Ini kisah nyata tapi kutambahin dikit ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Mau nyari Sendi."
Wow, mendengar namanya di sebut jantung Sendi semakin menggila. Juga membuat Agel dan Ridho menatap Sendi penuh selidik.
"Lo kenal mere---"
"Gue cabut bentar. Nannya-nya nanti aja," Sendi beranjak dari duduk dan berjalan menghampiri Ella serta Dita. Lalu melewati mereka berdua supaya mereka mengikutinya.
Ella dan Dita sempat berpandangan ketika Sendi berjalan melewatinya begitu saja. Namun sepersekian detik Dita dan Ella paham saat Sendi menoleh ke belakang dan melanjutkan langkahnya.
"Nyuruh kita ngikutin nggak sih?" bisik Dita di telinga Ella yang langsung di angguki oleh Ella.
"Ngapain nyariin gue?"
Begitu sampai di belakang sekolah tepatnya di taman. Sendi menghentikan langkah sekaligus mengeluarkan tanya yang sudah dia tahan sejak tadi. Jujur saja jika menyangkut kejadian beberapa tahun itu Sendi tidak mau ada yang tahu makanya Sendi memilih taman belakang sekolah ini karena taman ini sudah jarang sekali di datangi oleh anak-anak.
Ella berdiri menatap Sendi yang membelakanginya. Sedangkan Dita dia sedikit memberi jarak supaya Ella dan Dita bicara dengan nyaman. Tapi dengan jarak yang tidak cukup jauh Dita tetap akan bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan nantinya.
"Selama ini lo sekolah di sini juga?" tanya Ella setelah berulangkali menenangkan jantungnya yang melompat dengan hebat. Entah kenapa? Dan Ella pun tak tahu. Mungkin karena kejadian pada tahun itu makanya dirinya merasa canggung dengan Sendi.
"Iya. Kenapa?"
"Nggak papa. Cuma.. hampir tiga tahun ini gue nggak pernah liat lo di sekolah ini atau gue ya---"
"Lo yang terlalu sibuk. Gue malah sering liat lo."
"Huh?" Ella terkejut begitu juga dengan Dita. "Lo liat gue?" tanya Ella ingin memastikan telinganya tidak salah dengar.
Sendi mengangguk.
"Kok gue nggak pernah liat lo?"
"Lo ikut osis dan gue nggak ngikut apa-apa jadi ya, gitu." Sendi berbalik dan wajah Ella yang pertama kali dia tatap lalu beralih pada Dita. Seketika wajah Sendi berubah datar dari yang tadi.
"Terus... Gimana keadaan lo? Baik-baik aja kan?"
Akhirnya tanya ini keluar dari mulut Ella. Pertanyaan yang ingin sekali dia lontarkan sejak tadi. Namun Ella menahannya sebentar karena ingin bertanya yang lainnya dulu. Contohnya kenyataan yang ternyata mereka masih satu sekolahan lagi.
Alis Sendi terangkat. "Seperti yang lo liat. Gue baik-baik aja. Emang kenapa?"
Wajahnya Sendi terlihat datar tapi berbanding terbalik dengan organ yang ada di dalam tubuhnya. Terutama jantungnya. Wah jantung Sendi sekarang terasa seperti berontak keluar. Jantungnya menghentak keras tulang dadanya. Entah kenapa.
"Oh, oke."
Ella mengangguk paham tapi entah kenapa rasa hatinya masih ada yang mengganjal, seperti Sendi sedang berbohong padanya. Tapi Ella tidak tahu mungkin itu hanya perasaannya saja.
"G-gue... Gue boleh minta nomor lo nggak?" tanya Ella ragu takut kalau Sendi akan menolak dan malah menjauhinya, karena di lihat dari gerak-geriknya Sendi, sejak tadi sepertinya Sendi tidak menginginkan bertemu dengannya lagi.
"Oh, nggak usah kalo lo ngak mau ngasih," kata Ella karena beberapa menit sudah terlewati tapi Sendi hanya diam dan terlihat tidak ingin menjawab.
"Ayo Dit." Ella berbalik dan meraih lengan Dita.
"Mana hp lo?"
Langkah Ella terhenti dia kembali berbalik dan menatap wajah Sendi. "Hp lo aja sini," pintanya satu tangannya menengadah.
Sendi meraih ponsel di saku seragam dia menyodorkannya pada Ella. Sendi membiarkan apa yang ingin Ella lakukan dengan ponselnya.
