Seorang dokter muda yang sedang meneruskan pedidikannya di S2, dipaksa untuk segera menikah...
ternyata salah satu pasiennya membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama
berhasilkah Dokter tersebut mendapatkan gadis pujaannya.
jangan lupa comen dan likenya ya..🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nuri
Seharian aku menjaganya yang sedang demam. Namun, suhunya tidak juga turun. Aku mulai khawatir.
“Aku harus membawamu kerumah sakit Nuri. Suhu badanmu ga turun-turun walau sudah aku kasih obat.” Ucapku
“Ga mas. Aku mohon. Aku ga mau kesana.” Pintanya memohon
“Tapi Nur, kamu demam.” Ucapku
“Aku ga mau mas. Aku benar-benar ga mau. Tolong mas. Aku mohon.” Ucapnya
“Ya udah baik-baik klo begitu. Kamu istirahat lagi.” Ucapku pasrah
Tak lama kemudian ibu datang.
“Bagaimana suf? Apakah ada perkembangan?” tanya ibu.
“Belum bu. Yusuf mau telpon teman yusuf dulu untuk membawa peralatan infus dan juga obat. Klo ini masih belum bisa menurunkan demamnya, terpaksa kita harus mengambil darahnya untuk dicek di lab.” Jelasku
“O ya udah. Lakukan yang terbaik ya suf.” Ucap ibu
“Iya bu.” sahutku
“o y, jangan lupa juga kamu beritahukan pada Adit. Dia perlu tau keadaan adiknya.” Ucap ibu mengingatkanku
“Iya bu. Nanti yusuf telpon Adit. Sekarang yusuf mau telpon teman yusuf dulu.” Ucapku dan ibupun mengangguk
Lalu tanpa menunggu lama, akupun langsung menelpon Randy dan Adit
Tak selang berapa lama, Randy pun datang dengan membawa peralatan infus dan juga obat injek
“Ni suf, barang-barang yang lo tadi pesen.” Ucap Randy
“Oh makasih Ran.” Sahutku
“Siapa yang sakit, suf?” tanya Randy.
“Si Nuri, Ran. Dia demam dari kemarin tapi belum turun-turun.” Jelasku
“Lo udah coba buat periksa ke lab?” tanya Randy
“Belum. Rencananya sih nanti setelah 3 hari. Klo belum turun juga baru cek darah.” Jelasku
“Oh begitu.” Sahut Randy
“Ya udah suf, lo tenang. Dia ga kenapa-kenapa kok. Dia pasti Sembuh.” Ucap Randy mencoba menenangkanku
“Iya Ran, makasih.” Sahutku
“ya udah, gue balik ya suf.” Pamit Randy dan aku pun mengangguk
Setelah Randy pergi, akupun mulai memasang infus ke Nuri dan juga memberikan obat melalui selang infusnya
“Cepat sembuh ya Nur. Aku ga pingin kehilangan lagi untuk yang ke dua kalinya.” Ucapku lirih setelah memasangkan selang infus ke tangannya
Beberapa jam kemudian, aku mengecek suhu tubuhnya lagi.
“Syukurlah, akhirnya demamnya turun juga.” Ucapku
“Gimana keadaannya suf?” tanya ibu yang tiba-tiba masuk
“Demamnya sudah turun bu.” Jawabku
“Oh syukurlah. Udah sana kamu istirahat dulu. Nanti klo kamu ga istirahat, bisa-bisa kamu yang sakit lho.” Ucap ibu.
