputmu.” Yohan menjelaskan kenapa dirinya yang menjemput Harisa di bandara. 

Harisa terlihat begitu kecewa. Yohan hanya bisa mendesah pelan melihat kekecewaan Harisa. 

“Sudahlah... Nanti kalian juga akan bertemu,” bujuk Yohan. “Ayo, sebaiknya kita pulang. Aku tahu kamu pasti juga lelah karena perjalan cukup jauh,” ucap Yohan lagi. 

Harisa tersenyum dan mengangguk. Mereka pun segera menuju mobil dan Yohan membantu memasukkan koper Harisa ke dalam bagasi mobil. 

Di villa keluarga Arkana, Tuan Jason sedang duduk sambil memeriksa beberapa laporan perkembangan bisnis kulinernya yang baru saja asistennya antarkan. Hari ini Jason memilih untuk tidak berangkat ke restoran, sebab ia teringat harus mengurus sesuatu yang lebih penting. 

Mengingat semalam putri semata wayangnya telah menghubunginya. Mengingat Janice, Jason menghentikan sejenak aktivitasnya saat memeriksa dokumen laporan tersebut. Lalu ia pun melirik ke arah asistennya. 

“Calvin,” panggil Jason pada sang asisten. 

“Iya, Paman, ada yang bisa saya bantu?” tanya Calvin. 

Jason memang meminta Calvin untuk memanggilnya paman, tanpa embel tuan atau bos. Jason  menatap pria yang hanya terpaut lima tahun dengan Janice itu. Jason membenarkan kacamatanya sebelum ia melanjutkan ucapannya. 

“Bagaimana dengan program sarjana untuk Janice. Apakah kamu sudah mengurusnya?” tanya Jason. 

Calvin mengangguk, “Sudah, paman. Minggu depan Janice sudah bisa berangkat ke negara S,” jawab Calvin dengan tegas. 

Jason tersenyum dan mengangguk, “Kalau begitu, nanti akan aku hubungi dia. Janice pasti senang mendengarnya,” 

Calvin hanya diam dan tidak menjawab ucapan atasannya itu. Sebab dalam hatinya masih merasakan keraguan atas keputusan nona mudanya itu. Perubahan raut wajah Calvin membuat Jason mengerutkan dahinya. 

“Ada apa, Calvin? Mengapa wajahmu berubah masam seperti itu?” selidik Jason dengan tatapan memicing. 

Calvin mengerjapkan matanya, ia merasa bersalah pada tuannya itu. “Ah, tidak ada apa-apa. Hanya saja..” Calvin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan ucapannya. 

“Apakah Janice benar-benar ingin kembali melanjutkan sekolahnya, Paman? Karena seperti yang kita tahu, kalau Janice sangat mencintai pria itu dan…” 

“Aku tahu apa yang kamu  khawatirkan, Calvin.” Jason langsung memotong ucapan Calvin. 

Tatapan keduanya bertemu, Calvin sedikit tertegun saat melihat sorot mata penuh keyakinan dari pria paruh baya yang duduk di seberangnya itu. Tambah lagi atasannya itu kini tengah tersenyum, walaupun tipis. Tapi, Calvin benar-benar tertegun. Karena sudah cukup lama sekali Calvin tidak pernah melihat senyum di wajah pria itu. Semenjak Janice memutuskan untuk berhenti kuliah dan memilih mengurus Stendy sebagai kekasihnya, saat itulah Jason tidak pernah tersenyum. Calvin tahu tuannya itu sangat kecewa pada keputusan yang Janice ambil. 

“Aku sangat yakin kali ini Janice tidak akan mengecewakanku seperti dulu,” kata Jason dengan sangat yakin. 

Calvin hanya bisa  tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu Jason pun membalas senyuman asistennya itu. Pria paruh baya itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya. 

Satu jam berlalu, kini Jason sedang duduk bersama sang istri. Kegiatan yang sering dilakukan oleh keduanya, duduk sambil menikmati secangkir teh di taman belakang villa keluarga Arkana. 

“Bagaimana pertemuanmu dengan Janice hari ini?” Jason membuka topik pembicaraan mereka. 

Jason juga sedikit melirik ke arah istrinya, tatapannya begitu teduh saat melihat senyum sang istri. 

“Dia masih sama seperti dulu. Tidak pernah berubah,” jawab Naomi seraya tersenyum seolah sedang mengingat pertemuan antara dirinya dan Janice di restoran milik Karina, sahabat Janice. 