Ella menekan beberapa angka di layar ponsel milik Sendi. Tak lama terdengar suara dentingan ponsel miliknya di dalam saku seragamnya. Ella tersenyum tipis yang tak terasa membuat bibir Sendi ikut tersenyum juga. Ella mengembalikan ponsel itu.
"Makasih ya. Gue pergi dulu." ucapnya, Ella tersenyum lalu pergi dari sana bersama Dita, meninggalkan Sendi yang sendirian di taman belakang sekolah itu.
Sendi menatap ponsel miliknya dia mengendus baunya sejenak dan ternyata bau parfum milik Ella tertinggal di sana. Sendi tersenyum getir.
"Parfum orang kaya mah beda." katanya lalu berjalan menuju ke kelasnya sambil memasukan ponsel di saku celana.
"Wait-wait... Lo utang cerita ke kita. So.. lo duduk dan mulai ceritain ke kita se-ka-rang.."
Sendi baru saja masuk ke dalam kelas dan dua temannya itu langsung menggiringnya ke kursi. Dengan paksa di suruh duduk dan di apit oleh mereka berdua. Agel di sisi kanan Ridho di sisi kiri.
Sendi berdecak, memalingkan wajah. "Berasa di kursi pengadilan gue,"
"Hahahaaaa... Nggak usah kelamaan elah. Tinggal ceritain aja sih. Tadi siapa? cewek lo?" tanya Ridho.
"Bukan."
"Terus, kenapa mereka nyamperin lo tadi?" Agel juga bertanya Agel tidak kalah penasaran dari Ridho.
"Mereka tadi itu Ella sama Dita. Salah satu di antara mereka yang nge.jatuh.in helm gue." ujar Sendi menatap kedua temannya bergantian. "Udah. Gitu doang,"
Agel dan Ridho saling lirik. Mereka kayak yang kurang puas gitu dengan penjelasan Sendi.
"Lo percaya Gel sama dia?" tanya Ridho pada Agel. Ridho menunjuk Sendi dengan ekor matanya, membuat Sendi melengos, menelan ludahnya. Sendi tahu kalau kedua temannya ini bisaan banget baca ekspresi wajah orang. Susah banget di bohongi.
"Gue sih enggak ya," jawab Agel. Dia menatap Sendi telunjuknya menunjuk dada Sendi. "Jelasin yang bener atau lo kita telanjangi di sini?" Agel menaik turunkan kedua alisnya memberinya pilihan.
Sendi mendesis. "Ngeri banget ancaman lo bang.sat..!" kedua kakinya menendang kaki Agel dan Ridho bergantian. Tidak peduli empunya meringis kesakitan.
"iya-iya, gue ceritain, gue jelasin."
Sendi pasrah ketika kedua temannya mulai bergerak menahan kedua tangannya. Daripada dia di telanjangi sama kedua temannya yang breng.sek itu mendingan kasih tahu mereka aja kan.
"Ella minta nomor gue. Udah, gitu doang."
Wajah Sendi mulai panik ketika kedua temannya masih kelihatan tidak percaya, padahal kan Sendi tidak berbohong. Tadi Ella memang menemuinya untuk minta nomor ponselnya kan? Ya.. walaupun Ella ada juga nanya tentang keadaannya tadi. Tapi Sendi tidak akan mengatakannya atau kedua temannya itu akan meledeknya habis-habisan.
"Gue jujur, gue nggak bohong," katanya lagi Sendi kembali meyakinkan kedua temannya itu. "Kalian nanya ke Ella langsung aja kalo masih nggak percaya sama omongan gue, tapi kalo gue terbukti bener, kalian berdua yang gue kibiri, gimana?" bibir Sendi terangkat merasa mendapat celah membalas ancaman kedua teman breng.seknya itu.
Agel dan Ridho saling lirik lalu keduanya memilih percaya saja dari pada nanti bakal di kibiri kalau mereka beneran terbukti yang salah.
"Iya kita percaya," ucap Ridho akhirnya.
Hufff..
Sendi menghela akhirnya dirinya bisa bernapas lega.
Klunting
Ponsel Sendi berdenting tanda ada pesan yang masuk. Sendi segera mengambil ponselnya dan membuka pesan yang ternyata dari nama kontak Ella.
[ Lo beneran baik-baik aja kan? Kalo gitu entar pulang sekolah kita makan ice cream, mau nggak? ]