Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Hans
Pagi ini terasa berbeda bagi Erica. Bangun tidur tanpa Adam disampingnya, mengenakan baju tanpa dipilihkan Adam, tanpa bermanja-manja sebelum berangkat ke kampus, dan semua rutinitas sehari-hari Erica lakukan tanpa Adam. Baru ia sadari, ternyata Adam sangat berarti dihidupnya. Ketidakhadiran Adam membuat Erica bagai seonggok daging.
Tak ada sarapan tergelar di meja makan. Mona memasak sepiring nasi goreng yang ia santap sendiri. Perempuan itu memang hanya ingin mendapat perhatian Adam.
"Bagaimana kamu bisa menjadi seorang istri jika makan saja harus dimasakin orang lain," jawab Mona saat Erica bertanya kenapa tidak ada sarapan yang tersedia.
Perih rasanya mendapat jawaban seperti itu. Erica akui, masak memang bukan keahliannya. Tapi selama ini ia belajar masak, meski Adam selalu melarang. Apa karena masakannya tidak pernah cocok di lidah?
"Besar hati ingin mengambil Zhafran dariku, menenangkan dia saat nangis aja nggak becus! Gimana mau jadi ibu!" Bentak Mona saat Zhafran menangis di pangkuan Erica.
Mata Erica berkaca-kaca. Zhafran menangis bukan karena ia tidak bisa menenangkannya, tapi karena Zhafran ingin dipangku Mona. Erica hanya bisa mengelus dada, menenangkan diri. Membalas Mona hanya buang-buang tenaga. Anggap saja itu perpisahan dari Mona yang sebentar lagi akan keluar untuk selamanya dari rumah ini.
Lalu, Mona menghilang di balik pintu. Pergi meninggalkan rumah tanpa sepatah kata. Erica merasa tidak dihargai di rumahnya sendiri. Seolah-olah ia lah yang numpang di rumah Mona.
Erica benci pikiran-pikiran negatif yang mengatakan bahwa Mona dan Adam pergi bersama. Membayangkan mereka merajut kembali kisah cinta lama yang telah usai. Melupakan kehadirannya yang hanya orang baru di kehidupan Adam, pun Mona.
Bel berbunyi. Menyadarkan Erica dari lamunan. Tak lama pintu utama terbuka dari luar. Nampak lelaki berbadan tinggi tegap dengan janggut tipis yang kontras dengan warna kulitnya menyembul dari balik pintu.
"Om Hans?"
Erica berlari ke arah lelaki yang dipanggilnya Om, memeluknya erat melepas kerinduan.
"Apa kabar ponakan Om yang genit?" Hans membalas pelukan Erica.
Erica menampilkan deretan giginya yang putih. Sudah kerasan lagi ia dipanggil begitu oleh Hans. Lelaki yang bersatu dengan Ibu menentang Erica untuk nikah muda. Apalagi pilihannya jatuh pada duda anak satu, terlebih duda tersebut ia kenal baik.
"Om kok baru mampir sekarang?" tanya Erica dengan sebelah tangannya merangkul pinggang Hans. Selama menikah, baru kali ini Hans berkunjung ke rumah keponakan yang merupakan istri dari sahabat karibnya.
"Kangennya baru sekarang," sahut Hans sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Erica. Tak ayal, hal tersebut membuat Erica pura-pura ingin muntah. Mengundang tawa dari Hans. Hans tak berubah dalam memperlakukan Erica layaknya seorang gadis yang belum bersuami.
"Om pasti ada maunya nih," tebak Erica yang langsung disambut cengiran Hans. "Mau minum apa Om?"
"Susu."
"Dih, tua-tua minumnya susu."
Hans hanya terkekeh mendapat ejekan yang sudah biasa ia dapatkan. Ia duduk di kursi bar sembari menunggu minumannya siap. Tak lama, Erica menyajikan segelas susu dingin rendah lemak.
"Ibu apa kabar, Om?" Erica lalu duduk di samping Hans. "Om pasti disuruh ibu ya?" Matanya menyipit penuh selidik ke arah lelaki yang menjadi tangan kanan Ibunya.
"Kamu apa kabar, Ri?"
"Seperti yang Om lihat." Erica merentangkan kedua tangannya, menunjukkan betapa bahagianya hidupnya.
"Gemuk, maksud kamu?"
Erica mendelik, membuat Hans tertawa lepas. "Syukurlah Adam bisa membuatmu gemuk seperti ini."
Alih-alih sependapat dengan Hans, Erica justru mencubit lengan Hans hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Jangan terlalu jujur napa Om!" seru Erica bersungut-sungut, membuat tawa Hans semakin lebar.
"Ibu apa kabar, Om?" Erica mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.
"Orang rumah sehat-sehat, Ri."
