Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Nggak, Anda pasti bercanda, Pak. Gak mungkin Aqilla mau bunuh diri. Dia itu wanita kuat, dia juga sayang banget sama anak-anak," ucap Ilham, rasa sesak seketika memenuhi dada.
"Justru itu, Ilham. Karena kamu mengira dia wanita kuat, kamu gak pernah nanya, apa dia baik-baik aja? Apa dia capek? Apa sewaktu masih menjadi istri kamu dia butuh bantuan? Dia gak sekuat yang kamu kira, Ilham!" bentak Radit dengan tegas dan penuh penekanan.
Tubuh Ilham seketika gemetar, tidak mampu berkata-kata, bahkan tidak berani menyangkal apa yang baru saja diucapkan oleh atasannya itu. Selama mereka menikah, Aqilla tidak pernah mengeluh apapun. Bahkan selalu menerima berapapun uang belanja yang diberikan meskipun ia tahu uang tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dirinya bahkan tidak pernah bertanya apakah uang yang diberikan cukup atau tidak. Siapa sangka, diamnya Aqilla menyimpan luka yang mendalam, ditambah dengan perselingkuhan yang ia lakukan, seakan menaburkan garam di atas luka yang disembunyikan oleh mantan istrinya itu.
"Jawab pertanyaan saya Ilham, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan sama dia sampai-sampai mantan istri kamu begitu putus asa dan berusaha untuk mengakhiri hidupnya?" tanya Radit, seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Ilham.
"Tak ada yang saya lakukan, Pak. Rumah tangga kami berakhir mungkin karena memang takdir kami sudah cukup sampai di sini," jawab Ilham dengan lemah dan bergetar, merasa takut perbuatannya kepada Aqilla akan terbongkar. "Saran saya, lebih baik Anda pikir-pikir dulu untuk menikahi mantan istri saya sebelum Anda menyesal. Dia sudah gagal satu kali, gagal sebagai istri dan saya tak mau Anda menjadi korban selanjutnya."
"Korban?" seru Radit dengan kening dikerutkan.
"Jangan salah paham, Pak. Saya ngomong kayak gini karena saya tak mau Anda hanya dimanfaatkan sama mantan istri saya. Anda terlalu sempurna untuk dia. Anda bisa mendapatkan 10 wanita yang lebih baik dari dia, bukan tanpa alasan saya menceraikan dia, dan saya tak mau mengumbar aib mantan istri saya di depan Anda."
Radit terdiam, memandang Ilham dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan perasaan jijik. Sepertinya, memecatnya saja tidak akan cukup untuk menghukum pria itu. Ia memiliki rencana lain yang akan membuat hidup Ilham lebih dari sekedar hancur. Ilham harus merasakan apa yang dirasakan oleh Aqilla. Batin Radit, penuh dendam seolah ialah orang yang telah disakiti oleh pria bernama Ilham.
"Baiklah, kamu boleh keluar," ucap Radit, berdiri tegak lalu melangkah menuju kursi miliknya. "Saya minta sama kamu, jangan pernah mengusik calon istri dan calon anak-anak sambung saya."
Ilham terdiam, bukannya mengikuti perintah sang atasan yang ia lakukan adalah berdiri di tempatnya, bahkan tidak bergerak sedikit pun membuat Radit bingung.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanyanya dengan dingin, duduk di kursinya.
"Saya dan Aqilla sudah sepakat, Pak."
"Sepakat apa?"
"Saya akan mengambil hak asuh anak-anak. Mulai sekarang mereka akan tinggal bersama saya dan saya akan segera menjemput mereka."
Radit terkejut sontak berdiri tegak. "Apa? Aqilla mau menyerahkan hak asuh sama kamu? Nggak, gak mungkin. Jangan mengada-ada, Ilham."
"Kenapa Anda terkejut, Pak? Mereka anak kandung saya dan saya punya hak atas mereka. Selain itu, Aqilla sama sekali tidak keberatan."
"Aqilla tidak keberatan?"
