SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota yang Tidak Ada di Peta
Bab 16: Kota yang Tidak Ada di Peta
Kabut asin dari pelabuhan masih menggantung ketika Ethan Mahendra melangkah keluar dari lorong bawah tanah. Gerbang batu yang baru saja ia lewati telah kembali tertutup, seolah tidak pernah ada. Hanya liontin giok di balik pakaiannya yang masih memancarkan kehangatan samar, pertanda bahwa resonansi dengan artefak di bawah pelabuhan belum benar-benar berakhir.
Ia berhenti di atas dermaga tua.
Langit mulai berubah jingga. Kapal-kapal nelayan berlayar pulang, sementara suara burung camar bercampur dengan deru ombak.
Namun perhatian Ethan tidak tertuju pada semua itu.
Tatapannya mengarah ke laut.
"Qi..." gumamnya pelan.
Di balik permukaan air yang tampak biasa, ia merasakan aliran energi yang sangat halus. Terlalu halus untuk disadari kultivator biasa, tetapi mustahil lolos dari indranya yang telah ditempa selama lima abad.
Aliran itu bergerak seperti sungai tersembunyi.
Bukan menuju daratan.
Melainkan menuju lautan lepas.
Seseorang sedang membuka jalur energi.
Atau...
sesuatu sedang bangun.
Sementara itu, puluhan kilometer dari sana, sebuah gedung pencakar langit berdinding kaca memantulkan cahaya matahari pagi.
Di lantai tertinggi, ruangan rapat dipenuhi pria dan wanita berpakaian jas hitam.
Logo perusahaan terpampang di dinding.
Aurora Maritime Group.
Di mata masyarakat, perusahaan itu merupakan konglomerat pelayaran internasional.
Namun jauh di bawah gedung itu terdapat aula batu kuno.
Puluhan kultivator duduk bersila mengelilingi sebuah kolam hitam.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di depan mereka.
Rambutnya disisir rapi.
Tatapannya tajam.
Di dadanya tergantung lambang naga perak.
"Kita kehilangan tim di bawah Pelabuhan Timur."
Suasana menjadi sunyi.
"Jejak energi mereka menghilang."
Salah seorang tetua membuka mata.
"Bukan iblis."
"Bukan pula monster."
"Lalu?"
Tetua itu menarik napas panjang.
"Seseorang telah memperoleh izin memasuki Gerbang Kedua."
Ruangan langsung dipenuhi bisikan.
"Itu mustahil."
"Gerbang itu terkunci selama ratusan tahun."
"Siapa yang mampu membukanya?"
Pria bermata tajam itu mengepalkan tangan.
"Temukan orang tersebut."
"Jika bisa direkrut, bawa hidup-hidup."
"Kalau tidak..."
Tatapannya berubah dingin.
"...hapus keberadaannya."
Di sisi lain kota, Ethan kembali ke apartemennya.
Begitu pintu tertutup, ia segera menyusun beberapa batu roh kecil yang diperoleh dari ruang bawah pelabuhan.
Jumlahnya tidak banyak.
Namun cukup untuk membentuk formasi pengumpul qi sederhana.
Cahaya tipis memenuhi ruangan.
Energi bumi perlahan berkumpul.
Ethan duduk bersila.
Qi yang masuk tidak deras.
Bahkan sangat tipis dibanding dunia kultivasi dahulu.
Tetapi kualitasnya...
berbeda.
Ada jejak Dao yang belum pernah ia rasakan.
Seolah dunia modern sedang menyembunyikan sesuatu.
Beberapa jam berlalu.
Ketika Ethan membuka mata, napasnya jauh lebih stabil.
Luka-luka halus akibat tekanan gerbang kuno telah pulih.
Meski demikian, tingkat kultivasinya masih berada di Alam Pengumpulan Qi Bintang Dua.
Ia tidak memaksa menerobos.
Tubuh ini masih membutuhkan fondasi yang lebih kuat.
"Kesabaran lebih berharga daripada kekuatan yang rapuh."
Kalimat itu merupakan ajaran gurunya ratusan tahun lalu.
