NovelToon NovelToon
Bad Boy Agent

Bad Boy Agent

Status: tamat
Genre:Mata-mata/Agen / Bad Boy / Mafia / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:263.3k
Nilai: 5
Nama Author: Naya_handa

Ketenangan seorang gadis depresi bernama Gayatri mulai terusik setelah kedatangan seorang siswa baru yang masuk ke sekolahnya.
Tampan, gagah, keren dan cerdas, membuat sosok Shaka mendadak populer di sekolah.
Shaka mendekati banyak siswi di sekolahnya untuk mencari tahu informasi penting. Tanpa teman-temannya tahu, Shaka adalah seorang agent yang sedang melakukan penyamaran untuk mengungkap kasus pembullyan oleh genk motor yang telah merenggut nyawa adiknya.
Berbeda dari siswi lainnya, Gayatri begitu menghindari sosok Shaka hingga menguji kesabaran sang agent.
Bisakah mereka menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengantar pulang

Shaka masih berkeliling di sekitaran bangunan ruko yang sudah tua. Ia mencari Gayatri yang ia yakini masuk ke area ini. Ada satu ruko dengan rolling dor terbuka, Shaka segera masuk ke tempat itu, tetapi ternyata kosong.

Tidak ada apa pun di sana selain bangku-bangku rusak dan roda dorong yang sudah tidak terpakai. Shaka menutup hidungnya saat debu mengepul dari dalam ruangan ketika ia menyenggol salah satu bangku.

Pencarian Shaka beralih ke tempat lain. Ia segera keluar dari unit ruko, mengelilingi area itu dan berjalan hingga ke belakang ruko. Sayup-sayup ia mendengar suara seorang laki-laki. Langkah Shaka di buat cepat menuju tempat itu. Dari kejauhan, Shaka melihat tangan Gayatri sedang di pegangi oleh seorang laki-laki bertubuh tinggi. Laki-laki itu masih mengenakan helmnya.

“Aya! Gue gak akan apa-apain lo! Gue cuma mau ngomong sama lo. Gue gak akan bersikap kasar!” seru laki-laki itu tanpa melepaskan tangannya yang mencekal lengan Gayatri.

Gayatri tidak menimpali, ia memilih untuk memalingkan pandangannya. Wajahnya terlihat sangat ketakutan, sampai tubuhnya pun gemetaran.

“Hey! Lepasin!” seru Shaka seraya menghampiri laki-laki itu.

“Akh, sial!” Laki-laki itu segera menutup helm full facenya dan menoleh Shaka yang berdiri tidak jauh darinya. Shaka berjalan dengan gagah, siap menghadapi laki-laki berhelm tersebut.

Tanpa rasa takut, Shaka segera mendekat. Ia memperhatikan ada sebuah lambang di jaket kulit pria itu. Lambang mirip identitas genk motor dengan gambar tengkorak dan celurit yang di kelilingi api menyala.

Belum selesai Shaka memperhatikan penampilan pria itu, tiba-tiba saja laki-laki itu berlari untuk menyerang Shaka. Ia melayangkan tinjunya ke wajah Shaka tetapi Shaka segera menepisnya. Postur Shaka yang lebih tinggi dari laki-laki itu membuat Shaka dengan mudah meraih tangan laki-laki itu lalu ia pelintir di punggungnya dan ia tahan beberapa saat.

“Lo tau kan arti dari sebuah penolakan? Kenapa lo maksa dia? Apa yang lo mau dari Gayatri?” tanya Shaka dengan cepat, mengunci kuat cengkramannya di lengan laki-laki itu.

“AKH!” laki-laki itu tidak menjawab. Ia malah berbalik dan menendang kaki Shaka yang ada di belakangnya, membuat kaki Shaka terpaksa mundur beberapa langkah.

Tidak hanya itu, laki-laki itu kembali melayangkan satu tangannya hendak memukul wajah Shaka, namun secepat kilat Shaka menepis bogem mentah itu dengan lengannya, seraya tersenyum sarkas pada laki-laki berhelm itu. Gerakannya bisa dengan mudah di terka oleh Shaka.

Kaki panjang Shaka balas menendang perut laki-laki itu hingga laki-laki itu terdorong mundur dan terjengkang di atas pavingblok. Shaka segera menghampiri laki-laki itu, mencengkram kerah jaketnya dan berusaha keras membuka helm laki-laki itu. Tetapi laki-laki itu malah melempar tanah berkerikil ke mata Shaka, hingga mata Shaka terpaksa mengerjap sebagai refleks.

Dalam hitungan detik, laki-laki itu menendang dada Shaka, Shaka tidak sempat menghindar, hanya bisa menghalangi tendangan itu dengan lengannya. Di waktu yang bersamaan laki-laki itu segera bangkit berdiri lalu berlari tunggang langgang meninggalkan Shaka yang masih mengucek matanya karena perih terkena pasir.

