NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Bagi Nadya, jarak paling jauh di dunia bukanlah bentangan samudra, melainkan dekapan Rexsaka saat ini. Tubuhnya begitu dekat hingga ia bisa menyesap aroma maskulin yang menguar dari balik jaket pria itu, namun jiwa sang lelaki terasa sejauh bintang di langit utara, dingin dan tak tergapai. Sambil mencengkeram botol infus dengan jemari yang gemetar, Nadya membiarkan detak jantungnya bergemuruh hebat, menjadi satu-satunya melodi yang merayakan kedekatan semu ini sebelum realitas kembali menjatuhkannya ke bumi.

Tatapan lekat dari netra cokelat milik Nadya sama sekali tidak mengusik Rexsaka. Pria itu tetap melangkah konstan dengan pandangan lurus ke depan, menampilkan paras yang datar, dingin, dan tak tersentuh. Namun, di balik ekspresi bekunya, sepasang lengan kokoh itu justru bergerak intuitif, ia kembali mengeratkan dekapannya, membawa tubuh ringkih sang gadis lebih rapat ke dadanya sementara langkah tegapnya terus membelah koridor, seolah beban di lengannya saat ini sama sekali tidak berarti.

​Hingga akhirnya, langkah Rexsaka terhenti di depan pintu kamar rawat sang gadis. Dua orang pria bertubuh tegap, yang sempat menghilang dari pandangan saat adu jotos singkatnya melawan Arnold tadi, kini telah berdiri mematung di sana, kembali menjalankan tugas mereka menjaga sang nona muda.

​Rexsaka tidak berniat untuk bertanya, tidak pula penasaran ke mana saja mereka melempar tanggung jawab tadi. Baginya, itu bukan urusannya.

​"Panggilkan dokter," titah Rexsaka dengan nada dingin tak terbantahkan.

​Kedua pengawal itu tampak menegang. Raut kekhawatiran seketika membayang jelas di wajah mereka saat melihat kondisi sang nona muda yang terkulai lemas dalam dekapan Rexsaka, terlebih dengan noda merah yang merembes mengerikan di pakaian pasiennya. Meski diliputi kecemasan yang teramat sangat atas keadaan majikan mereka, aura intimidasi yang menguar dari Rexsaka membuat nyali keduanya menciut. Tanpa berani membuang waktu untuk bertanya, salah satu dari mereka yang berkepala plontos segera mengangguk patuh dan bergegas memutar langkah menyusuri lorong untuk mencari bantuan medis.

​Sentuhan kasur yang empuk perlahan menyapa punggung Nadya saat Rexsaka menurunkan tubuhnya dengan begitu hati-hati. Kelembutan yang samar dari gerakan pria itu sempat menerbitkan seulas kehangatan di hati Nadya.

​Namun, kehangatan itu menguap secepat kilat ketika Rexsaka langsung menegakkan tubuh. "Saya pergi," ujarnya datar, bersiap memutar langkah.

​Belum sempat pria itu menjauh, sebuah keberanian nekat menuntun jemari Nadya untuk bergerak cepat. Ia menahan lengan Rexsaka, mencengkeram kain jaketnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

​"Kak Rex... bisa temani aku di sini dulu? Hanya sampai dokternya datang," pinta Nadya parau, menatap sepasang netra kelam di hadapannya dengan binar harap yang kentara.

​Rexsaka tidak memberi jawaban secara verbal. Pria itu hanya menggeser posisi tubuhnya, sebuah gerakan dingin yang secara halus memaksa jemari Nadya terlepas dari lengannya. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi di samping brankar, lalu mendudukinya dengan gestur kaku.

​"Terima kasih, Kak," ucap Nadya lagi, kali ini seulas senyuman manis terbit di wajah pucatnya.

​Namun, Rexsaka hanya membalasnya dengan tatapan datar yang menghunjam. "Saya melakukan ini murni karena keinginan Ayah. Jadi, jangan besar kepala."

​"Aku tahu, Kak," sahut Nadya lirih.

​Meskipun sepasang bibir mungilnya masih dipaksa untuk mengukir senyuman, ia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ada rasa perih yang teramat sangat, yang baru saja kembali menorehkan luka di dasar hatinya.

​Tak berselang lama, pintu kamar rawat terbuka tergesa-gesa. Seorang dokter paruh baya masuk didampingi seorang perawat yang langsung bergerak sigap memeriksa robekan luka di perut Nadya.

