Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
"Mau kemana cantik?"
Suara Jefry terdengar pas ditelinganya, Sintia dengan gerakan cepat ingin menghindar, namun sialnya tangan ia sudah berhasil dicengkal Jefry. Cowok itu dengan tatapan penuh misteri dan senyum yang menurut Sintia sangat serem, berbisik ditelinganya. "Mau ngobrol atau gue perlu bongkar sesuatu tentang lo?
Gadis itu melotot, menarik tangannya yang digenggam erat oleh Jefry, tidak berhasil karena cowok didepannya ini terlalu kuat. Sembari meringis Sintia berkata. "Sakit, Kak. Lepasin tangan aku!"
"Ikut gue!"
Jefry menarik paksa Sintia menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka. Seperti sengaja sudah disiapkan padahal, kan sebelumnya cowok itu tidak pernah memakai mobil. Ia mendorong tubuh Sintia agar gadis itu masuk setelah itu menutup kembali pintu mobil dan dirinya mulai mengendarai mobil itu meninggalkan kampus.
"Ki-kita mau kemana, Kak?" tanyanya. Tubuhnya gemetar, ia takut sekali melihat Jefry tidak seperti biasa—cowok itu—terlalu aneh belakangan ini.
Jefry tidak menjawab, cowok itu malah menyalakan radio dan muncul suara yang Sintia kenal dari dalam radio itu.
"Aku udah berhasil Ma dapetin hati Arga, sekarang dia ngejar-ngejar aku. Minta supaya aku jadi pacarnya dia. Aku janji bakal bikin keluarga kita nggak kekurangan karena ada Arga yang bakal jadi ATM berjalan kita."
Itu suara Sintia sendiri. Gadis itu syok ia terdiam beberapa saat sampai suara Jefry menyadarkannya.
"See? Gue punya rahasia besar lo, dan kalo gue kirim ke Arga sekarang dia bakalan gimana, ya? Ternyata perempuan yang dia cintai malah nganggep dia ATM?"
Jefry tertawa meledek, cowok itu beberapa kali memukul stir sembari tertawa. Ia lalu menatap tajam Sintia.
"Kalo lo nggak mau nurutin apa kemauan gue. Siap-siap aja gue serahin rekaman itu ke pacar lo!"
"K—kakak dapat darimana rekaman suara itu?"
"Gak perlu lo tau gue dapat dari mana, yang penting lo nurutin aja apa syarat dari gue."
Sintia gemetar, ia takut kalo sampai Arga tau dia yang dulu sempat ingin memanfaatkan Arga, dia yang ingin menguras harta Arga. Ia takut jika pria itu meninggalkannya. Memang dulu Sintia berfikir seperti itu karena keluarga ia serba kekurangan. Namun, sekarang gadis itu sadar setelah jatuh cinta dengan Arga rasa ingin memanfaatkan itu hilang.
"Ap—apa syaratnya, Kak?"
Jefry tersenyum, lalu tangannya terulur untuk mengelus rambut Sintia, gadis itu berusaha menghindar. "Putus dari Arga dan jadian sama gue!"
****
Arga merasa ada yang aneh dengan Sintia, gadis itu banyak diam tak seperti biasa yang akan bertanya banyak hal dengannya. Arga menjalankan mobilnya menuju salah satu toko emas besar dikota mereka. Sintia belum menyadari karena gadis itu sibuk melamun—memikirkan apa.
"Ayo." Barulah Sintia sadar jika mereka sudah sampai. Gadis itu mengucek-ucek mata memastikan ini mimpi atau bukan. Karena sekarang ia sudah ada di depan toko emas itu. Arga menggandeng tangan Sintia masuk ke dalam. Mereka disambut oleh resepsionis yang menunjukan etalase berisi beberapa perhiasan.
"Paling bagus yang mana?"
Arga bertanya, ia sudah ada di depan etalase berisi aneka cincin costum. Pria itu memilih beberapa yang direkomendasikan oleh resepsionis, ia lalu meminta pendapat dari Sintia, namun gadis itu menggeleng lemah. "Menurut kamu aja."
Arga mengangguk pria itu akhirnya memilih 2 pasang yang menurut ia sangat cocok. Ia melihat Sintia, gadis itu melamun lagi.
"Kamu kenapa?"
"Eh—engga kok. Kamu udah selesai?"
Arga mengangguk, kemudian mengajak Sintia untuk pulang. Diperjalanan Arga memutar mobil yang seharusnya arah pulang ke rumah Sintia malah dibelokkan ke kanan. Sintia heran gadis itu lantas bertanya. "Kita mau kemana, Ga?"
"Liat aja nanti."
****
Dan disinilah mereka. Arga membawa Sintia ke taman yang penuh lampu-lampu terang, di taman itu juga ada hiasan balon-balon berbentuk love yang mungkin sudah Arga persiapkan. Disana juga ada Ara dan Mama yang ternyata sudah pulang.
Arga mengeluarkan cincin yang ia beli tadi ia lantas mengucapkan sesuatu yang membuat tubuh Sintia mendadak kaku.
"Sintia, Will you marry me?"
Sintia diam tubuhnya gemetar, ia menangis. Menggelengkan kepala beberapa kali, gadis itu langsung menjawab. "Aku nggak bisa, Ga. Aku nggak bisa."
Gadis itu berlalu dari sana, dadanya sesak air matanya jatuh. Ia membungkam mulut supaya tidak ada yang mendengar isakan tangisnya. Sedang Arga berdiri kaget dengan jawaban Sintia yang diluar prediksi. Ara menenangkan sang Papa.
"Mungkin Sintia syok, Pa. Dia cuma butuh waktu!"
Tapi Ara juga merasa ada yang aneh. Ada apa dengan sahabatnya itu. Ia harus segera menyelidiki.
Jefry ada disana, dia bersembunyi dibalik pohon besar disekitar taman itu. Melihat penolakan Sintia tadi membuat ia merasa menang. Tidak sia-sia perjuangan ia selama ini untuk mendapatkan gadis itu ternyata semudah ini.
"Welcome baby, aku bakal bahagiain kamu lebih dari tua bangka itu," ucapnya kemudian pergi.
****
Yang penasaran sama masa lalu Sintia dan juga Jefry cung??