"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Citra terdiam beberapa saat. Pertanyaan Rama menggantung di udara seperti beban yang tak ingin dijawab. Ia menunduk, jarinya memainkan kalung yang baru saja dilepas.
“Enggak, Pak. Citra cuma… cuma ingin menyelesaikan masa lalu aja. Supaya enggak ada yang menggantung.”
Rama mendekat, suaranya lembut tapi tegas. “Kamu masih cinta dia?”
Citra menatapnya — tatapan yang jujur tapi juga tenang. “Bohong kalau Citra bilang cinta itu udah hilang. Tapi, kepercayaan Citra udah dihianati. Kalau bukan karena kejadian waktu itu, mungkin Citra enggak bakal tahu gimana dapat suami yang loyal.”
Ia tersenyum tipis, menatap Rama. “Pak Rama baik dan punya banyak uang. Kurasa ini cukup buat Citra berpaling dari Rava. Apalagi, dengan penghianatan sebesar itu.”
Rama mengembuskan napas pelan, seolah beban yang menempel di dadanya ikut luruh.
“Alasan saya ingin ketemu Rava. Cuma mau bilang terima kasih karena udah ninggalin Citra. Karena berkat penghianatannya, Citra dapat bapak.”
Rama terkekeh pelan. “Kenapa? Aku kan lebih tua.”
“Ya, tapi bapak sudah matang. Kenapa bapak bercerai dari tante Lani?”
"Itu masa lalu. Aku enggak mau menjelekkan mamanya Rava."
Citra terkekeh pelan. “Yaaa... Kalau nanti aku ketemu tante Lani gimana? Dia pasti bicara macam-macam kalau tau yang akhirnya nikahin aku, bapak.”
“Masalah itu,” Rama balas cepat. “Dia biar jadi urusanku. Katakan saja kalau dia mengangumu.”
Suasana kamar terasa tenang. Citra menatap lelaki itu lama. Dalam hati, ia tahu — apapun yang terjadi dulu sudah berlalu. Ia tak ingin menoleh ke belakang lagi.
*****
Di sisi lain, di salah satu rumah milik Rava yang mulai sepi, Rava duduk di kursi ruang tamu. Wajahnya lesu. Matanya kosong, seperti kehilangan arah. Di depan meja, masih ada secangkir kopi yang sudah dingin.
Lani, memandang dari dapur. “Rava, kamu masih kepikiran dia, ya?”
Rava tidak menjawab. Tangannya mencengkeram gelas terlalu erat.
“Aku cuma… pengin tahu siapa yang nikahin Citra, Ma,” ucapnya akhirnya. “Kalau benar orang kaya, mungkin dia udah enggak butuh aku lagi.”
Lani mendesah. “Anak ini… kamu tuh jangan mikir yang enggak-enggak. Citra sudah menikah, Rava. Kamu harus tanggung jawab ke Cantika. Anak itu hamil, kamu sadar enggak?”
Rava menatap ibunya, wajahnya letih. “Tapi aku enggak cinta, Ma. Aku... cuma menyelesaikan tanggung jawabku. Tapi hatiku masihlah miliknya.”
“Itu bukan alasan buat kabur,” kata Lani tegas. “Kamu udah buat satu kesalahan besar waktu lari dari akad sama Citra. Jangan ulangi lagi.”
Rava menunduk. Ia tahu ibunya benar. Tapi hatinya masih menolak. Citra adalah satu-satunya orang yang dulu benar-benar membuatnya merasa berharga. Sekarang, bayangan wajah Citra terus menghantuinya.
“Ma… kenapa hidup aku sesempit ini, sih?” suaranya lirih. “Aku cinta Citra, tapi aku harus nikah sama orang lain. Dunia ini enggak adil.”
Lani berdiri, menatap anaknya dengan iba. “Bukan hidup yang enggak adil. Tapi kamu yang bodoh. Kalau kamu terus begini, kamu bakal kehilangan segalanya.”
Ia menepuk bahu Rava lembut. “Mama keluar dulu, ya. Mama mau cari makan. Kamu pikirin baik-baik.”
****
Malam itu, angin lembut membawa Lani berjalan tanpa arah. Langkahnya terhenti di depan sebuah toko retail besar. Saat hendak masuk, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.
Citra.
Gadis itu berdiri di depan kasir, mengenakan dress pastel sederhana tapi terlihat anggun. Di tangannya ada beberapa kebutuhan rumah tangga. Dia hanya sendiri.
Lani menyipitkan mata. “Kenapa harus ketemu anak ini sih?” gumamnya. “Aku enggak mungkin balik lagi.”
Saat Citra selesai, tak sengaja pandangan mereka bertemu. Citra sempat membeku. Begitupun dengan Lani.
“Wah, wah… enggak nyangka ketemu kamu di sini,” ucapnya dengan nada sarkastik.
Ekspresi terkejut Citra hanya sebentar sebelum berubah jadi tenang. “Oh, Tante Lani. Lama enggak ketemu, setelah susah dihubungi.”
“Loh, bukannya kamu harus berterima kasih sama kami? Berkat kami tak datang, kamu jadi nikah sama seorang yang kaya raya, kan?” sindir Lani, menyilangkan tangan di dada.
Citra tersenyum tipis. “Iya, terima kasih Tante. Katakaan sama Rava jangan jadi pengecut.”
Lani terdiam sejenak, wajahnya menegang.
“Apa maksud mu?”
“Tante engak paham?” Citra lembut tapi tegas. “Citra cuma mau bilang... sekarang Citra udah bahagia. Suami Citra enggak cuma kasih uang, tapi kasih rasa aman. Dan yang paling penting, Citra bebas dari keluarga yang suka ingkar janji.”
Suasana mendadak dingin. Lani menelan ludah, tak bisa membalas. Setelah itu, Citra melangkah pergi dengan anggun. Lani hanya bisa berdiri diam, memandangi punggung perempuan muda itu menjauh. Ada rasa panas di dada — antara malu, marah, dan gengsi yang tersinggung.
****
“Pak Rama, kemarin Citra ketemu tante Lani.”
Rama yang sedang menyetir menoleh sebentar. “Lani? Mamanya Rava?”
Citra mengangguk. “Iya. Di depan toko. kalau tabte Lani ada di sini, Rava juga pasti ada di sini kan?”
Rama menghela napas berat. “Aku akan nyuruh orang buat nyari di mana mereka. Kalau nanti ketemu, kamu mau ikut?”
“Citra udah ketemu sama tante Lani. Tidak ada rasa canggung atau tak enak hati dari caranya bicara,” ucap Citra pelan.
"Jadi?"
"Aku rasa, aku enggak perlu ketemu mereka."
kalo dah ditinggal pegi..
gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
meninggal Juni 2012
😭😭