“Ga bu. Aku ga mau pergi kemana-mana sebelum tau pasti, dia bakalan baik-baik saja.” Sahutku
“Ish ni anak satu ya. Kamu kan Dokter, harusnya kamu kan tahu klo dia bakalan baik-baik saja atau ga. Tapi kenapa sikap kamu ini seperti orang yang ga mengerti apa-apa?! Jangan-jangan, perasaan kamu ke Nuri sudah jelas ya?!” tanya ibu
“Ga tau bu. Aku sendiri belum yakin 100% dengan perasaanku saat ini.” Ucapku yang memang masih bingung
“Ya sudah.. Ya sudah. Klo kamu ga mau ninggalin dia sendiri. Tapi minimal kamu harus cuci muka dulu dan juga makan. Nuri disini biar ibu yang temenin.” Ucap ibu
“Baiklah klo begitu ibu. Titip Nuri ya bu.” Ucapku
“Iya. Ya udah sana. Makan dulu.” Ucap ibu
“Iya bu.” Sahutku singkat dan kemudian akupun langsung ke kamarku untuk ganti baju dan juga makan
Setelah beres semua, aku pun langsung bergegas ke kamar Nuri. Sebelum aku masuk, aku sekilas mendengar obrolan ibu dan Nuri
“Nur, kamu udah punya pacar belum?” tanya ibu
“Kok ibu tanya itu?” ucap Nuri heran
“Ga apa-apa. Ibu hanya tanya saja. Masalahnya kamu kan udah umur 17 tahun, pasti ada banyak cowo’ yang suka sama kamu kan?” tanya ibu
“Ah ibu bisa aja. Ga juga kok bu. Wlo mungkin banyak yang suka tapi akunya ga suka mereka.” Jelas Nuri
“Memang tipe cowo kesukaan kamu itu yang seperti apa sih sayang?” tanya ibu
“Aku ga pake tipe-tipean bu. Dulu Almarhumah mbak pernah bilang, jangan jadikan Cinta sebagai tolak ukur. Tapi niat ibadah itulah yang menjadi tolak ukur cinta.” Jelas Nuri
“Oh begitu ya. Lalu kamu tau darimana klo dia itu ternyata jodoh kamu?” tanya ibu
“Dari kemantaban hati dan juga suara hati ketika sedang dekat dengan cowo’ itu.” Ucap Nuri
“Maksudnya apa? Ibu kok ga ngerti ya?” ucap ibu
“Maksudnya begini bu. Jika suatu saat nanti aku bertemu dan berteman dengan seorang laki-laki, maka yang aku harus lihat itu imannya. Dan yang kedua, di saat aku dekat dengannya, hati ini nyaman dan yang ketiga, hati inilah yang sangat menginginkannya.” Jelas Nuri
“oh begitu. Lalu kamu dengan mas yusuf bagaimana?” tanya ibu berhati-hati
“Maksud ibu?” tanya Nuri bingung
“Begini Nur, ibu kan sudah tua. Ibu ingin sekali lihat yusuf bahagia dengan orang yang dia cintai. Dan ibu berharap kamu mau memberinya kesempatan untuk membuka kembali hatinya yang beku.” Ucap ibu sedih dan juga sangat berharap
“Tapi bu, mas Yusuf kan kakak iparku. Nanti apa kata orang klo hal ini sampai tersebar keluar? Nanti nama baik ibu, ayah juga mas yusuf bisa jelek gara-gara aku.” Ucap Nuri yang memang ada benarnya juga
“Ibu mengerti dengan ke khawatiran kamu. Tapi ibu juga ga mau yusuf dekat dengan perempuan lain. Ibu dan Ayah, hanya mau kamulah yang menggantikan posisi Aisyah di hati Yusuf.” Ucap ibu tegas
“Ibu, wlo ibu dan juga ayah yang maunya seperti ini, tapi bagaimana dengan mas Yusuf sendiri. Apa dia bersedia menggantikan mba Aisyah dengan aku?” tanya Nuri yang ragu
“Klo kamu bersedia, urusan yusuf, biar ibu yang tangani. Gimana?” ucap ibu
“Maaf bu, ibu ga usah seperti itu. Aku paham dengan keinginan ibu. Tapi bu, lebih baik biarkan ini mengalir apa adanya. Klo kami berjodoh, kami pasti akan bersama. Dan jika kami tidak berjodoh, maka kami tidak akan pernah bersama wlo dipaksakan sekalipun.” Ucap Nuri
“Tapi Nur...” Ucap ibu terpotong dengan ucapan Nuri
“Ibu, percayalah dengan pilihan mas Yusuf.” Ucap Nuri sambil tersenyum
Aku yang mendengar dari luarpun sangat terharu. Mungkin benar dia bertolak belakang sifatnya dengan Aisyah, tapi kepribadian mereka hampir sama.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comennya ya..🙏
singkat padat dan jelas
harus nya judul nya turun ranjang😀
jd gk trima rasanya kl judulnya"cinta karna ibadah"..
" Cinta Dalam Doa ".
terima kasih kak
.aq suka