HIATUS.
Mohon maaf, Author sedang berhibernasi sampai musim salju tiba.
***
Aku enggak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu. Saat terbangun, tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran sempit yang disusun oleh besi-besi.
Di luar sana, tampak puntung rokok di atas meja mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga tergantung asal di tembok. Sementara puluhan keris berdiri sejajar di dalam lemari kaca.
"Tutupi tubuhmu, Nduk!"
Tiba-tiba, suara serak kakek tua mengejutkanku dari arah lain sambil melemparkan selembar jarik.
Aku baru sadar, kalau dari tadi tubuhku sudah tanpa sehelai benang.
Ke mana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP-ku?
Ya, Tuhan ...
Apa mereka benar-benar menyetubuhiku malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanggar Perjanjian
Sebagai seorang wanita, dengan tinggi badan 157 cm, berat 45 kg. Tubuhku sangat kecil dibandingkan dengan Ndaru.
Aku masih sempat memperhatikan, warna kulitnya yang sawo matang dan kasar dibandingkan kulitku yang kuning langsat dan halus, membuatku sedikit banyak merasa jijik ketika memikirkan tubuhku dikerubuti olehnya, untuk kemudian dihajar tanpa ampun.
“Argh ... Uurgghhh ... Aaaaaaagh .…” Aku mengerang dan menjerit, keringatku mengucur bercampur air mata.
Selagi aku masih kebingungan merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhku, tiba-tiba Muis kembali dan turut bergabung. Dia menyumpal kain merah bekas ritual tadi ke dalam mulutku, dan menggerayangi tubuhku habis habisan, dari tengkuk hingga ujung kaki.
"Eh ... Cantikku ... belum apa-apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar, dong, kenikmatan yang sesungguhnya bakal segera kamu rasakan. Tapi ada bagusnya juga lho, punyamu jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus, ya,” ejek Ndaru sambil membuang senyum yang memuakkan. "Kamu ... Sungguh luar biasa, cantik!"
Milik Ndaru begitu besar, dan urat-urat yang berdenyut di dalamku, sungguh sesak dan perih rasanya. Sementara itu dia mulai meracau, “Oh sempitnya, cantik. Enaknya .... “
sambil terus memompa, sampai akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyentuh bagian paling dalam, mungkin itu rahimku.
Sementara Muis hanya diam menonton Bossnya dengan raut wajah memelas, "Bos, boleh aku pakai lubang satunya, toh nganggur ini."
"Monggo, waktu dan tempat dipersilahkan Muis." jawab Ndaru. "Tapi potong gaji!"
Aku masih tak tahu apa yang mereka katakan, tiba-tiba aku ditariknya lagi hingga kening kami saling bersentuhan, begitupun dada kami. Aku masih menahan perih akibat luka yang diciptakan Bahlil, tapi sekarang ada rasa sakit baru di belakang.
Ya tuhan, apa yang sedang Muis lakukan?
Iya, dia menghajarku dari belakang, di tempat yang seharusnya tidak diperkenankan. Sungguh, aku tak habis pikir, sekeji itu mereka kepadaku. Menghancurkanku luar dalam.
Muis segera menyergap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan untuk bernafas. Dengan penuh semangat Muis memompaku dari belakang. Aku kehabisan napas. Sedang milik Ndaru mulai terasa berkedut di dalam, dan rasanya panas sekali di dalam.
"Aarhh cantik, lega rasanya!" cicitnya menyerah. Dia mendorongku ke samping sofa, membuatku telentang di sebelahnya. "Muis, jangan lama-lama! Bersihkan dia kalau sudah selesai."
Dengan senyum puas Ndaru berdiri mengenakan celananya kembali dan menenteng kaos menuju pintu depan. Sedang muis dengan cekatan menggantikan posisi Ndaru sebelumnya, menindihku dari atas dan melumat habis tubuhku.
"Hey, Muis! 3 menit!" pekik Ndaru sambil mengacungkan tiga jari, lalu tarik gagang pintu, sebelum dia menghilang.
"Ahh, hasiap bos," jawab Muis terbata-bata.
Bibirnya tak sabaran, mengunyah setiap jengkal wajahku. Tangan kekarnya sudah mulai keriput, janggut tipisnya yang kasar membuat kulit halusku tersayat meninggalkan bekas luka yang samar. Dan ketika Ndaru menghilang, Muis dengan beraninya menyentuh liang yang tadinya di pakai oleh bosnya. Perih kembali harus kurasakan.
Meski tak sesakit apa yang dilakukan Ndaru kepadaku, namun tetap saja aku tak menginginkan semua ini. Dia melakukannya dengan kasar, cepat, dan asal-asalan. Dia kerap tergelincir dan akhirnya aku harus menepis jidatnya yang nyaris bertabrakan dengan hidungku.
Belum sampai 3 menit, aku pun menoleh ke bawah saat merasa ada sesuatu yang panas di dalam rahim. Kulihat begitu banyak cairan putih pekat berceceran di sana, entah apa yang telah dilakukan Muis, tapi dia tetap belum menyerah. Atau mungkin itu semua milik Ndaru tadi yang telah terdorong keluar.
Aku nggak peduli. Rasanya sudah hambar. Aku telah mati rasa.
KRETTTT
Pintu terbuka. Aku melihat ada seseorang sedang mendekat, samar, tapi Muis tak peduli. Dia nggak menengok sama sekali, justru makin gencar memompaku.
"GOBLOK!!!" Nada suaranya terdengar tak asing.
BUGHHHH
Dan sebuah tinju pun mendarat di wajah Muis.
...BERSAMBUNG...
dukung karya aku juga ya di alice celestia dalian, sama2 genre horror/misteri,, mohon ulasannya 🤗