Dan hingga kini, Ethan masih memegangnya.
Telepon genggamnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ethan mengangkatnya tanpa bicara.
"Apakah ini Ethan Mahendra?"
"Ya."
Suara perempuan terdengar tenang.
"Saya Nadia."
"Kita pernah bertemu di Arsip Naga."
Ethan mengingat wanita itu.
Pegawai arsip yang diam-diam mengetahui keberadaan dunia kultivator.
"Ada sesuatu yang harus Anda lihat."
"Apa?"
"Dokumen lama menghilang."
"Dan seseorang mencarinya sebelum saya."
Ethan terdiam beberapa detik.
"Lokasi."
"Saya kirim."
Sambungan terputus.
Beberapa saat kemudian, sebuah alamat masuk.
Perpustakaan tua di pinggir kota.
Sore hari.
Bangunan itu tampak nyaris kosong.
Rak-rak kayu dipenuhi buku tua.
Aroma kertas usang memenuhi udara.
Nadia berdiri di dekat jendela.
Saat melihat Ethan datang, ia tampak sedikit lega.
"Kupikir Anda tidak akan datang."
"Aku datang karena informasi."
Jawaban Ethan datar.
Nadia tersenyum tipis.
"Masih sulit percaya pada orang lain?"
"Itu membuatku tetap hidup."
Wanita itu tidak membantah.
Ia mengeluarkan sebuah map kulit tua.
"Sebelum dokumen utama dicuri, aku sempat memotret sebagian halamannya."
Foto-foto itu menunjukkan gambar yang membuat mata Ethan menyipit.
Sebuah peta.
Tetapi bukan peta negara.
Melainkan jaringan simbol yang saling terhubung.
Setiap titik diberi lambang naga.
Dan salah satunya...
berada tepat di bawah pelabuhan.
"Itu..." gumam Nadia.
"...adalah peta Kota Langit."
Ethan mengangkat kepala.
"Kota Langit?"
"Legenda mengatakan ada kota kultivator yang disembunyikan dari dunia manusia."
"Lokasinya berpindah-pindah."
"Tidak pernah muncul di peta mana pun."
Tatapan Ethan menjadi serius.
Bukan karena legenda itu.
Melainkan karena ia pernah mendengar nama tersebut lima ratus tahun lalu.
Saat masih menjadi Kaisar Bayangan.
Namun bahkan dirinya dahulu tidak pernah menemukan kota itu.
Kalau peta ini asli...
nilai seluruh dunia modern akan berubah.
Tiba-tiba.
Lampu perpustakaan berkedip.
Padam.
Ruangan menjadi gelap.
Ethan berdiri perlahan.
"Nadia."
"Ya?"
"Jangan bergerak."
"Kenapa?"
Belum sempat selesai bertanya, terdengar suara langkah kaki.
Bukan satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Mereka bergerak tanpa suara.
Terlatih.
Lalu...
Brak!
Jendela pecah bersamaan.
Empat sosok bertopeng masuk.
Masing-masing membawa senjata pendek berwarna hitam.
Qi mereka disembunyikan dengan sangat rapi.
Pemimpinnya berbicara pelan.
"Serahkan salinan peta."
Nadia mundur satu langkah.
"Aku tidak tahu maksudmu."
"Kau tahu."
Pria itu mengangkat tangannya.
Puluhan jarum hitam melesat.
Ethan bergerak.
Dalam satu tarikan napas, ia mendorong rak buku hingga roboh.
Jarum-jarum itu menghantam kayu.
Buk!
Buk!
Buk!
Racun hitam langsung menggerogoti rak.
"Asap Iblis..."
gumam Ethan.
Teknik lama.
Berarti lawannya berasal dari organisasi yang telah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun.
Bukan pembunuh biasa.
Pemimpin bertopeng menatap Ethan.
"Kau bukan target."
"Minggir."
Ethan tetap diam.
Pria itu menghela napas.
"Sayang sekali."
Dua orang langsung menyerang.
Gerakan mereka cepat.
Namun Ethan tidak melawan secara langsung.
