Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Virus Bucin
Arka mendongak datar. "Taruh saja disana Cindy. Aku sedang membantu Alana mengecek detail maketnya. Dan oh.." Arka menjeda kalimatnya sambil merangkul bahu Alana dengan posesif. ..."kenalkan, ini Alana. Kekasihku. Jadi kalau ada urusan kedepannya, kamu bisa hubungi asistenku atau langsung ke ruang senat saja, supaya waktuku dengan Alana tidak terganggu."
Wajah Cindy berubah pucat. Ia hanya bisa mengangguk kaku dan segera pergi dari sana dengan langkah seribu, diiringi bisik-bisik riuh penghuni kantin.
Setelah Cindy pergi, Alana menyikut pelan lengan Arka. "Kamu terlalu jujur, Arka. Lihat, dia sampai gemetaran begitu.
"Aku nggak suka membuang waktu dengan orang yang punya maksud tersembunyi, Na. Aku sudah belajar itu dari kasus Christian," ujar Arka dengan ekspresi yang melembut saat menatap mata Alana. "Dulu aku merasa sendirian di puncak, semua orang mendekat karena namaku. Tapi kamu... kamu memarahi Arka sang manusia, bukan Arka sang Aditama."
Alana tersenyum tulus. Ia mengambil pensil sketsanya dan menggambar sebuah simbol hati kecil dipinggiran buku catatan Arka.
"Terima kasih sudah memilih untuk tetap tinggal, walau aku pernah sangat jahat," ucap Alana lirih.
Arka mengambil pensil itu dari tangan Alana, lalu menyambung gambar hati tersebut dengan garis panjang yang membentuk nama mereka berdua.
"Bukan aku yang memilih tinggal, Alana. Hatiku yang memang tidak mau pergi kemana-mana lagi."
Setelah selesai urusan mereka di kantin, Arka dan Alana pergi meninggalkan kantin utama itu diikuti oleh pandangan mata iri dari semua yang ada di kantin.
Lantai dasar gedung arsitektur hari itu terasa lebih panas dari biasanya, bukan karena cuaca, melainkan karena hawa kecemburuan yang membara dari sudut-sudut koridor.
Arka berjalan santai sambil merangkul pundak Alana, sesekali ia tertawa kecil mendengar cerita Alana tentang dosen mereka yang killer. Pemandangan itu seperti belati yang menghujam hati para penggemar rahasia Arka.
Saat pasangan itu melewati lobi, sekelompok.mahasiswi yang sedang berkumpul di dekat mading mulai saling berbisik tajam.
"Sumpah, aku masih nggak rela," desis Sinta seorang mahasiswi tingkat tiga yang sudah lama mengejar Arka. "Lihat deh, Arka sampai rela membawakan tas sketsanya yang segede gaban itu. Arka Aditama, lho! yang biasanya dingin banget sama cewek."
"Iya, bener. Padahal Alana itu biasa aja kan? Cuma anak baru yang dapet keberuntungan karena kasus kemarin," timbal temannya, matanya tidak lepas dari tangan Arka yang mengusap kepala Alana dengan sayang.
"Beruntung? itu sih namanya strategi! Dia pura-pura jadi korban biar Arka kasihan. Eh, taunya malah keterusan menjadi pacar. Mana sekarang Arka jadi protektif banget lagi. Aku aja pernah minta foto bareng di tolak mentah-mentah, eh, si Alana malah dicium keningnya di depan umum."
Percakapan penuh dengki itu terus berlanjut, namun Arka dan Alana sudah terlalu jauh untuk mendengar. Arka sempat melirik sekilas ke arah kerumunan itu, memberikan tatapan tajam yang membuat mereka langsung bungkam seketika.
Arka membawa Alana ke sebuah toko buku besar di Jakarta pusat. Begitu masuk ke area buku arsitektur dan desain, Arka langsung menjadi sosok yang sangat teliti.
"Na, buku The Architecture of Happiness ini bagus untuk referensi konsep psikologi ruang di proyek kita," ujar Arka sambil mengambil buku tebal dari rak paling atas yang tidak terjangkau oleh Alana.
Alana mencoba mengambil buku lain di sampingnya, namun kakinya sedikit berjinjit. Tanpa berkata apa-apa, Arka berdiri di belakang Alana, melingkarkan lengannya untuk mengambilkan buku itu, membuat posisi Alana seolah-olah sedang dipeluk dari belakang.
"Mau yang ini juga?" bisik Arka tepat di samping telinganya Alana.
Wajah Alana memerah sempurna. "Ar, Arka, ini tempat umum..."
Arka terkekeh, ia meletakkan buku itu di keranjang yang ia bawa dan tetap berdiri dekat dengan Alana. "Aku cuma mau memastikan partner proyekku dan pacarku nggak perlu kesusahan untuk hal kecil sekalipun."