Cepat sekali laki-laki itu pergi dan menyalakan mesin motornya sebelum kemudian kabur tanpa meninggalkan jejak.

Pelan-pelan penglihatan Shaka mulai jelas. Ia bergegas menghampiri Gayatri. “Lo gak apa-apa?”

Shaka memeriksa kondisi Gayatri yang pucat pasi dan gemetaran. Ia berlindung di balik tangannya yang tersilang di depan wajahnya. Shaka berusaha meraih tangan Gayatri yang gemetar itu, tetapi gadis itu mengibaskannya dengan cepat.

“Hey, gue gak akan ganggu lo. Gue cuma mau nolongin lo. Lo gak apa-apa kan?” tanya Shaka seraya memegangi tangan Gayatri. Terlihat Gayatri yang sangat ketakutan. Sorot matanya menyalak kaget dengan keringat dingin di dahinya.

Shaka mengusap rambut sang gadis yang menutupi wajahnya. "Tenang Aya, gue datang buat nolong lo." Shaka berujar dengan pelan.

Gayatri yang masih ketakutan hanya menggeleng dan segera memalingkan wajahnya dari Shaka. Shaka merasa kalau gadis ini sepertinya memiliki trauma dengan orang tersebut. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi sudah pasti Gayatri hanya akan bungkam.

“Ayo, gue anter lo pulang. Lo bisa beristirahat di rumah,” ucap Shaka dengan perasaan Khawatir.

Gayatri hanya menelan salivanya kasar-kasar. Pelan-pelan ia menegakkan tubuhnya. Shaka mengulurkan tangannya untuk membantu Gayatri berdiri, tetapi gadis itu menepisnya. Ia memilih berdiri sendiri walaupun tergopoh-gopoh.

“Astagaaa, you break my heart, break my heart,” keluh Shaka seraya tersenyum kelu mendapat penolakan kesekian kalinya dari Gayatri. Gadis ini memang sangat keras kepala. Entah sampai kapan gadis ini akan mengabaikan keberadaannya.

Gayatri berdiri seorang diri. Ia berjalan meninggalkan Shaka. Roknya yang kotor oleh pasir dan tanah, ia biarkan saja. Langkahnya terus menjauh dengan tertatih-tatih.

“Gue bonceng aja ya, gak usah bawa motor sendiri,” tawar Shaka yang berjalan di samping Gayatri. Gayatri itu hanya diam saja, seraya memegangi tali tasnya dengan erat. Shaka melihat tangan gadis itu memar, sepertinya ia sempat melakukan perlawanan pada laki-laki itu.

“Gue bisa nganter lo dengan selamat sampai tujuan. Motor lo biar di titip dulu di sini, nanti gue anterin. Tenang, gak bakal gue bawa kabur.” Shaka masih berusaha menawari. Ia berjalan mundur agar bisa menatap Gayatri yang ada di depannya.

Gadis itu tetap bungkam dan menghindari tatapan Shaka. Hingga sampai di tempat mereka memarkirkan motor, Gayatri segera mengambil helmnya. Ia juga naik ke atas kuda besinya.

“Hey, gue udah bilang kalau gue bakal boncengin lo. Bisa gak sih lo percaya sama gue sekali aja? Bahaya kalau lo bawa motor sendirian. Lagian gue gak bakal nyulik lo kok. Ini demi keselamatan lo sendiri. Please, jangan terlalu keras kepala,” pinta Shaka dengan sungguh.

Namun, bukan Gayatri namanya kalau tidak sekeras kepala ini. Ia malah mengibaskan tangan Shaka yang memegangi lengannya, lalu menyalakan mesin motornya.

“Astaga nagaaaa, tuhaann...” Shaka memegangi kepalanya yang berdenyut pusing. Kesabarannya memang harus setebal kamus oxford untuk menghadapi seorang Gayatri. Gadis itu tetap tidak meresponnya dan malah melajukan motornya meninggalkan Shaka.

“SH1T!” dengus Shaka. Ia segera memakai helmnya dan menyalakan mesin motor untuk menyusul Gayatri. Ia tidak akan membiarkan Gayatri pulang seorang diri.

Jarak antara dirinya dengan Gayatri, di atur Shaka sedemikian rupa. Tidak terlalu jauh atau pun dekat. Sambil mengikuti Gayatri, otaknya tidak berhenti berpikir, menduga-duga siapa sebenarnya laki-laki tadi. Mengapa menyerang Gayatri dan membuat gadis itu begitu ketakutan?