Ia memanfaatkan lorong sempit di antara rak buku.
Setiap langkah membuat lawan saling menghalangi.
Satu pukulan mengenai rekan sendiri.
"Dia memancing formasi kita!"
teriak salah satu.
"Terlambat."
Ethan menendang meja baca.
Meja itu meluncur menghantam kaki seorang penyerang.
Keseimbangannya hilang.
Dalam sepersekian detik Ethan memukul titik akupuntur di lehernya.
Pria itu langsung pingsan.
Bukan mati.
Hanya kehilangan kesadaran.
Tiga lainnya langsung mengubah strategi.
Mereka membentuk segitiga.
"Teknik Pemburu."
Mata Ethan sedikit menyipit.
Mereka ternyata cukup berpengalaman.
Pemimpin bertopeng akhirnya bergerak sendiri.
Aura yang ditekan selama ini perlahan muncul.
Alam Pengumpulan Qi Bintang Lima.
Lebih tinggi dari Ethan.
"Menarik."
Pria itu menghunus belati pendek.
"Kau pantas disebut lawan."
Benturan pertama membuat lantai retak.
Ethan mundur dua langkah.
Lengannya sedikit bergetar.
Perbedaan kultivasi mulai terasa.
Namun wajahnya tetap tenang.
Ia justru mengamati ritme napas lawannya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu...
Senyum tipis muncul.
"Kau terluka."
Pemimpin bertopeng membeku sesaat.
"Kau..."
"Luka lama di meridian paru."
"Setiap lima napas, aliran qimu terputus sepersepuluh detik."
Tatapan pria itu berubah.
Bagaimana mungkin?
Ia menyembunyikan luka itu selama bertahun-tahun.
Ethan tidak memberi kesempatan.
Pada napas kelima...
ia bergerak.
Pukulan sederhana.
Tanpa teknik mewah.
Namun tepat mengenai titik ketika qi lawan terputus.
Darah menyembur dari mulut pria bertopeng.
Ia terpental menghantam dinding.
"Retret!"
teriaknya.
Keempat orang segera melempar bola asap.
Ruangan dipenuhi kabut hitam.
Ketika asap menghilang...
mereka sudah lenyap.
Hanya tersisa sebuah anak panah hitam tertancap di lantai.
Pada batangnya terukir lambang mata emas.
Ethan mencabutnya perlahan.
"Mata Emas..."
Nama itu kembali muncul.
Organisasi yang sama.
Berarti mereka juga mencari Kota Langit.
Nadia duduk lemas di lantai.
"Terima kasih..."
Ethan tidak menjawab.
Ia justru memandangi foto peta.
Sebagian sudutnya telah robek.
Sengaja.
Seolah seseorang tidak ingin peta itu lengkap.
"Itu bukan kebetulan."
gumam Ethan.
"Mereka membiarkan kita menyimpan potongan ini."
"Maksudmu?"
"Mereka ingin seseorang menemukan sisa petanya."
Nadia menatapnya bingung.
"Kenapa?"
Ethan memasukkan foto itu ke dalam tas.
"Karena ada tempat yang hanya bisa dibuka jika semua pecahan berkumpul."
Ia menoleh ke arah jendela yang pecah.
Tatapannya menembus langit malam.
"Dan mereka membutuhkan seseorang untuk membuka pintu itu."
Jauh di tengah laut.
Kabut putih menutupi permukaan air.
Tak ada kapal yang berani mendekat.
Di balik kabut...
sebuah bayangan kota raksasa perlahan muncul.
Menara-menara batu menjulang.
Jembatan melayang di udara.
Cahaya biru menyala dari ribuan rune kuno.
Di gerbang kota berdiri seorang lelaki tua berjubah putih.
Mata emasnya perlahan terbuka.
Ia menatap ke arah daratan.
"Pemilik Qi Kaisar..."
suaranya bergema.
"Pada akhirnya..."
"...kau telah kembali."
Di belakangnya, gerbang raksasa mulai terbuka sedikit demi sedikit, sementara aura kuno yang tertidur selama ribuan tahun mulai menyebar ke seluruh lautan.