"Betul, Pak. Baiklah kalau begitu, saya permisi, Pak. Saya harap Anda memikirkan baik-baik rencana Anda untuk menikahi mantan istri saya," pamit Ilham, sedikit membungkukkan badan sebelum akhirnya berbalik lalu melangkah menuju pintu.
"Syukurlah, Pak Radit belum sempat cek CCTV yang ada di lift. Dia gak tau pertengkaran kami di lift," batin Ilham, seraya membuka pintu lalu keluar dari dalam ruangan.
***
Malam hari tepatnya pukul 20.00, Aqilla dan anak-anaknya bersiap untuk tidur. Ketiganya nampak berbaring di ranjang yang sama. Kaila meringkuk tepat di samping sang ibu, begitupun dengan Keano.
"Ko Om Radit belum pulang, Bu?" tanya Kaila, membuka mulutnya lebar-lebar menahan rasa kantuk.
"Iya, Bu. Biasanya Om Radit suka bacain cerita kalau kami mau bobo," tanya Keano, seketika duduk tegak.
Aqilla terdiam sejenak seraya menatap langit-langit kamar, lalu memandang wajah Keano dan Kaila secara bergantian. "Ada yang mau Ibu katakan sama kalian, Sayang."
"Ibu mau ngomong apa? Ibu gak akan membatalkan pernikahan Ibu sama Om Radit, 'kan? Aku suka tinggal di sini, Om Radit juga orangnya baik ko," tanya Kaila, sontak duduk tegak sama seperti yang dilakukan oleh adiknya.
Aqilla melakukan hal yang sama, duduk di tengah-tengah mereka. "Eu ... apa kalian gak kangen sama Ayah kalian?"
Kaila terdiam dengan perasaan bingung, begitupun dengan Keano yang bergeming tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa kalian diem aja? Kalian gak kangen sama Ayah kalian?" Aqilla mengulangi pertanyaannya.
"Sebenarnya sih kangen, tapi apa kami boleh ketemu sama Ayah?" tanya Keano seketika menundukkan kepala.
"Tentu saja boleh, Ayah Ilham itu Ayah kandung kalian. Mana mungkin Ibu melarang kalian bertemu sama beliau," jawab Aqilla seraya tersenyum ringan. "Jangankan bertemu, kalau kalian mau tinggal sama beliau juga Ibu akan mengizinkan ko."
"Nggak, aku gak mau. Ayah itu udah punya istri baru alias Ibu tiri. Aku gak mau tinggal sama Ibu tiri. Aku maunya di sini sama Ibu," tolak Kaila dengan tegas. "Lagian, kenapa Ibu tiba-tiba meminta kami tinggal sama Ayah? Apa Ibu udah gak sayang lagi sama kami, hah? Ibu bakal ninggalin kami kayak Ibu ninggalin kami di panti asuhan waktu itu?"
"Nggak, bukan seperti itu, Kaila. Jangan salah paham dulu," timpal Aqilla seraya mengusap kepala Kaila dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Ibu minta maaf karena pernah ninggalin kalian di panti asuhan, Ibu benar-benar menyesal, Sayang."
"Terus, kenapa sekarang Ibu meminta kami tinggal sama Ayah? Ayah itu jahat, aku gak mau tinggal sama Ayah."
"Aku mau, Bu," ucap Keano, kembali menatap wajah sang ibu dengan sayu. "Aku mau ketemu sama Ayah. Aku kangen banget sama Ayah. Kalau Kakak gak mau tinggal sama Ayah juga gak apa-apa, aku aja yang tinggal sama Ayah kalau begitu."
"Kakak gak mau, kakak mau di sini sama Ibu dan Om Radit. Ya udah, kalau kamu mau tinggal sama Ayah, sana pergi, tapi Kakak gak akan pernah ikut sama kamu karena Kakak benci sama Ayah, benci!" teriak Kaila, seketika turun dari ranjang lalu berlari keluar dari dalam kamar.
Bersambung ...