Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Acara pertunangan sudah berakhir, para tamu penting mulai pulang dari aula megah di lantai bawah mansion keluarga Evans.
Deretan mobil mewah perlahan keluar dari pelataran, meninggalkan suasana lebih tenang.
Lampu-lampu gantung kristal di aula mulai diredupkan, menciptakan nuansa hangat yang kontras dengan kemewahan acara barusan.
Xerra berjalan menyusuri koridor lantai dua mansion itu sambil memegangi sepatu heels di tangannya.
Kakinya pegal, wajahnya masih panas karena kejadian barusan dengan Dona, dan jantung nya berpacu dengan cepat sejak Evans berkata
“Dia milikku.”
Kalimat itu terus berputar-putar di kepalanya seperti mantra berbahaya.
Saat ia berhenti di depan pintu kamarnya dan hendak membuka gagang pintu
Langkah kaki berat terdengar dari belakang.
Aura dingin dan wibawa itu… ia sangat mengenalnya.
Evans.
Pria itu berdiri begitu tenang dengan tangan di saku,dasi sudah ia longgarkan sedikit, membuat penampilannya justru terlihat semakin mematikan.
Dingin, intens, tampak santai tapi tetap berkuasa.
“Kenapa tidak menungguku?” suaranya rendah dan dalam.
Xerra hampir menjatuhkan sepatu yang ia pegang.
“A...aku tidak tahu Om mau ke sini…”
Evans mendekat, jarak mereka mengecil begitu cepat hingga Xerra harus mendongak.
“Aku memang mau,” katanya pelan.
Tanpa menunggu, ia memutar gagang pintu kamar Xerra dan membukanya.
Mengisyaratkan gadis itu masuk.
Dengan hati kacau, Xerra melangkah masuk ke kamar suite miliknya di mansion itu ,ruangan luas dengan langit-langit tinggi, lampu gantung kecil, dan jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion.
Evans masuk paling akhir, lalu menutup pintu.
Klik.
Suara kecil itu membuat Xerra langsung tegang.
“Om… ada apa?” tanyanya gugup.
Evans tidak menjawab.
Ia berjalan mengitari sofa panjang di dekat jendela, meletakkan ponselnya, lalu melepas jas hitamnya dengan rapi.
Ia menatapnya.
Diam.
Tapi tatapan itu begitu dalam hingga Xerra merasa lututnya melemah.
Kemudian, Evans bersuara
“Kenapa kau menatap Dona seperti itu?”
Xerra mengerjap cepat. “Hah? Yang mana?”
“Yang membuatnya hampir menangis.”
Xerra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Itu… aku hanya… tidak suka dia menyentuhmu.”
Evans mendekat.
Sangat dekat.
Hingga jarak mereka hanya sejengkal.
“Ulangi,” perintahnya rendah.
“A....apa?”
“Bagian tidak suka.’”
Xerra menunduk, wajahnya panas.
“Ya.....ya aku… tidak suka dia menyentuhmu.”
Evans memiringkan kepala, menatapnya dengan ketertarikan yang tidak disembunyikan.
“Kenapa?”
Xerra menggigit bibir.
“Karena dia seperti mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya.”
Senyum Evans muncul.
Senyum yang tidak banyak orang lihat, senyum yang dingin namun hangat… dan berbahaya.
“Bagus.”
“bagus?”
Evans mengurungnya di antara tubuhnya dan dinding kayu ukiran kamar.
“Kau harus tidak suka jika ada orang lain mencoba menyentuhku.”
Suaranya lembut, tapi memerintah.
Xerra menatap lantai.
“Om…”
“Karena kau sudah menjadi calonku.”
Evans menunduk, mata mereka bertemu.
“Dan aku tidak suka kalau kau diam saja.”
Xerra menelan ludah, hatinya berdebar cepat.
“Aku cuma… takut Om marah kalau aku ikut campur.”
Evans mengangkat dagu Xerra dengan dua jarinya.
“Aku justru lebih suka ketika kau cemburu.”
Xerra mundur selangkah karena terlalu panas, dan Evans akhirnya memberi ruang.
“Kemarilah” katanya lebih lembut.
Ia duduk di sofa, menunjuk tempat di sampingnya.
Xerra duduk.
Jarak mereka terlalu dekat bahu mereka bersentuhan ringan.
Dari saku jas yang tadi dilepasnya, Evans mengeluarkan kotak hitam.
Xerra kaget. “Lagi??”
“Untuk pernikahan nanti,” jawabnya tenang. “Tapi kuberikan malam ini.”
Ia membuka kotak itu.
Kalung perak tipis dengan liontin huruf E kecil.
“E… Evans?”
Ia tidak menjawab.
Ia mendekat, memutar tubuh Xerra, mengangkat rambutnya perlahan, dan mengalungkan kalung itu ke lehernya.
Sentuhan jarinya di kulit Xerra hanya sekilas… tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh gadis itu merinding.
