[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 (1)
"Aaaaaaa!" Vallen berteriak dan langsung menendang cowok di hadapannya. Ia segera menutupi tubuh dengan selimut dan memegang itu erat-erat di depan dada. Napasnya pun tersengal-sengal.
"Fa, gue mau satu ranjang sama lo bukan berarti gue izinin lo lakuin hal nggak-nggak!" protesnya.
"Apa sih, Val? Gue mau minggirin lo. Tidur lo ngabisin tempat!" ucap Rafa tak kalah kerasnya sembari turun dari kasur.
Vallen meneguk ludah dan menggerakkan kepalanya canggung. Tatapannya juga jadi ia buyarkan ke segala arah. Ingin berkata 'oh', tapi ia urungkan.
Langsung saja Vallen merebahkan dirinya lagi dan menyelimuti seluruh tubuh tanpa terkecuali. Dan yang terpenting adalah agar wajahnya yang terasa panas ini tak Rafa lihat merahnya.
Malu gue malu!
***
Hari telah berganti dan jingga pada senja berubah menjadi biru pekat di malam ini. Rumah Rafa ramai, tak hanya keluarga dia yang sudah datang, tapi pembantu dan satpam seperti yang cowok itu bilang kemarin, ditambah lagi ada orang tuanya Vallen yang memang diundang untuk makan malam.
Dentingan piring serta gelas meramaikan rumah yang sempat beraura kelam. Samar mereka yang tinggal juga sudah dapat melengkungkan senyuman, sekali pun tak ada yang tahu hati mereka sedang merasa apa.
Sreng ... sreng ...
Bi Adab masih menumis tongseng yang baunya sudah menjalar ke seluruh ruang. Vallen yang sedang menyiapkan piring di meja makan bersama Nisa lalu tertarik mendekati si Bibi.
"Wahhh, pasti enak tuh!" tebak Vallen yang tengah melihat daging kecokelatan serta paprika warna-warni di sana.
"Mau nyicip dulu?" tawar Bi Adab. Tentu saja Vallen mau, dia sudah kentara lapar dari sore.
Nisa yang sedang mengambil barang lain pun inisiatif mengambilkan garpu karena mendengar percakapan Vallen.
Vallen tersenyum seneng. "Makasih, Tante!"
Fokusnya langsung tertuju pada makanan di wajan. Ia menusuk daging dengan tenaga yang tidak bisa dibilang pelan. Namun, saat menyuapkan ke mulut, gadis itu melakukannya dengan hati-hati.
Matanya terbuka lebar saat merasakan kenikmatan yang hakiki ini. "Bi Adab! Gila ... tongsengnya JUAWRUAA!" pujinya cukup lebay.
Bi Adab terkekeh dan langsung menyajikannya di piring karena tak ada komen kurang bumbu dari Vallen.
"Hilman, Rafa ke mana?" tanya Dika--papahnya Vallen.
Ayahnya Rafa celingukan sendiri mencari putranya.
Eh kok gak ada?
"Loh, di sana kolam renang?" tanya Aya tiba-tiba saat tak sengaja menoleh ke pintu kaca berkusen putih. Ada jendela-jendela kaca lain juga memang, tapi tertutup oleh gorden.
Hilman tertawa singkat. "Iya, di sana kolam renang sekaligus taman belakang."
Aya tersenyum dan meminta izin Dika untuk pergi ke sana. "Pah, Mamah ke sana dulu ya."
Dika mengiyakan.
Mamah Vallen itu juga tadinya mau minta izin pada Hilman apakah boleh ke sana atau tidak, tapi Hilman langsung mengangguk bahkan sebelum kalimat itu keluar dari mulut Aya.
Aya membuka pintu dan angin tenang pun menyambutnya. Terasa segar. Pandangannya kemudian meneliti keadaan di sana sembari melangkah kecil. Ia terhenti saat menemukan Rafa tengah menggerakkan air menggunakan kakinya di tepi kolam. Cowok itu terduduk dengan mengenakan kaos hitam dan celana selutut warna hijau army.
Mata Rafa terarah pada layar untuk membalas pesan dari Devan dan tak lama kembali menatap kosong ke depan. Kesambet? Ngga kok.
Aya tersenyum, kemudian menghampiri menantunya. "Rafa ...."
Cowok itu sedikit terkesiap, ya siapa yang tidak kaget lagi sendirian di kolam renang, terus tiba-tiba ada yang manggil. "Eh ... Mamah," jawabnya bingung. Lalu dia melihat ke arah ruang makan. "Oh udah pada dateng ya?" tanya Rafa pelan sambil hendak berdiri.
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.