Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Shela kembali masuk ke dalam kelas ketika jam pelajaran sudah dimulai lima belas menit kemudian. Ia mengetuk pintu kelasnya sebelum masuk ke dalam kelas, sontak semua orang yang ada di dalam kelas menoleh ke arahnya termasuk guru yang mengajar. Lagi mereka semua menatapnya dengan tatapan takjub, karena biasanya gadis itu akan masuk begitu saja jika terlambat masuk meskipun ada guru di dalam kelas. Atau yang lebih parahnya dia akan membolos. Tapi kali ini kejadian langka, dimana Shela mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kelas.
"Maaf, Pak, saya terlambat, saya ke UKS dulu," suara Shela bergetar, mengusik keheningan yang menegang.
Guru itu, dengan pandangan yang berubah dari skeptis menjadi lebih lunak, melemparkan pertanyaan sambil cibirnya menggantung, "Tumben sekali kamu memilih untuk mengetuk, sudah kapok kah berulah?"
Dengan senyuman yang penuh ketidakpastian, Shela hanya mampu menjawab, "Iya, Pak."
Kepala plontos itu mengangguk perlahan, memberi izin masuk, "Duduk." Suara itu penuh keberatan namun merestui.
Shela melangkah gontai menuju bangkunya, setiap jejak langkahnya meninggalkan jejak ketegangan yang belum terurai. Ketika menempati bangkunya, mata Alvian, teman sebangkunya, memaku pada dirinya. Merasakan pandangan tersebut, Shela beralih, mata mereka bertemu—sebuah pertukaran bisu yang sarat dengan pertanyaan dan jawaban yang tak terucap.
" Kenapa?" tanya Shela dingin.
Laki-laki itu segera memalingkan wajahnya lalu menggeleng cepat." Gak ada."
Gurunya kembali menerangkan materi di depan. Shela yang baru datang mengeluarkan bukunya dari dalam tas, lalu memperhatikan guru yang tengah menjelaskan. Sesekali dia mencatat apa yang di rasa penting olehnya.
Alvian sesekali melirik ke arah Shela yang tengah mencatat, apa yang ia lihat ini adalah pemandangan langka. Shela tadi mengajari anak-anak kelas, tidak membolos pelajaran, meminta izin karena terlambat, sekarang dia memperhatikan guru dan mencatat materi. Aneh, apakah kejadian beberapa hari yang lalu membuat gadis itu menjadi seperti ini?
Shela yang merasa terus di tatap, kembali menoleh lagi-lagi dugaannya benar. Teman sebangkunya itu terus menatapnya.
Karena risih Shela pun menegur laki-laki itu." Kenapa? Ada yang salah sama gue? Jangan liatin gue terus, gue colok mata lo lama-lama!" Ujarnya.
Alvian memainkan wajahnya,lalu ia menatap ke depan untuk memperhatikan guru yang sedang menjelaskan, satu hal yang tidak berubah dari Shela, gadis itu tetap galak padanya.
Beberapa menit kemudian, bel istirahat berbunyi. Semua teman-teman kelasnya berhamburan ke luar kelas menuju kantin, kini hanya tersisa Shela dan Alvian yang masih duduk di kelas untuk menyelesaikan catatannya yang belum selesai.
Alvian menatap ragu ke arah Shela, dadanya berdebar keras sementara ia mencoba mengumpulkan keberanian yang berhamburan di hatinya. "Lo...gak istirahat?" suaranya bergetar, menggantung di udara dengan ketidakpastian.
Shela hanya menoleh sekilas, matanya dingin dan tak bersemangat, kemudian dengan cepat kembali memusatkan perhatian pada aktivitasnya tanpa sepatah kata pun.
Alvian merasakan getaran penolakan yang kuat, seolah ada duri yang tumbuh di antara mereka. Hati Alvian terasa remuk, namun ia berusaha menutupi kekecewaannya dengan senyuman pahit. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan makanan ringan yang ia harap bisa sedikit menghangatkan suasana.
"Buat lo, takut gak keburu istirahat," katanya mencoba melembutkan suasana, suara Alvian berusaha tegar meski hatinya terasa hancur. Ia memberikan makanan ringan itu dan segera beranjak hendak meninggalkan Shela.
"Heh."
Langkah Alvian tehenti, sebuah panggilan singkat membuatnya kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah gadis itu.
"Makasih," jawab Shela dengan nada yang masih menyimpan dinginnya salju, meski di balik itu ada selintas kelembutan yang mungkin saja Alvian rasakan. Namun sebelum dia sempat menafsirkan lebih jauh, Shela kembali menunduk.
Alvian terdiam sebentar, lalu kemudian mengangguk." Sama-sama." Setelahnya Alvian kembali melanjutkan langkahnya dengan langkah gontai menuju kantin, hatinya dilanda badai perasaan yang tak dapat ia jelaskan.
Tak berselang lama, Shela selesai melengkapi catatannya. Dia melihat jam masih ada waktu untuk dirinya mengisi perut di kantin. Shela segera beranjak, rencananya setelah dari kantin ia mau membeli seragam baru di koperasi sekolah.
Shela berjalan di koridor menuju kantin, sepanjang ia melangkah dirinya tak luput dari berbagai tatapan orang-orang yang dia lewati. Sebenarnya dia merasa risih ditatap seperti itu, tapi sebisa mungkin dia tidak mempedulikannya.
Sesampainya di kantin, sama seperti di lorong tadi beberapa orang menatap ke arahnya. Dia sampai merasa heran sendiri, memangnya semenarik itu ya dirinya, sampai-sampai orang terus menatapnya?
Shela menatap satu persatu stand makanan di sana sambil memikirkan menu apa yang akan menjadi makanan siangnya, sampai ia melihat stand yang menjual ketoprak. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli ketoprak.
