Tidak semua cinta masa kecil disebut cinta monyet buktinya cinta Kania Atilyah dan Azra Zavier bertahan dari mereka masih kecil hingga dewasa.
Tapi sayang karena perpisahan mereka yang cukup lama membuat mereka saling tak mengenali.
Puncak masalah adalah ketika sang sepupu yang benci pada Kania mengaku sebagai sang cinta masa kecil Azra dan memisahkan mereka dengan cara yang kejam.
Yuk, jadikan novel ini sebagai favorit supaya bisa selalu mengikuti up dari D'Wie!
Jangan lupa baca juga novel D'Wie lainnya ya!
* Livina,izinkan aku bahagia
*Cinta yang lain
(Masih gantung, gak usah baca.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.14 Kesedihan part II
Perjalanan dari hotel menuju rumah sakit memakan waktu kurang lebih 1 jam. Selama perjalanan hati Kania diselimuti kegelisahan. Ia merasa takut ayahnya kenapa-kenapa. Sejenak kegelisahan memikirkan keadaan ayahnya mengikis kesedihannya akan peristiwa yang baru saja terjadi antara ia dan Azra.
Kania telah tiba di rumah sakit . Dengan setengah berlari ia menuju kamar tempat ayahnya dirawat.
"Bi...bi Imah,bagaimana keadaan ayah saya bi?" tanya Kania panik
"Tuan...tuan masih ditangani dokter non. Keadaannya masih kritis."
"Oh ya,aku harus hubungi mama sekarang...Tapi...tadi mama baru saja masuk ke pesawat. Mungkin sekarang mama sudah dalam penerbangan. Ponselnya pasti tak aktif." Kania bingung ia harus menghubungi siapa.
"Nona,tadi bibi sudah coba telfon tuan Azra tapi nomornya tak aktif,nomor den Azril berhasil terhubung tapi gak diangkat." jelas bibi
"Sudahlah bi,sepertinya Nia emang ditakdirkan selalu sendiri. " Kania pasrah
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD tempat ayah Kania menjalani perawatan.
"Dok,bagaimana keadaan ayah saya? Beliau tidak apa-apa kan dok?" tanya Kania cemas
"Emmm...begini ,jantung ayah Anda sudah semakin melemah,saya tidak bisa berjanji apa ayah Anda bisa melewati malam ini dengan aman. Saya sudah melakukan penanganan semampu saya. Anda harus mempersiapkan diri untuk hal terburuk. Maaf,saya hanya manusia biasa tak bisa berbuat apa-apa selain atas Kuasa-Nya. " ucap dokter itu pasrah
"Apa maksud dokter,ayah saya sudah tak memiliki harapan lagi?" tanya Kania dengan suara tercekat
Dokter hanya mengangguk pasrah lalu berlalu dari hadapan Kania yang masih mematung. Shock ...sudah pasti. Apakah ia akan kehilangan sang ayah selamanya pikirnya? Tapi ia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Kemana ia harus mengadu bila ia benar-benar ditinggalkan sendiri oleh sang ayah. Suaminya tak pernah menganggapnya. Suaminya telah membuangnya. Lalu kini ,ayahnya pun akan meninggalakannya. Hancur...satu kata itulah yang dapat menggambarkan keadaannya saat ini.
Dengan langkah gontai,Kania memasuki kamar, tempat ayahnya terbaring lemah.
"Ayah,ini Nia yah! Yah,Kania mohon jangan tinggalin Nia. Sudah cukup ibu yang meninggalkan Nia sendiri,Nia tak mau ayah pun meninggalkan Nia sendiri. Nia tak punya siapa-siapa lagi selain ayah. Nia mohon yah,jangan pergi...tetaplah disini yah!Nia mohon..." tangis pilu Kania
Sementara di luar,bi Imah telah mencoba berkali-kali menghubungi Nyonya Aira,Tuan Azra,dan Den Azril,tapi semua hasilnya nihil.
Nia terdiam menatap wajah pucat sang ayah. Ia dapat melihat tubuh ayahnya yang sudah tak berdaya dengan selang-selang yang saling terhubung ke tubuh ayahnya. Tatapannya tak beralih sedetik pun dari tubuh sang ayah hingga tanpa sadar,ia pun terlelap di sisi tempat tidur ayahnya sambil menggenggam lengan sang ayah.
Tiba-tiba Kania terbangun. Tapi anehnya ia tak terbangun di rumah sakit,tempat ayahnya tadi di rawat. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan dan bunga-bunga yang bermekaran indah. "ini dimana?" gumamnya hingga terdengar suara yang memanggilnya. Suara yang sangat dikenalnya. Suara seseorang yang sangat ia sayangi dan cintai. Lalu ia pun menoleh ke arah sumber suara.
"Nia sayang."
"Ayah...,apakah ini benar ayah?" Kania menatap lekat wajah sang ayah dan ayahnya pun mengangguk
"Ayah...ayah....aku merindukan ayah!" Kania berhambur ke pelukan sang ayah
"Ayah juga merindukanmu sayang."
Kemudian netra Kania sibuk menjelajahi pemandangan sekelilingnya.