Jason pun tersenyum melihat istrinya kembali merasakan kebahagiaan. Pria itu meraih tangan sang istri dan memberi usapan lembut. Membuat Naomi melebarkan senyumannya. 

“Janice adalah putri kita, dan selamanya tetap akan menjadi putri kecil kita,” ujar Jason. 

“Tapi, dia sudah sangat besar dan sudah tahu yang namanya jatuh cinta,” keluh Naomi. 

Jason mendesah kasar, tatapannya lurus ke depan. Ada luka kecil yang kembali terbuka saat mengingat kejadian yang lalu. 

“Dimataku Janice tetaplah putri kecil kita. Sampai suatu hari nanti, ada seorang pangeran tampan dan bertanggung jawab datang menemuiku untuk meminta restu menikahi putri kecilku,” Jason berkata sambil tersenyum menatap Naomi. 

Mata Naomi kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Jason. Dengan rasa harunya ia mengangguk dan membenarkan apa yang dikatakan suaminya. Jason yang melihat air mata Naomi menetes pun segera mengusapnya dengan ibu jarinya. 

“Minggu depan Janice sudah bisa berangkat untuk melanjutkan kuliahnya,” kata Jason. 

“Benarkah?” Mata Naomi berbinar cerah. 

Wanita itu sangat senang mendengarnya, itu artinya ia dan Janice akan tinggal bersama. 

Jason tersenyum dan mengangguk, “Itu benar, sayang. Minggu depan kita semua sudah bisa tinggal di negara S. Disana kita akan memulai kembali membangun keluarga kecil kita, karena putri kita telah kembali. Semoga saja tidak ada halangan, jadi kita bisa berangkat sama-sama dengan Janice,” 

Naomi langsung memeluk sang suami, wanita itu menangis bahagia mendengarnya. Naomi bisa membayangkan nanti mereka bertiga bisa kembali seperti dulu. Itu juga artinya Jason akan mulai fokus dengan usahanya yang juga ada di negara Woozi tersebut. 

Di villa Stendy, Janice terus tersenyum saat mengingat pertemuannya dengan sang ibu. Janice pikir, ibunya itu akan terlihat kesal dan enggan bertemu dengannya. Namun, semua bayangan itu sirna begitu saja saat Naomi langsung memeluknya. Pertemuan itu menjadi haru saat mereka meluapkan rasa rindu yang sudah tertahan dua tahun itu. 

Bibi Jane tersenyum saat melihat Janice yang sedang senyum-senyum sendirian. Wanita itu pun mendekat ke arah nona mudanya itu. 

“Sepertinya suasana hatimu sedang baik,” bibi Jane datang sambil membawa nampan yang berisi cemilan dan secangkir teh untuk Janice. 

Janice tersenyum dan menerima nampan tersebut. “Hmm, aku senang bisa bertemu dengan teman-teman lamaku,” jawab Janice terpaksa berbohong. 

Janice melakukan itu pun ada sebabnya. Mengingat Jane adalah orang kepercayaan keluarga Canet. Janice hanya tidak mau apa yang dilakukannya selalu dilaporkan pada kedua orang tua Stendy dan juga Stendy sendiri. 

“Sering-seringlah keluar dan bertemu teman-teman lama anda Nona. Bibi tahu kamu juga pasti jenuh berdiam diri di villa yang cukup besar ini,” saran Jane terdengar tulus. 

Janice menoleh dan menatap Jane dengan tatapan sulit diartikan. Lalu Jane pun mendesah pelan. 

“Bibi tahu, kalau selama ini Nona pasti berpikir bibi akan melaporkan semua hal yang nona Janice lakukan pada Tuan muda atau Tuan besar,” ucap Jane yang membuat Janice merasa sedikit bersalah. 

Janice menggeleng dengan cepat, dan meraih tangan Jane. “Tidak, Bi. Jangan berpikir seperti itu,” jawab Janice. 

Janice segera menyanggah apa yang dikatakan oleh Jane. Jane tersenyum sambil menepuk punggung tangan Janice. 

“Nona, apapun yang terjadi kedepannya. Berjanjilah pada Bibi, kalau Nona akan terus bahagia. Lakukanlah apa yang menurut Nona benar, dan raihlah kebahagiaanmu sendiri.” 

Ada makna yang tersirat dari ucapan yang dikatakan Jane pada Janice. Namun, Janice tidak menanggapinya. Ia hanya tersenyum dan mengangguk. Walau sebenarnya dalam hatinya sangat ingin bertanya tentang maksud dari ucapan bibi Jane. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!