​Sang dokter menghela napas berat begitu melihat rembesan darah yang mengotori kain putih pakaian pasien. "Sepertinya jahitan lukanya terbuka. Kenapa bisa sampai seperti ini? Apa yang baru saja Anda lakukan, Nona?"

​"Hanya... sedikit berjalan, Dok," jawab Nadya lirih, agak mencicit di bawah tatapan mengintimidasi sang dokter.

​"Anda baru saja sadar dari operasi, Nona! Sama sekali tidak seharusnya Anda banyak bergerak," omel sang dokter panjang lebar, nadanya sarat akan teguran. "Meskipun ini bukan luka dalam yang mengenai organ vital, Anda tetap harus menjaganya dengan hati-hati. Jika ceroboh seperti ini, lukanya bisa infeksi atau bahkan berakibat fatal nantinya."

​Usai memberikan wejangan medis, pandangan sang dokter beralih, menatap tajam ke arah Rexsaka yang sejak tadi hanya duduk membisu di samping brankar. "Dan Anda, Tuan... sebagai pasangannya, seharusnya Anda bisa lebih becus memperhatikan dan menjaganya."

​Mendengar asumsi sepihak itu, rahang Rexsaka mengeras. "Saya bu..."

​"Baiklah, Dokter. Saya mengerti dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," potong Nadya cepat. Ia sengaja menyela kalimat Rexsaka, tak ingin membiarkan pria itu melontarkan kalimat penolakan dingin yang pasti akan kembali menyayat hatinya di depan orang lain.

​Sang dokter hanya bisa menghela napas panjang melihat kekerasan kepala pasiennya. Sembari merapikan kembali peralatan medisnya, ia memberikan instruksi terakhir. "Lukannya sudah saya jahit ulang. Ingat, untuk beberapa hari ke depan, jangan sampai area ini terkena air dulu. Kalau begitu, saya pamit."

​Sebelum melangkah pergi, dokter itu menyempatkan diri kembali menatap Rexsaka dengan raut serius. "Jaga istri Anda baik-baik, Tuan."

​Begitu dokter dan perawat itu menghilang di balik pintu, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Sepasang netra kelam Rexsaka menatap tajam ke arah pintu yang tertutup, memendam kekesalan atas kesalahpahaman yang tak sempat ia luruskan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, atau bahkan menoleh sedikit saja pada Nadya yang menahan napas di atas brankar, Rexsaka bangkit berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan itu, meninggalkan sang gadis dalam kesendirian yang sunyi.

​Nadya hanya bisa menghela napas panjang yang terasa menyiksa. Perlahan, jemarinya bergerak menyentuh dada, tepat di atas debaran jantungnya yang masih menyisakan sisa-sisa kegaduhan tadi.

​"Hati... kenapa kamu tidak bisa memilih?" bisiknya teramat lirih pada kesunyian kamar. "Kenapa dari sekian banyak orang di dunia, kamu harus jatuh pada pria sedingin dia?"

​Nadya memejamkan mata erat-erat. Ada rasa sesal yang membuncah, menuntut penjelasan dari hatinya sendiri, bahkan pada logika dan seluruh raganya yang seolah mati rasa. Ia merutuki dirinya yang tidak pernah kapok, yang selalu saja kembali luluh dan mendamba, meski tahu bahwa sikap dingin Rexsaka berkali-kali menorehkan luka yang sama.

Nadya menolak tenggelam lebih jauh dalam kesedihan yang tak seberapa itu. Ia tahu, jalan di depannya masih panjang dan penuh kerikil tajam untuk bisa menaklukkan hati pria kaku tersebut. Demi mengusir gundah, ia mengulurkan tangan meraih ponsel di atas nakas, benda yang kemungkinan besar dibawakan oleh Bi Siti saat sang ART mengantarkan keperluan rawatnya kemarin, ketika ia masih tak sadarkan diri.

​Ia membiarkan dirinya hanyut dalam dunia fana di balik layar pipih itu hingga rasa kantuk perlahan datang menyergap. Perlahan, kelopak mata dengan bulu-bulu lentik itu menutup, menyerah pada lelah yang menuntut haknya.

​Nadya tidak tahu sudah berapa lama ia terbuai dalam mimpi. Namun, begitu kelopak matanya kembali terbuka, hal pertama yang tertangkap oleh netranya adalah wajah sang mama yang tengah menatapnya dengan pipi yang sudah bersimbah air mata.

​"Nad, sayang..." Isak itu pecah bersamaan dengan sepasang lengan yang langsung mendekapnya erat, meninggalkan Nadya yang hanya bisa mematung linglung dalam pelukan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam tidur.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!