"Ayah,kita berada dimana yah?"tanya Kania penasaran soalnya baru kali ini ia melihat pemandangan seperti ini,pemandangan yang sangat indah,udaranya pun sangat sejuk dan menyegarkan,membuat segala penatnya hilang seketika
"Ini tempat tinggal ayah yang baru sayang. Bagaimana,bagus bukan!"
"Iya ayah,tempat ini sangat bagus. Apa Nia boleh ikut ayah tinggal disini?"
"Tidak Nia,untuk kali ini ayah tidak bisa mengajakmu. Tempatmu bukan disini sayang."
"Tapi mengapa? Mengapa Nia tidak boleh ikut ayah? Apa ayah sudah gak sayang Nia lagi?" Kania bersedih mendengar perkataan ayahnya
"Bukan begitu Nia sayang,justru itu karena ayah sangat sayang Nia jadi ayah tidak bisa mengajak Nia tinggal di sini. Nia,ayah sudah lelah,ayah ingin istirahat dan disinilah tempat istirahat ayah. Sedangkan tempatmu bukan disini,tapi ayah janji suatu hari nanti kita akan bertemu lagi. Kamu kembalilah sayang. Ikhlaskan kepergian ayah. Ingatlah pesan ayah,jadilah wanita yang kuat. Ayah yakin kamu mampu melewati semua permasalahan hidupmu. Ayah sangat menyayangimu."
Setelah mengatakan itu,perlahan ayah Kania pergi menjauh dan makin menjauh hingga benar-benar hilang dari netra Kania.
"Ayah...ayah...kembali ayah...ayah mau kemana ayah...jangan tinggalin Nia ayah,ayah....."
tit...tit...tit...
Suara monitor detak jantung tiba-tiba berbunyi makin cepat membuat Kania terbangun dari tidurnya. Setelah tersadar,ia langsung panik melihat monitor detak jantung yang berbunyi nyaring.
"Ayah...ayah kenapa,...ayah bangun ayah... Dokter...dokter...tolong dok...cepat dok...tolong ayah saya dok....dokter,saya mohon tolong ayah saya..." teriak Kania panik
Tak lama kemudian dokter dan perawat berhambur ke dalam ruangan. Mereka memeriksa kondisi ayah Kania,sedangkan Kania menunggu di luar ruangan dengan perasaan campur aduk.
Sejenak Kania menyadari tadi ia sedang tertidur lalu bertemu ayahnya. Ia mulai berfikir apakah itu mimpi tapi mimpi itu tampak nyata. Di mimpi itu ia melihat sang ayah dalam keadaan sehat dan segar bugar. Bahkan wajah sang ayah nampak berseri dan bahagia.
"Ya Allah,apakah mimpi tadi pertanda bahwa aku harus mengikhlaskan kepergian ayah? Apabila itu dapat mengobati rasa sakitnya,apabila itu bisa memberikan kebahagiaan abadi pada ayah,aku ikhlas ya Allah. Aku ikhlas. Aku terima semua ketetapan-Mu ya Allah." batin Kania
"Nona Kania....maafkan kami. Kami sudah berusaha semampu kami,namun Allah berkehendak lain." ucap salah seorang dokter yang menangani ayah Kania
Dengan langkah gontai,Kania menyeret kakinya mendekati tempat pembaringan sang ayah. Semua selang dan infus telah di lepas. Hanya menyisakan kain putih yang menutupi tubuhnya. Perlahan Kania membuka kain putih itu. Ia memandangi dengan lekat wajah sang ayah yang mungkin untuk terakhir kalinya. Kania telah mencoba ikhlas,tapi tetap saja air mata kesedihan tak mampu ia bendung. Di satu sisi ia sangat menyesali kepergian sang ayah dengan cara seperti ini,tapi di sisi lain ia bersyukur sang ayah tidak akan merasakan sakit lagi dan ayahnya juga takkan pernah tau kisah rumah tangganya yang hanya bertahan selama satu hari. Andai sang ayah tau,mungkin sang ayah akan merasa lebih sakit lagi,lebih hancur lagi.
"Ayah,sesuai pesan ayah,Kania akan jadi wanita yang kuat. Ayah yang tenang di sana ya yah. Nia juga sangat menyayangi ayah."
Kania telah mengurus segala administrasi rumah sakit. Jenazah ayahnya pun ia bawa ke rumahnya. Suasana haru menyelimuti kediaman Kania. Banyak tetangga yang datang untuk melayat. Mereka turut bersedih atas apa yang menimpa Kania. Sebab mereka tau,Kania gadis yang sangat baik. Begitu pun sang ayah. Ayah Kania sangat akrab dengan warga sekitar. Ia juga sering membantu segala kegiatan warga di sekitar rumahnya karena itu ketika warga mendengar berita kepergian ayah Kania itu,semua warga datang berbondong-bondong untuk melayat dan memberi semangat pada Kania. Segala urusan pemakaman sang ayah pun dibantu warga karena mereka tau pasti Kania sekarang sedang merasa terpuruk.
"Kamu yang sabar ya nduk. Ayah kamu sudah tenang di sisi Alloh. Kalau kamu ada butuh sesuatu,kasi tau bi Sumi atau yang lain,insya Alloh,kami pasti bantu kamu nduk." tutur salah seorang tetangga Kania yang bernama bi Sumi sambil mengusap punggung Kania