Ibu yang dimaksud Erica adalah Ibu kandungnya. Semenjak Erica menikah, Hans tinggal di rumah keluarganya. Menemani ibu dan ayah Erica yang sering sakit-sakitan semenjak ditinggal anak gadisnya menikah.
Dari ketiga anak nenek Erica, keluarga Hans merupakan yang paling pas-pasan. Orangtuanya bercerai, hingga membuat Hans sempat merasakan broken home. Anak broken home identik dengan terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan hal-hal yang negatif. Begitu pula dengan Hans.
Uang yang seharusnya dibayarkan untuk SPP digunakannya untuk bersenang-senang dan mencicipi dunia pergaulan bebas. Kuliahnya hampir hancur. Beruntung ia bertemu dengan Adam, anak rajin yang hampir selalu menjuarai lomba esai tingkat nasional. Kepribadian Adam yang kalem dan sangat menghargai perempuan membuat Hans yang sering melakukan having sex dengan banyak perempuan akhirnya tersentuh. Malu sendiri.
Bertahun-tahun berteman dengan Adam, Hans tidak menyangka akan menjadi keluarga dengannya. Adam merupakan sahabat terbaik bagi Hans, tapi hanya baik untuk dijadikan sahabat. Tidak untuk menjadi keluarga. Mungkin jika Adam meminta Erica saat belum berstatus duda, Hans akan setuju. Tapi setelah berstatus duda, Hans tidak memberi restu. Bahkan sampai saat ini.
Bukan Hans tidak suka karena statusnya duda, tapi masa lalu yang membuat Adam menyandang status duda.
"Gimana rasanya menjadi istri dari dosen sendiri?" Hans meletakan gelas susu yang hampir kosong lalu menatap Erica dengan senyum nakalnya.
Wajah Erica bersemu. Ia mengedikkan bahu sementara bibirnya mulai merekah, menampilkan senyum yang sulit digambarkan. Antara malu dan suka. "Not bad."
"Tapi suka?"
"Biasa aja."
Tentu saja Erica suka, lihat saja merah di pipinya semakin menjalar.
"Om kapan nikah?" tanya Erica, mencoba mengalihkan pembicaraan yang sangat tidak disukai Hans.
Hans memalingkan wajah. Tak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan Erica. "Don't ask me that question."
"Me too." Erica tersenyum penuh kemenangan.
Tangan Hans tergerak mengacak puncak kepala Erica lalu turun mengelus lembut pipinya.
"Jangan sungkan untuk menghubungi Om jika kamu butuh bantuan. Om akan selalu ada untukmu."
Erica tersenyum. Matanya terpejam merasakan sentuhan hangat tangan Hans. Lelaki pertama yang selalu membuatnya nyaman. Bahkan, sentuhan tangan ayahnya pun tidak pernah sehangat dan senyaman ini. Ia tahu, dibalik tatapan Hans yang lembut ada sesuatu yang sedang tidak beres.
Kalau tidak ayah, ya ibu. Selalu mereka. Batin Erica.
***
Matahari sudah mulai tinggi saat Adam sampai di rumah. Dengan pakaian lusuh dan mata merah ia pulang ke rumah. Padahal sengaja ia pulang agak siang agar mata merahnya tidak terlalu kentara, tapi ternyata tetap saja dapat Erica lihat. Belum lagi bau alkohol menguar dari mulutnya, membuat perbuatannya semakin terendus Erica.
"Aku sudah masak makan siang. Mas mau makan siang sekarang?" tanya Erica saat Adam baru tiba di rumah.
Dengan perasaan canggung, Adam menghampiri Erica yang sedang sibuk menata piring. Ragu, ia mendudukkan dirinya di depan Erica.
Tidak ada sepatah kata pun keluar menghangatkan suasana makan siang. Dentingan sendok beradu menambah kesan dingin di ruang makan rumah dua lantai itu. Sesekali terdengar bunyi air yang di tenggak. Sisanya sepi.
"Ri.." Lirih Adam, mencoba memecah keheningan. Ia tahu, meninggalkan Erica dalam keadaan merajuk merupakan sebuah kesalahan. Ditambah Adam tidak pulang semalaman tanpa memberi kabar sedikit pun. Tau bukan, kalau kabar merupakan hal terpenting bagi perempuan? Walaupun yang dilakukan laki-laki benar tapi tidak memberi kabar, di mata perempuan laki-laki salah. Apalagi melakukan kesalahan ditambah tidak memberi kabar, say goodbye to the world, Man!
Adam berada di opsi kedua. Kesalahan harus diakui, lalu dibenahi. Dan Adam akan melakukan itu.
Erica meletakkan alat makannya. Diambilnya segelas air putih lalu di teguk sedikit, agar tidak menggangu tenggorokannya. Perlahan, bola mata Erica beralih menatap Adam. Santai tapi serius. Serius dan mematikan.
"Mona yang pergi atau aku yang pergi."
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