Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.
follow ig: @rohidbee07
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ragumu dan Raguku
Semoga jatuh cinta memiliki umur panjang di kota ini dan menjadi tua dalam ingatan kita Andira. Kamu seharusnya mengerti banyak sedikitnya kenangan kita bersama, mungkin kamu seketika akan menjadi pikun sesaat. Kamu pasti berusaha menghindari kenangan ini di dalam pikiranmu dan hatimu yang paling dalam. Jangan sampai kamu naif mengenai ini. Kamu tidak ingin memikirkan atas apa-apa yang aku pikirkan untuk hubungan kita ke depannya. Sejatinya cinta sejati selalu memiliki umur yang amat panjang untuk dirasakan sepasang kekasih seperti kita. Aku harap kamu tidak secepat itu menggantikanku Andira. Jika saja di hatimu, ada orang lain aku tidak akan ber—spekulasi apa pun terhadapmu. Bagiku mencintai itu, saling berbalas kasih dengan kebaikan serta dibalut kesetiaan.
Kalaupun nantinya hatiku yang telah lama ku—tautkan kepadamu, tidak pernah kamu butuhkan lagi. Aku akan menerima segala konsekuensinya Andira. Kata pujangga cinta itu butuh jeda, lantas mengapa aku tidak pernah memahami jeda tersebut. Aku tidak pernah bisa berhenti mencintamu tiap harinya. Semuanya terus bertumbuh, seperti hidup ini yang terus berjalan. Aku percaya apa yang untukku, secara alami akan menemukan jalannya di jalanku. Tidak akan terasa dipaksakan Andira. Tidak akan terasa sepertiku memohon agar orang atau benda itu tetap tinggal. Aku tidak akan merasa seperti mengkhianati diri sendiri untuk mendapatkan kursi di meja. Aku tidak dapat menempatkan kebahagiaanku di tangan orang lain dan berharap bahwa setiap kebutuhanku akan terpenuhi, atau bahwa aku tidak akan terbawa arus di beberapa titik air yang membuatku ikut terbawa.
Aku pun percaya atas apa yang kita jalani saat ini, pasti akan menemukan tujuannya. Seperti terminal menunggu Busnya, begitu juga kita menunggu waktu yang pas untuk mengikat komitmen kita. Andira ada beberapa hal-hal yang penting untuk menjaga sebuah komitmen yaitu adanya rasa kepercayaan. Jika di antara kita telah hilang kepercayaan, maka sudah dipastikan pupus juga tujuan-tujuan kita. Jangan sampai hubungan dipenuhi egoisme tinggi di antara kita, aku tidak pernah sekalipun menjadi egosentris (paling egois) di hadapanmu. Jelas itu akan berdampak tidak baik pada hubungan kita. Merawat hubungan itu bukan sekedar siapa paling benar dan siapa yang salah Andira. Melainkan siapa duluan yang bersedia meminta maaf dan melebarkan sabarnya lebih luas lagi.
“Andira, aku boleh tanya sesuatu?” tanyaku di sela-sela keheningan kita di Bukit harapan.
“Tumben, Yang. Kamu ajak aku ke sini pagi-pagi dan mau tanya tentang apa?” balas Andira sedikit heran dengan sikapku.
“Apa kamu percaya sama aku? Percaya segala hal yang berkaitan tujuanku dan mengapa menjalin komitmen denganku itu perlu?”
“Hmmm ... tentu, Yang. Aku sangat percaya kepadamu! Lagi pula, aku sudah yakin kalau kamu pria yang bisa kuandalkan dan berkomitmen denganmu itu pilihan,” ucap Andira sambil menepuk pipiku dengan lembut..
“Hah ... sungguh!? Kamu enggak lagi menghiburkukan, Yang?”
“I—iya, aku sungguh-sungguh percaya sama kamu. Aku yakin impianku akan terwujud, saat kamu selalu ada di samping, di depan bahkan di belakangku, Han,” ucap Andira dengan senyuman khasnya yang manis.
“Lalu ... kenapa kamu dulu meninggalkan aku dengan sengaja memilih pria itu? Jujur aku enggak mau ingat kejadian itu, Andira. Tapi, rasa was was kadang muncul kalau aku sedang melamun.”
“Han, bisa enggak sih enggak sih bahas itu, aku tahu aku salah. Apa kamu belum sepenuhnya memaafkan aku?” balas Andira memasang wajah sedikit kesal.
“Kalau boleh jujur sih enggak, Andira. Aku selalu transparan dalam segi apa pun sama kamu. Karena kunci langgengnya hubungan bukannya kejujuran dan dipercayakan?”
“I—iya aku tahu aku salah, Han. Tapi, apa kamu enggak sadar aku udah berubah total dan apa kamu masih terus dibayangi kesalahanku?” balas Andira merasa bersalah dan tidak berani menatapku lebih lama.
Tentu itu, normal untuk memiliki harapan dalam hubunganku, tetapi tingkat harapanku dapat menentukan tingkat kebahagiaan yang kualami. Menjadi bergantung pada kehadiran orang lain, agar bahagia hanya menyebabkanku semakin menjauh dari satu orang yang paling berarti yaitu diriku sendiri. Sebagaimana, karir yang sedang kubangun aku memahami bahwa banyak sekali kerikil tajam di perlintasanku. Demikian pula hubunganku dengan Andira, aku merasa selama ini merasakan sedikit Toxic relationship, yang tanpa aku sadari sudah lama menghampiriku.