Setelah mendapatkan semua buku yang dibutuhkan, mereka berpindah ke sebuah restoran rooftop di mall yang sama. Dari jendela besar, kerlap kerlip lampu Jakarta mulai terlihat cantik.
Arka menarikkan kursi untuk Alana sebelum ia sendiri duduk. Ia memesankan makanan favorit Alana tanpa perlu bertanya, menunjukkan betapa ia memperhatikan detail kecil tentang gadis tu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Alana malu-malu saat menyadari Arka terus menatapnya sambil menopang dagu.
"Hanya sedang berpikir," jawab Arka tenang. "Dulu aku benci ke mall atau tempat ramai karena semua orang melihatku sebagai Aditama. Tapi sekarang aku nggak peduli mereka melihat apa, asalkan di depanku ada kamu."
Alana menyentuh tangan Arka di atas meja. "Terima kasih, Arka. Kamu membuatku merasa menjadi orang paling beruntung, padahal dulu aku sangat menyebalkan."
Arka membalikkan telapak tangannya, menggenggam jemari Alana erat. "Kamu bukan beruntung, kita hanya saling menemukan di waktu yang tepat. Sekarang habiskan makan malammu, lalu kita pulang. Aku nggak mau kamu kecapean buat asistensi besok."
Alana tersenyum. Setelah mereka selesai makan, mereka pun meninggalkan restoran itu.
Arka mengantarkan Alana pulang ke rumahnya. Mobil SUV hitam milik Arka berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah minimalis yang asri. Arka segera turun dan memutari mobil mobil untuk membukakan pintu bagi Alana, sebuah gestur yang kini menjadi kebiasaan alaminya.
'Terima kasih, Arka," ucap Alana lembut saat mereka berjalan menuju teras.
Ternyata Bapak dan Ibu Alana sudah menunggu di ruang tamu. Ini adalah pertama kalinya Arka bertemu mereka secara resmi sebagai kekasih Alana. Arka menyalami kedua orang tua Alana dengan sangat sopan.
"Jadi ini nak Arka yang diceritakan Alana?" tanya Bapak Alana sambil tersenyum hangat. "Terima kasih, ya. Sudah menjaga putri kami. Alana banyak bercerita betapa kamu sangat mendukungnya akhir-akhir ini."
Arka tersenyum rendah hati. "Sudah kewajiban saya, Om. Alana adalah orang yang sangat spesial bagi saya."
Ibu Alana pun ikut menggoda, "Wah, pantesan Alana belakangan ini wajahnya cerah terus, ternyata karena ada Arka, ya?"
Suasana malam itu penuh dengan tawa dan kehangatan. Arka menunjukkan sisi dirinya yang sangat berbeda dari "Pangeran Kampus" yang dingin. Ia adalah pemuda yang santun dan sangat menghargai keluarga.
Keesokan harinya, Arka baru saja tiba di basecamp tempat ia biasanya berkumpul dengan dengan kedua sahabat karibnya, Budi dan Satria. Begitu ia melangkah masuk, sambil asyik membalas pesan di ponselnya dengan senyum-senyum sendiri, Budi dan Satria langsung saling lirik.
"Ehem, ada yang bau-bau parfum baru nih," sindir Satria sambil menyendiri ke meja. "Parfum rasa bucin." sambungnya lagi.
Budi tertawa keras sambil melemparkan kacang ke arah Arka. "Woi, tuan muda Aditama! Masih ingat jalan pulang ke basecamp? Kita kita kamu sudah pindah domisili ke depan rumah Alana."
Arka hanya mendengus sambil duduk, tapi senyumnya tidak hilang. "Berisik kalian."
"Eh, serius deh, Ka," Budi mendekat dengan wajah dibuat-buat serius. "Sekarang kalau kita ajak bermain basket, jawabannya, "Duh, mau anter Alana ke perpus". Kita ajak mabar, jawabannya, "Sorry lagi temenin Alana gambar sketsa". Kamu tuh Arka Aditama atau asisten pribadinya Alana sih?"
Satria menimpali sambil memperagakan gaya Arka, "Na, mau buku apa? Sini biar aku yang ambilkan, tangan kamu terlalu berharga buat kena debu rak buku."
"Kalian keterlaluan," Arka tertawa, akhirnya menyerah. "Tapi jujur saja, dia memang beda. Melihat dia senang itu... rasanya lebih puas daripada menang tender perusahaan."
"Tuh, kan! Parah! Budi, panggil ambulance, sahabat kita sudah terkena virus bucin stadium akhir!" seru Satria dramatis.
Budi menggeleng-gelengkan kepala. "Ya sudahlah, kita sebagai sahabat cuma bisa mendoakan supaya proyek masa depan kamu itu lancar. Tapi malam ini, nggak ada alasan Alana ya, kita harus keluar cari makan."
Arka hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu, menyadari bahwa hidupnya kini memang jauh lebih berwarna sejak ada Alana di sisinya.
Bersambung....