“Kenapa huruf E?” bisik Xerra.
Evans menatap leher belakangnya.
“Karena semua orang harus tahu kau milikku.”
Wajah Xerra memerah seketika.
“Om… jangan bilang begitu…”
“Kenapa?” Evans memiringkan kepala.
“Kau malu?”
“Aku… bingung.”
Evans mengusap kepala Xerra,gerakan lembut yang hanya ia gunakan pada gadis itu.
“Kau tidak perlu mengerti semuanya sekarang.”
Ia mengangkat wajah Xerra dengan kedua tangan.
“Yang perlu kau tahu hanyalah satu…”
Mata mereka bertemu.
"aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Xerra hanya bisa mengangguk.
Evans bangkit, mengambil jasnya.
“Aku kembali ke kamarku. Besok kita cek venue pernikahan di kota.”
Xerra tersenyum kecil. “Baik, Om.”
Namun sebelum keluar, Evans berhenti.
Menoleh.
“Xerra.”
“Hm?”
Tatapannya berubah dalam.
“Jangan biarkan siapa pun menyentuhmu kalau aku tidak ada.”
Pintu tertutup pelan.
Xerra langsung jatuh menelungkup ke sofa empuk, memeluk bantal sekeras mungkin.
“Apa-apaan ini… kenapa aku jadi begini…”
Di kamar sebelah, Evans bersandar pada pintu tertutup.
Ekspresi dinginnya retak.
Matanya melembut.
Ia mengepalkan tangan.
“Xerra kecil… jangan berubah.”
Malam itu, keduanya sulit tidur.
Sebab tanpa sadar perasaan itu sudah tumbuh.
*****
Keesokan paginya, matahari London terlihat cerah meski beberapa awan putih masih menggumpal di langit. Udara dingin musim semi menerobos masuk melalui jendela-jendela besar mansion, membawa aroma segar yang menenangkan.
Xerra muncul dari tangga marmer jalan perlahan,dan Evans yang sedang berdiri di dekat meja makan langsung terpaku.
Hari itu Xerra memakai dress pastel lembut, dilapisi cardigan tipis dengan warna senada. Rambutnya dikuncir kuda tinggi, dihiasi pita besar yang membuat keseluruhan penampilannya tampak anggun, bersih, dan… memikat.
Sepatu flat shoes berwarna putih menghiasi kakinya, memberi kesan manis sekaligus elegan.
Evans tak bergerak.
Bahkan napasnya seolah tertahan selama beberapa detik.
Matanya… tidak lepas dari Xerra.
Perlahan, bibirnya terangkat sedikit.
“Cantik,” ucapnya tanpa ragu.
Xerra memegang ujung dressnya gugup. “aku cuma pakai yang biasa saja…”
“Tidak ada yang biasa darimu hari ini.”
Nada Evans tenang, namun tatapannya terlalu dalam.
Xerra memalingkan wajah, wajahnya memanas pelan.
Saat mereka duduk di meja makan panjang yang dipenuhi cahaya matahari pagi, Evans nyaris tidak mengalihkan pandangan dari Xerra.
Kadang tatapannya lembut.
Kadang terlihat seolah ia sedang menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang berbahaya.
Sesekali Xerra mencuri pandang dan mendapati Evans menatapnya…
Dan ia langsung menunduk lagi dengan pipi memerah.
Evans menikmati semua reaksi itu tanpa berkata apa pun.
Selesai sarapan, Evans bangkit lebih dulu dan mengenakan mantelnya.
“Ambil coat mu,” katanya sambil mendekati Xerra. “Udara di luar agak dingin.”
Xerra buru-buru mengambil mantelnya.
Saat ia kesulitan memasukkan lengan, Evans tanpa bicara langsung meraih coat tersebut dan memakaikannya di bahunya, gerakannya lembut seperti menyentuh hal yang sangat berharga.
“Terima kasih, Om…” bisik Xerra.
Evans hanya mengangguk tipis, namun sorot matanya berbicara lebih banyak.
Di mobil, Evans menyetir sendiri.
Biasanya ia selalu memakai sopir, tapi kali ini tidak.
Xerra meliriknya. “Om… kita mau ke mana?”
Evans melirik balik sekilas, cukup membuat jantung Xerra berdebar.
“Ke hotel tempat kita akan mengadakan resepsi.”
Xerra membelalak. “Kita? Tapi aku belum....”
“Aku ingin kau melihatnya.”
Suaranya lembut, namun tak bisa dibantah.
Ia menambahkan, lebih pelan.
“Aku sudah mempersiapkan semuanya. Tinggal kau yang harus aku ajak melihat… kejutan kecilku.”
Xerra memegang dadanya.
Seketika perjalanan itu terasa terlalu pendek dan terlalu panjang sekaligus.
Evans tenang.
Xerra gugup.
Dan di luar, London bergerak perlahan di bawah sinar matahari musim semi.
Hari itu akan menjadi awal dari banyak kejutan untuk Xerra Collins.