NovelToon NovelToon
Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:18.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: saskavirby

pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.

kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.

kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.

siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.


>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"

Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 14. Villa

Dua hari sudah berlalu, acara berkemah sudah selesai, beberapa murid dijemput mobil mereka masing-masing.

Laras meminta Stella dan Aiden untuk singgah di villa miliknya yang tidak jauh dari lokasi berkemah, selagi menunggu jemputan sopir pribadinya, dan Stella menyetujui.

Sandy yang kebetulan baru pulang dari luar kota menghubungi Laras menanyakan keberadaan Aiden. Ia mengetahui bahwa hari itu bertepatan dengan Aiden yang pulang dari acara berkemah, Sandy bermaksud untuk menjemput mereka sekalian. "Halo, Ma. Aiden dimana?"

"Aiden masih di puncak, kenapa, San?"

"Biar aku yang jemput."

"Pak Udin sudah jalan, San."

"Minta Pak Udin putar balik, Ma."

"Ya sudah, biar Mama telepon Pak Udin."

"Aiden menunggu di villa, San."

"Iya, Ma."

Sandy sampai di villa saat hari sudah malam, sengaja ia mengendarai mobilnya sendiri, tidak dengan Alvin.

Ketika mobil sudah sampai di depan villa, Sandy langsung masuk ke dalam usai menekan password pada pintu dan mencari Aiden, ia mengamati keadaan sekitar, beberapa lampu sudah dimatikan, dan kemungkinan Aiden dan ibunya sudah terlelap.

Sandy melangkah menuju kamar yang biasa digunakan dirinya tidur bersama Aiden. Sinar temaram lampu menyambutnya ketika ia membuka pintu perlahan. Sandy mendekat, memperhatikan Aiden yang terlelap damai, ia merendahkan tubuhnya dan mencium kening putra semata wayangnya itu.

Sandy terperanjat ketika melihat bukan ibunya yang tidur bersama Aiden, melainkan Stella. Kenapa justru Stella yang menemani Aiden camping? Sandy terdiam dengan pikiran yang berkecamuk.

Sandy berjalan ke sisi lain ranjang, ia bergeming menatap dalam wajah cantik yang tengah terlelap itu, sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas membentuk senyuman. Jemarinya terulur untuk menaikkan selimut di tubuh Stella. Hal itu membuat sang empu membuka mata secara tiba-tiba.

Stella terbangun saat merasakan pergerakan di sekitarnya, ketika ia membuka mata, netranya seketika melebar menyadari bayangan orang lain di sampingnya. Tidak ada siapapun di sana selain ia dan Aiden, jika ada orang lain. Tentunya itu maling.

Stella segera beranjak dan meraih bantal, lalu memukul-mukul tubuh maling itu dengan brutal. "Maliiing! Ma —" teriakannya terhenti saat telapak tangan besar itu membungkam mulutnya.

Sandy menarik tubuh Stella dan membungkam mulutnya. "Hsstt, ini aku, Sandy," ucapnya pelan.

Awalnya Stella terkejut dan ketakutan jika itu adalah maling, namun ia semakin terkejut ketika menyadari bahwa Sandy ada tepat di depan matanya.

Keduanya saling diam dengan tatapan saling beradu, tidak ada yang terucap, hanya berupa hembusan nafas serta detakan jantung yang perlahan-lahan berubah tempo.

Sandy menurunkan tangan yang sebelumnya membungkam bibir Stella, semakin dalam ia menyusuri wajah cantik yang bisa ia tatap dari cahaya temaram lampu tidur itu. Sudahkah ia katakan bahwa Stella memang wanita yang cantik? Mata indah, hidung kecil yang mancung, serta bibirnya yang tipis, yang sekarang seakan menggoda hasratnya.

Stella yang tersadar lebih dulu segera mendorong tubuh Sandy untuk menciptakan jarak, ia menyentuh wajahnya yang terasa hangat, untung saja tidak ada cahaya terang, jika tidak, ia khawatir Sandy akan melihat wajahnya yang memerah. "Maaf," cicitnya pelan.

Sandy berdehem, "Ya," jawabnya singkat.

