Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Menemukanmu
Setelah seharian membuntuti kegiatan Adrian dan Ivanka, detektif Fery melaporkan setiap detail kejadian kepada Tama serta tidak lupa melampirkan beberapa foto kebersamaan mereka berdua.
Terakhir sang detektif menempatkan mata-mata untuk memantau apartemen Adrian, mereka sama sekali tidak ingin kehilangan jejak Ivanka.
Sedangkan yang Adrian dan Ivanka sama sekali tidak menaruh curiga kalau hari ini gerak-gerik mereka sedang di pantau oleh orang suruhan Leon.
Mereka berdua merasa senang bisa menikmati kebersamaan kembali setelah beberapa lama berpisah.
Apalagi bagi Adrian bisa menemukan Ivanka adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya sekarang, sampai ia harus lupa kalau gadis itu sudah mengakui perasaan cintanya pada Leon.
Adrian berpikir kini mungkin saat untuk ia memperbaiki hubungan mereka kembali tanpa mempedulikan kalau Ivanka sudah ternodai.
Begitu besarnya cinta Adrian untuk Ivanka sampai ia mau menerima segala kekurangan gadis itu.
Tama yang sudah menerima laporan dari detektif Fery segera melaporkan kembali perkembangan pencarian Ivanka kepada Leon.
Ia mengirimkan semua foto dari detektif Fery kepada Leon.
Lelaki itu membuka satu per satu foto yang di kirim oleh Tama, darahnya menjadi mendidih dan emosinya sudah tidak bisa di tahan lagi ketika melihat sebuah foto dimana Adrian sedang menyuapi Ivanka makan steak.
Dengan tersenyum manis Adrian dan Ivanka tampak bahagia dengan aksi suap-suapan, sampai Leon harus membanting handphone di tangannya "Braaak" untung saja benda itu tidak hancur berantakan karena jatuh tepat di atas sofa.
Leon menggenggam tangannya karena emosi dan mengeraskan tulang rahangnya karena ia benar-benar tidak bisa menerima kalau Ivanka sedang bersama pria lain selain dirinya.
Ia memukul meja dengan kuat, karena kebodohannya membuat Ivanka kini pergi menjauh.
Saat ini juga ia harus membawa Ivanka untuk kembali lagi, Leon sudah tidak sabar untuk menemui gadis itu dengan sesegera mungkin.
"Tamaaaaa," teriak Leon dengan suara keras sambil emosi.
"Iya tuan, siap terima perintah," sahut Tama dengan muka sedikit ketakutan melihat amarah Leon yang sudah meledak.
Muka tuannya itu kini sudah merah padam karena menahan sebuah amarah, Leon sudah siap mengajak Adrian untuk berperang untuk mendapatkan Ivanka kembali.
"Siapkan mobil cepat! Sekarang kita berangkat untuk menjemput Ivanka untuk kembali lagi ke rumah ini," perintah Leon sambil melangkah keluar untuk menghampiri Ivanka yang sekarang sedang berada di apartemen Adrian.
"Siap laksanakan tuan," jawab Tama dan dengan secepat kilat menyambar kunci mobil dan langsung berangkat menuju ke apartemen Adrian.
Leon duduk di kursi belakang sopir nampak gelisah, beberapa kali ia harus menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan untuk mengatur kembali emosi dalam jiwanya.
Sepertinya janjinya dalam hati kata "Maaf" itulah yang akan ia ucapkan ketika bertemu dengan Ivanka nanti.
Sedangkan Tama terus berkoordinasi dengan detektif Fery untuk memastikan keberadaan Ivanka saat ini dalam keadaan aman, ia tidak ingin membuat Leon menjadi kecewa jika jejak Ivanka hilang kembali.
Setelah sampai di apartemen Adrian Leon sengaja hanya meminta ia dan Tama saja nanti yang masuk.
Bel pintu apartemen Adrian pun di bunyikan.
*Ting tong ... Ting tong*
Ivanka sedang mandi dan membersihkan diri saat ini, setelah pulang dari luar bersama Adrian ia mengikuti protokol kesehatan yang sedang gencar-gencarnya di anjurkan.
Adrian yang sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan ponsel di tangannya, mendengar bel berbunyi ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
"Siapa yang datang ke apartemennya malam-malam begini?" Pikir Adrian sambil melangkahkan kakinya menuju kearah pintu.
*Cekrek bunyi pintu terbuka*
"Selamat malam," ucap Tama memberi salam.
"Selamat malam, siapa anda dan ada keperluan apa ke apartemen saya malam-malam begini?" tanya Adrian karena ia tidak mengenal siapa dua sosok yang berada di depannya.
"Perkenalkan saya Tama dan ini tuan saya Leon, kami datang kesini untuk mencari Ivanka," ucap Tama dengan sangat hati-hati.
"Deg" jantung Adrian berdegup kencang.
"Inikah sosok lelaki baji*ngan yang sudah menodai wanita kesayangannya?" tanyanya dalam hati.
Adrian sudah tidak sabar ingin segera menghabisi si keparat yang berada di depannya saat ini, menurutnya Leon tidak pantas lagi untuk hidup.
Ia sudah mengepalkan telapak tangannya dan mengeraskan tulang rahangnya, menggigit giginya menahan amarahnya dan berjalan mendekati Leon.
"Bruuuuk" sebuah bogem mentah melayang ke perut Leon secara tiba-tiba.
"Lelaki baji*ngan kau, orang sepertimu seharusnya malu datang kesini," teriak Adrian sambil kembali melayangkan tinju ke wajah Leon.