“Entahlah, Andira. Bagaimanapun aku juga manusia biasa, terkadang aku tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri. Aku minta maaf bukan bermaksud untuk mengungkit hal ini kepadamu.”
“Sayang ... aku paham sekali, apa yang kamu rasakan sekarang. Terkadang kunci hubungan bukan sekedar rasa sayang dan cinta saja. Melainkan rasa kepercayaan, aku minta maaf telah merusak sebagian dari kepercayaanmu,” balas Andira sambil menatapku dengan tatapan serius.
“Syukurlah kalau kamu mulai memahami segala hal yang sulit aku utarakan kepadamu, Yang. Secara keseluruhan memang seharusnya kita sering berbicara seperti ini terus-menerus, supaya kita ....”
“Supaya apa, Han?” sahut Andira mulai bingung arah pembicaraanku.
“Supaya kamu terbiasa dan tidak terburu-buru memberikan kesimpulan atas apa-apa yang belum sepenuhnya kamu mengerti, Andira.”
“Apa tujuanmu agar kita saling terbuka dan tidak ada yang dirahasiakan?” balas Andira sambil meletakkan kepalanya di pundakku.
“Yaps ... tepat sekali, Andira! Agar kamu lebih lapang menerima kritikan, masukan dan tidak mudah tersinggung saat lawan bicaramu membahas kesalahanmu. Mereka mengulas kembali kesalahanmu, bukan berarti tidak sepenuhnya belum bisa memaafkan kesalahanmu, Andira. Mereka hanya sedang mengoreksimu agar tidak terjerumus kesalahan yang sama, begitu juga berlaku saat aku membahas ini dengan kamu.”
“Iya, Yang. Aku sekarang paham dan mencoba menjadi pasangan idealmu dan tidak ingin menyakitimu di kemudian hari,” ucap Andira sambil menatap pemandangan kota Lampung di atas Bukit harapan.
“Syukurlah dan semangat untuk berubah, Andira!”
“Si—siap, Han. Terima kasih telah sabar menghadapi keegoisanku selamat ini,” balas Andira sambil memelukku dengan erat.
“Huft ... udah dong, Sayang. Tolong lepasin pelukanmu! Aku enggak bisa nafas ini. Oh, iya ngomong- ngomong kamu suka enggak aku ajak ke sini lagi?”
“He he maaf, Sayang. Aku abis gemas dan takut kehilangan hangatnya tubuhmu. Aku senang kamu ajak ke sini, aku bisa puas liat indahnya pemandangan kota ini,” ucap Andira sambil tiada habisnya menatap panorama indah ciptaan Tuhan.
Andira sengaja aku mengajakmu ke sini sepulang dari kampus. Bukan maksud aku menghemat, hanya karena tidak bisa membawamu ke tempat yang lebih mewah. Bagiku sebagai anak indie, tempat ini adalah tempat yang sangat penting untuk aku kunjungi setiap waktu. Aku merasa tenang dan sering menghabiskan banyak waktu di sini selama berjam-jam tanpa ada indikasi rasa bosan sedikitpun. Barangkali, untuk sebagian banyak orang tempat ini sangat monoton. Sangat sepi untuk dikunjungi, mungkin banyak orang sedikit gengsi untuk berlibur ke sini karena free tanpa ada biaya sedikitpun. Tapi, bagi orang-orang yang mencintai alam, Bukit ini sangatlah mewah sekali untuk dinikmati, selain untuk tempat berekspresi, berimajinasi dan obat healing yang ampuh. Bukit ini menyajikan udara yang segar ditambah pemandangan yang elok untuk dinikmati, di kala kita butuh perenungan panjang menyikapi hidup yang selalu ditemukan kerumitannya.
Seandainya kamu menyadari Andira, ketika otakmu butuh istirahat. Tempat ini sangat cocok untuk mengatasi stresmu. Aku biasanya ke sini sehari dua kali mengunjungi Bukit ini, di saat pikiran buntu dalam membuat narasi dalam cerita. Aku cukup datang ke sini secara cuma-cuma, biasanya ada sebagian penulis berkunjung ke Cafe untuk memesan kopi dan mengharapkan suasana baru. Tujuannya agar bisa lancar dalam berimajinasi, tetapi sangat berbanding terbalik denganku. Aku justru ke tempat ini dan memilih membawa kopi dan sedikit camilan dari rumah. Seperti orang yang datang ke sawah untuk bekerja dan menikmati indahnya pemandangan, aku pun juga totalitas datang ke tempat ini. Tempat ini sangatlah luar biasa bagiku dan kamu harus mengerti itu Andira.
“Dan menurut penglihatanku yang paling penting dalam sebuah komitmen ialah sebuah kepercayaan. Sebab, itulah sebuah nyawa, karena selalu ada perasaan di mana aku lebih nyaman, daripada disayang. Ketika aku sudah benar-benar dipercaya.”
-Rohid Bachtiar
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?