Ketika sampai di depan stand yang di maksud, secara tak terduga beberapa orang menyingkir ketika dirinya mendekat. Ia mengerutkan alisnya, lalu kemudian menghela napas. Predikatnya sebagai ratu bully masih belum hilang, sampai-sampai orang-orang enggan bersinggungan dengannya. Tapi tak apalah, hal itu cukup menguntungkan untuknya.
"Bang, ketoprak satu, pedas ya!" seru Shela, sembari memandangi kerumunan yang antre di belakangnya.
"Siap, Neng! Tapi, tunggu sebentar ya, saya layani yang di belakang dulu," balas sang penjual dengan ramah.
"Eh, Bang—" seorang gadis di belakangnya coba menyela, namun suaranya segera tenggelam oleh interupsi Shela.
"Iya, Bang," ucap Shela sambil memberi isyarat pada gadis itu agar maju, demi agar pesanannya bisa segera disiapkan. Gadis tersebut bergerak maju dengan ragu, kini berdiri di depan Shela.
Setelah mendapatkan pesanan ketopraknya, Shela segera menuju meja kosong tidak jauh dari stand. Dia melahap makanannya dengan lahap, abai terhadap pandangan penasaran dari sekitar.
"Ini mereka kaya gak ada kerjaan lain apa, selain merhatiin gue?" desisnya dalam hati, penuh keheranan.
Mengakhiri santapannya yang pedas, Shela mengembalikan piring kotor ke penjual, lalu membayar makanannya dengan tuntas.
Shela melangkah menuju keluar area kantin, seperti niat awalnya, dia akan membeli seragam baru terlebih dahulu di koperasi sebelum menuju kelas.
Dalam hiruk pikuk kantin yang ramai, tiba-tiba sebuah benturan keras terjadi. Tubuh Shela terhentak ke belakang ketika seseorang menabraknya dari sisi kiri, sekaligus menumpahkan sesuatu yang basah dan panas ke atas hoodie-nya yang langsung menyerap ke seragam bagian atasnya. Air muka penuh panik terpampang di wajah orang tersebut saat Shela menoleh tajam.
“Ma-maaf, gue gak sengaja," kata orang itu, suaranya terbata, jelas ketakutan melihat tatapan Shela yang memancarkan kilatan kemarahan.
Shela, meski hatinya membara, mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengingat janjinya untuk tidak mencari masalah lagi. Matanya berbinar sinis saat ia mendapati tisu di sebuah meja terdekat, ia segera mengambil beberapa lembar dan mulai membersihkan noda kuah bakso yang mengotori hoodie-nya.
Tanpa meliri kembali ke arah orang menabraknya itu, Shela meneruskan langkahnya dengan gerakan tangan yang masih sibuk mengusap hoodie. Kejadian tersebut, meskipun hanya berlangsung sekejap, berhasil menarik perhatian semua orang di kantin, termasuk Marvin dan ketua OSIS yang duduk di meja yang berbeda tapi memiliki sudut pandang yang sama ke arah kejadian itu. Mata mereka menyaksikan, penuh pertanyaan dan rasa penasaran, namun Shela hanya terus berjalan, setiap langkahnya meninggalkan jejak kegagahan di lantai kantin yang masih ramai.
Shela melangkah dengan tergesa menuju ke koperasi, di sana ia membeli seragam baru lalu setelahnya ia segera ke toilet untuk mengganti seragamnya yang sudah bau kuah bakso.
Shela melepas hoodie-nya, sial baju seragam atasnya menerawang karena kuah itu. Untung saja dia memakai Hoodie, kalau tidak bisa-bisa dia jadi bahan gosip. Sudah baju ketat menerawang pula.
Shela segera mengganti seluruh seragamnya dengan yang baru, seragam yang sesuai dengan standar, meskipun ia sepertinya salah membeli ukuran, karena kemeja seragamnya terlihat lebih besar. Tapi tak apa, meski kebesaran masih bisa Shela akali agar terlihat rapih. Dia merapihkan pakaiannya dan sedikit menggulung lengan seragamnya, sekarang Shela terlihat seperti murid teladan yang agak nakal karena melipat kemeja seragamnya.
Ternyata lebih nyaman memakai seragam baru, seragam lamanya itu membuatnya sesak. Kenapa juga dulu dia memodifikasi seragamnya seperti pakaian wanita penggoda. Tak heran juga kenapa dulu Marvin selalu mengatainya sebagai gadis murahan.
Shela keluar dari toilet, ia sedikit terkejut ketika mendapati ketua OSIS sombong itu berada di luar toilet cewek.
"Ni cowok selain munafik, mesum juga ya. Ngapain juga dia nongkrong depan toilet cewek, mau ngintip?" batinnya.
Shela melangkah melewati laki-laki itu, namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan laki-laki itu.
"Seragamnya baru karena seragam lama tertumpah kuah bakso atau memang sudah ada niatan berubah," ujar laki-laki itu sambil memandang dingin sosok di depannya.
Shela berbalik, menatap dingin laki-laki itu,matanya sesekali mencuri pandang ke name tag yang tersemat di dada, 'Dion Saputra'. Nama yang terdengar bagus, namun tidak mencerminkan si pemiliknya
" Bukan urusan lo!" Shela tersenyum miring." Dion,Dion Lo itu jadi ketua OSIS selain munafik juga mesum ya,"cibirnya lalu setelahnya dia pergi begitu saja.
Dion terdiam sebentar. Kenapa gadis itu mengatainya Mesum? Dia menoleh ke belakang dan baru menyadari maksud dari gadis itu. Sialan! Mau ditaruh dimana mukanya.