Tama datang melerai tapi tidak kunjung meredakan amarah Adrian dia hendak membuat Leon babak belur untuk membalas sakit hatinya.
Sedangkan Leon tidak membalas apapun kepada Adrian karena ia merasa pantas diperlakukan seperti ini.
"Aku tidak peduli seberapa banyak kamu mau pukul aku, memang aku pantas untuk menerimanya. Tapi tolong aku hanya ingin bertemu dengan Ivankaku sekarang, kemana dia? Pertemukan aku dengan Ivankaku," ucap Leon sambil meringis kesakitan memegang dagunya yang abis kena tinju.
"Bull*shit omong kosong semua perkataanmu! Ivankaku sayang katamu? Kamu sudah menodai wanita kesayanganku, masih berani kamu mengatakan Ivankaku?" tanya Adrian sambil berteriak dan kembali melayang kembali bogem mentah ke perut Leon.
Tama kembali ingin menolong tuannya, namun Leon melarang. Ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan jantan. Apapun resikonya tidak masalah asal ia bisa membawa Ivanka kembali bersamanya.
Mendengar ada keributan di luar Ivanka yang baru keluar kamar mandi segera mengganti pakaiannya dan bergegas keluar.
"Ada keributan apa ini?" tanya wanita itu, seakan tak percaya Leon Maleva lelaki baji*ngan yang ia hindari sudah berdiri di depannya.
Dengan muka ketakutan Ivanka berusaha bersembunyi di balik tubuh kekar Adrian.
"Lelaki ini yang sudah menodai kamu cinta?" tanya Adrian sambil menatap wajah Ivanka.
Ivanka tidak menjawab hanya air matanya yang bisa menjawab semuanya, wanita itu kembali menangis mengingat perbuatan Leon membuat perih hatinya.
"Ivanka kakak minta maaf! Kamu boleh hukum kakak, jika kamu mau silakan bunuh kakak, asalkan jangan tinggalkan kakak sendiri. Ayo kita pulang ke rumah! Kakak mohon ikut dengan kakak pulang sekarang," ucap Leon memohon, lelaki itu mengeluarkan tetasan bening dari sudut matanya tanda sebuah penyesalan.
Mendengar perkataan Leon membuat emosi Adrian tambah memuncak, ia tidak ingin Ivanka meninggalkannya lagi.
Adrian takut bujuk rayu Leon mampu meluluh hati wanitanya, karena bagaimana pun Ivanka punya rasa cinta kepada lelaki itu.
"Pergilah menjauh cinta! Aku akan menghabisi lelaki baji*ngan ini untukmu." Ucap Adrian sambil membawa Ivanka sedikit menjauh supaya ia bisa menghabisi Leon dengan leluasa.
Ivanka menarik tangan Adrian sambil berkata, " Jangan lakukan itu!" ucapnya sambil menggeleng.
"Kenapa? Karena kamu masih mencintainya? Jangan bodoh cinta! Jangan diperbudak oleh perasaanmu, dia sudah merusak hidupmu dan orang yang demikian pantas untuk mati!" ucap Adrian dengan emosi.
Leon yang mendengar ucapan Adrian kaget dan terbelalak, tak ia sangka ternyata Ivanka pun ternyata memendam rasa cinta untuk dirinya.
Hanya saja ia terlalu bodoh membuat Ivanka kecewa dengan menodai gadis itu secara paksa, andai ia mau saja bersabar mungkin mereka akan tetap bersama dan bahagia.
Hanya saja Leon masih bingung ada hubungan apa Adrian dengan Ivanka? Sampai lelaki itu memanggil cinta kepada wanita idaman hatinya.
"Tolong jangan lakukan apapun terhadapnya! Lepaskan dia demi aku, apapun yang sudah ia lakukan tetap saja aku berhutang nyawa padanya," Ivanka memohon pada Adrian.
"Baiklah aku akan membiarkan baji*ngan ini tetap hidup demi kamu cinta, ingat hanya demi kamu!" Ucap Adrian sambil menatap wajah Ivanka yang sedang menangis.
"Pulanglah dan jangan cari aku lagi kak!" ucap Ivanka sambil terisak.
"Alexsa Ivanka dengarkan kakak bicara, lebih baik aku mati dari pada kamu membenciku. Aku akan pulang kalau kamu ikut bersama kembali ke rumah kita dan maafkan kakakmu yang breng*sek ini," kata Leon sambil berlutut di depan Ivanka.
"Pulanglah kak, tolong jangan menyusahkan aku lagi. Aku tidak akan kembali lagi ke rumah terkutuk itu, mulai hari ini aku akan menjalani hidupku sendiri tanpa bayang-bayang dirimu Leon Maleva. Pergilah sebelum aku berubah membencimu dan untuk saat ini aku sudah melupakan kejadian malam itu," sahut Ivanka sambil terisak melangkah kembali ke kamar untuk melepaskan segala sesak di hatinya.
Leon gagal untuk membawa pulang Ivanka ke rumahnya dan ia melangkah lemas meninggalkan apartemen Adrian dengan sejuta rasa kecewa dan penyesalan.
Mengutuk diri sendiri dan ingin ia berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan kekecewaannya malam ini.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa buat semua yang membaca untuk meninggalkan jejak jempol, komentar kalian dan bantu vote.
Selamat berhari libur menikmati bersama orang-orang tercinta, bagi yang tekan favorit ❤️ di tekan ya.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