Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanggar Perjanjian
Sebagai seorang wanita, dengan tinggi badan 157 cm, berat 45 kg. Tubuhku sangat kecil dibandingkan dengan Ndaru.
Aku masih sempat memperhatikan, warna kulitnya yang sawo matang dan kasar dibandingkan kulitku yang kuning langsat dan halus, membuatku sedikit banyak merasa jijik ketika memikirkan tubuhku dikerubuti olehnya, untuk kemudian dihajar tanpa ampun.
“Argh.. Uurgghhh.. aaaaaaagh…” Aku mengerang dan menjerit, keringatku membanjir deras bercampur air mata.
Selagi aku masih kebingungan merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhku, Tiba-tiba Muis mendekatiku, menyumpal kain merah bekas ritual tadi pada mulutku, dan melumat tubuhku habis habisan, dari tengkuk hingga ujung kaki.
"Eh... Cantikku... belum apa-apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar, dong, kenikmatan yang sesungguhnya akan segera kamu rasakan. Tapi ada bagusnya juga lho, punyamu pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus, ya,” ejeknya sambil membuang senyum yang memuakkan. "Kamu.... Sungguh luar biasa, cantik!"
Milik Ndaru begitu besar, dan urat-urat yang berdenyut di dalamku, sungguh sesak dan perih rasanya. Sementara itu dia mulai meracau, “Oh sempitnya, cantik. Enaknya.... “ sambil terus memompa, sampai akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyentuh bagian paling dalam, mungkin itu rahimku.
Sementara Muis hanya diam menonton Bossnya dengan raut wajah memelas, "Bos, boleh aku pakai lubang satunya, toh nganggur ini."
"Monggo, waktu dan tempat dipersilahkan Muis." jawab Ndaru. "Tapi potong gaji!"
Aku masih tak tahu apa yang mereka katakan, tiba-tiba aku ditariknya lagi hingga kepalaku dan Ndaru saling bersentuhan dan menindih tubuhnya. Aku masih menahan perih akibat luka yang diciptakan Ndaru, tapi sekarang ada rasa sakit baru di belakang.
Ya tuhan, apa yang sedang Muis lakukan?
Iya, dia menghajarku dari belakang, di tempat yang seharusnya tidak diperkenankan. Sungguh, aku tak habis pikir, sekeji itu mereka kepadaku. Menghancurkanku luar dalam.
Muis segera menyergap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh semangat Muis memompaku dari belakang. Aku kehabisan napas. Sedang milik Ndaru mulai terasa berkedut di dalam, dan rasanya panas sekali di dalam.
"Aarhh cantik, lega rasanya!" cicitnya menyerah. Dia mendorongku ke samping sofa, membuatku telentang di sebelahnya. "Muis, jangan lama-lama! Bersihkan dia kalau sudah selesai."
Dengan senyum puas Ndaru berdiri mengenakan celananya kembali dan menenteng kaos menuju pintu depan. Sedang muis dengan cekatan menindihku dari atas dan melumat habis tubuhku.
"Hey, Muis! 3 menit..." tunjuk Ndaru sambil memegang gagang pintu, sebelum dia menghilang.
"Ahh, hasiap b...bbos," jawab Muis terbata-bata.
Bibirnya tak sabaran, mengunyah setiap jengkal wajahku. Tangannya kekarnya yang mulai keriput, janggut tipisnya yang kasar membuat kulit halusku tersayat meninggalkan bekas luka yang samar. Dan ketika Ndaru menghilang, Muis dengan beraninya menyentuh liang yang tadinya di pakai oleh bosnya. Perih kembali harus kurasakan.
Meski tak sesakit apa yang dilakukan Ndaru kepadaku, namun tetap saja aku tak mengiginkan semua ini. Dia melakukannya dengan kasar, cepat, dan asal-asalan. Dia kerap tergelincir dan akhirnya aku harus menepis kepalanya yang nyaris bertabrakan dengan hidungku.
Belum sampai 3 menit, aku menoleh ke bawah. Kulihat begitu banyak cairan putih pekat berceceran di sana, entah apa yang telah dilakukan Muis, tapi dia tetap belum menyerah. Atau mungkin itu semua milik Ndaru tadi yang telah terdorong keluar.
Aku tak peduli.
Rasanya sudah hambar.
Aku telah mati rasa.
...Kreettttt Cekklekk...
Pintu terbuka, kulihat dari belakang bahu Muis, tapi Muis tak peduli. Dia tak menengok sama sekali, justru makin gencar memompaku.
Suara langkah kaki terdengar samar, tapi aku yakin suara itu kian mendekat.
"GOBLOK!!!" Nada suaranya terdengar tak asing.
...Plakkkk Jebbb Jebbbb...
...Plaakkk...
Beberapa pukulan mendarat di wajah Muis.