...***...

Sandy dan Stella duduk di sofa dengan tv yang menyala di hadapannya. Tidak ada pembicaraan sama sekali, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sampai suara Sandy memecah keheningan.

"Aku kira Aiden camping dengan Mama."

Stella menoleh.

"Mama tidak bilang kalau kamu yang menemani Aiden," ucap Sandy ikut menoleh.

Stella tersenyum. "Iya, Aiden yang memintaku."

"Pasti dia memaksamu," Sandy bisa menebak itu.

"Iya," jawab Stella tersenyum.

Sandy kembali menoleh menatap Stella. "Apa kamu keberatan kalau kita pulang besok pagi? Jujur, aku sangat lelah, sepulang dari luar kota aku langsung ke sini," ia menghela nafas. "Aku pikir Mama yang menemani Aiden. Jadi aku berencana untuk istirahat dulu di sini, besok baru kembali ke Jakarta. Ternyata Aiden justru memaksamu," sambungnya terkekeh.

Stella bisa melihat wajah kelelahan itu cukup kentara. Ia mengangguk. "Tidak apa-apa, aku tidak keberatan," sahutnya.

...***...

"Daddy! Daddy!"

Duk! Duk! Duk!

Pagi-pagi sekali, Aiden menggedor pintu kamar Sandy guna membangunkannya. Namun tidak ada sahutan. Aiden langsung membuka pintu dan menghampiri sang Ayah yang masih terlelap di balik selimut.

Aiden mengguncang tubuh Sandy, menarik-narik tangannya. "Daddy, wake up. Daddy, wake up, Daddy."

Sandy membuka sedikit retina matanya. "Five minutes, Boy."

Aiden menggeleng. "No, Dad."

"Daddy lelah, Aiden," ucap Sandy parau, dengan kedua mata kembali terpejam.

Aiden mengerucut sebal, kemudian meninggalkan Sandy yang melanjutkan tidurnya.

"Bunda, Daddy tidak mau bangun," adu Aiden menghampiri Stella di dapur.

"Ya sudah, biarkan dulu Daddy istirahat, Aiden sarapan sama Bunda saja ya?" ajak Stella diangguki Aiden.

*

Sudah setengah jam berlalu, tapi Sandy belum juga keluar kamar, bahkan Stella dan Aiden sudah menyelesaikan sarapannya sejak tadi.

Stella melirik jam di dinding. "Katanya ngajak pulang pagi, ini malah belum bangun," gumamnya pelan.

"Bunda, Daddy panas, Bunda," Aiden berlari menghampiri Stella yang tengah duduk di sofa depan tv.

Stella beranjak menuju kamar Sandy dengan menggandeng tangan Aiden. Ia memperhatikan Sandy yang terlelap berbungkus selimut tebal. Stella menyentuh dahi Sandy dengan punggung tangan. "Panas sekali," gumamnya.

Stella berjalan ke dapur mengambil baskom, mengisinya dengan air dingin serta mengambil sapu tangan. Lalu kembali ke kamar dan mulai mengompres dahi Sandy.

Sandy terbangun merasakan benda basah menempel di dahinya.

"Tidurlah, kamu sedikit demam," ucap Stella memberitahu, kemudian Sandy kembali memejamkan mata.

"Aiden, bisa bantu Bunda?" Stella menoleh pada Aiden yang duduk di sisi ranjang.

"Ya, Bunda?"

"Aiden kompres Daddy seperti ini, ya? Nanti kalau kainnya panas, celup lagi di sini, diperas dulu seperti ini, terus tempel di dahinya Daddy," Stella menjelaskan cara mengompres pada anak berumur lima tahun itu. "Bunda mau ke dapur dulu buatin Daddy bubur," imbuhnya.

Aiden mengangguk. "Iya, Bunda," jawabnya mulai menyentuh kain di dahi Sandy.

*

Tidak berapa lama Stella kembali ke kamar dengan membawa nampan di tangannya.

"Sandy," Stella menggoyangkan lengan Sandy pelan.

Sandy membuka matanya.

"Sarapan dulu," ucap Stella menyerahkan mangkok berisi bubur.