Gayatri yang sadar sedang diikuti oleh Shaka, memilih untuk tidak berbelok menuju gang rumahnya. Ia berbelok ke kanan, memasukin area kompleks perumahan elite lalu berhenti di depan rumah yang pagarnya terbuka. Rumah itu cukup besar.

“Rumah lo di sini?” tanya Shaka. Ia memperhatikan sekeliling rumah Gayatri yang sepi.

Tanpa menjawab Shaka, Gayatri segera masuk ke dalam rumah itu bersama motornya. Setelah itu ia menutup kembali pagarnya dan berdiam diri beberapa saat di balik pintu pagar yang tertutup sambil menunggu Shaka pergi dari depan rumah besar ini.

Seorang anak kecil menghampiri Gayatri, Gayatri menoleh anak berusia empat tahun itu. Anak laki-laki itu malah tersenyum saat melihat wajah Gayatri yang dingin. Gadis ini baru sadar, kalau rumah ini sudah tidak kosong lagi, sudah ada penghuninya.

“Kakak,” ucap anak kecil itu. Ia berjongkok memandangi motor Gayatri yang banyak ditempeli stiker. Gayatri membeku di tempatnya, tidak tahu harus berbuat apa. Gadis hanya menunggu Shaka hingga pergi.

Tidak lama kemudian, suara motor Shaka pergi meninggalkan rumah besar itu. Di susul oleh Gayatri yang bergegas keluar dari rumah itu. Melihat ke sekitarnya untuk memastikan kalau Shaka sudah tidak ada, baru kemudian berbelok ke kiri berlainan arah dengan Shaka.

Dalam beberapa meter, Gayatri tiba di jalan pintas menuju rumahnya. Rumah yang sebenarnya. Ia yakin, Shaka tidak akan mengejarnya sampai ke sini, bukan?

“Kamu tidak perlu tau apa pun tentang aku, terlebih keluargaku,” batin Gayatri. Bagi Gayatri, Shaka cukup mengenalnya sebagai teman sekolah.

“Astaga Ayaaaa!! Kenapa lo? Lo jatuh?” suara sang ibu menyambut Gayatri yang baru datang. Ia memperhatikan seragam Gayatri yang kotor. Padahal baru kemarin seragam itu dibelinya dengan harga mahal.

Gayatri tidak menjawab, ia lebih memilih masuk ke rumahnya untuk berganti pakaian dan mencuci bajunya. Lebih dari itu, ia perlu menenangkan dirinya.

****

"Bro, lo bisa gabung?" sebuah pesan di terima Shaka dari nomor yang tidak di kenal. Sebuah lokasi juga ia terima, yang tak lain adalah lokasi balapan.

Shaka melihat nama  dan foto profil dari orang yang menghubunginya. 'Great Knight Rider' nama genk motor yang pernah ia taklukan. Shaka tersenyum kecil, sepertinya peluang ia untuk masuk ke genk motor kondang ini lumayan besar. Berkat beberapa kemenangan, Shaka mulai di kenal sebagai black rider. Ini genk motor ke empat yang menawarinya untuk bergabung.

"Apa yang gue dapet kalau gue gabung dan menang?" balas Shaka.

"Lo jadi wakil gue. Kita taklukin semua genk motor yang ada di Jakarta." Tawaran yang menggiurkan di terima Shaka.

"Gue pegang omongan lo." Sebaris pesan persetujuan itu yang Shaka kirimkan.

"Markas nunggu lo," Di balas dengan foto anggota gek motor yang cukup banyak dan menyeramkan.

Shaka hanya tersenyum kecil. ia mematikan kembali layar ponselnya dan meneruskan perjalanan pulang.

****

1
Eka Kurnia Sari
kereeennn ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Ya ampun ngakak 😂😂😂
Siti Nina
oke 👍👍👍
Anis Mawati
gayatri sekar ayu
Anis Mawati
kyknya jodohnya galih si alya
Anis Mawati
😭😭😭
Anis Mawati
serang
Anis Mawati
ikut tegang
Anis Mawati
kayaknya dion dech,trus si galih dkambing hitamkan
Anis Mawati
ruwet mikirin benang kusut,ceritanya seru thor
Anis Mawati
kakanya aya jd kmbing hitam perbuatan dion deh kuaknya
Anis Mawati
ikut tegang q thor
Anis Mawati
jangan2 itu yg bunuh rasya
Anis Mawati
pa g da dokter dsana smpai dbwa kedokter hewan
Anis Mawati
motor rasya
Anis Mawati
gayatri saksi meninggalnya rasya
Anis Mawati
muka shaka baby face y thot😁😁😁
Supriyatijunaidi Wicaksono
Luar biasa
Kirana di Nabastala
ceritamu keren banget Thor👍🏾
Kirana di Nabastala
keren bingit kak 😱💪🏾💪🏾💪🏾😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!