Sandy menurut, ia bangun dan menyenderkan kepalanya pada kepala ranjang.

Tidak ada adegan disuapi. Sandy memakan buburnya sendiri. "Kamu dan Aiden sudah makan?" tanyanya.

Stella mengangguk. "Sudah tadi," jawabnya. "Aiden mengantuk, ya?" tanyanya memperhatikan Aiden yang beberapa kali menguap.

"Iya, Bunda," jawab Aiden dengan mata terkantuk-kantuk.

"Aiden tidur di sini saja, di samping Daddy," Sandy berucap sambil mengelus kepala Aiden.

Aiden mengangguk, dan mulai berbaring memejamkan matanya.

"Sepertinya dia kelelahan," ujar Sandy pada Stella.

"Sepertinya kamu juga," sahut Stella.

Sandy tersenyum.

...***...

Sandy merasakan sesuatu jatuh dari dahinya, ia terbangun melihat sapu tangan kompresan yang tergeletak di sisi bahunya. Ia sedikit terkejut menyadari Stella yang tidur pada posisi duduk di sampingnya. Wanita itu memang wanita yang luar biasa baik, bersedia merawatnya yang tengah demam, padahal mereka tidak ada hubungan apapun, dan hanya tahu satu sama lain karena Aiden.

Lalu Sandy beralih menatap Aiden yang terlelap di sisinya, entah kenapa tiba-tiba ia merasa memiliki keluarga kecil yang utuh.

Ketika menyadari pergerakan dari Stella yang akan bangun, Sandy kembali memejamkan mata untuk pura-pura terlelap.

Stella mengucek matanya. Kemudian berdiri saat melihat kain kompresan di dahi Sandy terjatuh, ia merendahkan tubuhnya memasang kembali kain tersebut. Saat hendak beranjak, tiba-tiba lengannya tertahan. Ia menunduk, memperhatikan tangan Sandy yang menahannya.

Sandy membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Stella yang berada tepat di atasnya. Bisa ia tangkap reaksi terkejut dari wajah cantik itu. Sandy menahan sudut bibirnya yang berkedut ketika mendengar suara degupan jantung Stella yang bergemuruh cepat, lalu, semburat merah yang muncul dan menyebar di pipi cantik itu. "Terimakasih, Stella," ucapnya bersungguh-sungguh.

Netra teduh itu bergetar, kepalanya mengangguk sebagai tanggapan. "I-ya," jawabnya gugup.

Sandy melepaskan cekalan tangannya, kesempatan itu segera Stella ambil untuk melipir keluar dari ruangan yang udaranya cukup sesak.

Sandy terkekeh melihat tingkah lucu seorang Stella. "Kenapa kamu sangat menggemaskan, Stella," gumamnya.

Stella bersandar pada pintu kamar usai menutupnya, ia menyentuh dadanya yang bergemuruh. 'Perasaan apa ini? kenapa aku bisa seperti ini?' bathinnya tidak mengerti.

~•

•~

Instagram: @saskavirby

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ye baru sadar klo lo bego san
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
gedeg bgt sama sandy
PNC
katanya Sandy CEO
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia

aneh sich

tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya
PNC
wong sugih tapi kok
Ervina T
Luar biasa
Nuriati Mulian Ani26
semoga ..rumahnya dibeli sandi
Nuriati Mulian Ani26
wanita hebat dan mandiri..stela
Nuriati Mulian Ani26
keren ceritanya ringan .aku suka alurnya
Kasih Bonda
semangat
iis sahidah
Luar biasa/Good//Good//Good//Good//Good/
iis sahidah
rega laki2 banget
iis sahidah
bunda Stella keren
Tea and Cookies
Luar biasa
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂
Modish Line
♥️♥️♥️♥️♥️
Modish Line
😂😂😂😂😂😂
Modish Line
bodoh banget
Modish Line
good job Rega👍👍👍👍👏👏👏👏
Modish Line
blm jadi mamanya Aiden udh kaya ema tiri gini kelakuannya ....kalo jadi nikah bakalan abis nih Aiden disiksa sama si Fara gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!